Point Of Love

Point Of Love
Apa ini..??



Setelah hati Vivian merasa tenang. Dia meminta tolong pada Mala agar mengatur pertemuannya dengan Jalal. Untuk menjelaskan kesalah pahaman di antara mereka. Vivian menceritakan apa yang telah disarankan oleh teman sebangkunya saat di sekolah pagi ini. Mala sebenarnya tidak setuju dengan keinginan Vivian tapi dia tak dapat berbuat banyak.


"Mala aku boleh nggak minta tolong sama kamu. Nanti kamu bilangin sama Jalal aku pengen ketemu. Ada yang mau aku omongin penting." Kata Vivian.


"Tapi Vi." Sahut Mala ragu.


"Please bantuin aku. Aku harus membereskan semuanya hari ini. Aku nggak mau masalah ini berlarut-larut." Jelas Vivian.


"Oke. Nanti aku bicara sama dia." Mala menghela nafas.


Vivian dan kedua sahabatnya berjalan menuju masjid karena suara adzan maghrib telah berkumandang. Mengambil air wudlu dan segera masuk ke dalam masjid untuk menunaikan ibadah sholat maghrib.


Usai sholat maghrib Mala langsung menuju tempat santri cowok untuk menemui Jalal. Mengatakan apa yang harus dikatakan sesuai dengan perintah temannya Vivian.


Jalal senang bukan kepalang mendengar berita gembira dari Mala. Dia sangat antusias dan bersemangat. Mala yang melihat tingkah Jalal seperti itu hanya bisa geleng-geleng kepala tak percaya.


Semoga semua berjalan lancar ya Vi. Melihat tingkah Jalal yang berlebihan kayak gitu aku jadi nggak yakin dengan keputusanmu saat ini.


Seperti yang sudah diperkirakan. Vivian dan Jalal akan bertemu di samping masjid bakda sholat isya'. Tak ada keraguan sedikitpun di hati Vivian saat ini. Dia hanya meyakini hal baik akan terjadi dan segera menyelesaikan masalahnya saat itu juga.


Setelah selesai sholat isya' Vivian segera menuju tempat yang sudah disepakati. Sedangkan Mala dan Juwita menunggu di samping rumah ustadz Fathon sambil mengawasi Vivian dari kejauhan. Mereka takut Jalal akan melakukan hal-hal yang tidak di inginkan. Jalal berjalan terburu-buru keluar dari masjid.


"Udah lama nunggu?" Sapa Jalal saat berhadapan dengan Vivian dengan nafas tak teratur.


"Nggak kok kak." Jawab Vivian singkat.


"Kamu mau ngomong apa Vi?" Tanya Jalal.


"Itu kak. Soal surat yang kemarin. Sebenarnya." Vivian menggantung kalimatnya.


"Maksud kamu ini?" Jalal mengeluarkan selembar kertas terlipat dari balik sakunya.


"Iya kak. Sebenarnya itu." Lagi-lagi Vivian ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


"Sebenarnya apa Vi?" Tanya Jalal dengan wajah yang berseri-seri.


"Sebenarnya itu bukan buat kak Jalal tapi untuk orang lain." Vivian dengan cepat mengucapkan kalimat itu. Meski pelan tapi dapat terdengar dengan baik di telinga Jalal.


Raut muka Jalal berubah drastis. Yang semula terlihat senang sekarang menjadi sedikit kesal.


"Apa maksud kamu Vi? Disini tertulis jelas namaku. Kamu jangan ngelak." Kata Jalal dengan nada kesal. Vivian terkejut dengan perķataan Jalal.


What? Kok bisa ada nama dia? Bukaknya yang tertulis harusnya nama kak Nurdin. Kenapa jadi kayak gini sih?


"Kenapa kamu diam Vi?" Tanya Jalal geram.


Vivian segera merebut lipatan kertas dari tangan Jalal dan segera membukanya. Berharap apa yang dikatakan Jalal bualan belaka. Betapa terkejutnya Vivian saat membaca isi surat itu dan Jalal sama sekali tidak membohonginya. Tangan Vivian tiba-tiba gemetar sambil memegang kertas itu.


