Point Of Love

Point Of Love
Perasaan apa ini.???



Saat Vivian keluar dari rumah dan menutup pintu terdengar


teriakan dari ujung jalan yang berjarak hanya sepuluh meter saja dari rumah


Vivian. Juwita dan Mala sedang berjalan ke arahnya. Vivian melambaikan tangan


kepada mereka dan mereka membalasnya. Vivian mengenalkan Jasmine dan Rino


kepada Juwita dan Mala yang merupakan sahabat terbaik mereka. Setelah usai


berkenalan mereka segera berjalan menuju TPQ untuk mengaji.


Walaupun mereka baru saja kenal tapi keakraban terjalin


dengan baik. Seperti mereka telah berkenalan begitu lama. Sangat akrab dan


loyal. Mungkin karena mereka memang memiliki sifat yang mudah bergaul dengan


orang lain.


Hari ini tiba-tiba saja Jalal datang ke TPQ. Tapi tujuannya


datang bukanlah ntuk mengaji. Melainkan untuk memberikan undangan khusus kepada


ustad Fathon agar datang ke acara pernikahannya dengan Hana. Berharap ustad


Fathon mau menjadi salah satu saksi dalam acara Ijab Qobulnya. Saat Jalal


keluar dari rumah ustad Fathon, tanpa sengaja dia melihat Vivian berjalan


bersama dengan laki-laki lain siapa lagi kalau bukan Rino. Juwita memang sengaja


mengajak Mala dan Jasmine berjalan di belakang Vivian dan Rino. Berharap Jalal akan


melihat Vivian bersama dengan orang lain hingga membuatnya cemburu serta sakit


hati melihatnya. Seperti yang telah Jalal lakukan kepada sahabatnya itu.


Mata Jalal seakan ingin keluar saat melihat semua itu. Rasa


tak percaya dan sedikit cemburu ternyata telah bersarang dalam hatinya tanpa


dia sadari. Jalal berjalan mendekati Vivian dan Rino dengan langkah ragu.


“Hai Vi.” Sapa Jalal canggung.


“Hai.” Sahut Vivian dengan senyuman manis di bibirnya.


Membuat Rino semakin tertarik kepadanya.


“Gimana kabar kamu.?” Tanya Jalal ragu.


“Baik. Kak Jalal sendiri gimana.? Selamat menempuh hidup


baru ya kak. Semoga pernikahannya sakinah, mawadah warohmah.” Kata Vivian


dengan lugas seakan tidak pernah terjadi sesuatu antara dia dan Jalal. Jalal


hanya bisa tersenyum getir mendengar semua perkataan Vivian.


“Oh iya. Kenalin ini kak Rino.” Lanjut Vivian sambil menatap


Rino dengan senyum di bibirnya. Rino membalas senyuman manis Vivian dan


menyodorkan tangan kepada Jalal.


“Rino.” Ucap Rino singkat.


“Dia pacar aku kak.” Sahut Vivian tiba-tiba.


Deg.!!


Jadi benar dia pacar baru kamu Vivian. Tapi kenapa aku tidak rela kalau kamu bersama dengan laki-laki


lain. Perasaan apa ini.? Seharusnya aku bisa bersikap biasa saja dan


mengesampingkan perasaanku padanya. Vivian bukan siapa-siapaku lagi sekarang.


Aku juga tidak pernah merasakan cinta kepadanya. Apakah mungkin aku telah jatuh


cinta kepada Vivian. Tapi mulai kapan.? Tidak.!! Ini hanya perasaan bersalah


dan kasihan karena aku telah sengaja menyakiti hantinya. Sadar Jalal.!! Kamu


hanya mencintai Hana. Calon istrimu yang sempurna. Bukan Vivian. Tetaplah fokus


dengan pernikahanmu. Jalal bertengkar dengan pemikirannya sendiri.


Membuat semua orang terkejut bahkan Jasmine yang berada di


belakang Vivian hampir saja berteriak mendengar ucapan Vivian barusan. Untung


saja Juwita langsung membungkam mulutnya dengan cepat. Rino seperti mendapat


durian runtuh di siang bolong. Entah perasaan apa yang sekarang telah dia


rasakan. Dia begitu senang mendengar pengakuan Vivian terhadap dirinya.


“Memang benar. Aku pacar barunya Vivian.” Sahut Rino sambil


merangkul bahu Vivian.


“Selamat kalau gitu. Ya udah aku pamit dulu.” Suara Jalal


sedikit serak dan dia segera meninggalkan mereka. Langkahnya seakan goyah dan


ingin jatuh ke bumi. Juwita dan Mala yang malihat reaksi Jalal yang mengejutkan


merasa sangat puas. Akhirnya sakit hati sahabatnya selama ini telah terbayarkan.


Rino masih tenggelam dalam lamunan dan tangannya masih


melingkar di bahu Vivian dengan santai. Vivian yang merasa drama barunya telah


usai segera melepaskan tangan Rino.


