
Hari ini secara kebetulan Rino berkunjung ke rumah adik
sepupunya Jasmine. Tidak ada yang istimewa dalam kunjungannya. Keluarga Jasmine
sedang sibuk mempersiapkan keberangkatan kedua orang tuanya ke luar negeri
untuk urusan bisnis.
“Rino.” Sapa ibu Jasmine saat turun dari tangga dan mendapati
Rino telah duduk di sofa ruang tamu rumahnya.
“Iya tante. Tante mau kemana.?” Tanya Rino mengerutkan dahi
melihat tantenya yang sudah berpakaian rapi dan menenteng tas bermerek
kesayangannya yang mahal.
“Biasa. Tante ada perjalanan bisnis ke London sama om.” Sahut
ibu Jasmine.
“Ooo.” Kata Rino sambil menganggukkan kepala pelan. Rino
meraih majalah yang tergeletak di bawah meja dan membacanya. Ibu Jasmine
berjalan mendekati Rino dan duduk di sebelahnya.
“Rino.” Sapa ibu Jasmine.
“Iya tan.” Sahut Rino cepat.
“Tante nitip adik kamu Jasmine ya. Selama tante sama om di Luar
Negeri kamu harus jagain dia. Cuma kamu
keluarga yang bisa tante percaya.” Seru ibu Jasmine kepada Rino.
“Tante tenang saja. Rino bakal jagain Cumut. Dia kan sudah
seperti adik Rino sendiri tan.” Rino tersenyum. Ibu Jasmine terlihat begitu
lega mendengar pernyataan Rino. Dia juga terenyum sambil mengelus rambut
keponakannya itu.
Rino merupakan anak dari kakak ibunya Jasmine. Sejak kecil
Rino dan Jasmine telah tumbuh bersama. Umur mereka juga tidak terpaut jauh.
Hanya beda 2 tahun saja. Rino tidak punya saudara lagi begitu pula Jasmine.
Mungkin karena itulah mereka sudah seperti kakak beradik kandung. Membuat
mereka merasa seperti saudara sendiri satu sama lain.
Setelah semua perlengkapan ayah dan ibu Jasmine telah di
masukkan ke dalam mobil. Akhirnya mereka berpamitan kepada anak semata wayang
mereka yaitu Jasmine. Ibu Jasmine juga berpesan padanya agar selalu
berhati-hati dan menjaga kesehatan. Dan tidak lupa pula memperingatkan Rino
untuk menjaganya.
Hari ini bertepatan dengan hari dimana Jalal dan Hana
melangsungkan pernikahan mereka. Pesta pernikahan mereka sangat besar dan
mewah. Mungkin karena ayah Hana adalah seorang kepala desa disana dan juga dia
memiliki banyak relasi bisnis. Disamping jabatannya sebagai kepala desa, dulu
sebelum dia menjabat dia adalah seorang usahawan yang sukses di kota. Saat
usahanya mengalami kemerosotan dia memutuskan untuk pulang ke kampung halaman
dan menyalonkan diri menjadi kepala desa di desa tersebut. Siapa yang menyangka
dia terpilih menjadi kepala desa dan bisa memulai kembali usahanya dari sana.
Vivian berdiri di depan kaca kamarnya dengan mengenakan baju
yang telah dia beli dari butik kemarin. Dia tidak percaya dengan penampilannya
sekarang. Mendapati dirinya yang berdiri di depan kaca seakan itu bukanlah
dirinya melainkan orang lain. Karena terlihat begitu anggun dan cantik. Vivian
baru sadar kalau dia memiliki pesona yang sangat kuat dalam dirinya. Hanya melakukan
polesan sedikit saja membuatnya begitu berbeda dari biasanya.
“Vivian.” Teriak Mala dari luar pintu rumah Vivian.
Vivian segera membuka pintu dan mempersilahkan Mala dan
Juwita masuk ke dalam kamarnya. Bukan hanya Vivian yang kagum dengan dirinya
sendiri bahkan Mala dan Juwita pun turut kagum terhadap dirinya. Mala dan
juwita duduk di tempat tidur Vivian.
“Kamu bawa apa itu.?” Tanya Vivian kepada Juwita yang
menenteng tas plastic warna hitam.
“Ini.?” Sahut Juwita dan langsung mengeluarkan benda yang ada
di dalamnya.
“Tara.!” Seru Juwita antusias dengan alat pelurus rambut yang
telah berada di tangannya. Mala dan Vivian hanya bisa saling pandang tak
mengerti.
“Sini duduk.!” Juwita menarik tubuh Vivian agar duduk di
tempat tidur dan memulai aksinya untuk merapikan rambut Vivian menggunakan
“Kenapa aku malah merasa aneh dengan tatanan rambut seperti
ini.?” Kata Vivian sambil berdiri di depan kaca lemari bajunya.
