
Faro menyuruh salah satu karyawannya agar mencopy kamera cctv yang ada di kafe untuk di serahkan kepada polisi sebagai barang bukti. Bagi orang awam pasti tidak akan mengetahui kalau sudah terpasang kamera cctv di setiap sudut cafe. Karena cctv yang di pakai Faro terbilang unik. Faro sengaja memilih meletakkan camera cctv super kecil dan meletakkan mereka pada setiap bola lampu yang terpasang disana. Jadi orang tidak akan pernah berfikir kalau ada cctv disana.
Faro juga menambahkan kasus Vivian ke dalamnya. Dengan membawa barang bukti berupa seragam sekolah Vivian yang belum sempat dia antar ke tempat loundry. Faro memang sengaja tidak meloundry seragam Vivian untuk menemukan pelaku dari pembullyan yang terjadi di sekolah.
Faro juga telah meminta bantuan karyawannya Joni yang juga bersekolah di sekolah yang sama dengan Vivian agar meminta rekaman cctv sebelum dan sesudah kejadian pembullyan adiknya. Walau aksi tersebut tidak terekam langsung namun Faro memiliki intuisi yang kuat dalam penyelidikan. Dan menyerahkan itu juga sebagai pendukung barang bukti yang sudah ada.
Faro naik ke ruangannya. Mencari ke sekeliling namun tidak dapat menemukan Vivian. Dia mulai cemas namun kecemasan itu langsung hilang saat di dapati Vivian telah tidur pulas di dalam kamar pribadinya.
Faro berjalan sangat pelan agar Vivian tidak terbangun dari tidurnya. Duduk di tepi tempat tidur. Tiba-tiba tangan Faro mendekati Vivian. Dia mengelus rambut Vivian dengan lembut. Seuntai senyum hinggap di bibirnya.
Seketika senyum itu sirna karena Vivian terbangun dari mimpi indahnya.
"Kak Faro." Sapa Vivian disela-sela kantuknya dengan mata yang masih tertutup rapat.
"Kamu nggak lapar lagi.?" Sahut Faro tanpa ada nada kemarahan lagi.
"Sebentar lagi ya kak. Masih ngantuk." Sahut Vivian sayup-sayup.
"Ya sudah kamu tidur saja.!!" Faro menarik selimut dan menyelimuti Vivian. Vivian semakin merasa nyaman dan dia tertidur kembali.
Faro meninggalkan kamar dan membiarkan Vivian istirahat disana. Menyalakan laptop dan memeriksa semua data yang ada. Mengambil gagang telepon dan menghubungi dapur cafe.
"Hallo. Bisa bawakan kopi robusta. Antar ke ruangan ku." Seru Faro dan langsung menutup telepon.
Melanjutkan pekerjaan yang menumpuk. Akhir-akhir ini Faro memang jarang ke cafe. Makanya banyak data yang perlu dia selesaikan. Saat Faro masih sibuk dengan pekerjaan yang ada di depannya. Salah satu karyawan mengetuk pintu dan meminta izin untyk masuk. Secangkir kopi robusta sudah siap untuk di nikmati. Tidak lupa Faro berterima kasih padanya.
Setelah karyawan meninggalkan ruangan Faro tiba-tiba pintu kamar terbuka. Vivian telah bangun dari tidurnya.
"Sudah bangun.?" Sapa Faro ramah.
Vivian hanya membalas dengan anggukan saja. Vivian memilih untuk duduk di sofa. Sedang Faro masih harus menyelesaikan pekerjaannya.
"Kak Faro ngapain.?" Ucap Vivian yang masih terdengar lelah.
"Kerja. Apa lagi.!!" Seru Faro yang masih fokus dengan komputer nya.
"Ooo."
"Beres. Akhirnya selesai juga." Seru Faro pada dirinya sendiri.
Faro berdiri sambil membawa cangkir kopi dan menghampiri Vivian yang sedang duduk di sofa. Faro duduk tepat di samping Vivian dan meletakkan kopi itu di meja.
"Sudah enakan.?" Tanya Faro.
"Alhamdulillah. Sudah lebih baik sekarang." Sahut Vivian.
"Syukurlah. Aku lega mendengarnya." Seru Faro lalu dia mengambil cangkir berisi kopi dan meminumnya.
"Cafe ini punya kak Faro.?" Tanya Vivian asal.
"Iya." Jawab Faro cuek.
"Berarti foto yang di kamar itu juga foto keluarga kak Faro.?" Tanya Vivian lagi.
"Maksudnya.?" Vivian bingung dengan pernyataan Faro.
