Point Of Love

Point Of Love
Semua telah Berlalu



Siang ini pada jam istirahat Vivian sengaja tidak pergi ke kantin. Ucapan Dion tadi pagi sangat mengganggu fikirannya. Satu sekolah telah mengetahui dengan apa yang telah terjadi pada dirinya bersama dengan Berlian dkk. Di tambah lagi dengan permintaan Faro yang tidak bisa dia tolak semakin membuat otaknya senewen.


Vivian duduk sendiri sambil memainkan pulpen di tangannya. Memutar otak dengan keras apa yang harus dia katakan nanti pada Dafa. Dia bingung mengatur kata-kata yang pas saat berpamitan untuk keluar dari group musik.


"Woi.. Ngelamun aja kerjaannya.!! Entar kesambet lho." Sapa Jasmine yang sudah berada tepat di depannya bersama dengan Rino.


"Jasmine. Kak Rino." Sahut Vivian sedikit terkejut dengan kehadiran kedua orang tersebut. Jasmine dan Rino segera menggeser kursi agar berdekatan dengan Vivian.


"Maafin aku ya Vivian. Aku nggak ada pas kamu butuh pertolongan. Kamu pasti ketakutan saat itu." Seru Jasmine dengan nada penuh penyesalah sambil memegang tangan Vivian.


"Nggak apa-apa kok. Lagian juga sekarang aku baik-baik saja." Sahut Vivian sambil tersenyum menenangkan temannya itu.


"Sebenarnya bagaimana kronologi kejadiannya Vi.? Sampai kamu jadi korban bullying kayak gini." Tanya Rino sedikit penasaran. Karena yang tahu detail dari semua kejadian hanya Dafa, Faro dan juga Revan.


"Ya gitu deh kak. Aku lagi apes saja dan kebetulan menjadi pelampiasan mereka." Ujar Vivian sedikit cuek dengan senyum sinis yang tidak biasa. Dia sama sekali tidak ingin memperkeruh masalah yang sudah terjadi. Cukup dia dan orang-orang tertentu saja yang tahu.


"Tapi syukur deh. Akhirnya mereka kena batunya. Dan sekarang menerika hukuman yang setimpal dari perbuatan mereka." Ujar Jasmine bersemangat.


"Iya Cumut." Sahut Vivian menenangkannya.


"Aku juga denger rumor katanya saat itu kamu di selamatkan kak Dafa ya.? Gimana ceritanya.?" Tanya Jasmine antusias.


"Sebenarnya bukan hanya kak Dafa tapi juga ada kak Faro disana." Sahut Vivian.


"Faro Siapa.? Siswa sini juga.? Kok aku nggak pernah denger namanya ya." Sahut Rino.


"Kak Faro. Dia kakak aku." Jawab Vivian singkat.


"Hah.?" Sahut keduanya bersamaan.


"Kakak.? Bukannya kamu anak pertama Vivian. Kamu hanya punya satu adik laki-laki yang bernama Rocky. Itu pun masih duduk di bangku sekolah dasar. Kakak dari mana Vivian.? Kakak sepupu.?" Tanya Jasmine dengan pertanyaan yang bertubi-tubi pada Vivian.


"Dia kakak tiriku. Ibu dan bapak sudah bercerai. Dan bapak nikah lagi dengan tante Sinta. Mamanya kak Faro." Ujar Vivian dengan nada berat.


"Ya Alloh Vivian. Maaf aku tidak tahu tentang semua ini. Kenapa kamu menyembunyikan masalah besar ini dari kita.? Pantas selama ini sikap kamu banyak berubah Vivian. Ternyata kamu punya masalah kayak gini." Seru Jasmine sambil menggenggam erat tangan Vivian.


"Iya Vivian. Kita ini kan teman. Alangkah baiknya kita berbagi suka maupun duka." Sahut Rino menimpali.


"Terima kasih banyak ya. Kalian sudah mau support aku. Tapi aku sekarang baik-baik saja kok. Kalian jangan khawatir." Seru Vivian dengan senyum yang di paksakan.


Vivian. Kamu memang cewek yang kuat. Bisa menyembunyikan masalah sebesar ini dan melewatinya dengan lancar tanpa sepengetahuan orang lain. Aku salut sama kamu Vi. Kalau itu aku pasti sekarang aku sudah depresi karena masalah ini. Seru Rino dalam hati.


"Kalian tenang ya.!! Sekarang aku sudah benar-benar oke kok. Dan aku sudah mulai bisa menerima semuanya. Mungkin ini sudah takdir dari Yang Maha Kuasa yang harus aku jalani." Ucap Vivian sambil tersenyum. Membuat Jasmine tidak tahan dan langsung memeluknya dengan erat.


