
"Ponselku." Seru Vivian lirih. Melihat kondisi ponselnya yang hancur di lantai sambil berjongkok.
Kegaduhan yang mereka sebabkan mengundang perhatian banyakborang terutama pengunjung restoran yang ada disana.
Faro berjalan dengan santai. Mengambil ponsel Vivian yang hancur dan menyerahkan ponsel itu ke tangan Vivian. Faro menyuruh Vivian untuk duduk terlebih dahulu.
Dan saat Faro berbalik berhadapan dengan lelaki yang terlihat beringas itu. Seketika satu pukulan keras mendarat di rahang lelaki itu. Darah segar keluar dari mulutnya.
"Kalau kamu memang benar laki-laki. Lawan yang sebanding sama kamu. Jangan beraninya sama cewek." Ujar Faro dengan nada tegas.
"Siapa kamu. Kenapa kamu ikut campur dengan masalahku.?" Sahutnya sambil mengelap darah yang keluar dari ujung bibirnya.
"Kamu sudah dengan berani merusak ponsel adikku. Kamu fikir aku akan tinggal diam melihat semua itu.?" Sahut Faro emosi.
"Oh.. Jadi dia adik kamu. Pantas saja kakak beradik tidak jauh beda kelakuannya. Sama-sama suka ikut campur urusan orang lain." Sahutnya dengan nada menghina.
"Memangnya kenapa.? Harusnya kamu yang tahu diri. Sudah tahu Berlian tidak mau sama kamu. Kenapa masih juga kamu paksa." Ujar Faro penuh percaya diri.
"Siapa juga yang mau memaksa Berlian untuk ikut denganku.? Dia dengan senang hati mau mengikutiku. Benar kan Berlian.?" Ujar lelaki itu kepada Berlian.
Berlian tersentak mendengar pernyataan lelaki itu padanya. Semuanya jelas di luar keinginannya.
Faro mengisyaratkan Berlian agar mendekat kepadanya. Awalnya Berlian ragu namun Faro meyakinkan Berlian agar percaya padanya. Perlahan Berlian mendekati kedua lelaki itu.
"Berlian. Jawab dengan jujur.!! Kamu mau ikut laki-laki berengsek ini atau ikut aku bersama dengan Vivian.?" Tanya Faro tegas.
Berlian terlihat gugup dan memandang kedua lelaki itu bergantian tanpa menjawab.
"Jawab Berlian.!!" Sentak lelaki itu kasar.
"Aku. Aku. Aku mau ikut Vivian dan kakaknya." Ujar Berlian gugup namun dia mengucapkannya dengan cepat.
"Kamu." Lelaki itu terlihat tidak terima dengan jawaban yang di berikan Berlian padanya.
Faro tersenyum kecil lalu berkata.
"Kamu dengar sendiri kan Berlian ingin ikut dengan siapa.?" Ujar Faro dengan senyum kepuasan.
"Kamu akan menyesal Berlian. Aku tidak terima kamu permalukan seperti ini. Awas kamu Berlian." Sahut lelaki itu dan segera meninggalkan Berlian dengan perasaan marah yang sangat menggebu dalam hatinya. Karena Berlian lebih memilih ikut dengan Vivian dibandingkan dengan dirinya.
"Terima kasih." Ucap Berlian kepada Faro.
"Jangan berterima kasih kepada ku. Tapi berterima kasihlah padanya." Ujar Faro sambil melihat ke arah Vivian.
Berlian menghampiri Vivian yang masih memperhatikan ponselnya yang telah hancur.
"Terima kasih." Ucap Berlian sedikit ragu.
"Iya kak. Sama-sama." Sahut Vivian tanpa menoleh pada keberadaan Berlian berdiri sekarang.
"Udah. Jangan dilihatin terus.!! Di lihat sampai semalaman pun ponsel itu nggak akan berubah jadi baru lagi." Ujar Faro.
"Tapi kak. Kan sayang." Sahut Vivian.
"Beli saja yang baru. Gampang kan.?" Ujar Faro.
"Iya gampang. Tapi uangnya dapat dari mana.? Memangnya kak Faro mau beliin ponsel baru buat Vivian.?" Ucap Vivian.
"Itu namanya sama aja. Kak Faro cuma nalangin. Ujung-ujungnya minta ganti juga sama mas Candra." Sahut Vivian. Faro hanya terkekeh mendengar pernyataan Vivian.
"Maaf ya Vivian. Gara-gara aku ponsel kamu jadi hancur kayak gitu." Sahut Berlian.
"Bukan salah kak Lian juga kok. Kan cowok tadi yang ngancurin ponsel aku." Ujar Vivian.
"Cowok tadi namanya Dannis. Dia mantan pacar aku. Ya walaupun kita sudah tidak ada hubungan apa-apa tapi dia selalu posesif sama aku." Sahut Berlian dengan nada mengeluh.
