
Kantin sekolah terlihat ramai siang itu. Vivian, Berlian dan teman-temannya sedang duduk di salah satu meja kantin yang berada di sudut ruangan. Canda tawa mereka yang begitu menyenangkan mengundang perhatian orang di sekeliling. Tanpa mereka sadari mereka telah menjadi pusat perhatian siswa yang lain. Rumor telah beredar dengan cepat di sekolah. Banyak para siswi lain yang merasa tidak senang pada Vivian yang dengan mudah bisa bergabung dalam grup Berlian dkk. D3 duduk tidak terlalu jauh dari mereka. Tiba-tiba Dafa berjalan menghampiri mereka.
"Hai. Boleh gabung nggak.?" Sapa Dafa dengan lugasnya dan segera duduk tanpa komando.
"Boleh." Sahut Intan dengan sigap.
"Kalian sudah makan belum.? Kalau belum langsung pesan saja. Aku yang traktir." Ucap Dafa.
"Ya sayang banget Daf. Kita baru saja selesai makan." Sahut Permata menimpali.
"Ya aku telat dong." Ujar Dafa terdengar kecewa.
"Ada angin apa nih. Tiba-tiba mau traktir kita makan. Pasti ada sesuatu yang kamu inginkan dari kita kan." Ucap Berlian sedikit sinis.
"Kenapa kamu ngomong kayak gitu sih Lian.? Kan niat aku baik. Nggak ada maksud apa-apa." Sahut Dafa.
"Betul banget kata Lian. Pasti ada udang di balik batu." Permata menimpali.
"Udang itu adanya di balik peyek bukan batu." Sahut Dafa tidak mau kalah.
"Betul banget. Aku setuju sama kamu Daf. Kalian ini kenapa sih.? Curiga sama Dafa. Niat Dafa kan baik. Kenapa malah terdengar jahat dan licik." Ujar Intan kesal.
"Sabar kak Intan. Kak Intan boleh saja membela kak Dafa. Tapi jangan di tegasin gitu dong jahat sama liciknya." Ucap Vivian sedikit menahan tawa melihat pertengkaran 3 lawan 1 yang terlihat seru.
"Vivian." Seru Intan kesal. Disusul gelak tawa yang lain yang membuat Intan makin cemberut.
"Oke. Aku memang mau ngundang kalian sabtu depan ke rumahku. Kebetulan sabtu depan tepat 3 tahun group D3 terbentuk. Ya cuma pesta kecil-kecilan saja. Gimana.? Kalian mau datang kan.?" Ujar Dafa.
"Mau. Kita pasti datang. Ya kan guys.?" Seru Intan kegirangan.
Permata dan Berlian saling pandang meminta pendapat satu sama lain.
"Gimana Vi.? Kamu datang nggak.?" Tanya Berlian pada Vivian.
"Kalau Vivian pasti datang dong. Ya kan Vi.?" Sahut Dafa.
"Maaf kak Dafa. Aku nggak bisa datang." Ucap Vivian sedikit ragu.
"Kenapa Vivian.?" Sahut Dafa seakan tidak terima dengan jawaban Vivian.
"Aku ada acara sama mas Candra. Maaf ya kak aku nggak bisa datang." Ujar Vivian.
"Ya sudah nggak apa-apa. Kalau kalian gimana.?" Tanya Dafa pada yang lain.
"Sabtu depan ya. Aku lihat planning aku dulu deh. Nanti kalau kosong aku usahakan buat datang." Sahut Berlian.
"Kalau kalian gimana.?" Tanya Dafa pada Permata dan Intan.
Permata dan Intan saling pandang meminta pendapat.
"Kalau kita ikut apa kata Lian saja. Kita juga nggak akan datang kalau Lian nggak datang." Sahut Permata. Dafa berpamitan kepada semuanya dan kembali pada teman-temannya yang masih ada di dalam kantin juga.
"Kamu beneran nggak ikut Vivian.?" Tanya Berlian penasaran.
"Iya kak Lian beneran. Aku ada acara sama mas Candra." Sahut Vivian.
"Memangnya kalian mau kemana Vian.?" Tanya Intan asal.
"Aku sama mas Candra mau camping." Ujar Vivian sedikit ragu.
“Camping.? Dimana.?” Sahut Berlian antusias.
“Vivian. Aku ikut ya.” Ujar Berlian dengan mata berbinar-binar. Vivian hanya tersenyum dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
“Lian. Bukannya kita harus datang ke pestanya D3.” Ujar Intan sedikit kecewa.
“Bener apa kata Intan. Kamu tahu sendiri kan tiap tahun kita nggak pernah absen untuk menghadiri pesta mereka. Apa kata anak-anak yang lain kalau kita sampai tidak datang.” Sahut Permata menimpali.
