Point Of Love

Point Of Love
Selebar Daun Kelor



Waktu berjalan begitu cepat. Renungan malam yang begitu mereka nantikan akhirnya dapat berakhir dengan sukses. Selesai kegiatan


tersebut seluruh siswa yang mengikuti beserta para panitia penyelenggara segera beristirahat di ruangan yang tengah di sediakan. Bukan kamar hotel atau pun motel mewah. Melainkan ruang kelas yang di rubah menjadi kamar bersama yang


terdiri dari beberapa karpet tebal untuk alas mereka tidur malam ini.


Vivian merebahkan tubuhnya di sudut ruangan dengan bantal tasnya sendiri. Meletakkan kedua tangannya di bawah kepala dan memejamkan mata


sejenak. Terlintas wajah mas Candra dalam fikirannya. Hal itu membuat Vivian tersenyum dalam lamunan.


“Vivian.!!” Teriak Jasmine seakan menusuk telinga.


Vivian menghela nafas kesal. Membuka mata perlahan dan langsung terkejut.


"Astagfirulloh."


Wajah Jasmine sudah berada tepat di depan wajah Vivian saat ini dengan mata melotot. Jasmine menggeser tubuhnya sedikit agar Vivian bisa bangun untuk duduk.


“Kamu kenapa sih Cumut.? Untung saja aku nggak punya penyakit jantung. Kalau enggak aku sudah mati kena serangan jantung.” Gerutu Vivian


sambil mengelus dadanya sendiri mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup


kencang.


“Kamu ada hubungan apa dengan kak Dafa.?” Tanya Jasmine tanpa basa-basi.


Vivian menghela napas lagi. “Kita nggak ada hubungan apa-apa. Okey.?” Sahut Vivian dengan malas dan ingin kembali merebahkan tubuhnya namun di tarik kembali oleh Jasmine.


“Aku belum selesai Vivian.” Seru Jasmine.


“Apa lagi sih Cumut.? Aku capek mau istirahat.” Kata Vivian dengan nada kesal.


“Lalu tadi dia biang apa saja sama kamu.?” Tanya Jasmine sedikit ragu.


“Besok saja ya. Beneran aku capek banget nih.” Vivian dengan wajah memelas dan merebahkan tubuhnya kembali di atas tikar.


“Okey. Kalau kayak gitu aku akan nungguin kamu disini tanpa tidur dan istirahat. Sampai aku dapat jawaban dari pertanyaanku. Lagi pula aku


juga nggak bakalan bisa tidur malam ini karena penasaran.” Perkataan Jasmine penuh ancaman. Vivian akhirnya menyerah dan kembali duduk. Jasmine sangat antusias mendengar cerita Vivian kali ini.


“Aku nggak pernah ada hubungan apa-apa dengan Dafa. Dia ngajak aku bicara empat mata hanya untuk menawarkan agar aku mau bergabung


dengan band nya. Karena menurut dia, suara aku itu cocok untuk mengisi vokalis cewek dalam bandnya. Puas.?” Seru Vivian dengan nada kesal.


“Kamu beneran nggak ada perasaan apa-apa sama dia.?” Jasmine masih juga penasaran dengan hal itu. Vivian memutar matanya dengan malas.


Sebenarnya Vivian malas meladeni pertanyaan yang itu-itu saja. Karena tidak mungkin baginya untuk jatuh cinta lagi.


“Untuk yang pertama dan yang terakhir kalinya aku akan bilang ini sama kamu Cumut. Aku masuk ke sekolah ini dengan susah payah. Aku harus


beradu argument dengan bapak aku dan meyakinkan dia agar mengizinkan aku bersekolah disini. Aku juga harus susah payah mengikuti segala macam tes agar aku bisa masuk ke sekolah ini. Jadi dalam kamus besar aku nggak penah tertulis suka-sukaan atau pun cinta-cintaan. Aku hanya ingin fokus untuk mencapai semua


cita-citaku. Paham.?” Jelas Vivian.


“Ya maaf Vi. Aku nggak pernah bermaksud untuk mencampuri urusan pribadimu. Aku hanya senang saja kalau kamu bisa membuka hati untuk orang lain. Apalagi kalau orang itu adalah Dafa. Aku akan mendukungmu sepenuh hati.” Kata Jasmine penuh sesal.


“Cumut sayang. Aku nggak butuh sosok seseorang yang seperti kamu bicarakan barusan. Cukup kamu sebagai teman baikku itu sudah lebih dari cukup.”


Vivian memegang tangan Jamine dan mengelusnya. Jasmine hanya mengangguk paham. Selang beberapa detik mereka langsung berpelukan satu dengan yang lain.


“Maafin aku ya Vivian.” Kata Jasmine dalam pelukannya.


“Iya nggak apa-apa.” Sahut Vivian sambil mengelus bahu Jasmine pelan.


