
Bbrrrttt... Bbrrrttt...
Ponsel Candra berdering. Kaharuan keduannya segera berakhir. Candra mengelap ujung matanya yang basah. Mengangkat ponsel yang berdering dari sakunya.
"Hallo."
"Hallo mas. Aku sudah di depan perumahan brawijaya nih." Ucap Juwita dari balik telepon.
"Oke. Kamu tunggu sebentar disitu. Aku akan segera kesana." Sahut Candra dengan sigap dan langsung menutup teleponnya.
Tanpa sepengetahuan Vivian. Candra sudah mengirim alamat rumah baru mereka kepada Juwita. Candra meminta Vivian agar tetap di dalam rumah. Sedangkan dia sendiri pergi ke depan perumahan untuk menjemput Juwita dan Mala. Tidak membutuhkan waktu lama untuk Candra sampai di depan gapura perumahan yang hanya berjarak 50 meter dari rumahnya.
Candra melihat dua gadis remaja dengan kardus ukuran besar di dekatnya. Candra menghampiri Juwita dan Mala.
"Nyasar nggak.?" Sapa Candra tiba-tiba membuat keduanya sedikit terkejut karena tidak mengetahui kehadiran Candra disana.
"Mas Candra. Bikin kaget saja." Celetuk Mala sambil mengelus dadanya sendiri.
"Nggak kok mas. Tenang saja.!!" Sahut Juwita sambil tersenyum simpul.
"Baguslah kalau begitu." Ujar Candra.
"Oh iya mas. Vivian mana.?" Tanya Juwita.
"Dia sedang istirahat di rumah. Kalian juga pasti capek kan.? Yuk kita ke dalam saja.!!" Seru Candra pada keduanya.
Mereka mengangguk hampir bersamaan dan mengikuti Candra masuk ke dalam area perumahan brawijaya. Candra membawakan kotak kardus yang berisi barang-barang milik Vivian. Saat melewati pos keamanan Candra menyapa satpam yang sedang berjaga disana. Walaupun Candra tidak secara tetap tinggal disana namun satpam dan petugas lain yang bekerja dalam area perumahan tersebut sudah mengenalnya dengan baik.
Akhirnya mereka sampai juga di depan rumah Candra dan Vivian. Juwita dan Mala saling pandang dengan senyuman lalu berlari masuk ke dalam rumah. Berharap mereka akan bertemu dengan kawan baiknya yaitu Vivian. Namun saat masuk Vivian tidak ada disana. Mala menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
Candra yang melihat tingkah keduanya merasa sangat terhibur. Candra segera memasukkan barang milik Vivian ke dalam kamarnya.
Candra juga beberapa kali memanggil nama Vivian. Namun tidak kunjung menerima jawaban. Saat Candra sampai di dapur tiba-tiba Vivian keluar dari kamar mandi.
"Pantesan. Mas panggil-panggil dari tadi nggak ada jawaban. Ternyata kamu disini." Seru Candra.
"Dari tadi Vivian pengen ke kamar mandi mas. Maaf nggak ngasi tahu mas." Ujar Vivian sambil tersenyum.
"Tuh di depan ada teman-teman kamu."
"Siapa mas.?" Ujar Vivian sambil mengerutkan dahi.
"Siapa lagi kalau bukan dua kecebong yang dari tadi nanyain kamu terus." Celetuk Candra sambil mengambil empat gelas di rak dan membuka kulkas.
"Juwita sama Mala.?" Seru Vivian senang bukan main.
"Memang siapa lagi.? Sudah sana temui mereka.!!" Ujar Candra sambil menuangkan jus jeruk dari dalam kulkas ke dalam gelas.
Vivian segera berlari menuju ruang tamu. Bisa bertemu dengan dua sahabatnya sangat berarti bagi Vivian. Mereka segera berhamburan untuk berpelukan bersama. Melepas rindu satu sama lain. Vivian mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Vivian. Kamu baik-baik saja kan.?" Tanya Mala antusias.
"Iya Mala sayang. Aku sehat-sehat saja kok. Nih lihat sendiri.!!" Seru Vivian dengan tingkah konyolnya.
