
Siang itu berkisar antara pukul 1 sampai 2 siang hari. Tiga gadis cantik duduk bersantai di atas pohon rambutan. Meski sesekali tangan dan kaki mereka gatal karena gigitan semut merah namun tak mengurungkan niat mereka untuk tetap berada disana.
Mala beralih ke dahan yang lebih tinggi untuk meraih buah rambutan yang sudah matang. Sedangkan Vivian dan Juwita hanya duduk diam menunggu hasil petik buah temannya.
"Vi kamu tadi pagi di antar siapa?" Tanya Juwita tiba-tiba membuat Vivian kelabakan untuk menjawab.
"Anu.. itu nebeng sama teman." Jawab Vivian gugup.
"Ooo. Kirain siapa. Kamu kok gugup gitu jawabnya?" Tanya Juwita heran dengan sikap Vivian yang tidak seperti biasanya.
"Siapa juga yang gugup. Aduh kakiku." Vivian sedikit berteriak kesakitan dan memukul kakinya yang seakan-akan tergigit semut.
"Kenapa Vi?" Teriak Juwita.
"Ini semutnya nakal. Rasain kamu." Vivian menggerutu semut yang tak berdosa hanya untuk menutupi kejadian yang sebenarnya.
"Woi. Tangkap!" Teriak Mala yang berada tepat di atas mereka dengan buah rambutan di tangannya yang siap untuk di lempar ke arah mereka. Juwita dan Vivian dengan sigap menangkap buah rambutan yang di lemparkan oleh temannya Mala.
Setelah buah rambutan dirasa cukup untuk mereka makan bertiga. Mereka akhirnya turun dari atas pohon rambutan dan duduk diatas rerumputan tebal yang berada tepat di bawah mereka.
Menatap jauh pemandangan sawah yang hijau dan menyejukkan mata sambil menikmati buah rambutan yang sangat manis dan di temani dengan angin yang berhembus sejuk.
"Vi gimana hubungan kamu sama Nurdin?" Tanya Mala sambil mengupas buah rambutan dengan menggigitnya.
"Gimana apanya?" Jawab Vivian cuek.
"Kelanjutan hubungan kalian lah. Apalagi coba?" Celetuk Mala.
"Aku lagi males ngomongin dia. Bisa nggak kita nggak usah bahas dia dulu." Jawab Vivian.
"Emangnya kenapa Vi? Apa dia sudah menyakiti perasaan kamu?" Tanya Juwita tegas.
"Dia memang sudah membuatku kecewa secara tidak langsung. Dia sudah merubah surat yang aku kirimkan buat dia. Itu yang pertama. Dan yang kedua memang dari awal dia tidak pernah punya perasaan apa-apa terhadapku. Dia menyukai orang lain." Vivian menundukkan kepala.
"Sabar ya Vi.!! Masih banyak di luar sana yang akan mengantri buat kamu. Di dunia ini bukan hanya Nurdin orang yang ganteng dan baik. Masih banyak cowok yang lebih ganteng dan lebih baik dari Nurdin." Kata Juwita sambil merangkul bahu Vivian.
"Betul banget itu. Aku juga setuju." Sahut Mala mendukung pendapat temannya.
"Sekarang rencana kamu ke depannya gimana?" Lanjut Juwita dengan nada lembut. Vivian menghela nafas melalui hidungnya.
"Aku akan menjelaskan semua kesalah pahaman ini pada Jalal. Aku nggak mau dia semakin melangkah jauh. Karena dari awal memang ini adalah sebuah kesalahan. Dia harus tahu kalau surat itu yang menulis ulang adalah Nurdin bukan aku. Aku nggak mau menyakiti perasaannya. Semakin cepat dia tahu yang sebenarnya semakin baik untuk kita semua ke depannya." Kata Vivian panjang lebar.
"Oke. Apapun keputusanmu kita berdua akan mendukung." Sahut Juwita sambil menatap Mala. Mala hanya bisa mengganggukkan kepala karena mulutnya penuh dengan buah rambutan.
"Mana lagi buah rambutannya?" Tanya Vivian yang dari tadi belum makan satu pun.
"Maaf Vi sudah habis. Aku fikir kamu nggak mau Vi." Sahut Mala sambil tersenyum.
"Iya. Aku ambilin lagi deh." Sahut Mala sambil menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal. Mala segera memanjat pohon rambutan dengan cekatan dan menjatuhkan buah itu kepada temannya yang berada tepat di bawahnya. Tidak banyak hanya cukup di makan Vivian saja karena Juwita dan Mala telah makan banyak.
