
Faro masih berdiri di samping pintu mendengarkan percakapan mereka. Sinta yang melihat hal itu langsung menghampirinya. Menarik tangan Faro dan mengajaknya menjauh dari ruangan itu.
"Mama kenapa sih.?" Protes Faro.
"Kamu ngapain nguping pembicaraan mereka.?" Sahut Sinta.
"Siapa juga yang nguping." Elak Faro.
"Jangan kamu kira mama bodoh ya.!! Mama tahu kamu tadi sedang nguping pembicaraan mereka. Mama ingetin sama kamu ya Faro. Boleh-boleh saja kamu perhatian sama Vivian. Tapi jangan melewati batas." Seru Sinta sedikit emosi.
"Mama apaan sih.? Semua yang Faro lakukan selama ini masih dibatas kewajaran kok. Mama jangan melebih-lebihkan dong.!!" Sahut Faro.
"Kamu fikir mama nggak tahu dengan semua yang telah kamu lakukan sama Vivian.?" Sinta menghela nafas.
"Ingat Faro. Kalian hanya sebatas kakak adik. Tidak lebih." Ujar Sinta.
"Memang mama fikir hubunganku sama Vivian apa.? Mama ada-ada saja deh." Sahut Faro sambil tertawa kecil.
"Kamu fikir saja sendiri.!! Perasaan apa yang sebenarnya kamu rasakan pada Vivian. Mama rasa kamu sudah paham dengan perkataan mama barusan." Ujar Sinta dan dia segera berlalu meninggalkan Faro yang masih terdiam. Perkataan Sinta barusan seakan menamparnya.
Apa benar aku mempunyai perasaan lain terhadap Vivian. Selama ini aku beranggapan kami hanya sebatas kakak adik. Namun semua yang telah ku lakukan melebihi semua itu. Hati Faro berkecamuk.
Vivian dan kedua sahabatnya masih bersenda gurau dalam ruangan rawat inap Vivian.
"Oh iya. Kalian tahu dari mana aku pingsan di sekolah.?" Tanya Vivian.
Kedua temannya saling melempar pandangan bergantian.
"Sebenarnya kak Dafa yang memberitahu semua ini." Ucap Mala ragu.
"Masak sih.?" Sahut Vivian sedikit heran.
"Iya Vi. Beneran." Ujar Juwita meyakinkan.
Vivian terlihat sedikit tersenyum lalu menyudahinya dan bersikap seperti biasa.
"Ada apa Vivian.?" Tanya Mala heran dengan reaksi Vivian.
"Nggak. Aku merasa bersalah saja sama dia." Sahut Vivian.
"Ya sudah. Kalau salah tinggal minta maaf. Gampang kan.?" Ujar Juwita menimpali. Vivian hanya mengangguk sambil tersenyum.
Pintu kamar terbuka. Ketiga gadis itu langsung terdiam dan melihat ke arah pintu tersebut. Sinta segera masuk dan menyapa ketiganya. Mala dan Juwita merasa sangat canggung bertemu dengan calon ibu baru Vivian. Mereka segera berpamitan kepada Vivian dan juga Sinta untuk pulang. Sebenarnya Vivian tidak rela kalau sahabatnya pulang terlebih dahulu tetapi Vivian tidak bisa memaksa. Dia juga paham dengan situasi yang mereka hadapi saat ini.
"Gimana.? Sudah baikan.?" Tanya Sinta.
"Alhamdulillah sudah lebih baik tante." Sahut Vivian mencoba sesopan mungkin. Walaupun sebenarnya dalam hati begitu membenci namun dia tidak ingin menunjukkannya.
"Syukurlah. Tante ikut senang mendengarnya." Sahut Sinta.
"Aduh."
"Tante kenapa.?"
"Nggak apa-apa. Tante ke toilet dulu ya sebentar." Seru Sinta sambil memegangi perutnya. Vivian hanya mengangguk paham. Sinta segera menuju toilet yang berada dalam ruangan rawat inap.
Cuaca hari ini begitu cerah. Matahari terasa begitu hangat di tambah dengan langit biru cantik yang menghipnotis mata. Sejenak Vivian tersenyum melihat pemandangan itu. Senyum itu tidak bertahan lama hingga pintu kembali terbuka. Bapak Vivian datang menjenguk dan menghampiri Vivian. Vivian segera sungkem kepadanya.
"Bapak sama siapa.?" Sapa Vivian.
