
Vivian memantapkan hati dan fikirannya untuk menghadapi Nurdin dan Jalal. Menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Menyatakan perasaannya pada lelaki yang dia suka. Vivian berniat menemui Nurdin terlebih dahulu sebelum menemui Jalal. Meski itu semua bertolak belakang dengan saran dari temannya Lutvi namun Vivian tidak mau ambil pusing akan hal itu. Siapa dulu yang dia temui menurutnya tak ada masalah selama dia bisa menjelaskan semuanya dengan jelas.
Sore itu tidak seperti biasanya Vivian datang ke masjid lebih awal dari teman-temannya. Semua itu dia lakukan karena dia ingin bertemu dengan Nurdin tanpa sepengetahuan kedua sahabatnya.
Semua berjalan sesuai dengan yang dia inginkan. Orang yang dia sukai datang. Setelah selesai sholat ashar Vivian segera merapikan mukenah dan memakai kerudungnya. Dia bergegas keluar masjid perempuan dan sengaja menunggu Nurdin didekat pintu samping masjid.
Pucuk dicita ulam pun tiba. Lelaki yang didamba-damba akhirnya muncul juga. Vivian tiba-tiba merasa gugup dan salah tingkah. Dia membenarkan pakaian dan kerudungnya walaupun sebenarnya itu tidak perlu karena Vivian sudah terlihat rapi dan cantik.
Nurdin berjalan keluar masjid. Saat keluar dari pagar samping masjid Vivian memanggilnya.
"Kak." Sapa Vivian terlihat malu-malu.
"Vivi Ada apa?" Jawab Nurdin sedikit terkejut.
"Ada yang mau aku omongin sama kak Nurdin. Kakak sibuk nggak?" Tanya Vivian ragu.
"Enggak kok. Ngobrolnya di kelas aja ya. Nggak enak di lihat orang. Nggak apa-apa kan Vi?" Kata Nurdin.
"Iya kak." Jawab Vivian sedikit gugup.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju kelas. Hati Vivian bercampur aduk antara senang dan gugup. Apa dia memiliki keberanian lebih untuk menjelaskan semuanya pada Nurdin. Sekarang mereka telah berada dalam kelas namun posisi mereka tidak berdekatan. Nurdin berdiri didekat jendela sedangkan Vivian berada di sudut ruangan tersebut.
"Ada apa Vi?" Tanya Nurdin.
Vivian menarik nafas dalam sambil memejamkan mata. Jantungnya terasa hampir keluar dari dadanya. Tangan Vivian meremas jemarinya sendiri.
"Kak sebenarnya surat dari Kumala kemarin itu dari aku." Kata Vivian ragu.
"Oh." Jawab Nurdin singkat.
"Sebenarnya aku udah lama suka sama kakak." Vivian menggigit bibirnya bagian bawah.
"Gimana perasaan kakak sama aku?" Lanjut Vivian.
"Vi aku sangat berterima kasih sama kamu karena menyukaiku namun sebelumnya aku minta maaf sama kamu." Nurdin menghembuskan nafas dalam lalu menatap Vivian.
"Aku tahu surat kemarin itu dari kamu tapi sekali lagi maaf aku nggak bisa membalas perasaanmu padaku." Lanjut Nurdin.
Telinga Vivian terasa sangat panas. Dadanya penuh dengan sesak hingga dia sulit untuk mengatur nafasnya.
"Kenapa?" Suara Vivian terdengar sedikit serak.
"Karena sudah ada orang lain yang mengisi hatiku Vi." Terdapat seuntai senyum di bibir Nurdin.
"Oh." Sahut Vivian sambil menahan air matanya agar tak terjatuh.
"Kamu gadis yang baik Vi. Cantik dan juga pintar. Pasti banyak laki-laki yang suka dan tulus sayang sama kamu nantinya." Lanjut Nurdin.
Vivian tak dapat membendung air yang akan keluar dari sudut matanya. Dia berjalan cepat keluar kelas agar Nurdin tak dapat melihatnya yang sedang menangis.
"Vivian." Suara Nurdin menghentikan langkah kaki Vivian.
"Kamu nggak apa-apa kan?" Lanjut Nurdin sedikit khawatir.
