
Vivian bersimpuh di pinggir jalanan sepi dengan linangan air mata yang tak terhentikan. Juwita dan Mala berhamburan memeluk Vivian. Hati mereka pun seakan tersayat melihat sahabatnya yang begitu terluka hanya karena seorang laki-laki. Mata mereka pun terasa perih dan tak dapat membendung air mata yang keluar dari sudutnya.
"Vivian..Aku yakin kamu cewek yang kuat." Kata Juwita sambil sesenggukan karena isak tangis yang tertahan.
Tangis Vivian pun mulai mereda mendengar kedua sahabatnya yang juga ikut menangis bersamanya. Vivian menatap Juwita dan menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Lalu Vivian berganti menatap Mala yang juga ikut menangis dan segera menghapus air mata itu juga. Mereka bertiga saling berpelukan dan menghapus air mata yang masih tersisa.
Setelah dirasa semua sudah lebih tenang mereka memutuskan untuk segera pulang ke rumah. Di pertigaan jalan tak sengaja mereka berpapasan dengan Jalal. Vivian menghela nafas melalui hidungnya dengan pelan. Mengisyaratkan kepada Juwita dan Mala agar menunggunya di ujung jalan raya yang masih belum rampung. Mereka pun segera pergi meninggalkan Vivian dan Jalal di pertigaan jalan.
Vivian tanpa ragu menghampiri Jalal yang berada tepat di seberang jalan. Jalal yang mengetahui Vivian berjalan mendekatinya menjadi salah tingkah dan merapikan bajunya meski itu dirasa tidak diperlukan.
"Kak Jalal." Sapa Vivian.
"Vi.. Kebetulan ketemu disini." Sahut Jalal sambil tersenyum.
"Hemm.. Iya kak. Ada yang mau aku omongin sama kakak." Kalimat Vivian menggantung.
"Apa?" Tanya Jalal tanpa ragu.
"Kak. Sebenarnya surat yang kemarin itu bukan aku yang nulis tapi Nurdin. Dia yang mengatur semuanya. Aku nggak pernah ada niat untuk membohongi kakak. Sebenarnya mulai kemarin aku ingin membicarakan yang sebenarnya pada kakak. Namun sekali lagi kita selalu di pertemukan dengan waktu dan kondisi yang tidak tepat untuk menjelaskan semuanya. Sekali lagi aku minta maaf kak." Kata-kata Vivian dengan lugas dan pelan dapat terdengar jelas di telinga Jalal. Dia hanya membalas dengan senyuman di bibirnya lalu berkata.
"Vivian. Aku juga mau minta maaf sama kamu. Sebenarnya mulai awal aku sudah tahu kalau itu bukan tulisan tanganmu. Aku sangat hafal dengan karakter tulisanmu karena aku sering melihat catatanmu. Nurdin sahabatku mulai kami kecil dulu jadi wajar kalau aku bisa mengenali karakter tulisannya meski dia telah merubah sedikit berbeda dari biasanya." Sahut Jalal.
"Lalu. Kenapa kakak nggak bilang sama aku?" Tanya Vivian heran.
"Aku sengaja tidak mengatakan yang sebenarnya sama kamu. Karena jujur dari dulu aku sudah menaruh hati sama kamu Vi. Walaupun tanpa surat salah alamat itu aku tetap suka sama kamu. Tapi aku bersyukur karena dengan insiden itu aku bisa lebih dekat sama kamu." Lanjut Jalal.
Deg! Vivian sangat terkejut dengan pernyataan yang di utarakan Jalal hingga membuat dadanya naik turun tidak karuan.
"Ka.. Kakak suka sama aku? Mulai kapan?" Tanya Vivian ragu. Jalal hanya membalas dengan senyuman lalu meraih kedua tangan Vivian.
"Entah sejak kapan aku suka sama kamu. Aku juga nggak tahu Vi. Tiba-tiba kamu sudah memiliki tempat spesial di dalam hatiku." Ucap Jalal.
"Tapi kak. Aku.. Aku sukanya dengan orang lain. Selama ini aku hanya menganggap kakak sebagai seorang teman. Tidak lebih dari itu." Vivian menarik kedua tangannya dari genggaman tangan Jalal.
"Aku tahu. Kamu suka sama Nurdin kan?" Tanya Jalal tanpa ragu membuat mata Vivian terbelalak seakan bola mata itu ingin keluar dari tempatnya.
"Aku nggak peduli kamu sukanya sama siapa Vi. Yang aku tahu aku sayang sama kamu. Entah kamu membalas perasaanku atau tidak aku juga nggak peduli. Yang harus kamu tahu ada aku yang akan selalu sayang dan tulus mencintaimu." Lanjut Jalal sambil memegang kedua lengan Vivian.
