
Vivian harus rawat inap di rumah sakit. Melihat kondisinya yang masih belum stabil dan juga dokter masih harus mengobservasi perihal tentang alergi akut yang di deritanya saat ini. Faro segera menghubungi mama dan juga bapak Vivian untuk memberitahukan tentang kondisi Vivian. Mereka segera bergegas menuju rumah sakit setelah mendengar kabar itu.
Faro merasa sangat bersalah kepada Vivian. Karena dirinya Vivian jatuh sakit dan sekarang harus masuk rumah sakit.
Malam itu tante Sinta dan bapak Vivian tiba di rumah sakit. Wajah mereka terlihat cemas. Apalagi bapak Vivian yang begitu khawatir tentang kondisi Vivian saat ini. Mereka langsung menuju ruang rawat inap tempat Vivian dirawat.
Bapak Vivian langsung masuk ke dalam sedangkan Sinta berhenti di depan pintu. Karena Faro sedang duduk di kursi tepat berada di depan ruangan Vivian.
"Ngapain kamu disini.? Siapa yang menjaga Vivian di dalam.?" Sapa Sinta dengan penuh emosi.
Faro hanya mengangkat kepala yang tadinya tertunduk lemas dalam diam dan tidak bermaksud menjawab pertanyaan mamanya.
"Kenapa diam.? Kamu sekarang senang Vivian terbaring disana.? Ya kan.?" Sentak Sinta.
"Ma. Faro tidak pernah punya niatan sedikitpun untuk menyakiti Vivian. Mama juga tahu itu." Seru Faro.
"Lalu kenapa semua ini sampai terjadi Faro.?" Kamu kan tahu sendiri kalau Vivian itu punya alergi." Sinta sekarang duduk disamping putranya.
"Aku memang ceroboh ma. Karena begitu bersemangat aku sampai lupa kalau Vivian punya riwayat alergi." Ucap Faro penuh sesal.
"Mama tidah habis fikir. Bagaimana kamu bisa seceroboh ini. Tapi mau bagaimana lagi Nasi sudah menjadi bubur. Sekarang kita hanya bisa berdoa dan menunggu sampai Vivian pulih." Sahut Sinta.
"Iya ma. Apa mungkin Vivian juga lupa kalau dia punya alergi.?" Ujar Faro.
Sinta hanya bisa menggelengkan kepala ragu. Faro hanya bisa menghela nafas kasar melalui hidungnya. Dua insan itu dusuk bersandar pada kursi.
Bapak Vivian menghampiri Vivian yang sudah tertidur pulas. Duduk disamping tempat tidur sambil memandang anaknya yang terbaring disana.
Hanya keheningan yang menghampiri. Bapak Vivian memang tidak pandai untuk berkata-kata. Dia lebih banyak diam. Meskipun itu adalah anak-anaknya sendiri. Sinta masuk ke dalam ruangan dengan sangat pelan. Berharap dia tidak mengganggu bapak dan anak yang berada didalamnya.
Sinta mengajak bapak Vivian untuk pulang dan istirahat. Sinta juga menyarankan agar Faro saja yang menemani Vivian di rumah sakit. Bapak Vivian menyetujui saran itu dan pulang bersama dengan Sinta.
Sebelum mereka pulang, Faro menyempatkan diri untuk meminta maaf kepada bapak Vivian. Karena ulahnya Vivian sekarang harus terbaring di rumah sakit. Bapak Vivian tidak banyak bicara. Dia hanya mengangguk lagu berlalu pergi bersama dengan Sinta.
Pagi datang begitu cepat. Sinar matahari dari balik jendela menyilaukan mata Vivian yang masih tertutup rapat karena kantuk. Perlahan Vivian membuka mata dan mendapati Faro telah duduk di sampingnya dengan seuntai senyum mengembang dari bibirnya.
Vivian menvoba untuk duduk dan Faro segera membantunya.
"Terima kasih." Ucap Vivian.
"Bagaimana sekarang.? Sudah lebih baik.?" Tanya Faro ragu.
Vivian hanya mengangguk.
"Kenapa kamu memaksa untuk makan makanan itu.? Padahal kamu tahu sendiri kalau kamu punya riwayat alergi makanan laut." Seru Faro.
"Maaf sudah membuat kak Faro khawatir." Ujar Vivian.
"Vivian. Kenapa kamu melakukan semua ini.? Kita semua khawatir sama kamu." Seru Faro.
"Iya sekali lagi maaf." Sahut Vivian cepat.
