Point Of Love

Point Of Love
Pantai BOOM



Candra mengemudikan motor dengan kecepatan standart. Tidak terlalu pelan juga tidak teralu ngebut. Vivian mengisyaratkan agar berhenti di


pom bengsin untuk mandi sebentar. Candra mengabulkan keinginan Vivian dengan senang hati.


Candra memarkirkan motor di tempat Rest area yang ada di pom bengsin. Duduk di atas motor sambil memainkan ponsel di tangannya.


Selang lima belas menit Vivian akhirnya keluar juga dari kamar mandi dengan rambut yang sedikit basah. Vivian berjalan mendekati Candra yang tengah menunggunya di tempat Rest area.


 Candra tersenyum menyambut kedatangan Vivian padanya. Diraihnya handuk dari tangan Vivian dan


langsung mengeringkan rambut Vivian yang basah menggunakan handuk itu. Vivian hanya diam saat Candra menggosok-gosokkan handuk ke rambutnya.


“Terima kasih banyak ya mas.” Ucap Vivian sambil tersenyum. Candra menghentikan tangannya dan tersenyum kepada Vivian. Untuk beberapa detik


mata mereka saling pandang dalam senyuman. Vivian merasa sangat malu dan segera menunduk dan menutup bibirnya dengan tangannya sendiri.


Candra juga ikut tertawa pelan. Candra langsung menarik tangan Vivian dan memeluknya dengan erat. Vivian membalas pelukan Candra dan


melingkarkan tangannya di pinggang Candra. Saat mereka menyadari beberapa orang di sekitar memperhatikan sambil menggunjing mereka yang sedang berpelukan di depan umum, Vivian segera melepas pelukannya kepada Candra. Begitu juga Candra.


“Kita jalan sekarang yuk.!!” Ucap Vivian mencairkan suasana yang sedikit canggung.


“Oke. Yuk jalan.!!” Seru Candra sedikit gugup.


Vivian segera merapikan rambut yang belum sempat dia sisir. Mengemas pakaian ganti dan beberapa barangnya. Candra telah duduk di atas motor dengan mengenakan helm. Saat Vivian masih sibuk dengan barangnya, Candra


mengenakan helm ke kepala Vivian. Vivian hanya bereaksi dengan senyumnya. Membuat Candra juga ikut hanyut dalam senyuman itu.


Candra menghidupkan motor dan Vivian segera naik di atasnya. Memeluk pinggang Candra dan motor itu segera melesat melalui keramaian jalanan. Perjalanan mereka kali ini terbilang agak lama. Mereka membutuhkan waktu 45


menit untuk mencapai tujuan mereka kali ini.


Vivian menyarankan agar mereka pergi ke pantai saja. Salah satu pantai yang sangat cantik karena pesona dan keindahannya juga sangat


fasionable untuk di unggah di medsos.


Pantai Boom. Begitu masyarakat menamai pantai itu. Pantai dengan dermaga untuk sandarnya kapal pesiar dan merupakan salah satu ikon wisata cukup terkenal yang ada di tempat tinggal Vivian saat ini. Dan juga telah masuk dalam kategori


wonderful Indonesia.


Sebelum memasuki kawasan wisata pantai boom mereka harus membeli tiket untuk masuk ke dalam dengan harga per orang sepuluh ribu rupiah. Candra mengeluarkan uang lima puluh ribu dan di berikan kepada petugas yang barada di pintu masuk tempat wisata.


Setelah Candra mendapatkan kembalian dari uangnya mereka segera masuk ke dalam. Saat mereka masuk mereka disuguhkan dengan pemandangan jembatan yang sangat eksotis dan cocok sekali untuk spot foto. Candra melajukan


motor dengan pelan agar mereka dapat menikmati pemandangan yang langka ini.


Setelah jembatan mereka juga di suguhkan dengan beberapa sepeda yang terparkir rapi. Sepertinya mereka tergabung dalam suatu komunitas


sepeda tertentu. Candra masih juga melajukan motor dan sampailah mereka di parkiran motor dekat dengan pantai.


Candra memarkirkan motor disana dan melepaskan helmnya. Tidak lupa juga Candra membantu Vivian untuk melepaskan helm yang dia kenakan.


Vivian dan Candra berjalan menuju pantai. Vivian menggandeng lengan Candra. Candra tidak merasa keberatan sedikit pun dengan sikap Vivian


padanya. Mereka berjalan menyusuri tepi pantai. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Kali ini tangan Vivian tidak lagi menggandeng lengan Candra. Sekarang tangan mereka saling berpegangan.


Vivian meraih deru ombak yang mendekati mereka dan mengarahkannya kepada Candra. Alhasil Candra basah dengan cipratan air laut Vivian. Vivian berlari menjauhi Candra karena Candra mencoba membalas tindakan Vivian dengan


menyipratkan air laut padanya.


