
Vivian menyantap makan tanpa banyak mengunyah. Bukan karena
makanan itu nikmat hingga Vivian begitu lahap memakannya. Tapi Vivian ingin
segera meninggalkan meja makan dengan cepat. Bapak Vivian yang melihat anak
gadisnya begitu lahap makan masakan calon ibu barunya terlihat sangat senang
dan puas.
Vivian hanya membutuhkan waktu empat menit saja untuk
menyelesaikan makanannya kali ini. Ini terbilang sangat cepat. Karena isi piring ketiga orang yang makan
bersamanya masih tersisa banyak sedangkan piring milik Vivian hampir ludes
masuk ke dalam mulutnya.
Setelah selesai Vivian segera berdiri dan masuk ke dalam kamar. Bapak Vivian yang
melihat itu baru menyadari, ternyata bukan rasa senang yang tengah anaknya
rasakan sekarang. Melainkan rasa canggung yang tidak pernah terucap dari mulut
anak gadisnya. Bukan karena menikmati makanan namun hanya sekedar ingin
cepat-cepat mengakhiri adegan makan siang hari ini.
Vivian kembali masuk ke dalam bilik kamarnya. Menutup pintu
dan tidak lupa menguncinya. Ponsel Vivian bordering ada satu panggilan disana.
Dafa.
“Hallo.” Vivian menempelkan ponsel ke telinganya.
“Vivian. Kamu nggak lupa kan hari ini kita tampil.” Sahut
Dafa dari balik ponsel.
Vivian memukul dahinya sendiri sedikit keras. Bagaimana dia
bisa melupakan hal yang sepenting ini.
“Sorry kak. Aku lupa.” Seru Vivian sambil menggigit bibirnya
bagian bawah.
“Oke. Kamu tenang dulu sebentar.!! Masih tersisa waktu 15
menit. Kamu segera bersiap lalu aku jemput.”
“Oke.”
“Oh iya aku lupa. Alamat rumah kamu jangan lupa di share
loc.” Lanjut Dafa.
“Sip.”
Vivian segera menutup telpon. Membuka sebuah aplikasi chat
onine dan mengirimkan lokasi rumahnya. Menaruh ponsel dengan sembarang di atas
meja belajarnya. Meraih handuk dan dengan langkah seribu menuju kamar mandi.
Sekali lagi Vivian harus melewati ruang makan dan disana
masih terdapat tiga orang yang sedang asyik mengobrol sambil menikmati
hidangan. Sekelebat bayangan Vivian sedikit mengganggu mereka. Namun Vivian
masih berjalan menuju kamar mandi tanpa mempedulikan hal tersebut.
Kekesalan dan rasa kecewa terhadap anggota keluarga baru yang
hadir dalam keluarganya sangat mengganggu fikiran Vivian. Hingga dia melupakan
jadwal yang sudah terencana dalam daftar.
Vivian memang sengaja menerima ajakan Dafa untuk bergabung
dalam Band miliknya. Berharap dengan kesibukan itu, Vivian tidak harus
berlama-lama tinggal di rumah. Apalagi sekarang Faro dan Tante Sinta sering
sekali berkunjung ke rumahnya.
Hanya membutuhkan waktu 8 menit Vivian membersihkan diri. Vivian
segera bersiap untuk acara manggung perdananya. Demam panggung sudah menjalar
ke sekujur tubuhnya. Ya walaupun Vivian sudah biasa benyanyi. Namun kali ini
berbeda, dia akan tampil resmi di depan banyak orang yang baru bahkan tidak
mengenalnya.
Vivian keluar dari kamarnya. Dan tak lupa dia mengunci kamar
itu. Biasanya Vivian tidak pernah mengunci kamar miliknya. Entah perasaan apa
yang telah masuk ke dalam otaknya. Setiap kali Vivian melihat tante Sinta dan
Faro yang terlintas pasti hanya prasangka buruk dan itu yang selalu menari-nari
dalam fikirannya.
“Mau kemana kamu.?” Tanya Faro yang sudah berdiri di belakang
Vivian yang masih mengunci pintu kamarnya.
“Apaan sih.? Bikin orang kaget saja.” Gerutu Vivian kesal
karena dia terkejut dengan kehadiran Faro yang begitu tiba-tiba.
“Ditakoni (ditanya) iku (itu) jawaben (dijawab).!” Sentak Faro
tidak mau kalah dengan sikap Vivian yang selalu dingin padanya.
