Point Of Love

Point Of Love
Terkulai Lemah



Faro duduk santai di atas motor sambil memainkan ponsel di tangannya. Sambil sesekali melirik ke arah pintu gerbang menunggu Vivian keluar.


Faro masih cukup bersabar menunggu Vivian keluar. Setiap orang yang keluar melewati pintu gerbang pasti memperhatikan Faro. Mungkin karena tampilan Faro yang terbilang lumayan. Saat Dafa keluar dari pintu gerbang dengan sepeda motornya, Faro teringat akan lelaki yang menjemput Vivian waktu itu.


Faro segera berlari sambil meneriaki Dafa. Dafa merasa canggung karena tidak mengenal orang yang tengah menghadangnya itu.


"Tunggu." Teriak Faro dengan nafas terengah-engah.


"Ada apa.? Apa kita saling kenal.?" Sahut Dafa sedikit cuek.


"Kamu nggak perlu tahu siapa aku. Kamu kan yang pernah ke rumah waktu itu.?" Tanya Faro dengan nada sombongnya.


"Kenal juga enggak. Ngapain aku ke rumah kamu." Sahut Dafa tidak kalah sinisnya.


"Kamu yang jemput Vivian waktu itu kan." Sahut Faro dengan nada kesal.


Jadi ini kakaknya Vivian. Pantas saja Vivian takut saat aku tawarin buat nganterin dia pulang. Ternyata kakaknya memang galak.


"Di tanya malah diem." Seru Faro kesal.


"Maaf kak. Aku nggak tahu kalau kakak ini kakaknya Vivian. Kakak nggak mau bilang dari tadi sih. Aku kan juga bingung." Sahut Dafa sambil tersenyum.


"Sudah nggak penting. Vivian mana.?" Tanya Faro.


"Vivian sudah keluar dari tadi kak."


"Kamu jangan macam-macam ya.!! Aku sudah satu jam nunggu disini." Gertak Faro kesal sampai ke ubun-ubun.


"Tapi beneran kak. Vivian sudah keluar setengah jam yang lalu. Kalau kakak nggak percaya. Kakak sekarang bisa ikut aku ke ruang musik dan kita cek sama-sama." Seru Dafa dengan semangat menggebu-gebu.


Faro menuruti perkataan Dafa dan menstater motor masuk ke dalam sekolah dengan di pimpin Dafa di depannya. Sesampainya di dalam Dafa dan Faro memarkir sepeda di tempat parkir dan segera bergegas menuju ruang musik.


Di ruangan musik masih ada beberapa anak namun Vivian tidak ada disana. Faro mulai mencemaskan adik tirinya itu.


"Mana Vivian.?" Tanya Faro mulai cemas.


"Sebentar kak. Aku coba menghubungi ponselnya." Seru Dafa yang juga mulai ikut cemas.


"Kenapa Daf.?" Tanya salah satu teman Dafa.


"Vivian. Ternyata dari tadi dia belum pulang." Sahut Dafa dengan nada cemas dan masih mencoba menghubungi ponsel Vivian.


"Lho bukannya dia sudah pulang paling awal dari kita semua ya.?" Sahutnya heran.


"Iya. Tapi kenyataannya dia belum pulang sampai sekarang."


"Terus ini siapa.?" Tanya teman Dafa ragu.


"Kakaknya Vivian." Sahut Dafa cepat. Teman-teman Dafa hanya bisa menelan ludah mereka sendiri. Meski terlihat tampan dan keren namun tidak dapat menutupi muka garangnya yang nampak nyata.


"Gimana.?" Tanya Faro tidak sabar.


"Tidak di angkat." Suara Dafa seakan menandakan keputusasaan.


"Aku sudah satu jam menunggu di depan. Dan Vivian sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya sama sekali. Besar kemungkinan kalau Vivian masih ada dalam sekolah ini dan belum pulang." Sahut Faro.


"Kakak Vivian benar. Mungkin Vivian terjebak di suatu tempat." Sahut teman Dafa.


Faro, Dafa dan beberapa teman yang lain mencoba mencari Vivian di seluruh penjuru ruangan yang ada di sekolah. Namun Vivian belum juga di temukan.