"Iya. Papa dan Mara sudah lama pergi meninggalkanku dan mama. Saat usiaku masih 10 tahun semuanya bermula. Papa seorang polisi. Pangkatnya Komisaris Jendral Polisi disingkat Komjenpol. Kami sangat bangga sama papa. Karir papa sukses di kepolisian. Tapi semuanya sirna tiba-tiba." Faro menghembuskan nafas kasar dari hidungnya. Terasa begitu berat baginya untuk membagikan cerita sedih dalam hidupnya.
"Kenapa kak.?" Vivian mengelus punggung Faro pelan untuk menenangkannya. Vivian merasakan kesedihan yang begitu dalam dan merasa hal ini adalah titik lemah dari kakaknya itu.
"Oke. Aku nggak apa-apa." Ucap Faro sambil mencoba mengatur nafasnya sendiri.
"Liburan sekolah telah tiba. Aku dan juga Mara ingin sekali liburan bersama papa dan mama. Karena sudah lama sejak papa tugas kami tidak pernah jalan-jalan bersama lagi. Papa setuju dan mengambil cuti 3 hari dari kantor. Kami memutuskan untuk berlibur ke pegunungan. Sialnya saat kami naik ke pegunungan tiba-tiba muncul kabut tebal. Pandangan kami hanya berjarak 1 meter saja. Papa tidak bisa fokus untuk mengemudi hingga mobil kami jatuh ke jurang." Faro menghentikan kisahnya dan meneteskan air mata.
Begitu juga Vivian yang mendengar cerita sedih itu ikut menangis juga. Vivian memeluk Faro dengan erat sambil menangis bersama.
"Kak Faro sabar ya. Vivian yakin papa dan Mara pasti bahagia di surga. Mereka orang baik kak, pasti sekarang berada di sisi Alloh." Seru Vivian mencoba menenangkan Faro.
Faro menangis di bahu Vivian. Tangisan yang telah lama dia pendam sendiri. Sekarang Faro sudah lebih terbuka pada orang lain.
"Menangislah kak.!! Jika menangis bisa mengurangi beban fikiran kak Faro. Tidak apa-apa." Seru Vivian sambil mengelus rambut Faro dengan lemah lembut.
Selang beberapa menit ponsel Faro berdering. Satu panggilan masuk. Faro segera bangkit mengelap air mata dan ingusnya menggunakan tisu dan segera mengangkat telepon.
"Hallo. Iya Van ada apa.?" Sapa Faro.
"Kamu bisa ke kantor sekarang.? Pihak keluarga mereka datang dan meminta jalur kekeluargaan sama kamu." Sahut Revant dari balik telepon.
"Oke. Aku kesana sekarang." Faro menutup teleponnya.
"Ada apa kak.?" Tanya Vivian penasaran.
"Kamu temenin kakak ke kantor polisi sebentar." Seru Faro sambil berdiri.
"Ngapain kak.? Malam-malam gini ke kantor polisi." Ucap Vivian heran.
"Berisik. Udah cepetan.!!" Seru Faro dan di susul Vivian di belakangnya. Faro segera keluar dari ruangan. Berpamitan kepada salah satu karyawan dan menuju tempat parkir.
Faro naik ke atas motor dan di susul oleh Vivian di belakangnya.
"Jaket kamu mana.?" Tanya Faro.
"Ketinggalan di kamar kak. Apa aku ambil dulu.?" Vivian mau turun dari motor tapi di cegah oleh Faro.
"Nggak usah.!! Lama." Seru Faro. Vivian yang mendengar hal itu langsung memajukan bibirnya. Faro melepas jaket levisnya.
"Pakai ini.!!" Faro menyerahkan jaketnya kepada Vivian. Vivian menerima jaket itu dan memakainya. Walaupun jaket itu terasa begitu besar bagi Vivian. Tapi dia tidak berargumen sedikit pun.
"Kak Faro gimana.?" Ucap Vivian ragu.
"Udah tenang. Yang penting kamu nggak kedinginan. Nanti kalau kamu sakit aku juga yang repot." Seru Faro sambil mengenakan helm. Tidak lupa Vivian juga memakai helm. Keran keselamatan yang lebih utama dari apapun.
"Terima kasih ya kak." Ucap Vivian lirih. Vivian segera merangkul pinggang Faro dengan erat. Faro tersenyum bahagia dalam hati dan mengelus tangan Vivian. Faro segera menstater sepeda motornya dan menuju kantor polisi tempat Revan bertugas. Karena dua kasus yang dia laporkan sekarang harus segera di atasi.