Point Of Love

Point Of Love
Calon Keluarga Baru



Candra dan Vivian masih bersantai di pondok yang dekat dengan


pinggir pantai. Luka pada kaki Vivian telah terbalut perban putih dengan sangat


rapi. Candra sengaja mengobati luka itu sendiri karena Vivian bersikeras tidak


mau di bawa berobat ke dokter.


"Aku bingung mas." Ucap Vivian tiba-tiba.


"Kenapa.?"


"Sampai sekarang aku belum bisa mengerti kenapa mereka


melakukan semua ini.?" Sahut Vivian sambil tertunduk.


Candra mengelus rambut Vivian dengan penuh kasih sayang.


"Kamu jangan khawatir.!! Kan masih ada mas." Seru


Candra.


"Aku nggak mau mas terlibat dalam masalah keluargaku.


Mas sudah sangat baik kepadaku." Ucap Vivian pesimis.


"Apa yang kamu katakan Vivian.? Mas sama sekali tidak


punya fikiran seperti itu. Mas tulus melakukan ini semua demi kamu dan Rocky."


Candra dengan tatapan dalam mata Vivian.


"Aku sudah menganggap kalian seperti adik-adikku


sendiri." Lanjutnya.


“Aku tahu maksud mas Candra baik. Dan aku merasa sangat


senang mendengarnya. Tapi sekali lagi Vivian mohon untuk kali ini saja. Biarkan


Vivian sendiri yang menyelesaikannya.” Vivian menatap jauh kearah laut yang


terbentang luas.


“Kalau nanti Vivian sudah merasa tidak sanggup dan tidak bisa


menghadapi semuanya sendiri. Vivian janji, mas Candra adalah orang pertama yang


Vivian hubungi.” Lanjut Vivian.


Candra menghela nafas lalu tersenyum menatap adiknya yang


mulai tumbuh besar dengan pemikiran yang cukup dewasa. Membelai rambut Vivian


dengan acak hingga rambut itu berantakan.


“Mas apaan sih.?” Gerutu Vivian kesal dengan kelakuan Candra


padanya.


“Baiklah. Kalau itu mau kamu. Tapi kamu harus ingat satu hal.


Kamu jangan pernah merasa canggung ataupun merasa tidak enak sama mas.” Ucap


Candra sedikit mengancam.


“Okey.” Sahut Vivian dengan cepat dan mengacungkan satu jari


jempol kepada Candra.


Setelah perbincangan mereka yang sangat serius itu, mereka


memutuskan untuk segera pulang. Meski Vivian masih tidak menerima dengan apa


yang telah terjadi. Tetapi dengan adanya Candra disisinya saat ini membuat


dirinya sedikit kuat dan memiliki keberanian untuk menghadapi semuanya.


Berkali-kali Vivian mengatakan dalam hatinya bahwa dia tidak apa-apa dan


meyakinkan diri bahwa semua ini akan segera berakhir dengan seiring berjalannya


waktu.


Candra hanya menginap satu malam di rumah Vivian. Karena


keesokan harinya dia harus segera kembali ke kota. Candra hanya mengambil cuti


dua hari dari kantornya. Sehingga dengan terpaksa Candra harus meninggalkan


Vivian dengan semua masalah yang akan menimpanya.


Pagi itu Vivian dan kedua sahabatnya Mala dan Juwita sedang


di stasiun kereta. Mereka sengaja menemani Vivian untuk mengantarkan Candra


pulang. Bukan dengan suka rela tetapi ini semua adalah permintaan dari Candra.


Candra tidak ingin Vivian merasa sendiri dan sedih dengan kepulangannya nanti.


Kereta api Candra telah tiba. Candra berpamitan kepada adik


sepupunya dan dua sahabatnya. Candra memeluk Vivian dan Vivian pun membalas


pelukannya. Juwita dan Mala yang menyaksikan hal itu hanya bisa menelan ludah


mereka sendiri.


“Apa benar kalau mereka hanya sodara sepupu.?” Tanya Mala


sedikit berbisik pada Juwita.


“Aku juga nggak tahu.” Sahut Juwita menatap Mala sambil


mengangkat kedua bahunya.


Setelah selesai berpamitan Candra segera naik ke kereta api


karena jadwal pemberangkatannya sudah mepet. Vivian melambaikan tangan sambil


tersenyum mengantar kepergian Candra kali ini. Entah apa yang tengah Vivian rasakan


saat ini. Hatinya begitu berat melepaskan Candra. Mungkin karena Vivian belum


siap menghadapi semua permasalahan yang menimpa keluarganya.


berangkat Vivian dan kedua temannya segera meninggalkan stasiun. Vivian harus


bisa mengendalikan perasaannya sendiri. Dia tidak ingin masalah kedua orang


tunya mempengaruhi konsentrasinya dalam belajar.