Mereka asyik bercanda berlarian kesana kemari membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa iri dan cemburu melihat kemesraan mereka berdua. Hingga tanpa Vivian sadari dia tengah menginjak karang yang tajam hingga membuatnya terjatuh. Candra langsung berlari menghampiri Vivian.


“Kamu kenapa.?” Ucap Candra dengan nada cemas.


“Nggak tahu ni mas. Kakiku perih.” Seru Vivian sambil meringis kesakitan. Candra melihat kali Vivian dan mendapati sebuah karang lancip menusuk kakinya. Dengan sangat hati-hati Candra mengambil karang itu.


"Makanya lain kali hati-hati." Seru Candra.


kondisi Vivian sekarang.


“Masih kuat jalan.?” Tanya Candra khawatir. Vivian hanya mengangguk sambil tersenyum menatap kakak sepupunya itu. Candra melepaskan


tangannya dan segera berjongkok di depan Vivian. Candra ingin menggendong Vivian di punggungnya.


“Mas ngapain.?” Vivian mengerutkan dahi.


“Ayo naik.!!” Seru Candra.


“Nggak mau. Aku masih bisa jalan kok.” Sahut Vivian menolak.


“Vivian.!!” Candra sedikit berteriak. Akhirnya Vivian


meluluh dan naik ke punggung Candra. Vivian melingkarkan tangannya ke leher Candra. Sedangkan Candra menahan kedua paha Vivian menggunakan tangannya.


Mereka semakin membuat siapa saja yang melihat merasa iri dan cemburu dengan kemesraan mereka berdua. Dan tanpa mereka sadari mereka


berpapasan dengan Jalal dan Hana yang juga ada disana. Jalal yang melihat Vivian sedang di gendong oleh orang ain merasa sangat tidak senang.


“Vivian.” Sapa Hana ragu.


Candra menghentikan langkahnya dan membalikkan badan melihat kearah Jalal dan Hana. Candra mengerutkan dahi karena dia sama sekali tidak mengenal orang yang baru saja memanggil nama adik sepupunya itu.


“Kamu siapa.?” Sapa Candra dengan ketus. Vivian menggeser kepalanya sedikit untuk melihat siapa yang memanggilnya barusan.


“Kak Hana.” Seru Vivian dan dia segera meminta kepada Candra untuk turun dari punggungnya.


“Kamu kenal sama mereka.?” Tanya Candra.


“Kenal. Mereka tetangga Vivian mas.” Ucap Vivian sambil tersenyum. “Oh iya kenalin kak Hana. Ini mas Candra.” Lanjutnya.


Candra memperkenalkan diri kepada Hana dan Jalal. Jalal terlihat acuh terhadap Candra karena cemburu. Vivian menggandeng lengan Candra dengan mesra membuat Jalal semakin membelalakkan mata tak percaya.


Setelah perkenalan singkat itu mereka segera berpisah karena kepentingan masing-masing. Candra menyuruh Vivian agar naik ke atas punggungnya lagi. Karena Candra sangat mengkhawatirkan luka pada kaki Vivian.


Sedangkan Jalal dan Hana berjalan menjauhi mereka sambil


menikmati indahnya pantai.


“Mereka pasangan yang serasi ya mas.!!” Seru Hana kepada suaminya.


Jalal hanya menanggapinya dengan senyuman tanpa berkata satu patah kata pun.


“Dan sepertinya dia juga sangat menyayangi Vivian. Lihat saja dia dengan senang hati mau menggendongnya seperti itu. Aku merasa sangat iri


dengan mereka berdua.” Jelas Hana.


“Iya mereka cocok. Apa kamu juga mau aku gendong kayah gitu.?” Sahut Jalal mencoba merayu istrinya.


"Mas apa-apaan sih." Ucap Hana malu-malu.


“Oh iya. Mas sudah dengar belum.? Kalau kedua orang tua Vivian akan bercerai.?” Kata Hana dengan antusias. Jalal menghentikan langkahnya.


“Apa.? Kamu dengar dari mana.?” Tanya Jalal terkejut.


“Tadi pagi aku nggak sengaja mendengar perbincangan ayah dan ibu tentang masalah ini.” Sahut Hana.


Jalal meminta Hana agar tidak membahas masalah ini lagi. Karena menurutnya ini adalah masalah keluarga mereka. Dan biarkan mereka sendiri yang


menyelesaikannya.


Apa kamu sudah tahu berita ini Vivian.? Tapi aku yakin kamu kuat Vivian. Apalagi dengan hadirnya Candra disisimu. Kamu tidak akan merasa sendirian lagi. Aku juga berharap kamu bisa menghadapi semua masalah ini. Seru Jalal dalam


hati.