Point Of Love

Point Of Love
Wedding Party



Hari ini secara kebetulan Rino berkunjung ke rumah adik


sepupunya Jasmine. Tidak ada yang istimewa dalam kunjungannya. Keluarga Jasmine


sedang sibuk mempersiapkan keberangkatan kedua orang tuanya ke luar negeri


untuk urusan bisnis.


“Rino.” Sapa ibu Jasmine saat turun dari tangga dan mendapati


Rino telah duduk di sofa ruang tamu rumahnya.


“Iya tante. Tante mau kemana.?” Tanya Rino mengerutkan dahi


melihat tantenya yang sudah berpakaian rapi dan menenteng tas bermerek


kesayangannya yang mahal.


“Biasa. Tante ada perjalanan bisnis ke London sama om.” Sahut


ibu Jasmine.


“Ooo.” Kata Rino sambil menganggukkan kepala pelan. Rino


meraih majalah yang tergeletak di bawah meja dan membacanya. Ibu Jasmine


berjalan mendekati Rino dan duduk di sebelahnya.


“Rino.” Sapa ibu Jasmine.


“Iya tan.” Sahut Rino cepat.


“Tante nitip adik kamu Jasmine ya. Selama tante sama om di Luar


Negeri  kamu harus jagain dia. Cuma kamu


keluarga yang bisa tante percaya.” Seru ibu Jasmine kepada Rino.


“Tante tenang saja. Rino bakal jagain Cumut. Dia kan sudah


seperti adik Rino sendiri tan.” Rino tersenyum. Ibu Jasmine terlihat begitu


lega mendengar pernyataan Rino. Dia juga terenyum sambil mengelus rambut


keponakannya itu.


Rino merupakan anak dari kakak ibunya Jasmine. Sejak kecil


Rino dan Jasmine telah tumbuh bersama. Umur mereka juga tidak terpaut jauh.


Hanya beda 2 tahun saja. Rino tidak punya saudara lagi begitu pula Jasmine.


Mungkin karena itulah mereka sudah seperti kakak beradik kandung. Membuat


mereka merasa seperti saudara sendiri satu sama lain.


Setelah semua perlengkapan ayah dan ibu Jasmine telah di


masukkan ke dalam mobil. Akhirnya mereka berpamitan kepada anak semata wayang


mereka yaitu Jasmine. Ibu Jasmine juga berpesan padanya agar selalu


berhati-hati dan menjaga kesehatan. Dan tidak lupa pula memperingatkan Rino


untuk menjaganya.


Hari ini bertepatan dengan hari dimana Jalal dan Hana


melangsungkan pernikahan mereka. Pesta pernikahan mereka sangat besar dan


mewah. Mungkin karena ayah Hana adalah seorang kepala desa disana dan juga dia


memiliki banyak relasi bisnis. Disamping jabatannya sebagai kepala desa, dulu


sebelum dia menjabat dia adalah seorang usahawan yang sukses di kota. Saat


usahanya mengalami kemerosotan dia memutuskan untuk pulang ke kampung halaman


dan menyalonkan diri menjadi kepala desa di desa tersebut. Siapa yang menyangka


dia terpilih menjadi kepala desa dan bisa memulai kembali usahanya dari sana.


Vivian berdiri di depan kaca kamarnya dengan mengenakan baju


yang telah dia beli dari butik kemarin. Dia tidak percaya dengan penampilannya


sekarang. Mendapati dirinya yang berdiri di depan kaca seakan itu bukanlah


dirinya melainkan orang lain. Karena terlihat begitu anggun dan cantik. Vivian


baru sadar kalau dia memiliki pesona yang sangat kuat dalam dirinya. Hanya melakukan


polesan sedikit saja membuatnya begitu berbeda dari biasanya.


“Vivian.” Teriak Mala dari luar pintu rumah Vivian.


Vivian segera membuka pintu dan mempersilahkan Mala dan


Juwita masuk ke dalam kamarnya. Bukan hanya Vivian yang kagum dengan dirinya


sendiri bahkan Mala dan Juwita pun turut kagum terhadap dirinya. Mala dan


juwita duduk di tempat tidur Vivian.


“Kamu bawa apa itu.?” Tanya Vivian kepada Juwita yang


menenteng tas plastic warna hitam.


“Ini.?” Sahut Juwita dan langsung mengeluarkan benda yang ada


di dalamnya.


“Tara.!” Seru Juwita antusias dengan alat pelurus rambut yang


telah berada di tangannya. Mala dan Vivian hanya bisa saling pandang tak


mengerti.


“Sini duduk.!” Juwita menarik tubuh Vivian agar duduk di


tempat tidur dan memulai aksinya untuk merapikan rambut Vivian menggunakan


“Kenapa aku malah merasa aneh dengan tatanan rambut seperti


ini.?” Kata Vivian sambil berdiri di depan kaca lemari bajunya.