Semenjak Faro dan Sinta dekat dengan keluarga Vivian, mereka memang jarang mengunjunginya. Vivian juga tidak habis fikir. Bagaimana bisa dua sahabat baiknya itu melupakan keberadaannya.
Faro menatap kedua gadis itu dengan tatapan tidak senang. Faro berpamitan kepada Vivian untuk keluar mencari sarapan sebentar. Mala dan Juwita hanya bisa saling senggol lengan saat berhadapan dengan Faro dalam suatu ruangan. Faro meninggalkan ruangan dengan meninggalkan tatapan tajam pada kedua gadis itu.
"Vivian." Teriak Mala dan Juwita yang hampir bersamaan. Mereka segera berhamburan saling peluk satu dengan yang lain.
"Kalian jahat. Kenapa tidak pernah menemuiku akhir-akhir ini.?" Ucap Vivian kesal.
"Kata siapa kita jahat.? Kita itu sering tahu pergi ke rumahmu. Kamunya aja yang nggak mau nemuin kita. Ya nggak.?" Seru Juwita.
"Yap betul itu." Sahut Mala.
"Kapan.?"
"Waktu itu saat kami dengar kamu pingsan di sekolah."
"Iya. Kita berkunjung ke rumah mu. Tapi ya gitu deh. Kita nggak boleh masuk sama satpam baru kamu itu." Sahut Mala kesal.
"Maksud kalian siapa.?" Tanya Vivian sedikit bingung.
"Siapa lagi kalau bukan yang keluar barusan." Sahut Juwita yang juga ikut kesal.
Vivian diam sejenak. Mencerna semua yang mereka katakan dan yang telah di alaminya selama ini. Diamnya Vivian membuat Mala dan Juwita menjadi khawatir.
Kenapa.? Kenapa kak Faro melakukan semua itu padaku. Kenapa dia ingin sekali menjauhkanku dengan orang-orang yang ku sayangi. Kenapa kak.? Kenapa.? Hati Vivian berkecamuk menjadi satu.
"Maaf Vi. Kita nggak bermaksud menjelek-jelekkan dia. Kita hanya mengatakan yang sebenarnya padamu. Agar kamu juga tidak salah paham dengan kita. Menganggap kalau kita berdua sudah mencampakanmu dan melupakanmu." Jelas Juwita.
"Aku tidak pernah menyalahkan kalian. Aku sudah mengenal kalian lama. Jauh sebelum aku mengenalnya. Jadi mana mungkin kalian melakukan semua itu padaku." Sahut Vivian.
"Aku hanya berfikir kenapa kak Faro melakukan semua ini." Lanjutnya.
"Vivian. Kami juga dengar tentang perceraian kedua orang tuamu. Satu kampung juga ramai tentang desas desus kalau bapak kamu akan menikah lagi dengan ibunya Faro. Kamu yang sabar ya.!!" Ucap Mala sedikit ragu.
Vivian hanya tersenyum getir.
"Ya mau bagaimana lagi. Aku juga tidak punya hak untuk melarang mereka. Walaupun dalam hati sebenarnya aku menolaknya dengan keras. Tapi apalah dayaku. Aku yang hanya anak yang terlupakan. Mereka tidak akan mendengarkan apa yang aku inginkan." Sahut Vivian dengan lugasnya. Membuat kedua sahabat itu hanya bisa menelan ludahnya sendiri. Menatap Vivian dengan penuh rasa iba.
"Vivian. Kamu tidak berfikir untuk bunuh diri kan.?" Seru Mala cemas.
"Hahahaha. Kamu ngomong apaan sih Mal.? Meski aku terpuruk sekalipun. Aku tidak akan pernah sedikitpun untuk berfikir hal semacam itu." Sahut Vivian di sela tawanya.
"Lagian juga kalian tahu kan kalau hal semacam itu dilarang oleh agama islam." Lanjutnya. Mala hanya tersenyum sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Sedangkan Juwita hanya bisa tertawa sambil menutup mulutnya.
Tanpa ketiga gadis itu sadari ternyata Faro sudah berdiri di balik pintu yang tidak tertutup rapat. Hingga perbincangan mereka dapat terdengar dengan jelas walaupun tidak keras.
Maafkan aku Vivian. Aku tidak pernah bermaksud untuk menyakitimu. Aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Maaf kalau selama ini cara yang aku pilih salah di matamu. Tapi inilah yang bisa ku lakukan untukmu. Aku hanya ingin yang terbaik. Itu saja. Sekali lagi maafkan aku Vivian. Ujar Faro dalam hati.