“Tapi kamu harus janji satu hal sama aku. Kalau ada seseorang yang bisa menyentuh dan membuka hatimu. Kamu harus bilang sama aku.” Seru Jasmine dan melepaskan pelukannya.


“Iya. Aku janji.” Sahut Vivian dan mereka menyatukan jari kelingking untuk membuat janji.


Aku juga tidak tahu Jasmine. Apakah aku bisa jatuh cinta lagi.? Karena bagiku itu adalah


sesuatu hal yang tidak mungkin. Hati ini sudah terlanjur kaku dan menjadi sekeras batu. Akan sulit untuk melunakkannya kembali. Kata Vivian dalam hati.


Jasmine memutuskan akan bermalam bersama dengan Vivian malam ini. Agar Rino tidak merasa cemas, Vivian segera mengirim chat yang memberitahukan


bahwa Jasmine sekarang sedang bersama dengannya dalam satu ruangan.


Ke esokan harinya, setelah apel pagi usai Vivian segera bergegas menuju ke stasiun dengan naik ojek. Vivian tidak ingin mas Candra


menunggu terlalu lama disana.


Sampailah Vivian di tempat parkir depan stasiun. Setelah membayar ongkos ojek Vivian segera bergegas masuk ke dalam stasiun untuk


menemukan  kakak sepupunya tersebut.


Vivian mengarahkan pandangan ke seluruh penjuru stasiun. Namun mas Candra tidak


menampakkan batang hidungnya sedikit pun. Hingga dua tangan tiba-tiba mendarat


di depan mata Vivian. Entah datang dari mana tangan tersebut. Dan pandangan


Vivian seketika menjadi gelap dibuatnya.


memegang tangan itu namun tangan itu tidak beranjak dari kedua matanya.


“Coba tebak.!” Suara lelaki yang begitu akrab di telinga


Vivian.


“Mas Candra.!” Teriak Vivian dan Candra segera melepaskan


tangan dari mata Vivian. Vivian berbalik dan segera memeluk Candra yang berada


di depannya sekarang. Pemandangan yang sangat menyentuh bagi siapa saja yang


melihatnya. Mereka yang tidak mengetahui hubungan darah, mereka mungkin


beranggapan kalau mereka adalah sepasang kekasih yang baru saja bertemu setelah


sekian lama terpisah.


Mereka melepaskan pelukan yang di rasa sudah cukup lama itu.


Candra meraih beberapa rambut Vivian yang menutupi pipinya dan menyapu rambut


tersebut ke telinga Vivian.


“Makin hari kamu makin cantik Vian.” Seru Candra sambil


tersenyum manis. Membuat Vivian menahan tawa dalam bibirnya.


“Mas Candra apa-apaan sih.?” Vivian memukul dada Candra


pelan. “Mas Candra juga tambah tinggi.” Kata Vivian sambil mengukur ujung


kepalanya sendiri hanya sebatas dagu Candra saja. Membuat Candra tersenyum


sambil menggigit ujung bibirnya sendiri.


Mereka segera meninggalkan stasiun. Sebelum mereka pulang ke


rumah Vivian, Candra ingin mengajak Vivian untuk mencari tempat makan untuk sarapan.


Karena pagi itu memang perut mereka masih kosong belum terisi makanan sama


sekali. Candra memilih sebuah kafe yang telah direkomendasikan temannya. Dan


mereka memutuskan untuk sarapan disana.


Saat Vivian dan candra masuk ke dalam kafe tanpa sengaja


mereka berpapasan dengan D3 yang juga sedang sarapan disana.


Kenapa bisa


bertemu lagi sih.? Dunia ini seakan hanya selebar daun kelor. Kemana-mana harus


bertemu dengan mereka. Gerutu Vivian dalam hati.


“Kamu kenapa Vian.?” Tanya candra yang sedari tadi


memperhatikan tingkah Vivian yang tidak biasa.


“Nggak kenapa-napa kok mas.” Sahut Vivian dengan cepat.


Candra yang sadar betul dengan sifat Vivian segera paham.


“Kamu kenal sama mereka.? Kalau kamu nggak nyaman kita bisa


cari tempat lain.” Tanya Candra dengan nada sedikit khawatir dengan perubahan


sikap Vivian.


“Aku nggak apa-apa kok mas.” Sahut Vivian sambil tersenyum.


Membuat Candra merasa gemas dan segera mencubit pipi Vivian.


Siapa


lelaki itu.? Kelihatannya mereka cukup dekat. Apa dia pacar Vivian. Seru Dion


dalam hati.


Hanya Dion yang melihat Vivian kali ini. Dia tengah duduk di


sudut ruangan bersama dengan Dafa dan Diandra. Kalau Dafa atau pun Rino yang


melihat Vivian mungkin reaksinya akan jauh berbeda dengannya. Karena yang Dion


tahu mereka sedang berusaha untuk mendekatinya sekarang. Lebih baik mereka


tidak tahu. Begitu fikir Dion dalam hati.