“Emong (tidak mau) karep (terserah) isun (aku) yoro (dong).” Sahut
Vivian yang langsung meninggalkan Faro yang masih bersungut karena kemarahan
Vivian memang selalu bersikap seperti itu pada Faro. Sebenarnya
kalau difikir-fikir Faro tidak tahu menahu mengenai hubungan antara ibu dan
bapaknya. Tapi sekali lagi bisikan syaitan selalu mengatakan hal-hal yang tidak
menyenangkan untuk didengar. Bagi Vivian Sinta dan Faro lah yang telah
meretakkan dan menghancurkan keluarganya.
Vivian menunggu Dafa di depan rumahnya. Tak perlu waktu lama,
hanya 2 menit Vivian menunggu dan Dafa sudah sampai di depan rumahnya sambil
mengendarai motor. Vivian segera menghampiri Dafa.
“Sudah lama.?” Tanya Dafa tanpa melepas helm.
Vivian hanya menggelengkan kepala sambil mengenakan helm
miliknya lalu naik ke atas motor milik Dafa.
Faro melihat Vivian dan Dafa dari balik jendela. Faro Nampak kesal
dengan mereka berdua. Tangannya mengepal tanpa sadar dia tengan memukul-mukul
konsen jendela yang tak berdosa.
“Siro (kamu) iku (itu) apuwo (kenapa).?” Tanya Sinta padanya
dengan sedikit heran dengan sikapnya barusan.
“Sing paran-paran (tidak apa-apa).” Sahut Faro dengan cepat
dan dia segera masuk ke dalam.
Sinta yang masih penasaran dengan sikap anaknya, ikut
mengintip dari balik jendela. Berharap menemukan alasan dari pertanyaan yang
tidak dia dapatkan. Namun Sinta tidak menemukan apa-apa. Karena Vivian dan Dafa
sudah pergi jauh meninggalkan rumah menuju tempat acara.
“Apuwo lare iku mau (kenapa dia barusan).? Ndane mari weroh
jerangkong (apa dia habis melihat hantu).?” Sinta bergumam pada dirinya sendiri.
Tanpa sadar dia merinding sendiri dengan ucapannya barusan. Dan segera menyusul
Faro masuk ke dalam.
Dafa dan Vivian sampai di tempat acara. Mereka segera
menghampiri anggota band yang lain yang sudah lebih awal tiba disana. Vivian mengucapkan
maaf kepada semua karena dia sudah terlambat. Seharusnya Vivian memberikan
kesan yang baik pada penampilan perdananya.
Semua memaafkan Vivian dan memaklumi keadaannya. Sudah menjadi
sesuatu yang wajar kesalahan seperti itu terjadi dalam setiap keompok.
Personil band telah mengecek semua alat musin dan mereka
bersiap untuk tampil. Vivian Nampak begitu kurang percaya diri. Mungkin karena
ini adalah penampilan perdananya di atas panggung. Dafa menghampiri Vivian.
“Kamu nggak apa-apa kan.?” Tanya Dafa tersenyum.
“Aku sedikit grogi kak.” Seru Vivian.
“Tarik nafas.. Hembuskan.. Tarik nafas.. Hembuskan..!” Perintah
Dafa dan langsung dikuti oleh Vivian.
“Gimana.?”
“Jauh lebih baik.” Sahut Vivian
sambil menghela nafas.
Kamu pasti bisa Vivian. Ayo semangat.!! Seru Vivian pada dirinya sendiri.
Dafa dan Vivian naik ke atas panggung. Vivian sudah jauh
lebih tenang. Satu lagu dua lagu bahkan sampai lima lagu di lahap habis
olehnya. Vivian tidak pernah menyangka dia bisa melewati itu semua dengan mudah
dan lancar.
Dalam grup band milik Dafa bukan hanya Vivian yang menjadi
vokalis. Ada juga Dafa dan penyanyi cowok yang lain. Dengan kata lain hanya
Vivian lah satu-satu wanita dalam band tersebut.
Sebenarnya Vivian tidak mau masuk dalam band ini. Bukan Karena
tidak berminat tapi karena semua personilnya laki-laki termasuk juga manager
bandnya. Karena marah terhadap keluarga maka Vivian memutuskan untuk masuk
dalam group begitu saja.
Dengan begitu dia tidak harus menghabiskan waktunya usai pulang sekolah dengan berkumpul dengan calon keluarga baru bapaknya. Dan kali
ini dia mempunyai alasan untuk keluar karena ada kegiatan ekskul music yang
telah dia ikuti.
Keterangan :
Perbincangan antara Sinta dan Faro menggunakan Bahasa Osing. Bahasa ini berasal dari daerah
Banyuwangi. Merupakan bahasa asli masyarakat Suku Osing yang tinggal disana.