“Aku juga merasa seperti itu.” Sahut Juwita merasa aneh
dengan tatanan nya sendiri.
“Ganti-ganti.!” Seru Mala menimpali.
Vivian kembali duduk di tempat tidur untuk merubah tatanan
rambut yang aneh. Kali ini Juwita mencoba membuat rambut Vivian sedikit berbeda
seperti biasanya dengan memberikan gelombang pada rambutnya. Setelah selesai
Vivian segera berdiri dan mendapati dirinya di depan cermin. Kali ini dia tidak
dapat mengatakan satu kata pun pada kedua temannya. Tatanan rambut itu sangat
cocok dengan baju yang telah dia kenakan sekarang.
“Gimana.?” Tanya Juwita kepada Mala.
Mala hanya bisa membalas dengan senyuman khasnya dan disusul
dengan senyum Vivian kepadanya.
Mereka segera pergi ke tempat acara pesta pernikahan Jalal
dan Hana. Kali ini Juwita meminjam sepeda motor milik pamannya untuk mereka
bawa. Karena postur tubuh mereka yang masuk dalam kategori langsing, satu motor
sudah lebih dari cukup untuk mengangkut mereka bertiga. Hanya membutuhkan lima
menit saja mereka telah sampai di tempat acara.
Vivian, Mala dan Juwita tampil begitu mempesona. Hingga
membuat para tamu undangan lain memperhatikan mereka dengan rasa penuh kagum
akan kecantikan yang mereka tampilkan sekarang.
Saat mereka sibuk mengambil hidangan untuk di makan, tanpa
sengaja Vivian memperhatikan panggung music yang menjadi hiburan acara
tersebut. Ada satu sosok yang tidak asing di mata Vivian. Vivian menyipitkan
mata dan mengorek memory otaknya untuk mengingat seseorang yang ada di depan
matanya sekarang. Vivan mengingat sesuatu seperti lampu 10 watt telah menyala
dalam otaknya.
Dia kan
Dafa. Salah satu personil 3D yang sangat populer di sekolah. Kenapa dia bisa
ada disini juga.? Kata Vivian dalam hati.
Senggolan lengan Mala membuyarkan lamunan Vivian. Mereka
segera mengambil tempat duduk untuk menikmati hidangan yang telah mereka ambil.
Segerombol cowok menghampiri mereka untuk sekedar berbincang.
Mereka seperti selebritis yang sedang diburu oleh para fans untuk meminta tanda
tangan. Jalan yang mengetahui hal tersebut merasa sedikit jengkel. Bagaimana
bisa di acaranya yang begitu special dia merasa begitu diacuhkan. Dan semua ini
dikarenakan oleh ketiga gadis tersebut.
Dafa dan teman satu bandnya mulai memainkan music. Disini
Dafa bertepatan memegang gitar dan sekaligus menjadi vokalis. Inilah salah satu
kelebihan Dafa dalam bermusik. Walaupun tangannya sibuk memetik senar gitar
namun dia bisa tetap fokus dalam bernyanyi.
Satu lagu yang sedang dinyanyikan olehnya sangatlah enak di
dengar oleh semua telinga yang hadir disana. Suara Dafa yang begitu khas dan
merdu saat menyanyikan lagu telah berhasil menghipnotis semua tamu yang hadir
di acara tersebut. Vivian sangat menikmati hidangan yang berada di tangannya
sekarang. Vivian tak peduli sama sekali dengan beberapa lelaki yang berada di
dekatnya dan sibuk mengagumi kecantikannya.
Hidangan yang ada di tangan Vivian akhirnya habis juga masuk
ke dalam perutnya. Begitu juga Mala dan Juwita. Saat mereka mau beranjak
mengambil hidangan penutup bertepatan dengan lagu yang dinyanyika Dafa juga
selesai. Master of ceremony atau MC menawarkan hadirin yang memiliki suara merdu
untuk menyumbangkan sebuah lagu ke atas pentas.
Juwita mengambil inisiatif untuk ini. Dia menyarankan kepada
Vivian agar maju ke depan dan menyanyikan sebuah lagu untuk membalas perbuatan
Jalal padanya. Pada awalnya Vivian menolak, karena tamu yang hadir begitu
banyak disamping itu disana juga ada Dafa yang merupakan kakak kelas satu
sekolah dengannya. Hal ini membuat dirinya merasa canggung. Namun pada akhirnya
Vivian tidak dapat berbuat apa-apa. Kedua sahabatnya menarik dan mendorongnya
sampai di depan pentas. Dan Vivian hanya bisa pasrah menerima semua itu.