
Seperti pasangan pada umumnya Faro sekarang lebih sering mengunjungi Vivian. Sejak pengakuan cintanya yang secara sepihak terlanjur terungkap, Faro tidak bisa mengendalikan dirinya lagi untuk tidak bertemu dengannya.
Sesuai dengan perkataan Faro pada Vivian bahwa dia tidak akan mengekang pergerakannya. Vivian mendapat ijin untuk bergabung kembali dengan ekskul musik di sekolah. Dafa yang mengetahui semua itu merasa sangat senang.
Hari ini mereka berlatih dengan penuh semangat. Karena lusa mereka harus mengikuti seleksi band yang di adakan oleh dinas terkait. Semua masih berjalan dengan lancar. Tidak ada kendala sedikitpun.
"Makasih semua." Seru Dafa yang mengapresiasi semua orang yang sudah usai berlatih di ruang musik.
Dafa menghampiri Vivian yang duduk sambil meneguk air mineral dalam botol tumbler miliknya.
"Hai Vi." Sapa Dafa.
"Hai juga kak." Vivian mengelap bibirnya yang basah dengan pangkal tangannya.
"Aku senang kamu bisa bergabung lagi sama band ini." Ucap Dafa.
"Aku juga merasa begitu kak."
"Vivian. Sebenarnya ada sesuatu yang sangat mengganggu dalam fikiranku selama ini." Ucap Dafa.
Vivian masih diam mendengarkan.
"Tapi sebelumnya aku mau minta maaf sama kamu. Mungkin ini akan membuatmu tidak nyaman." Ujar Dafa.
"Maksudnya.?" Vivian sama sekali tidak mengerti dengan kalimat Dafa yang menggantung dan mengandung banyak arti.
"Selama ini aku selalu penasaran. Apa alasan kamu keluar dari ekskul musik waktu itu. Bukannya aku mau mengusik privasi mu. Tapi jujur hal itu sangat mengganjal dalam fikiranku." Ucap Dafa.
"Aku punya alasan tersendiri kak. Waktu itu memang situasinya tidak memungkinkan untuk ku bertahan di band ini. Aku juga memiliki banyak pertimbangan sebelum memutuskannya." Sahut Vivian.
"Apa semua yang kamu lakukan harus dengan persetujuan Faro.?" Tanya Dafa ragu.
Vivian tersenyum kecut. Dan menghela nafas perlahan.
"Menurut kak Dafa. Apa kak Faro punya wewenang atas hal itu.?" Tanya Vivian sedikit menekan.
"Ya aku nggak tahu. Itu kan hanya dugaanku saja. Benar atau salahnya aku juga nggak tahu." Ujar Dafa.
"Kak Faro memang terlihat keras dan arogan. Tapi dia tidak pernah mengekangku seperti itu." Ucap Vivian.
"Satu hal lagi. Asal kak Dafa tahu. Alasanku keluar dari musik saat itu karena aku tidak ingin di bully lagi dengan fans D3 yang ada di sekolah ini. Aku menjauhkan diri dari kalian. Terutama kamu kak. Dan orang yang selalu care sama aku, hanya kak Faro. Nggak ada lagi." Ucap Vivian sedikit kesal.
"Maaf Vivian. Aku nggak tahu. Lalu apa yang membuatmu kembali bergabung dengan kami.?" Ujar Dafa menyesal.
"Karena saran dari seseorang yang membuatku tersadar. Makanya aku kembali ke ekskul ini. Mengembangkan bakatku." Ujar Vivian.
"Apa itu juga saran dari Faro.?" Tanya Dafa.
"Ya ampun. Kak Faro lagi. Kenapa sih harus dikaitkan dengan dia terus.?" Ujar Vivian kesal.
"Yang aku tahu, kamu kan cuma dekat sama dia Vi. Ya maaf kalau salah." Ujar Dafa.
"Sekarang kak Dafa sudah tahu kan. Jadi mulai sekarang berhentilah menyalahkan kak Faro yang tidak tahu apa-apa tentang masalah ini. Apalagi sampai mengkaitkan alasanku kembali kesini karena dia." Ujar Vivian.
"Sekali lagi aku minta maaf." Ucap Dafa menyesal.
"Vivian." Teriak salah seorang dari arah pintu. Membuat perdebatan mereka usai.
"Iya."
"Kamu sudah di jemput tuh."
"Siapa.?"
"Mana aku tahu. Lihat saja sendiri.!!" Ucapnya ketus.
Vivian mengintip dari jendela ruang musik. Sedikit berjinjit karena jendela yang cukup tinggi darinya.
"Mas Candra." Seru Vivian pada dirinya sendiri. Tanpa sadar dia melompat kegirangan.
Vivian segera berlari keluar menemui Candra. Candra barsandar pada tiang yang berada tepat di depan ruangan tersebut.
"Mas Candra." Teriak Vivian dengan senyum mengembang.
Candra merentangkan tangan menyambut kedatangan Vivian padanya. Vivian berlari menghambur dan memeluk kakaknya.
"Mas kapan datang.?" Kok nggak ngabarin aku." Ujar Vivian sedikit manja dalam pelukan Candra.