Aku juga suka sama kamu Vi tapi aku nggak mau pertemananku dengan Jalal hancur hanya karena aku lebih mementingkan perasaanku. Aku rela mengalah untuknya dan mengesampingkan perasaanku sendiri. Dia yang lebih pantas untuk bersamamu Vi. Bukan aku. Aku berharap kamu akan lebih bahagia bersamanya. Bukan dengan ku.
Nurdin tak dapat mengendalikan perasaannya sendiri hingga tanpa dia sadari butiran kecil jatuh dari ujung matanya.
Tak lama kemudian Mala dan Juwita datang. Disusul dengan teman-teman yang lain. Nurdin segera duduk dan menghapus air matanya. Dia diam termenung di tempat duduknya. Membuat semua orang yang berada didekatnya merasa canggung. Ini bukan hal yang biasa dia lakukan.
Mala dan Juwita saling senggol dan memainkan mata seakan memberi kode rahasia.
"Nurdin kenapa tuh?" Bisik Juwita pada temannya Mala.
"Nggak tahu. Tumben banget dia murung kayak gitu." Sahut Mala dengan suara lirih.
Perbincangan mereka terpaksa terhenti karena ustad yang mengajar sore itu telah datang dan memulai pelajaran.
"Eh. Vivian kemana? Kok tumben nggak datang." Tanya ustad Fathon pada seisi kelas.
Mala dan Juwita saling pandang dan memainkan gerakan mata sebagai kode pembicaraan. Mereka berdua baru sadar kalau sahabatnya tidak ada diantara mereka.
Nurdin melirik tempat duduk Vivian yang kosong. Dalam hatinya terbesit rasa bersalah terhadap Vivian. Tidak seharusnya dia melakukan hal yang membuat Vivian kecewa. Apalagi saat Vivian pergi meninggalkan kelas tadi ada sesuatu yang mengalir dari sudut matanya.
Maafin aku Vi. Aku sudah membuat kamu kecewa.
☆☆☆
Vivian duduk di taman dekat sungai. Mancabuti kelopak bungan mawar satu persatu. Pandangannya kosong dengan mata yang sedikit sembab setelah menangis. Vivian diam dalam kesendiriannya. Semua perkataan Nurdin masih terngiang-ngiang dalam fikirannya.
Kenapa jadi seperti ini? Ini bukan yang kuharapkan. Ku fikir selama ini dia suka sama aku. Kenapa kak? Kenapa kamu begitu jahat sama aku. Sikapmu yang menunjukkan perhatian dan sering mencuri pandang denganku. Apa maksud semua itu? Kalau saja sikapmu wajar sama aku, mungkin aku nggak bakalan sesakit ini.
Dari kajauhan terlihat Mala dan Juwita sedang berlari kecil menghampiri Vivian.
"Vi ngapain disini?" Suara Juwita menghentikan lamunan Vivian.
"Eh kalian. Nggak ada cuma pengen sendiri aja." Jawab Vivian dan memaksakan senyum di bibirnya.
"Ada apa Vi?" Tanya Mala dengan tatapan sedikit khawatir.
Mala dan Juwita duduk disamping kanan dan kiri Vivian. Vivian menyandarkan kepalanya ke bahu Juwita dan isak tangis itu pun kembali pecah. Vivian menceritakan semua kejadian secara detail pada kedua sahabatnya itu.
"Berarti selama ini dia hanya memberi harapan palsu?" Kata Mala dengan nada kesal.
"Aku juga nggak tahu. apa selama ini aku hanya baper sama sikap dia?" Sahut Vivian.
"Itu mustahil Vi. Menurut pengamatanku Nurdin pasti juga punya perasaan yang sama kayak kamu. Yang aku nggak habis fikir lalu apa alasan dia bersikap kayak gitu sama kamu Vi kalau dia nggak suka sama kamu." Tanya Juwita.
Vivian hanya bisa menggelengkan kepala.
Juwita memeluk bahu Vivian dari samping.
Mereka mengerti dengan kondisi Vivian saat ini. Mereka hanya bisa diam mendengarkan Vivian mencurahkan semua kekecewaannya. Dan sesekali Mala mengelus kepala Vivian yang terbalut kerudung hanya untuk menenangkan hatinya.