Hari menunjukkan jam sore telah tiba. Mereka segera ke sungai untuk mandi dan bersiap berangkat mengaji ke TPQ. Hari ini berjalan seperti biasa. Semua masih berada di atas kewajaran. Hanya Jalal yang terlihat sesekali memperhatikan Vivian dan hal tersebut membuat Vivian merasa canggung. Namun Vivian tetap pada pendiriannya dia lebih memilih diam dan tidak terlalu mempedulikan akan hal tersebut yang menurutnya tidak terlalu penting.
Akhirnya pembelajaran sore itu berakhir juga semua santriwan dan santriwati segera pulang menuju rumahnya terkecuali anak laki-laki yang rumahnya jauh. Seperti halnya Jalal, Sofyan dan Nurdin. Karena setelah sholat maghrib mereka harus mengaji lagi jadi mereka memutuskan untuk tidak pulang.
Vivian dan kedua sahabatnya duduk bersantai di tepi sungai sambil menunggu adzan maghrib berkumandang. Mereka berbincang santai sambil sesekali mencabuti daun tanaman liar yang berada di dekat mereka. Tak lama kemudian terdengar suara adzan berkumandang. Mereka segera bergegas menuju masjid untuk melaksanakan ibadah sholat maghrib berjamaah.
Usai sholat maghrib mereka segera keluar dari masjid dan duduk di teras masjid. Karena malam itu adalah malam ke 11 jadi mereka tidak mengaji al-quran melainkan mengaji manakib. Begitulah kebiasaan desa mereka setiap malam ke 11 dalam hitungan kalender islam maka mereka akan mengaji manakib.
Suara Nurdin, Sofyan dan Jalal terdengar di pengeras suara. Mereka sedang bergantian membaca manakib. Memang dalam hal seperti ini mereka bertiga sedikit menonjol dari pada teman-teman yang lain. Tidak heran kalau ustadz Fathon menugaskan mereka untuk mengaji manakib di pengeras suara. Di samping suara mereka yang enak di dengar juga cara mengaji mereka yang sudah handal tak dapat di pungkiri lagi.
Manakib telah selesai dibaca. Sekarang mereka sedang bersiap untuk melaksanakan ibadah sholat isya'. Vivian segera keluar masjid untuk mengambil air wudhu. Saat dia menuruni tangga dia mendapati pemandangan yang tidak mengenakkan. Bagaimana tidak dia sedang menyaksikan Nurdin sedang bercengkrama dengan anak dari ustadz Fathon yakni Nia. Vivian hanya bisa mematung dan meremas jemarinya sendiri.
"Besok kamu ikut nggak lari pagi?" Tanya Nurdin dengan sangat lugas melafalkan kalimat itu.
"Jam berapa?" Sahut Nia.
"Usai sholat shubuh. Bisa?" Kata Nurdin.
"Boleh." Jawab Nia siangkat.
"Oke. Aku tunggu di pertigaan jalan ya?" Sahut Nurdin dengan nada senang.
"Baiklah." Jawab Nia dan mereka berdua tersenyum bersama.
Terasa seperti tersambar petir. Hati Vivian seakan luluh lantah berceceran kesana kemari. Bagaimana tidak ternyata selama ini orang yang telah di sukai Nurdin adalah Nia bukan dirinya.
Nurdin berjalan menaiki anak tangga dan mendapati Vivian telah berdiri disana. Vivian yang berpapasan dengan Nurdin segera membalikkan badan dan tanpa sengaja ternyata Jalal telah berada tepat di belakangnya hingga mereka nyaris bertabrakan karena jarak mereka yang sangat dekat.
"Maaf kak." Ucap Vivian gugup dan salah tingkah.
"Nggak apa-apa kok. Aku yang harusnya minta maaf." Jawab Jalal sambil tersenyum.
Nurdin berjalan melewati mereka berdua tanpa ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya. Jalal dan Vivian melirik Nurdin dalam diam.
"Aku mau wudhu kak. Aku turun dulu ya." Kata Vivian sambil berbalik dan melangkahkan kaki. Namun Jalal tiba-tiba memegang pergelangan tangan Vivian dan secara spontan Vivian menepis tangan Jalal.
"Maaf Vi. Aku nggak bermaksud." Kata Jalal ragu.
"Ada apa kak?" Sahut Vivian sambil memegang pergelangan tangannya.
"Kakimu sudah sembuh?" Tanya Jalal.
"Oh. Sudah baikan kok kak." Jawab Vivian. "Aku wudhu dulu kak." Lanjutnya sambil melangkahkan kaki meninggalkan Jalal yang masih tak bergeming dari tempatnya.