"Kita minta maaf ya Vi. Saat kamu terpuruk kita nggak ada disana untuk menemani kamu. Pasti terasa begitu berat saat melewati semuanya sendiri." Ujar Juwita sambil merangkul pinggang Vivian dari samping.
"Tapi ternyata Allah SWT punya rencana lain yang jauh lebih baik untukku. Aku bersyukur karena bisa di persatukan kembali dengan keluargaku yang sebenarnya." Lanjut Vivian sambil tersenyum simpul.
Mala dan Juwita saling pandang tidak mengerti dengan ucapan yang keluar dari mulut Vivian barusan.
Candra keluar dari dalam rumah dengan membawa empat gelas jus jeruk di atas nampan putih.
"Mas Candra." Ucap Vivian sambil menunjuk Candra yang sedang meletakkan nampan beserta gelas berisi jus jeruk di atas meja.
"Dia kakak kandungku." Ujar Vivian dengan lugas.
"Hah.?" Ucap kedua gadis itu bersamaan.
"Kalian kenapa.? Ada yang salah.?" Sahut Candra tertawa melihat ekspresi mereka seakan tidak percaya.
"Tunggu-tunggu. Bukannya mas Candra hanya kakak sepupu mu kan Vivian. Gimana ceritanya bisa jadi kakak kandung.?" Celetuk Mala hingga mendatangkan gelak tawa Candra dan juga Vivian.
"Oke. Maafin aku Mala yang bawel." Vivian gemas dengan Mala dan mencubit kedua pipinya hingga Mala mengerang kesakitan.
Vivian menceritakan semuanya kepada kedua sahabatnya. Sesekali Candra juga ikut menimpali hingga suasana berubah menjadi begitu menyenangkan.
Candra baru teringat kalau di dalam kulkas terdapat beberapa buah dan snack yang di stok oleh temannya. Candra segera ke dapur dan mengambil semuanya untuk di santap siang itu.
Saat semua larut dalam kebahagiaan. Tiba-tiba sirna dengan hadirnya seseorang yang tidak di inginkan.
"Vivian." Sapa lelaki dari arah pintu depan. Semua mata tertuju pada sumber suara berasal.
"Kak Faro." Ucap Vivian. Dan suara Vivian yang khas dapat terdengar oleh Candra yang sudah selesai mengupas buah semangka di dapur.
Vivian segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan beberapa langkah. Namun masih terlalu jauh di depan Faro.
"Vivian. Kamu harus ikut aku pulang sekarang juga." Ujar Faro tegas.
Vivian tersenyum kecut dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Vivian. Jangan keras kepala.!! Walaupun kamu kabur dari rumah. Mereka akan tetap melangsungkan pernikahan." Lanjut Faro dengan nada sedikit memohon.
"Aku sudah nggak peduli lagi kak. Mau mereka menikah atau enggak. Aku juga nggak peduli. Terserah.!! Aku sekarang sudah bahagia hidup bersama keluargaku sendiri." Ucap Vivian ketus.
"Maksud kamu.?"
"Oh jadi bapak tidak mengatakan kebenarannya.? Yang sebenarnya adalah aku bukan anak kandung bapak sama ibu. Aku hanya di rawat untuk menggantikan kematian anak kandung mereka saat baru lahir. Yang sebenarnya adalah aku adik kandung dari Mas Candra. Jadi untuk apa lagi aku pulang ke rumah itu.?" Suara Vivian sedikit serak karena menahan isak tangis. Mala dan Juwita yang menyadari hal itu segera bergegas berdiri di samping kanan kiri Vivian.
"Ngapain kamu disini.?" Sahut Candra dengan piring berisi potongan buah semangka dan satu kantong plastik besar berisi snack makanan ringan. Meletakkan semuanya di atas meja.
"Aku nggak ada urusan sama kamu.!!" Sahut Faro garang.
"Vivian. Masuk kamar sekarang.!!" Perintah Candra dengan tegas.
Mala dan Juwita segera membawa Vivian masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Faro masih terus memanggila nama Vivian dari luar. Terdengar pertengkaran adu mulut antara dua lelaki.
Ya Allah. Apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku bingung. Keluh Vivian dalam hati.