
Candra dan Vivian masih bersantai di pondok yang dekat dengan
pinggir pantai. Luka pada kaki Vivian telah terbalut perban putih dengan sangat
rapi. Candra sengaja mengobati luka itu sendiri karena Vivian bersikeras tidak
mau di bawa berobat ke dokter.
"Aku bingung mas." Ucap Vivian tiba-tiba.
"Kenapa.?"
"Sampai sekarang aku belum bisa mengerti kenapa mereka
melakukan semua ini.?" Sahut Vivian sambil tertunduk.
Candra mengelus rambut Vivian dengan penuh kasih sayang.
"Kamu jangan khawatir.!! Kan masih ada mas." Seru
Candra.
"Aku nggak mau mas terlibat dalam masalah keluargaku.
Mas sudah sangat baik kepadaku." Ucap Vivian pesimis.
"Apa yang kamu katakan Vivian.? Mas sama sekali tidak
punya fikiran seperti itu. Mas tulus melakukan ini semua demi kamu dan Rocky."
Candra dengan tatapan dalam mata Vivian.
"Aku sudah menganggap kalian seperti adik-adikku
sendiri." Lanjutnya.
“Aku tahu maksud mas Candra baik. Dan aku merasa sangat
senang mendengarnya. Tapi sekali lagi Vivian mohon untuk kali ini saja. Biarkan
Vivian sendiri yang menyelesaikannya.” Vivian menatap jauh kearah laut yang
terbentang luas.
“Kalau nanti Vivian sudah merasa tidak sanggup dan tidak bisa
menghadapi semuanya sendiri. Vivian janji, mas Candra adalah orang pertama yang
Vivian hubungi.” Lanjut Vivian.
Candra menghela nafas lalu tersenyum menatap adiknya yang
mulai tumbuh besar dengan pemikiran yang cukup dewasa. Membelai rambut Vivian
dengan acak hingga rambut itu berantakan.
“Mas apaan sih.?” Gerutu Vivian kesal dengan kelakuan Candra
padanya.
“Baiklah. Kalau itu mau kamu. Tapi kamu harus ingat satu hal.
Kamu jangan pernah merasa canggung ataupun merasa tidak enak sama mas.” Ucap
Candra sedikit mengancam.
“Okey.” Sahut Vivian dengan cepat dan mengacungkan satu jari
jempol kepada Candra.
Setelah perbincangan mereka yang sangat serius itu, mereka
memutuskan untuk segera pulang. Meski Vivian masih tidak menerima dengan apa
yang telah terjadi. Tetapi dengan adanya Candra disisinya saat ini membuat
dirinya sedikit kuat dan memiliki keberanian untuk menghadapi semuanya.
Berkali-kali Vivian mengatakan dalam hatinya bahwa dia tidak apa-apa dan
meyakinkan diri bahwa semua ini akan segera berakhir dengan seiring berjalannya
waktu.
Candra hanya menginap satu malam di rumah Vivian. Karena
keesokan harinya dia harus segera kembali ke kota. Candra hanya mengambil cuti
dua hari dari kantornya. Sehingga dengan terpaksa Candra harus meninggalkan
Vivian dengan semua masalah yang akan menimpanya.
Pagi itu Vivian dan kedua sahabatnya Mala dan Juwita sedang
di stasiun kereta. Mereka sengaja menemani Vivian untuk mengantarkan Candra
pulang. Bukan dengan suka rela tetapi ini semua adalah permintaan dari Candra.
Candra tidak ingin Vivian merasa sendiri dan sedih dengan kepulangannya nanti.
Kereta api Candra telah tiba. Candra berpamitan kepada adik
sepupunya dan dua sahabatnya. Candra memeluk Vivian dan Vivian pun membalas
pelukannya. Juwita dan Mala yang menyaksikan hal itu hanya bisa menelan ludah
mereka sendiri.
“Apa benar kalau mereka hanya sodara sepupu.?” Tanya Mala
sedikit berbisik pada Juwita.
“Aku juga nggak tahu.” Sahut Juwita menatap Mala sambil
mengangkat kedua bahunya.
Setelah selesai berpamitan Candra segera naik ke kereta api
karena jadwal pemberangkatannya sudah mepet. Vivian melambaikan tangan sambil
tersenyum mengantar kepergian Candra kali ini. Entah apa yang tengah Vivian rasakan
saat ini. Hatinya begitu berat melepaskan Candra. Mungkin karena Vivian belum
siap menghadapi semua permasalahan yang menimpa keluarganya.
berangkat Vivian dan kedua temannya segera meninggalkan stasiun. Vivian harus
bisa mengendalikan perasaannya sendiri. Dia tidak ingin masalah kedua orang
tunya mempengaruhi konsentrasinya dalam belajar.