Vivian tertegun dengan kalimat yang diucapkan Jalal barusan. Membuatnya tersadar betapa bodohnya dia selama ini. Mengejar-ngejar cintanya yang tak terbalas hingga membuatnya sakit hati berkali-kali. Tanpa dia sadari ada sosok orang lain yang sangat peduli dengannya bahkan sangat menyayanginya.
"Tapi kak." Kata Vivian menggantung dan Jalal segera menempelkan jari telunjuknya di bibir Vivian.
"Ssstttt. Aku nggak mau jawabanmu sekarang." Kata Jalal.
"Aku nggak mau akhirnya kakak sakit hati karena aku." Ucap Vivian lirih namun dapat terdengar jelas oleh Jalal. Jalal meraih kedua jemari Vivian dan meletakkan kedunya di depan dadanya sendiri. Vivian terkejut bukan main dengan tindakan Jalal. Vivian segera menarik tangannya dengan sekuat tenaga namun tidak ada gunanya karena Jalal lebih kuat di bandingkan dirinya.
"Kamu harus selalu ingat kata-kata ku ini. Di dalam mencintai seseorang kita tidak membutuhkan balasan dari orang yang kita cintai. Aku akan menunggu kamu sampai kamu suka sama aku dan menyatakan perasaanmu sendiri nanti. Tapi sebelum semua itu terjadi aku akan selalu ada buat kamu. Aku nggak akan pernah membuatmu sedih. Jangankan sedih aku tidak akan membuat satu tetes pun air mata keluar dari sudut matamu Vi." Kata-kata Jalal begitu menyentuh hati Vivian hingga tanpa dia sadari wajahnya berubah merona merah dan dia langsung memalingkan wajah.
"Izinkan aku untuk tetap mencintaimu. Aku berjanji aku akan selalu membuatmu bahagia Vivian." Ucap Jalal dengan setulus hati sambil memegang dagu Vivian agar menatap ke arahnya namun Vivian masih menunduk.
"Lihat aku Vivian!" Pinta Jalal. Vivian memberanikan diri untuk menatap wajah Jalal. Mereka berdua saling menatap. Terlihat ketulusan dari sorot mata Jalal.
"Apapun yang terjadi sebelumnya diantara kita entah itu kesalahpahaman atau apa. Aku akan tetap menunggumu." Lanjut Jalal tegas. Kata itu terucap terdengar begitu manis di telinga Vivian. Tanpa Vivian sadari Jalal telah mengangkat kedua tangan Vivian dan mengecup perlahan. Vivian terkejut dan langsung menarik kedua tangannya dengan sedikit memaksa karena genggaman Jalal yang begitu erat.
"Aku.. Aku pulang dulu ya kak." Kata Vivian gugup sambil meremas jemarinya sendiri. Tanpa menunggu sahutan dari Jalal, Vivian segera berbalik badan dan berlari meninggalkan Jalal sendiri disana. Dada Vivian naik turun tidak karuan seakan jantungnya ingin meloncat keluar.
Mala dan Juwita yang menyaksikan peristiwa pagi itu pun tak dapat mengedipkan mata mereka. Mereka tidak dapat mempercayai apa yang telah mereka saksikan di depan matanya sendiri.
Vivian berlari menghampiri mereka di ujung jalan yang belum usai di perbaiki. Tetapi mereka masih saja diam dan tak menyadari kedatangan Vivian di dekatnya. Vivian melambaikan tangan di depan muka mereka namun tetap tidak ada respon dari keduanya.
"Woi. Kalian kenapa sih? Kesambet?" Celetuk Vivian setengah berteriak. Keduanya bukannya terkejut dan menjawab pertanyaan Vivian mereka malah balik menatap Vivian denga tatapan yang tidak menyenangkan. Vivian mengerutkan dahi keheranan melihat ekspresi mereka yang tidak biasa.
"Vivian. Kenapa kamu diam saat Jalal menciummu?" Tanya Juwita dengan nada sinisnya.
"Aku bukannya diam. Aku tadi terkejut jadi aku diam." Sahut Vivian lesu.
"Jangan bilang kamu suka sama Jalal." Celetuk Mala setengah membentak.
"Kalian apaan sih. Udah yuk pulang!" Kata Vivian sambil merangkul kedua bahu temannya dan berjalan berlalu menyusuri jalanan sepi di iringi sorot sinar matahari di pagi hari. Terasa begitu hangat mnyentuh kulit.