Point Of Love

Point Of Love
Tau Tatu



Vivian dengan berat hati naik ke atas pentas yang tidak


terlalu tinggi tersebut. Mungkin hanya 75 centi meter fikirnya. Vivian merasa


sangat malu dan sesekali menatap kedua sahabatnya yang berjarak hanya lima


meter darinya agar mau membantunya dari rasa canggung tersebut. Namun Mala dan


Juwita sangat bersemangat dengan itu dan Vivian tidak bisa membuat kedua


sahabatnya kecewa.


MC memberikan mikrofon portable kepada Vivian. Vivian


menerimanya dengan sangat canggung. Dafa menghampiri Vivian yang tampak malu.


“Mau menyanyikan lagu apa.?” Tanya Dafa pelan.


“Itu kak. Lagu yang berjudul ‘Tau Tatu’.” Jawab Vivian sedikit ragu.


“Mau di iringi music koplo apa pakai gitar saja.?” Dafa balik


bertanya.


“Pakai gitar saja kak.” Sahut Vivian santai. Dafa hanya


menganggukkan kepala paham.


“Oh iya. Mau berdiri ada pakai kursi biar lebih santai.?”


“Terserah kakak saja. Maaf kalau merepotkan.” Kata Vivian canggung


bercampur malu.


“Udah santai saja.” Sahut Dafa. Dafa mengisyaratkan temannya


agar membawa dua kursi ke atas pentas dan teman dafa mengangguk paham. Tak lama


mereka mununggu kursi itu pun telah berada di atas pentas. Vivian duduk di


temani Dafa di sampingnya dengan memegang gitar. Petikan gitar mulai terdengar


dan Vivian mulai bernyanyi.


Dafa sedikit terkejut mendengar suara Vivian yang begitu


jernih dan merdu. Tanpa Vivian sadari sesekali dafa melirik ke arahnya. Dalam


hati terbesit rasa kagum terhadap wanita yang sedang berada di sampingnya


sekarang.


Suaranya


merdu. Kalau dia masuk ke klub band ku pasti semakin menarik dan band ku bisa


lebih terkenal karena suaranya yang khas. Aku harus bisa membujuknya masuk ke


dalam bandku.


Jalal dan Hana sedang duduk di pelaminan mereka. Jalal


terlihat mengepalkan tangan saat pandangannya dengan Vivian bertemu tanpa


sengaja. Vivian memang sengaja menyanyikan lagu yang berjudul ‘Tau Tatu’ yang


berarti ‘Pernah Terluka’ khusus untuk mantan pacarnya tersebut. Lagu tersebut


seakan menampar muka Jalal sekarang.


Mala dan Juwita hanya bisa menikmati dari bawah panggung


lantunan lagu yang sedang dinyanyikan ole temannya itu. Vivian begitu


menghayati setiap lirik lagu yang dia nyanyikan. Sepertinya lagu itu telah


merasuk dalam dirinya dan mampu mewakili perasaannya saat ini. Bahkan Dafa yang


berada di sampingnya juga merasakan hal yang sama.


Vivian telah menyelesaikan lagunya dan ingin segera turun


dari pentas namun sorak penonton menghentikan langkah kakinya. Semua tamu yang


hadir meminta agar Vivian menyanyikan satu buah lagu lagi. Vivian menatap Dafa


dengan ragu namun Dafa tersenyum dan menganggukkan kepala pelan. Vivian hanya


bisa tersenyum getir dan kembali duduk di samping Dafa.


“Mau nyanyi lagu apa.?” Tanya Dafa pelan setengah berbisik.


“Menemukanmu.” Ucap Vivian dengan mikrofon yang sengaja dia


dekatkan ke bibirnya dan menatap Dafa sambil tersenyum. Dafa membalas senyum


Vivian dan mulai memetik senar gitar miliknya.


Suara Vivian yang terdengar jelas di pengeras suara saat


mengucapkan “Menemukanmu” sambil menatap Dafa penuh dengan kebahagiaan membuat


Jalal yang duduk di pelaminan seperti kebakaran jenggot. Tanpa Jalal sadari dia


telah termakan cemburu. Seseorang yang dengan mudah mempermainkan perasaan


orang lain sekarang harus menerima balasan dari apa yang sudah dia lakukan pada


Vivian.


Vivian menyanyikan lagu itu sampai pada lirik terakhir. Dan


kali ini dia segera turun dari pentas. Saat Vivian melewati anak tangga pentas


tanpa sengaja kakinya sedikit terpeleset dan Dafa dengan sigap meraih tangan


Vivian. Alhasil Vivian dan Dafa dalam posisi seperti sedang ingin berdansa.


Untuk beberapa detik mata mereka bertemu. Mereka membuat seluruh tamu


menyaksikan tampilan yang begitu indah. Seperti pangeran tampan yang sedang


menyelamatkan putri yang cantik.


Mala dan Juwita segera menghampiri Vivian. Dafa segera


menarik tangan Vivian agar bisa berdiri dengan benar.


