Point Of Love

Point Of Love
Perfect



Semua berjalan sesuai dengan yang di harapkan Vivian.


Walaupun masih ada satu dua orang yang melihat Vivian dengan tatapan sinis


karena kecemburuannya sendiri namun Vivian tidak mau ambil pusing tentang semua


itu. Vivian pulang dengan perasaan senang karena tinggal satu hari lagi


kegiatan MOS yang begitu menguras tenaga dan fikiran akhirnya berakhir juga.


Vivian berjalan dengan begitu bersemangat dan tiba-tiba


langkahnya terhenti. Dahi Vivian langsung berkerut saat melihat seorang wanita


asing sedang duduk di ruang tamu bersama dengan bapak Vivian. Vivian berjalan


pelahan dan bapak Vivian menyadari kehadiran putri sulungnya itu.


Siapa


wanita ini.? Kenapa dia bisa begitu dekat dengan bapak.? Seru Vivian dalam


hati.


“Kamu sudah pulang.?” Sapa bapak Vivian sambil tersenyum.


“Iya pak.” Sahut Vivian dan dia langsung mencium tangan bapak


dan wanita asing tersebut. Sudah menjadi suatu keharusan apabila ada tamu dan


dia lebih tua dari kita. Maka kita harus dan wajib untuk menghormatinya.


Begitulah ajaran yang bapak Vivian berikan pada anak-anaknya sedari mereka


kecil.


“Vivian. Kenalin ini tante Sinta. Teman bapak.” Kata bapak


Vivian sambil tersenyum memperkenalkan wanita yang ada di sampingnya. Wanita


itu tersenyum sambil melipat kedua tangannya.


“Halo tante Sinta. Namaku Vivian.” Ucap Vivian sedikit ragu.


Wanita itu berdiri dan menatap Vivian dari ujung rambut


sampai ujung kaki.


“ooo jadi ini yang namanya Vivian. Tidak seperti yang ku


bayangkan.” Kata tante Sinta dengan nada menghina. Sekali lagi Vivian mengerutkan


dahi tidak mengerti dengan sikap wanita yang baru di kenalnya itu.


Apa maksud


perkataannya barusan.? Apa dia sedang menghinaku sekarang.? Apa dia juga tidak


berkaca dengan penampilannya sendiri. Dasar.!! Gerutu Vivian dalam hati.


“Pak. Vivian masuk kamar dulu ya. Mau ganti baju.” Vivian


segera bergegas masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya. Melempar tas punggung


dengan sembarang dan segera merebahkan tubuhnya yang sudah letih karena


kegiatan hari ini.


Ponsel Vivian bergetar. Satu pesan masuk dan Vivian segera


membuka pesan itu sembari berbaring dengan baju sekolah yang masih di


kenakannya sekarang. Vivian segera bangkit karena beberapa deret tulisan yang


tertera di ponselnya seakan menyilaukan matanya.


“Mas Candra mau datang besok.” Seru Vivian pada dirinya


sendiri.


Candra Fernando adalah anak dari bude Yuni yang merupakan


kakak dari ibu Vivian. Sudah lama juga Vivian tidak bertemu dengan mereka.


Hanya satu tahun sekali mereka bertemu. Itu pun saat hari lebaran idul fitri


saja. Karena libur cukup lama akhirnya mereka bisa pulang ke kampung halaman


dan berkumpul dengan keluarga besar. Namun kali ini mas Candra akan pulang


sendiri tanpa bude Yuni.


Candra merupakan satu-satunya kakak sepupu vivan yang sangat


dekat dengannya. Vivian merasa sangat antusias dengan kedatangan Candra kali


ini. Mungkin semua itu di sebabkan mereka yang tak pernah bertemu satu sama


lain dalam waktu yang lama.


Saat Vivian menggantung tas di balik pintu kamarnya tangannya


terhenti saat mendengar percakapan bapak dengan tante Sinta yang terdengar


samar di telinganya. Vivian mendekatkan telinga ke pintu dan diam sejenak.


“Sampai kapan kita akan seperti ini terus.?” Tanya Sinta


kepada bapak Vivian.


Apa maksud perkataan tante itu.? Vivian mengerutkan dahi dan


melanjutkan untuk mendengarkan.


“Kamu sabar ya.! Aku janji setelah ini aku akan ngomong sama


mereka berdua.” Sahut bapak Vivian.


lagi perbincangan mereka. Vivian kembali ke tempat tidur dan menyudahi aksinya


menguping dari balik pintu kamarnya. Berfikir sendiri dalam kesendiriannya. Dan


terbesit dalam hati rasa curiga terhadap Bapak dengan wanita asing yang baru di


kenalnya.