Vivian tersenyum dalam dekapan Candra. Kerinduannya selama ini terhadap kakak kandungnya akhirnya terobati juga. Dafa yang menyaksikan langsung adegan romantis itu hanya bisa tersenyum iri.
Siapa lagi dia.? Ujar Dafa dalam hati dengan raut muka kesal.
"Woi. Bengong aja.?" Sapa Dion tiba-tiba yang menepuk bahu Dafa.
Dafa tidak bergeming masih memperhatikan Candra dan Vivian yang sedang asyik mengobrol. Respon Dafa yang tidak biasa membuat Dion mengerutkan dahi sambil melihat ke arah mata Dafa memandang.
"Mas Candra." Ucap Dion tiba-tiba. Dafa langsung menatap Dion penuh dengan curiga.
"Kamu kenal.?" Tanya Dafa sedikit terkejut.
"Kenal. Dia kakak kandungnya Vivian." Sahut Dion sedikit cuek. Mengingat pesan dari Candra waktu itu agar dirinya tidak mendekati adiknya lagi.
"Kok bisa.? Kenal dimana.? Kok aku nggak tahu." Dafa masih belum percaya kepada Dion.
"Oh iya. Aku lupa cerita sama kamu. Waktu itu aku bertemu Vivian di pinggir jalan. Dia baru kabur dari rumah sakit." Ucap Dion.
"Kenapa kamu baru cerita sekarang.? Terus gimana kamu bisa kenal sama kakaknya.?" Tanya Dafa penasaran.
"Kamu kenapa tanya kayak gitu.? Serasa kayak di introgasi aja." Sahut Dion risih.
"Terserah. Pokoknya sekarang kamu ceritain semuanya secara detail.!!" Ujar Dafa sedikit memaksa.
"Oke. Dia juga sempat di ganggu oleh beberapa preman disana."
"Terus-terus.?" Tanya Dafa tidak sabar.
"Sabar dong.!! Tidak mungkin kan aku membiarkan dia sampai di ganggu sama preman-preman itu. Ya mau nggak mau aku harus jadi pahlawan kesiangan demi melindungi dia." Ujar Dion sedikit sombong.
"Gitu aja sok kecakepan." Gerutu Dafa kesal.
"Memang cakep dari lahir." Sahut Dion di susul dengan gelak tawa.
"Terus.?"
"Singkat cerita. Aku membawa Vivian pulang ke rumah. Karena saat itu kondisi Vivian sangat lemah." Dion belum selesai berbicara namun sudah di sela oleh Dafa.
"Tunggu.!! Kenapa kamu membawa Vivian pulang ke rumah.? Bukannya membawanya ke rumah sakit." Ujar Dafa yang mencium aroma mencurigakan dari cerita Dion.
"Dengerin dulu.!!" Seru Dion.
"Oke."
"Dan saat dia mulai pulih, dia pinjam ponselku buat hubungin kakaknya. Dari situlah aku bisa kenal sama dia." Ujar Dion.
"Ooo gitu ceritanya." Ucap Dafa seolah mengerti.
Vivian segera berpamitan pada teman-temannya. Candra yang mengetahui Dion berada dekat dengan adiknya, melancarkan pandangan ekstra tajam dan sinis. Terlihat kalau dia sangat tidak senang dengan keberadaan Dion di dekat Vivian. Dion menyadari semua itu hingga dia hanya bisa tersenyum getir saat Vivian melambaikan tangan untuk berpamitan dengannya.
"Mas Candra naik apa kesini.?" Ucap Vivian sambil berjalan di samping Candra.
"Tuh." Candra menunjuk pada sebuah motor yang tidak terlihat asing.
"Ini kan.?" Belum selesai kalimat Vivian.
"Sudah. Jangan banyak tanya. Pulang yuk.!! Mas capek." Seru Candra sambil tersenyum.
"Ini motornya kak Faro kan mas.?" Ucap Vivian meyakinkan dugaannya.
"Memangnya kenapa.? Sama saja kan. Toh biasanya juga Al yang jemput kamu. Dan sekarang gantian dong." Ujar Candra sambil naik ke atas motor.
"Hmm. Vivian paham sekarang. Kalian dari awal memang sudah merencanakan semua ini kan.?" Seru Vivian sambil mengenakan helm yang dibantu oleh Candra.
"Mas hanya ingin kamu ada yang jagain. Selagi mas nggak ada disini. Memangnya ada yang salah.?" Tanya Candra.
Vivian hanya diam dan menggelengkan kepala.
"Dan mas fikir, Al sudah termasuk dalam kriteria untuk tugas itu. Lagi pula mas sudah kenal dia lama. Dan mas tahu dia tipikel orang seperti apa." Ujar Candra.
Benar juga dengan apa yang dikatakan mas Candra. Selama ini kak Faro yang selalu siap sedia menjagaku. Ucap Vivian dalam hati.
Candra segera menyalakan motor dan melaju meninggalkan gerbang sekolah. Menembus panasnya terik matahari dan hiruk pikuk kendaraan di jalan raya. Melesat menuju rumah mungil mereka yang sangat nyaman dan manis. Home sweet home.