"Itu kan masalah kamu. Kenapa jadi curhat gini." Ujar Faro sinis.
"Kak Faro apaan sih.? Orang lagi sedih bukannya dihibur malah kayak gitu." Sahut Vivian ketus melihat reaksi Faro yang tidak bersimpati sedikit pun terhadap Berlian.
"Sorry. Aku jadi terbawa suasana kayak gini." Ucap Berlian mencoba menenangkan hatinya.
"Oh iya Vivian. Kalau kamu mau, aku bisa ganti ponsel kamu yang rusak dengan yang baru. Karena secara tidak langsung aku juga yang menyebabkan semua ini." Ujar Berlian.
"Nggak usah kak. Biar aku minta yang baru saja sama mas Candra." Ucap Vivian sambil tersenyum.
"Kalau enggak gini aja. Di rumah ada ponsel aku yang nggak ke pakai. Ya walaupun bekas tapi masih bisa berfungsi dengan baik. Kamu mau nggak.?" Terang Berlian kepada Vivian.
Vivian diam sejenak untuk berfikir.
"Ya udah deh. Aku mau. Tapi ini sifatnya pinjam aja ya kak Lian. Nanti kalau aku sudah di beliin yang baru sama mas Candra. Ponselnya aku balikin langsung ke kakak lagi." Ujar Vivian.
"Oke. Terserah kamu aja." Sahut Berlian.
Sebenarnya Faro tidak setuju dengan keputusan Vivian kali ini. Tetapi dia juga tidak ingin terlalu mengatur dan mengekang Vivian. Seperti yang sudah dia janjikan sebelumnya. Dia tidak ingin Vivian menjauh darinya.
Seorang pelayan datang dengan pesanan yang dibawanya seauai dengan keinginan mereka tadi. Vivian merasa selera makannya hilang akibat kejadian itu. Dan Faro memutuskan untuk membungkus semuanya agar dibawa pulang untuk dimakan di rumah saja. Vivian setuju dengan saran Faro.
Saat hendak pulang Vivian meminta Faro agar mengantarkan Berlian pulang ke rumahnya dengan selamat. Vivian takut kalau Dannis masih menyimpan dendam dan akan menghampiri Berlian lagi.
Semula Faro menolak dengan beralasan dia juga tidak ingin Vivian kenapa-napa di jalan dan bersikeras untuk mengantarkan Vivian pulang sampai di rumah. Namun bukan Vivian namanya kalau tidak bisa membujuk Faro sampai dia mau.
Dengan berat hati Faro menuruti keinginan Vivian. Namun dengan satu syarat. Vivian juga harus di antarkan pulang oleh salah satu anak buah kepercayaan Faro. Viviang langsung setuju dengan syarat itu.
Malam itu Faro mengantarkan Berlian pulang ke rumahnya dengan selamat. Dan Berlian sudah sampai tepat di depan pintu gerbang rumahnya.
"Makasih banyak ya kak. Sudah mau repot-repot mengantarku pulang." Ujar Berlian dengan senyum mengembang.
"Iya." Sahut Faro cuek.
"Oh iya. Kak Faro nggak mau mampir dulu." Tanya Berlian dengan perasaan senang.
"Nggak usah. Lain kali saja." Ujar Faro sedikit sinis.
"Kamu buruan masuk. Setelah kamu masuk rumah baru aku bisa pergi." Lanjut Faro.
Perintah Faro kali ini membuat hati Berlian berbunga-bunga dan senang. Senyum kebahagiaan itu tak dapat dia sembunyikan lagi. Semua tergambar jelas pada raut mukanya sekarang. Berlian segera bergegas masuk ke dalam rumah tanpa membantah perintah Faro padanya.
Setelah memastikan Berlian sudah pulang ke rumah dengan selamat, Faro segera menstater motor dan meninggalkan tempat itu. Di dalam hati dan fikirannya telah di penuhi oleh bayangan Vivian. Rasa marah, kesal, khawatir semua bercampur aduk menjadi satu. Faro tidak dapat berfikir dengan jernih.
Vivian di antar pulang oleh Joko. Pegawai cafe sekaligus teman Vivian satu sekolah. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam dan tak banyak bicara. Joko mengantarkan Vivian sampai di depan rumahnya. Vivian segera masuk ke dalam rumah. Namun tidak dengan Joko. Dia masih betah berada di depan rumah Vivian. Bukan tidak ingin pergi atau bagaimana. Namun sebelum mereka berpisah satu sama lain untuk mengatarkan Berlian dan Vivian. Faro telah berpesan kalau Joko tidak boleh pergi sebelum dia datang kesana setelah mengantarkan Berlian pulang.