"Sama mama mu Sinta." Sahut bapak.
Telinga Vivian seperti terasa tuli mendengar semua itu. Hatinya remuk redam. Tapi bukan Vivian namanya kalau tidak bisa mengendalikan perasaannya sendiri. Dia masih bersikap biasa meski dalam hati hancur.
"Oh." Sahut Vivian singkat.
"Kamu tidak keberatan kan kalau bapak menikah dengan tante Sinta.?"
"Keberatan atau tidak bapak nggak akan merubah keputusan itu kan. Jadi Vivian harus jawab apa.?" Sahut Vivian.
"Kamu mulai kurang ajar ya.!! Ngomong sama orang tua pakai tata krama.!!" Seru bapak penuh emosi.
"Vivian nggak peduli. Bapak mau menikah dengan siapa saja terserah bapak. Tapi jangan harap Vivian akan ada disana saat semua itu terjadi." Sahut Vivian ikut emosi. Luapan hati yang selama ini di pendamnya sendiri akhirnya keluar juga.
"Kamu." Bapak Vivian ingin melayangkan satu pukulan pada wajah Vivian.
"Jangan mas.!!" Teriak Sinta dari ujung ruangan tepat di depan pintu toilet. Sinta segera bergegas menghampiri keduanya.
"Anak tidak tahu terima kasih. Harusnya kamu bersyukur ada yang mau merawatmu sampai saat ini. Kalau tidak.." Kalimat bapak menggantung karena Sinta menarik tangannya dengan keras sambil menggelengkan kepala pelan.
"Kalau tidak apa pak.? Jawab.?" Sahut Vivian setengah berteriak.
"Vivian. Vivian sekarang tenang ya.!! Kita bisa bicarakan semua ini baik-baik. Tidak perlu harus emosi kayak gini. Vivian mau kan.?" Seru Sinta.
"Ini bukan urusan tante. Ini hanya antara aku dan bapak. Tante jangan ikut campur.!! Tante Sinta hanya orang luar yang menjadi orang ketiga dalan keluarga kami." Ujar Vivian dengan penuh kebencian.
Plaakkk..
Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Vivian. Bapak dengan tega menampar gadis itu.
"Tutup mulut kamu Vivian.!! Kamu bukan anak kandung bapak." Ucap Bapak dengan lantang.
Seperti tersambar petir di siang bolong. Langit yang semula cerah sekarang berubah menjadi gelap. Guntur dan guruh saling bersahut-sahutan dalam hati Vivian. Linangan air mata tidak dapat terbendung lagi. Mengalir deras tanpa dia sadari. Sinta segera menyeret bapak keluar dari ruangan tersebut.
Vivian menarik kedua kakinya. Menelungkupkan wajahnya pada kedua lutut yang terlipat dan menangis di dalamnya.
Apa semua ini.?? Kalau aku bukan anak bapak. Lalu aku anak siapa.?? Siapa orang tua kandungku. Ya Allah kenapa begitu berat cobaan yang kau berikan. Aku merasa tidak sanggup menjalani semua ini. Suara hati Vivian yang telah hancur berkeping-keping.
Faro yang tadinya mendengar pertengkaran mereka dari balik pintu segera masuk menemui Vivian. Menatap oarang yang begitu dia sayangi menangis sesenggukan sambil memeluk lututnya sendiri.
Faro duduk di tepi tempat tidur Vivian. Memberanikan diri mengelus rambut Vivian dengan pelan. Namun Vivian masih hanyut dalam tangisannya.
Hati Faro terasa begitu tersayat melihat Vivian seperti ini. Dia mendekatkan diri pada Vivian dan langsung memeluknya dengan erat sambil mengelus rambutnya. Tangis Vivian semakin pecah saat Faro memeluknya.
Faro mencoba menenangkan Vivian dengan segala cara. Faro melepas pelukannya dan mengangkat wajah Vivian. Yang terlihat hanya mata sembab dan wajah pucat. Faro menghapus air mata Vivian dan memegang tangannya sambil berkata.
"Kak Faro yakin Vivian kuat. Vivian pasti bisa melewati semua ini. Allah tidak akan memberikan cobaan atau ujian di luar batas kemampuan hambanya. Vivian tahu itu kan.?" Ujar Faro.
Vivian hanya mengangguk paham. Namun air matanya tidak berhenti mengalir. Faro memeluk Vivian sekali lagi.