“Iya kak Lian. Apa yang dikatakan kak Intan dan kak Permata ada benarnya juga. Lebih baik kakak terima saja undangan mereka.” Ucap Vivian.
“Vivian. Kamu nggak perlu membela dua orang ini. Paham.!!” Ujar Berlian sedikit kesal dengan wajah ketusnya.
“Iya kak maaf.” Ucap Vivian canggung.
“Kalian dengar bak-baik ya. Aku nggak peduli lagi dengan apa yang akan mereka katakan. Yang terpenting bagiku sekarang, apa yang membuat aku senang dan nyaman. Kalau kalian mau datang ke acara itu tanpa aku juga nggak masalah. Aku nggak keberatan sama sekali.” Sahut Berlian tegas.
“Tapi Lian. Bagaimana dengan image kita di sekolah ini. Bisa-bisa mereka sudah tidak menganggap kita lagi.” Ujar Intan.
“Memangnya aku peduli.?” Ucap Berlian dengan santai. Permata dan juga Intan hanya saling pandang tidak mengerti dengan ucapan Berlian barusan padanya.
“Kalau memang kita sudah tidak sepopuler dulu. Not a big problem. Aku nggak mau hidup dengan aturan orang lain. Kalau nggak cocok dengan hati kenapa harus di paksa. Ya kalau kalian masih kekeh untuk datang ya datang saja. Kalau aku nggak mau. Titik.!” Seru Berlian jutek.
“Sabar kak Lian. Sabar.” Ucap Vivian sambil mengelus tangan Berlian pelan.
“Oke. Nanti aku tanya dulu sama mas Candra. Kalau dia mengijinkan kakak buat ikut. Pasti langsung aku kabarin.” Lanjut Vivian.
“Beneran.?” Seru Berlian. Vivian hanya mengangguk sambil tersenyum simpul.
Permata dan Intan hanya bisa saling pandang. Mereka ragu untuk datang ke acara D3 atau ikut Berlian yang berencana Camping bersama dengan Vivian.
“Maaf Lian. Aku nggak pernah bermaksud kayak gitu. Oke, aku ikut apa kata kamu saja. Kalau kamu nggak datang, aku juga nggak datang.” Ujar Permata sambil menoleh pada Intan yang juga ikut mengangguk menyetujui Perkataan Permata.
"Aku paham. Aku cuma bosen saja dengan kegiatan yang sama setiap tahunnya. Sekali-kali kita harus mencoba dan melakukan hal-hal yang baru dalam hidup." Ujar Berlian sambil tersenyum.
Jam pulang sekolah telah berdenting. Vivian sudah berdiri didepan pintu gerbang sekolah sambil menatap layar ponselnya. Waktu menunjukkan pukul 13.00 WIB. Namun mas Candra belum juga datang untuk menjemputnya.
Lebih baik aku tunggu 15 menit lagi. Mungkin mas Candra masih di jalan. Kalau lewat dari itu aku akan pulang naik angkutan umum saja. Bisiknya dalam hati.
“Lagi nunggu jemputan Vi.?” Sapa Joko yang baru keluar melewati gerbang.
“Kak Joko. Bikin kaget saja.” Ucap Vivian.
“Jangan panggil kak dong Vivian. Cukup panggil Joko saja. Biar lebih akrab.” Sahut Joko sambil tersenyum ringan di sambut tawa kecil Vivian.
“Iya deh kak Joko. Eh Joko maksudnya.” Ucap Vivian sedikit canggung sambil tersenyum simpul.
“Oh iya. Sudah jam segini kenapa jemputan kamu belum datang Vi.? Tumben telat.” Ujar Joko sambil menatap jam tangan di tangan kirinya.
“Nggak tahu. Kalau lima menit lagi belum datang terpaksa deh naik angkutan umum pulangnya.” Sahut Vivian sedikit manyun.
“Jangan sedih gitu dong.! Gimana kalau aku temenin sampai jemputan kamu datang.? Atau gini aja, kalau memang kamu nggak dijemput. Gimana kalau pulang sama aku aja.?” Ujar Joko sambil tersenyum simpul.
“Memangnya kamu nggak kerja.? Nanti kena semprot lo. Kan kak Faro galak. Serem.” Ucap Vivian mendramalisir. Membuat Joko tertawa mendengarnya.
“Memang seseram itu ya.?” Tanya Joko asal disusul gelak tawanya.
“Kamu tahu sendiri kan dia kayak gimana.” Sahut Vivian ikut tertawa.
Lima menit berlalu dengan cepat. Akhirnya Vivian menerima ajakan Joko untuk mengantarnya pulang. Tidak ada alasan bagi Vivian untuk menolak ajakan Joko padanya.