Point Of Love

Point Of Love
Pesan Mas Candra



Candra sengaja memesan menu paling special yang tertera di kafe itu. Meski dia tahu Vivian tidak akan menyukai sesuatu hal yang berlebihan namun Candra tetap memesannya dengan alasan karena dia tidak pernah mentraktir adik kesayangannya.


Vivian sedang asyik menyantap hidangan nasi goreng special. Saking lahapnya dia tanpa sadar meninggalkan sebutir nasi di ujung bibirnya.


Candra yang melihat hal itu hanya tersenyum geli. Candra meraih butir nasi menggunakan jari jempolnya.


“Ada apa mas.?” Tanya Vivian terkejut. Namun Candra hanya tersenyum dan memasukkan sebutir nasi yang berada di jempolnya ke dalam mulutnya sendiri.


“Nggak ada apa-apa.” Ucap Candra sambil tersenyum. Vivian merasa sangat malu karena Candra memakan butir nasi yang tertinggal di ujung bibirnya.


Dasar sok pamer. Gerutu Dion dalam hati.


Entah apa yang tengah Dion rasakan saat ini. Dia begitu tidak senang melihat keakraban diantara Vivian dan Candra. Dion segera menyeruput jus apel dan menyudahi makannya yang belum usai. Hal itu membuat Dafa dan Diandra saling pandang dan mengangkat bahu bersamaan. Dafa segera


meraih minumannya.


“Kamu kenapa Dion.?” Makanannya tidak enak.?” Tanya Dafa.


“Nggaak tahu. Tiba-tiba perutku kenyang.” Sahut Dion sedikit


cuek.


Dafa dan Diandra hanya mengangguk paham. dan mereka segera


menyudahi sarapan pagi itu. Saat Dafa hendak menuju kasir matanya di


perlihatkan pemandangan yang tidak asing. Vivian sedang asyik makan sambil


bercengkrama dengan seorang lelaki. Dan mereka terlihat begitu akrab.


Vivian.? Dia sedang


bersama siapa.? Seru Dafa dalam hati.


Lamunannya segera buyar karena petugas kasir langsung


menegurnya. Dafa segera membayar tagihan makan bersama teman-temannya. Setelah


selesai Dafa kembali ke tempat teman-temannya duduk tadi.


“Woi. Ada pemandangan bagus disini.” Ucap Dafa kepada kedua


temannya.


“Pemandangan apa.?” Tanya Diandra penasaran.


“Tuh.!!” Dafa menunjuk tempat duduk Vivian dan Candra.


“Bukannya itu Vivian yang sedang kamu perebutkan sama Rino


kemarin.?” Sahut Diandra.


“That’s right. Betul Seratus buat kamu.” Ucap Dafa senang.


Dion hanya diam sambil memainkan ponsel di tangannya.


“Aku samperin ah.” Ucap Dafa dan segera berdiri. Namun


Diandra langsung menarik tangan Dafa dan menahannya agar tidak pergi.


“Jangan Daf.!! Kamu nggak ihat apa dia sedang bersama


cowoknya.” Seru Diandra.


“Memang dia itu cowoknya.?” Tanya Dafa dengan sikap sok


coolnya.


“Mau dia cowoknya atau bukan, sekarang bukan waktu yang tepat untuk menyapanya. Kamu lihat sikon dong.!! Kalau cowok itu sampai marah,


kita bakal berkelahi disini. Bukannya malah dekat dengan Vivian kamu malah akan membuat dia menjauh. Itu mau kamu.?” Diandra memperjelas semuanya.


“Ternyata di samping kamu pintar dalam hal pelajaran. Kamu juga pintar dalam mengatur strategi mendekati seorang cewek.” Ucap Dafa memuji Diandra.


“Cabut yuk. Capek.” Seru Dion tiba-tiba. Membuat Dafa dan Diandra saling pandang dan segera melepas rangkulan mereka.


Mereka berjalan melewati Vivian dan Candra. Saat Dafa melintas, Vivian tanpa sengaja melihat ke arahnya dan langsung tersenyum dan mengangguk. Dafa juga membalas anggukan dan senyuman Vivian padanya. Candra menatap ketiga lelaki yang baru saja melewati mereka dengan tatapan tidak senang. Walau Vivian bersikap baik di depannya namun tidak bisa merubah sikap


Candra yang mencurigai ketiga lelaki itu.


“Kamu kenal sama mereka.?” Tanya Candra dengan nada tidak


senangnya.


Vivian tersenyum getir sambil menyeruput jus jeruk miliknya.


“Ditanya malah senyum-senyum gitu.” Ketus Candra.


