Point Of Love

Point Of Love
Tampil Perdana



Vivian menyantap makan tanpa banyak mengunyah. Bukan karena


makanan itu nikmat hingga Vivian begitu lahap memakannya. Tapi Vivian ingin


segera meninggalkan meja makan dengan cepat. Bapak Vivian yang melihat anak


gadisnya begitu lahap makan masakan calon ibu barunya terlihat sangat senang


dan puas.


Vivian hanya membutuhkan waktu empat menit saja untuk


menyelesaikan makanannya kali ini. Ini terbilang sangat cepat.  Karena isi piring ketiga orang yang makan


bersamanya masih tersisa banyak sedangkan piring milik Vivian hampir ludes


masuk ke dalam mulutnya.


Setelah selesai Vivian segera berdiri dan  masuk ke dalam kamar. Bapak Vivian yang


melihat itu baru menyadari, ternyata bukan rasa senang yang tengah anaknya


rasakan sekarang. Melainkan rasa canggung yang tidak pernah terucap dari mulut


anak gadisnya. Bukan karena menikmati makanan namun hanya sekedar ingin


cepat-cepat mengakhiri adegan makan siang hari ini.


Vivian kembali masuk ke dalam bilik kamarnya. Menutup pintu


dan tidak lupa menguncinya. Ponsel Vivian bordering ada satu panggilan disana.


Dafa.


“Hallo.” Vivian menempelkan ponsel ke telinganya.


“Vivian. Kamu nggak lupa kan hari ini kita tampil.” Sahut


Dafa dari balik ponsel.


Vivian memukul dahinya sendiri sedikit keras. Bagaimana dia


bisa melupakan hal yang sepenting ini.


“Sorry kak. Aku lupa.” Seru Vivian sambil menggigit bibirnya


bagian bawah.


“Oke. Kamu tenang dulu sebentar.!! Masih tersisa waktu 15


menit. Kamu segera bersiap lalu aku jemput.”


“Oke.”


“Oh iya aku lupa. Alamat rumah kamu jangan lupa di share


loc.” Lanjut Dafa.


“Sip.”


Vivian segera menutup telpon. Membuka sebuah aplikasi chat


onine dan mengirimkan lokasi rumahnya. Menaruh ponsel dengan sembarang di atas


meja belajarnya. Meraih handuk dan dengan langkah seribu menuju kamar mandi.


Sekali lagi Vivian harus melewati ruang makan dan disana


masih terdapat tiga orang yang sedang asyik mengobrol sambil menikmati


hidangan. Sekelebat bayangan Vivian sedikit mengganggu mereka. Namun Vivian


masih berjalan menuju kamar mandi tanpa mempedulikan hal tersebut.


Kekesalan dan rasa kecewa terhadap anggota keluarga baru yang


hadir dalam keluarganya sangat mengganggu fikiran Vivian. Hingga dia melupakan


jadwal yang sudah terencana dalam daftar.


Vivian memang sengaja menerima ajakan Dafa untuk bergabung


dalam Band miliknya. Berharap dengan kesibukan itu, Vivian tidak harus


berlama-lama tinggal di rumah. Apalagi sekarang Faro dan Tante Sinta sering


sekali berkunjung ke rumahnya.


Hanya membutuhkan waktu 8 menit Vivian membersihkan diri. Vivian


segera bersiap untuk acara manggung perdananya. Demam panggung sudah menjalar


ke sekujur tubuhnya. Ya walaupun Vivian sudah biasa benyanyi. Namun kali ini


berbeda, dia akan tampil resmi di depan banyak orang yang baru bahkan tidak


mengenalnya.


Vivian keluar dari kamarnya. Dan tak lupa dia mengunci kamar


itu. Biasanya Vivian tidak pernah mengunci kamar miliknya. Entah perasaan apa


yang telah masuk ke dalam otaknya. Setiap kali Vivian melihat tante Sinta dan


Faro yang terlintas pasti hanya prasangka buruk dan itu yang selalu menari-nari


dalam fikirannya.


“Mau kemana kamu.?” Tanya Faro yang sudah berdiri di belakang


Vivian yang masih mengunci pintu kamarnya.


“Apaan sih.? Bikin orang kaget saja.” Gerutu Vivian kesal


karena dia terkejut dengan kehadiran Faro yang begitu tiba-tiba.


“Ditakoni (ditanya) iku (itu) jawaben (dijawab).!” Sentak Faro


tidak mau kalah dengan sikap Vivian yang selalu dingin padanya.