Jangan-jangan.!


Vivian apa yang sudah kamu fikirkan. Kamu nggak boleh berprasangka buruk dengan


orang tua mu sendiri.vivian menggelengkan kepala beberapa kali.  Mungkin hanya rasa khawatir yang berlebihan saja. Fikir Vivian dalam hati.


Vivian berbaring menatap langit-langit kamarnya. Perlahan dia


tenggelam dalam lamunan dan pemikirannya sendiri. Terlelap dalam mimpi yang


hanya Vivian yang tahu.


Keesokan harinya Vivian kembali ke aktifitas seperti semula.


Hari ini merupakan hari terakhir MOS berlangsung. Setelah Vivian akan resmi


menjadi murid di SMA PERMATA. Inilah salah satu keinginan terbesar Vivian dalam


hidupnya. Untuk kegiatan hari tidak terlalu menguras tenaga. Hanya saja mereka


di wajibkan untuk menginap di sekolah selama satu malam dan boleh pulang besok


pagi. Mereka sedang mempersiapkan apa yang harus di tampilkan ke atas panggung


untuk hiburan di acara puncak pentas MOS malam nanti.


Kelompok Vivian menunjuk Vivian saja agar maju ke depan dan menyanyikan sebuah lagu. Namun Vivian menolak dengan tegas. Karena menurutnya


ini adalah pertunjukan dari seluruh kelompok. Vivian mengusulkan agar semua


ikut serta dalam persiapan. Tidak hanya dirinya saja. Vivian tidak mau terjadi


kecemburuan social di antara mereka semua.


Akhirnya mereka sepakat untuk menampilkan sebuah drama


musical singkat yang bercerita tentang bullying di sekolah yang berjudul “Perfect”.


Kali ini semua pihak terlibat. Ada yang memainkan music ada yang bertugas


menata baju dan riasan. Dan ada juga yang berperan sebagai sutradara dan tokoh


dalam cerita.


Claudia, Cleo dan Leona berperan sebagai tiga cewek yang


berkuasa di sekolah tersebut. Vivian berperan sebagai siswa baru yang terkena


bully akibat penampilannya yang culun dan tidak masuk dalam kategori siswa yang


perfect.


Berawal dari Vivian yang tidak sengaja bertabrakan dengan


Claudia yang membuatnya begitu marah kepada Vivian. Hingga hari-hari Vivian


harus berakhir dengan kejahilan ketiga cewek tersebut. Vivian tidak membalas


semua perlakuan mereka padanya dan juga Vivian tidak pernah sedikit pun


mengeluarkan air matanya.


Di ujung cerita Vivian bertemu dengan Diana yang merupakan


siswa baru. Diana yang mengetahui sikap ketiga siswi yang sering membully


Vivian mulai membela dan menolongnya. Dengan kemampuan Diana yang sangat


mengenal dan mengutamakan penampilan. Diubahlah penampilan Vivian yang semula


culun menjadi gadis yang cantik jelita.


Di akhir cerita akhirnya ketiga siswi tersebut menyadari


perbuatan mereka yang tidak terpuji. Karena perbuatan mereka mereka harus


menerima hukuman dari kepala sekolah yang di perankan oleh Alex. Penampilan


Vivian yang semula culun pun berubah menjadi gadis cantik. Semua siswa yang


menyaksikan pertunjukan mereka sangat terkejut dengan penampilan Vivian.


Vivian dan teman-temannya yang lain naik ke atas panggung dan


mengakhiri drama musical mereka dengan lagu “Perfect” yang di populerkan oleh


Ed Sheeran. Tepuk tangan silih berganti mengiringi mereka yang menyanyikan lagu


dengan bersama.


Dari bawah panggung terlihat D3 sedang menikmati penampilan


mereka. Dafa begitu antusias sambil memegang ujung dagunya sendiri.


“Aku harus mendapatkan dia.” Seru Dafa pada dirinya sendiri.


“Maksud kamu apa Daf.?” Tanya Rino sedikit berteriak kepada


Dafa karena dia juga menaruh hati pada Vivian.


Namun Dafa hanya nyengir dan berjalan ke belakang panggung


untuk menunggu Vivian turun dari pentas. Rino juga tidak mau kalah dengan Dafa,


dia mengikuti dari bekalang.