“Aku juga merasa seperti itu.” Sahut Juwita merasa aneh


dengan tatanan nya sendiri.


“Ganti-ganti.!” Seru Mala menimpali.


Vivian kembali duduk di tempat tidur untuk merubah tatanan


rambut yang aneh. Kali ini Juwita mencoba membuat rambut Vivian sedikit berbeda


seperti biasanya dengan memberikan gelombang pada rambutnya. Setelah selesai


Vivian segera berdiri dan mendapati dirinya di depan cermin. Kali ini dia tidak


dapat mengatakan satu kata pun pada kedua temannya. Tatanan rambut itu sangat


cocok dengan baju yang telah dia kenakan sekarang.


“Gimana.?” Tanya Juwita kepada Mala.


Mala hanya bisa membalas dengan senyuman khasnya dan disusul


dengan senyum Vivian kepadanya.


Mereka segera pergi ke tempat acara pesta pernikahan Jalal


dan Hana. Kali ini Juwita meminjam sepeda motor milik pamannya untuk mereka


bawa. Karena postur tubuh mereka yang masuk dalam kategori langsing, satu motor


sudah lebih dari cukup untuk mengangkut mereka bertiga. Hanya membutuhkan lima


menit saja mereka telah sampai di tempat acara.


Vivian, Mala dan Juwita tampil begitu mempesona. Hingga


membuat para tamu undangan lain memperhatikan mereka dengan rasa penuh kagum


akan kecantikan yang mereka tampilkan sekarang.


Saat mereka sibuk mengambil hidangan untuk di makan, tanpa


sengaja Vivian memperhatikan panggung music yang menjadi hiburan acara


tersebut. Ada satu sosok yang tidak asing di mata Vivian. Vivian menyipitkan


mata dan mengorek memory otaknya untuk mengingat seseorang yang ada di depan


matanya sekarang. Vivan mengingat sesuatu seperti lampu 10 watt telah menyala


dalam otaknya.


Dia kan


Dafa. Salah satu personil 3D yang sangat populer di sekolah. Kenapa dia bisa


ada disini juga.? Kata Vivian dalam hati.


Senggolan lengan Mala membuyarkan lamunan Vivian. Mereka


segera mengambil tempat duduk untuk menikmati hidangan yang telah mereka ambil.


Segerombol cowok menghampiri mereka untuk sekedar berbincang.


Mereka seperti selebritis yang sedang diburu oleh para fans untuk meminta tanda


tangan. Jalan yang mengetahui hal tersebut merasa sedikit jengkel. Bagaimana


bisa di acaranya yang begitu special dia merasa begitu diacuhkan. Dan semua ini


dikarenakan oleh ketiga gadis tersebut.


Dafa dan teman satu bandnya mulai memainkan music. Disini


Dafa bertepatan memegang gitar dan sekaligus menjadi vokalis. Inilah salah satu


kelebihan Dafa dalam bermusik. Walaupun tangannya sibuk memetik senar gitar


namun dia bisa tetap fokus dalam bernyanyi.


Satu lagu yang sedang dinyanyikan olehnya sangatlah enak di


dengar oleh semua telinga yang hadir disana. Suara Dafa yang begitu khas dan


merdu saat menyanyikan lagu telah berhasil menghipnotis semua tamu yang hadir


di acara tersebut. Vivian sangat menikmati hidangan yang berada di tangannya


sekarang. Vivian tak peduli sama sekali dengan beberapa lelaki yang berada di


dekatnya dan sibuk mengagumi kecantikannya.


Hidangan yang ada di tangan Vivian akhirnya habis juga masuk


ke dalam perutnya. Begitu juga Mala dan Juwita. Saat mereka mau beranjak


mengambil hidangan penutup bertepatan dengan lagu yang dinyanyika Dafa juga


selesai. Master of ceremony atau MC menawarkan hadirin yang memiliki suara merdu


untuk menyumbangkan sebuah lagu ke atas pentas.


Juwita mengambil inisiatif untuk ini. Dia menyarankan kepada


Vivian agar maju ke depan dan menyanyikan sebuah lagu untuk membalas perbuatan


Jalal padanya. Pada awalnya Vivian menolak, karena tamu yang hadir begitu


banyak disamping itu disana juga ada Dafa yang merupakan kakak kelas satu


sekolah dengannya. Hal ini membuat dirinya merasa canggung. Namun pada akhirnya


Vivian tidak dapat berbuat apa-apa. Kedua sahabatnya menarik dan mendorongnya


sampai di depan pentas. Dan Vivian hanya bisa pasrah menerima semua itu.