Point Of Love

Point Of Love
Candra Vs Faro



"Gaes. Apa nggak apa-apa kalau kita masuk ke dalam kayak gini.?" Ucap Mala khawatir.


"Mau gimana lagi.? Biar masalah ini di selesaikan oleh para laki-laki saja. Kita sebagai generasi perempuan jangan ikut campur deh.!!" Sahut Juwita menimpali.


"Tapi. Aku merasa bersalah." Ujar Vivian lesu.


"Vivian. Ini bukan kesalahan kamu. Jadi kamu jangan merasa bersalah seperti ini.!!" Sahut Juwita sambil mengelus tangan Vivian lembut.


"Iya bener apa kata Juwita. Kamu nggak bersalah sama sekali. Lagian juga aku heran kenapa cowok galak itu bisa sampai kesini sih.?" Ujar Mala sambil menatap kedua temannya.


"Jangan-jangan dia ngikutin kita Mala." Sahut Juwita.


"Aduh. Kenapa kita bisa ceroboh kayak gini sih." Mala mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Aku harus keluar sekarang."


"Jangan Vivian.!! Bahaya." Seru Juwita menahan tangan Vivian.


"Iya. Lebih baik kita di dalam saja." Mala menimpali.


"Aku nggak bisa kalau hanya duduk dan diam disini. Kalian nggak tahu sifat Faro seperti apa. Aku nggak mau Mas Candra sampai terluka karena mencoba melindungiku." Ujar Vivian sambil menatap dua temannya bergantian.


"Tapi mas Candra berpesan agar kita tetap di dalam kamar. Kamu tadi denger sendiri kan.?" Sahut Mala.


"Pokoknya aku harus keluar sekarang." Seru Vivian sambil bergegas membuka pintu kamar dan dengan langkah cepat menuju depan rumah.


Mala dan juga Juwita akhirnya juga ikut keluar kamar menyusul Vivian yang sudah lebih dulu keluar.


Benar saja. Saat Vivian sampai di depan rumah dia di suguhkan dengan perkelahian dua lelaki.


"Hentikan.!!" Teriak Vivian. Dua lelaki itu menghentikan pertikaian dan bersamaan menatap Vivian. Vivian segera berlari dan melerai keduanya.


"Kenapa malah berkelahi kayak gini sih.? Malu-maluin tahu nggak." Ujar Vivian sambil berteriak keras di depan muka lelaki yang sudah memar di sekitar muka mereka.


"Dia yang mulai duluan." Teriak Faro pada Candra.


"Stop. Aku nggak peduli siapa yang mulai duluan. Aku minta sama kak Faro untuk pergi dari sini.!!" Ujar Vivian sambil menolong Candra yang sudah tersungkur di tanah karena pukulan Faro yang kuat.


"Vivian. Aku mohon sama kamu sekali lagi. Kamu ikut denganku pulang sekarang oke.!! Kak Faro janji nggak akan berkelahi lagi. Kamu mau kan.?" Ujar Faro sambil memegang salah satu tangan Vivian memohon dengan sangat padanya.


"Maaf kak Faro. Aku nggak bisa masuk ke rumah itu lagi. Aku harap kak Faro mengerti dengan keputusanku saat ini." Ucap Vivian sambil memegang tangan Faro dan melepaskan genggaman tangan Faro dari tangannya sendiri.


Vivian kembali menolong Candra yang masih kesakitan akibat berkelahi. Saat Vivian memapah Candra untuk berdiri Faro tiba-tiba meraih bahu Candra dan kembali memukul wajahnya sekali lagi.


"Mas Candra awas." Teriak Juwita dari arah depan pintu yang juga ikut menyaksikan perkelahian itu.


Vivian sangat terkejut dengan tindakan Faro pada kakaknya Candra. Pukulan Faro membuat Candra kembali tersungkur di tanah.


"Kak Faro." Teriak Vivian dengan penuh amarah.


Plak.!!


Satu tamparan keras mendarat di pipi Faro. Faro terdiam sejenak karena syok dan memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan keras Vivian.


"Jangan sampai aku berlaku kurang ajar sama kak Faro." Ujar Vivian kesal.