Saat Faro berjalan menelusuri lorong tanpa sengaja dia menginjak saus sambal di lantai hingga membuatnya terhenti sejenak.


"Apa ini." Seru Faro sambil mengambil sedikit lendir merah dan mendekatkan pada hidungnya.


Ini kan.!!


Faro segera berlari menuju toilet perempuan untuk mencari keberadaan Vivian. Saat Faro berlari Dafa melihatnya hendak masuk ke dalam toilet perempuan.


Dafa membelalakkan mata dan segera mengejar Faro agar tidak masuk ke dalam area yang terlarang untuk kaum laki-laki tersebut.


"Mau ngapain kamu.?" Sentak Dafa sambil berkacak pinggang di depan Faro.


"Minggir nggak." Gertak Faro.


"Aku bukannya mau kurang ajar sama kakak ya. Tapi lihat-lihat juga dong. Masak mau masuk ke toilet perempuan." Seru Dafa masih mencoba menghalangi Faro.


Faro menghela nafas kasar melalui hidungnya. Dengan terpaksa di dorongnya tubuh Dafa dengan kasar hingga Dafa tersungkur ke lantai.


"Kamu." Seru Dafa kesal. Namun Faro tidak mempedulikannya. Dia tetap masuk ke dalam dan mendapati tas Vivian tergeletak begitu saja di lantai toilet. Faro mencengkram tas milik Vivian dengan kasar.


"Vivian." Teriak Faro masih mencari keberadaan adiknya itu.


"Kakak kelewatan. Sakit tau." Protes Dafa pada Faro.


"Lo.. Ini kan tas milik Vivian." Seru Dafa mendapati tas Vivian telah berada di tangan Faro.


"Diam. Berisik." Gertak Faro kesal.


"Iya kak. Maaf." Ujar Dafa.


Faro mencari di setiap sudut ruangan yang ada disana. Faro sangat yakin kalau Vivian masih ada dalam ruangan tersebut.


Hingga sampailah Faro pada satu ruang Wc yang terkunci dari luar. Namun kunci dari pintu itu tidak ada disana.


"Vivian. Kamu di dalam.?" Faro mengetuk pintu itu beberapa kali. Namun tidak ada jawaban. Faro merasa sangat gelisah. Di tendangnya pintu itu hingga engsel pintu terlepas dari tempatnya. Hanya membutuhkan satu tendangan saja sudah bisa merobohkan pintu Wc sampai rusak parah.


Betapa terkejutnya Faro dan Dafa. Vivian di temukan dengan kondisi yang sangat mengerikan. Vivian duduk terkulai di lantai dengan baju basahnya dan terlihat sangat lemah.


"Vivian." Faro menjerit histeris mendapati adiknya begitu memprihatinkan.


"Ya Tuhan. Siapa yang tega melakukan semua ini sama kamu Vivian." Seru Dafa dengan perasaan iba.


"Siapa pun itu. Mereka akan mendapatkan balasannya. Lihat saja nanti." Sahut Faro dengan nada kesal.


Dafa yang mendengar pernyataan Faro hanya bisa menelan ludahnya sendiri. Bagaimana tidak, pintu saja langsung hancur dalam sekali tendang. Apalagi orang, bisa babak belur dalam sekali serangan. Begitu fikirnya.


Faro segera meraih tubuh Vivian yang sudah lemas tidak sadarkan diri dan juga kedinginan. Faro dengan hati-hati menyangga kepala Vivian dan mencoba menyadarkan Vivian yang telah pingsan dengan mengelus pipi Vivian beberapa kali. Namun Vivian tidak kunjung sadar.


"Di bawa ke rumah sakit saja kak." Seru Dafa yang juga ikut panik melihat kondisi Vivian saat ini yang tidak kunjung sadar juga.


"Kamu benar. Ayo kita bawa ke rumah sakit terdekat." Sahut Faro.


Faro segera menggendong Vivian keluar dari ruang toilet. Faro menyuruh Dafa membawakan tas milik Vivian. Serta Faro menyuruh Dafa untuk memboncengnya ke rumah sakit. Tidak mungkin bagi Faro kalau harus membonceng Vivian sendirian. Karena dia takut nanti Vivian akan jatuh dari motor. Maka mereka memutuskan untuk boncengan bertiga menuju rumah sakit terdekat.