“Mas Candra kenapa sih.? Sensi amat.” Ucap Vivian sambil menahan tawa tapi di tahannya tawa tersebut. Candra yang tidak mendapat jawaban


atas pertanyaannya merasa sangat kesal. Dia kembali menikmati nasi goreng miliknya dengan kunyahan yang ganas.


“Mereka itu seniorku di sekolah yang sekarang mas. Aku juga tidak begitu akrab dengan mereka. Mas tenang saja ya. Vivian bisa kok jaga diri


sendiri.” Ucap Vivian penuh percaya diri. Candra segera meluluh dengan apa yang di jelaskan oleh adiknya itu.


“iya. Mas percaya kok.” Candra gemas dan segera mencubit salah satu pipi Vivian dan sontak saja Vivian mengeluh kesakitan. Mereka berdua


langsung tertawa bersama.


Setelah usai makan dan membayar bon di kasir, Candra mengajak Vivian untuk mampir ke sebuah tempat. Vivian mengeluh kalau dia capek dan mengantuk karena kurangnya jam tidur. Candra hanya tersenyum getir dan memohon agar Vivian mau ikut dengannya sebentar. Raut wajah candra sangat serius kali ini. Sepertinya dia telah menghadapi suatu masalah yang besar dan rumit. Baru kali ini Vivian melihat kakak sepupunya begitu berbeda.


Candra mengajak Vivian ke sebuah taman yang berada tidak jauh dari kafe tempat mereka makan pagi ini. Candra memilih untuk duduk di salah satu gazebo yang tersedia di taman tersebut. Vivian semakin tidak mengerti dengan situasi yang ada di depannya sekarang. Ingin sekali Vivian bertanya kepada Candra, namun Vivian tidak memiliki cukup keberanian untuk hal itu dan niat itu segera dia urungkan.


Candra dan Vivian duduk berdampingan. Candra menatap ke depan dengan tatapan tanpa arti. Membuat Vivian bertanya-tanya dalam hati.


Mas Candra kenapa ya.?


Tidak seperti biasanya dia kayak gini. Apa dia sedang menghadapi masalah yang


sangat besar dan serius.? Lalu kenapa juga dia mengajakku kesini.? Apa yang akan


dia bicarakan denganku.? Mas Candra kamu sebenarnya kenapa.? Kenapa hanya


diam.? Seribu pertanyaan melayang dalam fikiran Vivian saat ini. Dia sedang dilanda kebingungan.


“Vivian.” Candra menatap kepada adiknya dengan iba.


“Iya mas.” Sahut Vivian balik menatap Candra. Candra menghela nafas melalui hidungnya. Candra hanya diam menatap Vivian untuk beberapa detik lalu melempar pandangannya kea rah lain. Vivian langsung mengerutkan dahi tidak mengerti.


Bagaimana menjelaskan semua ini padamu Vivian.? Aku juga bingung harus mulai dari mana. Aku tidak ingin menyakitimu. Seru Candra dalam hati.


“Mas Candra mau ngomong apa sama Vivian.? Jangan buat Vivian penasaran kayak gini mas. Vivian nggak suka. Udah ngomong aja.!” Seru Vivian meyakinkan Candra.


Candra menghela nafasnya lagi. Menatap kearah mata Vivian yang berbinar. Dan bibirnya mulai terbuka untuk berbicara.


“Maaf kalau perkataan mas menyinggung perasaan kamu ya dek. Sebenarnya alasan terbesar mas pulang kesini karena kamu.” Kalimat Candra menggantung.


“Maksud mas Candra apa.? Vivian nggak ngerti sama sekali.” Sahut Vivian semakin kebingungan.


“Vivian harus kuat. Mas yakin kamu bisa melewati semua ini dengan baik. Dan satu hal yang harus kamu ingat, kamu masih ada mas.” Kata Candra.


“Mas Candra. Mas kenapa sih dari tadi muter-muter terus ngomongnya. Langsung ke point nya aja bisa kan mas.!” Ucap Vivian sedikit geram.


Candra dengan segala keraguan dalam hatinya, memberanikan diri untuk mengeluarkan sebuah amplop warna coklat dari dalam tas miliknya. Dengan gemetar menyerahkan amplop itu kepada Vivian.


Vivian dengan sigap menerima amplop coklat itu dan segera membukanya. Terdapat secarik kertas putih. Dan dengan seksama Vivian membacanya.


Apa ini.?


Wajah Vivian langsung pucat pasi. Secarik kertas putih itu jatuh ke tanah. Pandangan Vivian seakan buram. Langitpun seakan gelap gulita tanpa cahaya sedikitpun.