Vivian segera menolong Candra. Mala dan Juwita juga ikut menolong dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Tetes-demi tetes hujan berubah menjadi guyuran yang begitu deras. Faro masih tetap berdiam di depan rumah Vivian.


Vivian membawa air dingin dari dapur untuk meredakan memar pada luka kakaknya. Mala dan juga Juwita juga menyiapkan obat merah untuk mengobati Candra. Mereka sibuk merawat Candra hingga tak menyadari kalau Faro masih berdiri di luar rumah dalam cuara yang begitu dingin.


"Hujannya ngamuk nih." Ujar Mala.


"Masak sih.?" Juwita membuka tirai jendela dan melihat ke luar. Juwita menyipitkan mata beberapa detik.


"Ya Allah Vivian.!!" Seru Juwita.


"Ada apa bawel.? Bikin kaget saja." Celetuk Vivian sambil mengoleskan obat merah pada ujung bibir kakaknya.


"Dia dari tadi nggak bergerak sedikit pun." Lanjut Juwita. Sambil menoleh Vivian dan Candra.


"Maksud kamu.? Aw. Aw." Rintih Candra karena saat membuka mulut ujung bibirnya terasa perih.


"Makanya jangan ngomong dulu.!! Sakit kan.?" Seru Vivian geram dengan kelakuan kakaknya itu. Vivian mengalihkan pembicaraan.


"Faro masih di depan rumah Vivian." Seru Juwita.


"Biarin saja. Nanti kalau kedinginan juga pergi sendiri." Sahut Vivian cuek. Meski hatinya menolak dengan keras dan khawatir dengan kondisi Faro saat ini.


"Dek." Ucap Candra pelan sambil memegang tangan Vivian yang sedang sibuk mengobati lukanya.


"Kenapa mas.? Mana lagi yang sakit.? Sini biar Vivian obati." Ujar Vivian. Candra menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum simpul. Membuat Vivian mengerutkan dahi tanda tak mengerti.


"Mas tahu kamu sedang marah sama Faro. Tapi membiarkan dia kehujanan di luar juga tidak baik." Ucap Candra sambil menahan sakit di bibirnya.


"Maksud mas Candra apa.? Vivian nggak ngerti." Ujar Vivian jutek.


"Kamu pasti paham maksud mas kan.?"


Vivian menghela nafas sejenak dan menatap Candra.


"Jadi maksud mas aku harus nolongin dia gitu. Nggak mas aku nggak mau." Tolak Vivian dengan tegas.


"Kamu jangan seperti itu dek.!! Apa kamu lupa dengan pesan mas sama kamu di setiap kita bertemu."


Vivian tertunduk dan terdiam sambil membereskan obat merah dan memasukkannya ke dalam kotak obat.


"Bersikaplah baik kepada siapa pun walaupun orang itu pernah berbuat jahat bahkan pernah menyakitimu."


Vivian masih terdiam.


"Mas tahu selama ini Faro yang selalu membantu di setiap masalah datang padamu. Dan hal itu membuat mas merasa kesal dan cemburu terhadapnya. Karena mas kakak kandung kamu tapi kenapa malah dia yang selalu ada saat kamu mengalami kesulitan. Kenapa bukan mas yang ada disana." Ujar Candra. Vivian menatap kakaknya dalam diam.


"Makanya kami berkelahi di luar. Tapi mas juga sadar. Faro adalah orang yang selalu ada buat kamu. Selalu siap sedia untuk melindungimu Vivian." Lanjut Candra.


"Kenapa mas mengatakan semua ini.?"


"Mas hanya tidak mau kamu menyesal nantinya. Faro tidak pernah punya niat jahat sama kamu dek. Tadi saja kalau bukan mas yang mulai memukulnya. Dia juga tidak akan membalas pukulan mas." Ujar Candra. Vivian masih termenung dalam diam.


"Sekarang semua terserah kamu Vivian. Kamu sudah besar dan juga sudah bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Mas tidak akan memaksa kamu." Ujar Candra.


Vivian berjalan mendekati jendela dan membuka tirai jendela sedikit. Sekedar untuk melihat Faro dari kejauhan.