"Kamu harus ingat satu hal ya Vivian. Mulai sekarang kalau ada apa-apa atau kamu butuh apapun. Kamu bisa mengandalkan aku. Kamu masih punya aku." Seru Jasmine. Tanpa terasa air matanya menetes. Vivian segera menghapus air mata temannya itu sambil tersenyum menggelengkan kepala.


Bel masuk berbunyi. Jasmine dan juga Rino segera keluar dari kelas Vivian dan menuju ruang kelas masing-masing. Guru yang mengajar belum masuk kelas. Vivian jadi punya kesempatan untuk mengirim pesan singkat pada Dafa. Perihal tentang permintaan dari kakaknya tadi pagi.


Vivian mengetik dengan cepat. Takut kalau guru tiba-tiba sampai di ruang kelasnya. Setelah selesai dia langsung mematikan ponsel dan memasukkannya dalam tas.


Guru kimia masuk ke dalam ruangan. Pelajaran segera dimulai dan semua murid seketika hening mendengarkan penjelasan tentang pelajaran siang itu.


"Kak Dafa dari tadi.?" Sapa Vivian canggung.


"Baru sampai juga. Ada apa Vian.?" Tanya Dafa sedikit penasaran karena Vivian tidak memberi petunjuk sama sekali tentang pembicaraannya hari ini.


"Duduk dulu kak." Vivian meminta Dafa untuk duduk di deretan kursi yang tersedia di depan kelas.


"Ada apa Vi. Kamu bikin aku penasaran deh." Goda Dafa mencoba mencairkan suasana.


"Kak Dafa. Sebelumnya aku minta maaf kalau perkataanku ini akan membuat kak Dafa sakit hati." Ucap Vivian menggantung membuat Dafa mengerutkan dahi tak mengerti.


"Maksud kamu apa Vivian.? Kamu jangan bertele-tele. Langsung saja ke intinya.!!" Seru Dafa penasaran.


"Mulai hari ini aku mau keluar dari ekskul musik kak." Ucap Vivian ragu.


"Maksud kamu apa Vivian.?" Tanya Dafa sedikit terkejut dan tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Iya kak Dafa. Sekali lagi maaf banget aku sudah nggak bisa gabung lagi mulai sekarang." Seru Vivian sedikit memohon.


"Tapi kenapa Vivian. Selama ini kamu selalu bagus dalam setiap penampilan. Lalu masalahnya apa. Kenapa tiba-tiba kamu ingin keluar dari group musik kita.?" Tanya Dafa keheranan.


"Aku tidak bisa memberi alasan kak. Ini sudah jadi keputusan final dari ku. Jangan tanya lagi apa alasannya. Ini demi kebaikan bersama." Seru Vivian sedikit tegas.


Vivian beranjak dari duduknya dan ingin segera pergi. Namun Dafa tiba-tiba memegang tangan Vivian dan menahannya.


"Apa semua ini karena kakakmu Faro.?" Ujar Dafa ragu. Vivian segera menghempaskan tangan Dafa dengan kasar.


Dion memperhatikan mereka dari kejauhan sangat terkejut dengan sikap Vivian pada teman baiknya Dafa.


"Jangan bawa-bawa kak Faro dalam masalah ini. Aku nggak suka." Seru Vivian geram. Entah kenapa saat orang lain mencoba untuk menjelekkan Faro di depannya, hatinya terasa sakit dan marah.


Vivian segera pergi meninggalkan Dafa yang masih dalam lamunan setelah di bentak oleh Vivian barusan. Membuat otak Dafa melambat bekerja. Dion segera menghampiri Dafa dan menegurnya.


"Kamu nggak apa-apa Daf.?" Sapa Dion ragu melihat kondisi Dafa yang tidak biasa.


"Ini pasti mimpi kan Dion.?" Tanya Dafa yang masih dengan tatapan kosongnya.


Dion segera memukul lengan Dafa dengan keras membuatnya mengaduh kesakitan dan mengatakan kalau ini bukan mimpi tapi kenyataan.


"Barusan kenapa.?" Tanya Dion. Dafa berubah menjadi lesu kembali.


"Vivian. Dia keluar dari ekskul musik. Hilanglah bintang bersinarku." Ucap Dafa setengah berteriak sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.


"Udah tenang. Besok kita bujuk lagi dia agar mau bergabung." Sahut Dafa memberi semangat.


"Memang bisa.?"


"Bisa lah." Dion merangkul bahu Dafa sambil tersenyum.


Dafa sedikit kega mendengar perkataan Dion padanya. Mereka pun segera meninggalkan gedung sekolah dan pulang ke rumah masing-masing.