“Emong (tidak mau) karep (terserah) isun (aku) yoro (dong).” Sahut


Vivian yang langsung meninggalkan Faro yang masih bersungut karena kemarahan


Vivian memang selalu bersikap seperti itu pada Faro. Sebenarnya


kalau difikir-fikir Faro tidak tahu menahu mengenai hubungan antara ibu dan


bapaknya. Tapi sekali lagi bisikan syaitan selalu mengatakan hal-hal yang tidak


menyenangkan untuk didengar. Bagi Vivian Sinta dan Faro lah yang telah


meretakkan dan menghancurkan keluarganya.


Vivian menunggu Dafa di depan rumahnya. Tak perlu waktu lama,


hanya 2 menit Vivian menunggu dan Dafa sudah sampai di depan rumahnya sambil


mengendarai motor. Vivian segera menghampiri Dafa.


“Sudah lama.?” Tanya Dafa tanpa melepas helm.


Vivian hanya menggelengkan kepala sambil mengenakan helm


miliknya lalu naik ke atas motor milik Dafa.


Faro melihat Vivian dan Dafa dari balik jendela. Faro Nampak kesal


dengan mereka berdua. Tangannya mengepal tanpa sadar dia tengan memukul-mukul


konsen jendela yang tak berdosa.


“Siro (kamu) iku (itu) apuwo (kenapa).?” Tanya Sinta padanya


dengan sedikit heran dengan sikapnya barusan.


“Sing paran-paran (tidak apa-apa).” Sahut Faro dengan cepat


dan dia segera masuk ke dalam.


Sinta yang masih penasaran dengan sikap anaknya, ikut


mengintip dari balik jendela. Berharap menemukan alasan dari pertanyaan yang


tidak dia dapatkan. Namun Sinta tidak menemukan apa-apa. Karena Vivian dan Dafa


sudah pergi jauh meninggalkan rumah menuju tempat acara.


“Apuwo lare iku mau (kenapa dia barusan).? Ndane mari weroh


jerangkong (apa dia habis melihat hantu).?” Sinta bergumam pada dirinya sendiri.


Tanpa sadar dia merinding sendiri dengan ucapannya barusan. Dan segera menyusul


Faro masuk ke dalam.


Dafa dan Vivian sampai di tempat acara. Mereka segera


menghampiri anggota band yang lain yang sudah lebih awal tiba disana. Vivian mengucapkan


maaf kepada semua karena dia sudah terlambat. Seharusnya Vivian memberikan


kesan yang baik pada penampilan perdananya.


Semua memaafkan Vivian dan memaklumi keadaannya. Sudah menjadi


sesuatu yang wajar kesalahan seperti itu terjadi dalam setiap keompok.


Personil band telah mengecek semua alat musin dan mereka


bersiap untuk tampil. Vivian Nampak begitu kurang percaya diri. Mungkin karena


ini adalah penampilan perdananya di atas panggung. Dafa menghampiri Vivian.


“Kamu nggak apa-apa kan.?” Tanya Dafa tersenyum.


“Aku sedikit grogi kak.” Seru Vivian.


“Tarik nafas.. Hembuskan.. Tarik nafas.. Hembuskan..!” Perintah


Dafa dan langsung dikuti oleh Vivian.


“Gimana.?”


“Jauh lebih baik.” Sahut Vivian


sambil menghela nafas.


Kamu pasti bisa Vivian. Ayo semangat.!! Seru Vivian pada dirinya sendiri.


Dafa dan Vivian naik ke atas panggung. Vivian sudah jauh


lebih tenang. Satu lagu dua lagu bahkan sampai lima lagu di lahap habis


olehnya. Vivian tidak pernah menyangka dia bisa melewati itu semua dengan mudah


dan lancar.


Dalam grup band milik Dafa bukan hanya Vivian yang menjadi


vokalis. Ada juga Dafa dan penyanyi cowok yang lain. Dengan kata lain hanya


Vivian lah satu-satu wanita dalam band tersebut.


Sebenarnya Vivian tidak mau masuk dalam band ini. Bukan Karena


tidak berminat tapi karena semua personilnya laki-laki termasuk juga manager


bandnya. Karena marah terhadap keluarga maka Vivian memutuskan untuk masuk


dalam group begitu saja.


Dengan begitu dia tidak harus menghabiskan waktunya usai pulang sekolah dengan berkumpul dengan calon keluarga baru bapaknya. Dan kali


ini dia mempunyai alasan untuk keluar karena ada kegiatan ekskul music yang


telah dia ikuti.


Keterangan :


Perbincangan antara Sinta dan Faro menggunakan Bahasa Osing. Bahasa ini berasal dari daerah


Banyuwangi. Merupakan bahasa asli masyarakat Suku Osing yang tinggal disana.