Satu minggu berlalu setelah kepergian Candra. Hari-hari Vivian
kini telah berubah karena kehadiran tante Sinta yang akan menjadi calon ibu
tiri Vivian. Ditambah dengan kehadiran saudara laki-laki anak dari tante Sinta
yang bernama Faro. Semakin membuat kehidupan Vivian semakin sulit.
Tante Sinta dan Faro sering sekali mengunjungi rumah Vivian. Bapak
Vivian begitu membanggakan anak tirinya dibandingkan dengan anaknya sendiri. Hal
ini membuat Vivian kecewa pada bapaknya sendiri. Bagaimana bisa Bapak Vivian sampai
hati melakukan semua itu pada anak kandungnya.
Siang itu saat Vivian baru pulang sekolah dengan sepeda
usangnya. Faro tengah duduk santai di depan rumahnya. Sedangkan Tante Sinta
sedang asyik memasak di dapur seperti layaknya rumah sendiri. Sedangkan bapak
bersantai di ruang tamu sambil menonton televisi.
Faro memandang Vivian dengan tatapan sinis.
“Baru pulang.? Dari mana saja.?” Tanya Faro dengan nada suara
yang sombong.
Vivian hanya diam dan bersikap cuek tanpa mempedulikan
pertanyaan Faro yang tidak perlu dijawabnya. Faro yang melihat sikap Vivian
mengacuhkan keberadaan dirinya membuatnya marah. Faro segera menghalangi
langkah Vivian dan berdiri di depannya.
Vivian hanya menghela nafas lalu menatap Faro yang sedang
bediri tepat di depannya.
“Kenapa.? Mau marah.?” Seru Faro tanpa rasa malu.
“Minggir.!! Aku mau lewat.” Sahut Vivian.
“Kalau aku nggak mau. Kamu mau apa.?” Faro dengan nada
mengancam.
Vivian memutar matanya dengan malas. Di injaknya kaki Faro
hingga dia meloncat-loncat kesakitan dan Vivian segera masuk ke dalam rumah.
Teriakan Faro yang sedang kesakitan terdengar sampai ke dalam
rumah. Saat Vivian hendak masuk ke kamar bapak Vivian memanggilnya.
“Vivian. Itu Faro kenapa.?” Tanya Bapak Vivian sedikit
penasaran.
“Nggak tahu. Mungkin digigit serangga.” Sahut Vivian cuek dan
segera masuk ke dalam kamarnya. Vivian menutup pintu dan bersandar di balik
pintu itu. Memejamkan mata sejenak untuk merileksasi otak dan hatinya.
Ya Allah. Semoga
hati ini kuat menghadapi semuanya. Ingin rasanya aku menyerah. Ucap Vivian dalam
hati.
Vivian menggantung seragam sekolahnya dan segera ganti dengan
baju santai. Duduk di atas tempat tidurnya dan menatap layar ponselnya. Wallpaper
yang muncul adalah foto saat dia bersama dengan Candra. Hanya dia satu-satunya
keluarga yang peduli terhadap dirinya.
Semenjak kabar yang beredar tentang perceraian bapak dan
ibunya. Saat itu juga sampai sekarang ibu Vivian tidak pernah sekali pun
memberi kabar. Hati Vivian selalu di selimuti dengan rasa cemas. Dia sangat
menghawatirkan ibunya yang berada di negeri orang.
“Vivian.” Teriak Sinta dari balik pintu kamarnya.
“Iya.” Sahut Vivian malas.
“Keluar sebentar. Ayo makan.!” Ucap Sinta.
Vivian melangkahkan kakinya dengan malas. Sebenarnya dia
tidak ingin terlibat dengan calon keluarga barunya. Hati Vivian menolak dengan
keras. Namun apalah daya Vivian. Kalau saja dia tidak menghormati ayahnya,
mungkin ajakan Sinta akan di tolaknya mentah-mentah.
Vivian berjalan menuju ruang makan. Disana sudah ada Bapak,
tante Sinta dan Faro sedang duduk di kursi meja makan. Vivian menggeser kursi
dan segera duduk. Kali ini Vivian harus besebelahan dengan Faro.
Adik Vivian Rocky sama sekali tidak terlihat. Sejak kehadiran
Sinta dalam kehidupan keluarganya, Rocky tidak pernah sedikitpun menapakkan
kakinya di rumahnya sendiri. Dia lebih memilih bersama dengan nenek di
rumahnya. Meski jarak rumah mereka hanya sejauh 50 meter saja.