"Nggak. Ini nggak mungkin." Kata Vivian sambil menggelengkan kepala pelan. Jalal hanya bisa mengerutkan dahi dan merasakan kebingungan dalam hatinya melihat sikap Vivian.


"Ini nggak mungkin kan?" Tanya Vivian pada kedua sahabatnya. Mala langsung mengambil kertas yang sudah diremas dalam genggaman tangan Vivian. Membuka dengan segera dan melihat langsung isi surat yang telah dia tulis sendiri.


"Ini bukan tulisanku Vi." Mala dengan mengerutkan dahinya.


"Coba lihat." Juwita merebut kertas yang kusut itu dari tangan mala dengan paksa hingga hampir robek.


"Vi coba deh lihat! Ini kan tulisan tangan Nurdin." Kata-kata Juwita membuat Vivian sadar dan ikut melihatnya.


"Kenapa Nurdin melakukan ini?" Tanya Mala heran.


Vivian segera mengambil surat itu dan mempercepat langkahnya untuk pulang ke rumah tanpa mempedulikan kedua sahabatnya yang saling pandang tidak percaya dan merasa bingung dengan keadaan yang mereka hadapi saat ini.


☆☆☆


Malam saat mengirim surat.


Nurdin membuka surat itu dengan perasaan senang. Bagaimanapun ternyata selama ini cintanya terhadap Vivian tak bertepuk sebelah tangan. Nurdin membaca kata demi kata meski tidak ditulis langsung oleh Vivian sendiri. Nurdin hafal betul bagaimana bentuk dan karakter tulisan tangan Vivian.


Tanpa dia sadari wajahnya sudah merona merah dan bibirnya tersenyum senang. Dari luar kelas terdengar suara Jalal dan Sofyan yang sedang berbincang.


"Lal kapan kamu mau bilang sama Vivian tentang perasaanmu?" Tanya Sofyan.


"Aku juga nggak tahu." Kata Jalal singkat.


"Jangan lama-lama! Kalau disamber yang lain baru tahu rasa kamu." Celetuk Sofyan.


"Jangan dong! Lihat saja suatu saat pasti kita jadian." Jawab Jalal dengan penuh percaya diri.


Tanpa mereka sadari Nurdin mendengar semua pembicaraan itu. Dalam hatinya terbesit rasa cemburu terhadap Jalal karena dia juga sangat mencintai Vivian. Namun dia segera tersadar dengan hubungan persahabatan mereka yang memegang teguh prinsip. Bahwasanya mereka tidak akan menyukai gadis yang sama.


Nurdin mengeluarkan buku dan menyalin surat dari Vivian dengan sama persis namun dia mengganti namanya dengan nama Jalal. Setelah selesai menulis semuanya Nurdin segera membereskan alat tulisnya dan melipat kertas itu.


Saat Jalal dan Sofyan masuk dalam kelas Nurdin memberikan Surat yang telah ditulisnya tadi kepada Jalal. Awalnya Jalal acuh dan tak mempedulikan kertas itu. Namun saat Nurdin bilang kalau itu dari Vivian, Jalal berubah menjadi antusias dan membuka kertas itu.


Jalal sangat senang hingga tanpa sadar dia melompat-lompat seperti anak kecil. Nurdin memaksakan untuk tersenyum di depan sahabatnya meski perasaannya hancur saat ini.


"Selamat ya. Ternyata selama ini perasaanmu terhadap Vivian tak bertepuk sebelah tangan." Kata Sofyan sambil menepuk bahu Jalal.


"Makasih ya." Jawab Jalal dengan senyum mengembang.


"Selamat ya sob." Kata Nurdin sambil memeluk Jalal. Meski hati Nurdin campur aduk tidak karuan tapi dia harus bisa mengendalikan dirinya.


Ingin rasanya Nurdin berteriak bahwa Vivian hanya mencintainya bukan orang lain yang ada di hadapannya sekarang.


Maafin aku ya Vi. Aku tidak bermaksud mempermainkan perasaanmu. Bagaimana mungkin aku sanggup menyakiti orang yang begitu aku sayangi. Aku mencintaimu Vi. Sangat sangat mencintaimu. Biarlah aku tetap dan terus mencintaimu dengan caraku.