“Sudah selesai dramanya.” Seru Vivian kepada Rino.


“Iya. Kenapa juga kamu harus ngaku-ngaku pacarnya kak Rino.?


Makin kege’eran kan dia.” Sahut Jasmine kesal.


“Dia itu mantannya Vivian. Awalnya Vivian nggak pernah suka


sama dia. Tapi dia begitu bersusah payah untuk menaklukan hati Vivian. Setelah Vivian


jatuh dalam pelukannya, dia malah menikah dengan orang lain. Dasar cowok


breng***.” Jelas Mala kepada Jasmine dan Rino yang hanya diam mendengarkan


celotehan Mala yang menggebu-gebu. Jasmine mendekati Vivian dan langsung


memeluknya.


“Maaf ya Vivian. Aku nggak tahu.” Suara Jasmine mengiba.


“Iya. Nggak apa-apa kok.” Vivian mengelus bahu Jasmine pelan


dan Jasmine melepas pelukannya.


“Parahnya lagi. Vivian Cuma dianggap sebagai cewek kemarin


sore dan hanya sebagai penghibur hati saat merasa bosan. Breng*** banget kan


dia.? Pengen rasanya aku tonjok mukanya. Sok kecakepan banget jadi cowok.” Seru


Juwita berapi-api.


“Sudah. Jangan dibahas lagi.! Maaf ya kak Rino. Aku jadi


melibatkan kakak dalam urusan pribadiku. Kakak mau kan maafin aku.?” Kata


Vivian.


“Tenang saja. Aku kan actor yang bisa dihandalkan.” Sahut


Rino bangga.


“Jangan dikasi hati Vivian.! Nanti kan Rino jadi besar


kepala lo.” Celetuk Jasmine.


“Diam Cumut.!” Bentak Rino. Membuat mereka semua jadi


tertawa kecil.


Mereka segera masuk ke dalam kelas. Tidak hanya Jalal yang


terkejut dengan kehadiran Rino. Semua santri yang hadir di TPQ juga


mengalaminya. Para santri cowok mengagumi kecantikan teman baru Vivian yaitu


Jasmine. Wajah cantik yang berada di balik kerudung membuatnya menjadi semakin


mempesona dan banyak menarik perhatian kaum adam.


Jadwal hari ini setoran hafalan surat-surat pendek dalam al


quran. Kali ini Vivian telah sampai pada surat an-naba’ (40). Vivian telah


mempesiapka hafalannya jauh-jauh hari. Bahkan dia sering meminta bantuan


bapaknya saat menghafal surat tersebut.


Tiba saatnya Vivian untuk maju ke depan dan menyetorkan


hafalannya. Semua santiwan dan santriwati sangat hafal betul dengan suara


Vivian yang khas. Disamping suaranya yang merdu dia juga sangat fasih dalam


membaca ayat suci al quran. Mungkin ini menurun dari bapak Vivian yang


jebolan Pondok Pesantren meski tidak sampai lulus. Apalagi disaat hafalan


seperti ini yang mengaharuskan dia untuk membacanya secara tartil. Yakni


membaca al quran dengan lagu disertai mahorijul huruf yang jelas dan dengan


menggunakan tajwid yang baik dan benar.


Rino sangat takjub mendengar Vivian melantunkan ayat suci al quran dengan sangat merdu. Baru kali ini dia mendengar secara langsung.


Biasanya lantunan ayat suci al quran hanya bisa dia dengar dari Televisi maupun


Radio. Rasa tertariknya terhadap Vivian semakin memuncak seperti gunung berapi.


Vivian bukan hanya


gadis yang cantik dan baik. Tapi dia juga gadis yang sangat sholehah. Jarang di era sekarang ini menemukan sosok seorang gadis yang seperti dia. Vivian kamu memang berbeda


dari gadis biasanya. Aku semakin tertarik sama kamu. Seru Rino dalam hati.


Jasmine juga terpukau dengan apa yang telah dilihatnya


sekarang. Seseorang yang sekarang telah menjadi temannya ternyata gadis yang


baik dan sholehah. Dia semakin bersyukur kepada Allah SWT karena dapat


dipertemukan dengan Vivian. Jasmine juga berjanji dalam hati bahwa mulai


sekarang dia akan mulai berubah dan mengikuti kegiatan seperti yang Vivian lakukan selama ini.


Kegiatan mengaji sore itu telah usai. Semua santriwan dan


santriwati termasuk Rino dan Jasmine segera meninggalkan bangunan TPQ. Jasmine


sangat berterima kasih kepada Vivian. Karena dia telah memberikan pengalaman


baru yang sangat berarti kepadanya. Vivian merasa sangat senang mendengar semua


itu. Vivian juga berharap agar Jasmine dan Rino juga bisa mengaji di rumahnya sendiri setelah ini.