Satu minggu berlalu setelah kepergian Candra. Hari-hari Vivian


kini telah berubah karena kehadiran tante Sinta yang akan menjadi calon ibu


tiri Vivian. Ditambah dengan kehadiran saudara laki-laki anak dari tante Sinta


yang bernama Faro. Semakin membuat kehidupan Vivian semakin sulit.


Tante Sinta dan Faro sering sekali mengunjungi rumah Vivian. Bapak


Vivian begitu membanggakan anak tirinya dibandingkan dengan anaknya sendiri. Hal


ini membuat Vivian kecewa pada bapaknya sendiri. Bagaimana bisa Bapak Vivian sampai


hati melakukan semua itu pada anak kandungnya.


Siang itu saat Vivian baru pulang sekolah dengan sepeda


usangnya. Faro tengah duduk santai di depan rumahnya. Sedangkan Tante Sinta


sedang asyik memasak di dapur seperti layaknya rumah sendiri. Sedangkan bapak


bersantai di ruang tamu sambil menonton televisi.


Faro memandang Vivian dengan tatapan sinis.


“Baru pulang.? Dari mana saja.?” Tanya Faro dengan nada suara


yang sombong.


Vivian hanya diam dan bersikap cuek tanpa mempedulikan


pertanyaan Faro yang tidak perlu dijawabnya. Faro yang melihat sikap Vivian


mengacuhkan keberadaan dirinya membuatnya marah. Faro segera menghalangi


langkah Vivian dan berdiri di depannya.


Vivian hanya menghela nafas lalu menatap Faro yang sedang


bediri tepat di depannya.


“Kenapa.? Mau marah.?” Seru Faro tanpa rasa malu.


“Minggir.!! Aku mau lewat.” Sahut Vivian.


“Kalau aku nggak mau. Kamu mau apa.?” Faro dengan nada


mengancam.


Vivian memutar matanya dengan malas. Di injaknya kaki Faro


hingga dia meloncat-loncat kesakitan dan Vivian segera masuk ke dalam rumah.


Teriakan Faro yang sedang kesakitan terdengar sampai ke dalam


rumah. Saat Vivian hendak masuk ke kamar bapak Vivian memanggilnya.


“Vivian. Itu Faro kenapa.?” Tanya Bapak Vivian sedikit


penasaran.


“Nggak tahu. Mungkin digigit serangga.” Sahut Vivian cuek dan


segera masuk ke dalam kamarnya. Vivian menutup pintu dan bersandar di balik


pintu itu. Memejamkan mata sejenak untuk merileksasi otak dan hatinya.


Ya Allah. Semoga


hati ini kuat menghadapi semuanya. Ingin rasanya aku menyerah. Ucap Vivian dalam


hati.


Vivian menggantung seragam sekolahnya dan segera ganti dengan


baju santai. Duduk di atas tempat tidurnya dan menatap layar ponselnya. Wallpaper


yang muncul adalah foto saat dia bersama dengan Candra. Hanya dia satu-satunya


keluarga yang peduli terhadap dirinya.


Semenjak kabar yang beredar tentang perceraian bapak dan


ibunya. Saat itu juga sampai sekarang ibu Vivian tidak pernah sekali pun


memberi kabar. Hati Vivian selalu di selimuti dengan rasa cemas. Dia sangat


menghawatirkan ibunya yang berada di negeri orang.


“Vivian.” Teriak Sinta dari balik pintu kamarnya.


“Iya.” Sahut Vivian malas.


“Keluar sebentar. Ayo makan.!” Ucap Sinta.


Vivian melangkahkan kakinya dengan malas. Sebenarnya dia


tidak ingin terlibat dengan calon keluarga barunya. Hati Vivian menolak dengan


keras. Namun apalah daya Vivian. Kalau saja dia tidak menghormati ayahnya,


mungkin ajakan Sinta akan di tolaknya mentah-mentah.


Vivian berjalan menuju ruang makan. Disana sudah ada Bapak,


tante Sinta dan Faro sedang duduk di kursi meja makan. Vivian menggeser kursi


dan segera duduk. Kali ini Vivian harus besebelahan dengan Faro.


Adik Vivian Rocky sama sekali tidak terlihat. Sejak kehadiran


Sinta dalam kehidupan keluarganya, Rocky tidak pernah sedikitpun menapakkan


kakinya di rumahnya sendiri. Dia lebih memilih bersama dengan nenek di


rumahnya. Meski jarak rumah mereka hanya sejauh 50 meter saja.