“Terima kasih kak Dafa.” Ucap Vivian.


Deg.!! Dia


tahu namaku. Dafa sedikit terkejut.


“Iya kak. Aku nggak apa-apa kok.” Kata Vivian sambil


tersenyum.


“Aku turun dulu ya


kak.” Lanjut Vivian. Dafa mengangguk pelan sambil tersenyum singkat.


Mala mengulurkan tangan kepada Vivian agar dia turun dari


pentas sambil berpegangan padanya. Vivian meraih tangan Mala dan segera turun.


Kali ini mereka memutuskan untuk mengambil makanan penutup. Vivian merasa


sedikit kebingungan dalam memilih makanan penutup. Karena jujur saja Vivian


tidak terlalu suka makanan manis. Mala dan juwita telah kembali ke tempat duduk


mereka. Mninggalkan Vivian sendiri yang masih bimbang untuk memilih.


“Kenapa.?” Tanya Dafa yang sudah berdiri di samping Vivian


dengan piring kecil di tangannya.


“Nggak apa-apa. Memangnya kenapa.?” Vivian balik bertanya dan


saat dia mengetahui orang yang telah menyapanya adalah Dafa dia sedikit malu.


“Kak dafa.?” Seru Vivian.


“Kamu tahu namaku. Tapi aku belum tahu namamu.” Jawab Dafa


sambil mengambil sebuah kue dengan topping potongan strawberry kecil di


atasnya. Meletakkan satu potongan ke piring milik Vivian dan yang sepotong lagi


ke piringnya sendiri. Vivian hanya bisa menerima tanpa berkomentar.


“Kamu harus coba yang ini. Rasanya tidak begitu manis.” Seru


Dafa.


Kenapa dia


bisa tahu kalau aku tidak suka makanan manis.? Apa dia paranormal.? Kata Vivian


dalam hati.


“Terima kasih.” Ucap Vivian. “Namaku Vivian.” Vivian


tersenyum memandang Dafa.


Vivian dan Dafa berjalan menuju tempat duduk untuk memakan


makanan penutup yang telah mereka ambil. Mala dan Juwita tidak berhenti


bergosip dan tertawa kecil. Membuat Vivian yang melihat hal tersebut merasa


sangat aneh. Karena perbuatan mereka membuat Vivian dan Dafa menjadi pusat


perhatian disana.


“Aku sangat popular ya.? Sampai kamu juga bisa langsung


mengenaliku.” Kata Dafa dengan penuh percaya diri.


“Tidak juga.” Sahut Vivian sambil menikmati kue menggunakan


sendok kecil. Dafa mengerutkan dahi.


“Lalu kenapa kamu bisa tahu namaku.?” Tanya Dafa bingung.


“Sebenarnya ini bukan kali pertama kita betemu. Tepatnya hari


ini adalah pertemuan kita yang kedua.” Seru Vivian sambil memperlihatkan jari


telunjuk dan tengannya kepada Dafa.


“Maksud kamu.?” Tanya Dafa yang masih merasa kebingungan.


“Pertemuan kita yang pertama di kantin sekolah. Saat itu aku


baru menyelesaikan tes interview masuk ke SMA PERMATA. Tanpa sengaja temanku


menunjuk kalian yang juga ada disana. D3 Dion, Dafa dan Diandra. Benar kan.?”


Ucapan Vivian sangat meyakinkan. Dafa hanya bisa membalas semua pernyataan


Vivian dengan tertawa kecil.


Dafa mengeluarkan ponsel dan meminta nomor ponsel Vivian.


Vivian segera menyebutkan beberapa angka dan Dafa mengetiknya di ponsel


miliknya. Juwita secara diam-diam mengambil foto kebersamaan Dafa dan Vivian


yang sedang asyik berbincang. Vivian telah selesai menyantap hidangan penutup


begitu pula Mala dan Juwita. Vivian berpamitan kepada Dafa untuk segera pulang


bersama dengan teman-temannya. Tapi sebelum pulang sudah menjadi sutau


keharusan mereka harus naik ke pelaminan dan memberikan selamat kepada kedua


mempelai. Vivian berjalan dengan penuh percaya diri menuju pelaminan. Disusul


oleh kedua sahabatnya dari belakang.


Saat Vivian dan Jalal behadapan. Vivian melancarkan aksi


dengan senyum termanisnya kepada Jalal. Membuat hati Jalal berkecamuk tidak


karuan.


“Selamat menempuh hidup baru ya kak.” Ucap Vivian dengan


senyum di bibirnya.


“Terima kasih.” Jalal penuh ragu.


Vivian berjalan mendekati Hana dan mereka saling menempelkan


pipi dan memberi selamat kepadanya. Hana adalah gadis yang baik. Vivian merasa


kasihan padanya karena memilih Jalal sebagai pendamping hidupnya. Jalal tidak


cukup baik untuk gadis sepertinya.


keterangan :


 Tau Tatu artinya pernah terluka. Kata ini diambil dari bahasa osing. Bahasa khas masyarakat daerah Banyuwangi.