Point Of Love

Point Of Love
Tamparan Keras



Nurdin dan Nia berjalan hampir melewati jembatan dimana Vivian dan teman-temannya berpindah tempat persembunyian yaitu menunggu di balik semak yang cukup tinggi yang berada tak jauh dari jembatan.


"Makasih ya. Kamu udah mau lari pagi sama aku." Kata Nurdin pada Nia.


"Iya. Lagi pula kan sekarang kan libur sekolah jadi aku juga nggak ada kegiatan." Sahut Nia dengan di iringi seuntai senyum di bibirnya.


"Tapi sebelumnya aku minta maaf sama kamu Nia." Lanjut Nurdin.


"Minta maaf soal apa?" Tanya Nia sedikit kebingungan.


"Sebenarnya ada yang mau aku omongin sama kamu." Kata Nurdin.


"Memangnya mau ngomong apa? Serius banget." Sahut Nia sambil tersenyum.


"Sebenarnya semua yang kulakukan ini hanya sebuah alasan semata." Ucapan Nurdin seakan menggantung.


"Ooo.. Masalah itu. Aku paham kok apa yang kamu maksud." Nia menyela ucapan Nurdin. "Saran aku ya. Lebih baik kamu jujur dan mengatakan yang sebenarnya. Jangan sampai suatu saat nanti kamu akan menyesal dengan semua yang sudah kamu lakukan. Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali." Lanjut Nia.


"Aku tahu Nia. Tapi saat aku ingin jujur dan mengutarakan yang sebenarnya aku malah semakin terjerumus dengan semua kebohonganku sendiri." Kata Nurdin penuh dengan penyesalan.


"Memang terasa sangat sulit untuk menyatakannya tapi bukan berarti tidak mungkin kan." Sahut Nia dengan lugasnya.


"Hanya bicara memang sangatlah mudah tapi untuk mewujudkan dalam kenyataan itu sulit. Bahkan sangat sulit. Butuh berlipat-lipat keberanian untuk menghadapinya dan menyelesaikannya." Kata Nurdin dengan nada lesu.


"Kenapa kamu menghawatirkan sesuatu yang belum terjadi Din? Coba saja dulu!" Jawab Nia sambil menepuk bahu Nurdin sambil tersenyum menatapnya. Nurdin pun membalas senyuman Nia dengan wajah yang riang.


Dibalik rumput ilalang yang menjulang tinggi Vivian mulai mengepalkan tangan dengan begitu kerasnya dan rasa sakit hatinya tak tertahankan lagi. Meski Vivian tak dapat mendengar dengan jelas apa yang telah mereka bicarakan namun Vivian sangat yakin mereka memang memiliki hubungan yang sangat spesial. Vivian yang tak dapat menahan emosinya akhirnya keluar dari persembunyiannya. Berjalan dengan tegas dan menghampiri Nia dan Nurdin. Nurdin sangat terkejut dengan kedatangan Vivian begitu juga Nia.


"Vi.. Vivian. Kamu?" Kata Nurdin terbata-bata.


"Iya ini aku Vivian. Kenapa? Terkejut?" Kata Vivian dengan nada sinis.


"Aku kesana dulu ya Din. Kalian ngobrol saja dulu." Kata Nia dengan nada canggung dan langsung melangkahkan kaki meninggalkan mereka berdua. Namun Vivian segera menghentikan Nia dengan berdiri tepat di depannya.


"Kamu mau kemana Nia? Aku cuma lewat doang kok. Kenapa kamu harus pergi? Lagipula aku hanya ingin mengatakan beberapa kata pada Nurdin. Kamu nggak keberatan kan kalau harus tinggal sebentar. Tidak akan lama Nia hanya 2 menit dan aku akan segera pergi." Kata Vivian dengan nada sinis.


Mala dan Juwita pun akhirnya menampakkan wajah mereka namun hanya bisa memperhatikan Vivian dari kejauhan. Mereka menuruti apa kata Vivian bahwa mereka hanya akan menjadi penonton yang baik saja. Itulah mengapa mereka tidak berani mendekat ataupun ikut campur dengan masalah yang telah dihadapi Vivian saat ini.


"Sssttt. Kamu tidak perlu khawatir!" Vivian mengisyaratkan untuk diam. Lalu dia mulai berjalan mendekati Nurdin. Wajah Nurdin yang semula berseri sekarang berubah pucat pasi. Keringat itu pun keluar dari peluhnya tanpa dia sadari.


"Ka.. kamu mau ngomong apa Vi?" Tanya Nurdin ragu.


"Aku nggak perlu basa-basi lagi sekarang. Tujuan aku datang kesini untuk memperjelas semuanya." Kata Vivian.


Deg!! Sebenarnya apa yang akan kamu katakan Vivian? Suara hati Nurdin kebingungan menghadapi situasi saat ini.


"Maksud kamu apa Vi?" Tanya Nurdin ragu.


"Kamu kan yang menulis ulang suratku? Kamu juga yang sudah bilang sama Jalal kalau aku suka sama dia. Apa maksud dari semua ini kak? Kamu fikir perasaanku ini apa? Kalau memang kamu nggak suka sama aku. Bilang saja! Nggak usah memalsukan surat kayak gitu. Sama saja dengan kamu mempermainkan perasaanku sama kamu. Sakit hati aku kak. Sakit!!" Kata Vivian sedikit berteriak. Meski suaranya sedikit serak karena isak tangis yang tak tertahankan lagi.


Mala dan Juwita terkejut bukan main. Mereka langsung berlari menghampiri Vivian yang hampir tak dapat menahan dirinya dan hampir terjatuh.


"Aku nggak pernah ada maksud jahat sama kamu Vi. Apalagi menyakiti hatimu." Kata Nurdin penuh penyesalan.


"Cukup! Aku nggak mau lagi mendengar penjelasan yang tidak masul akal darimu. Kalau memang kamu nggak suka sama aku. Oke aku terima. Tapi kamu harus ingat satu hal. Cukup aku saja yang sakit hati karena ulahmu. Jangan sampai kamu menyakiti perempuan lain setelah ini." Kata Vivian sambil melirik Nia yang tak bergeming dari tempatnya. Nia sekarang hanya diam dan tak menanggapi sikap Vivian.


Vivian segera berbalik badan dan berlari menjauh meninggalkan mereka semua dengan linangan air mata di pipinya.


"Aku kecewa sama kamu Din. Kamu sudah ngecewain sahabat aku Vivian. Jangan sampai kamu menyesal suatu saat nanti. Karena saat itu tiba pasti semua sudah terlambat." Celetuk Juwita sinis dan langsung berlari mengejar Vivian yang semakin menjauh.


"Ingat itu!" Sahut Mala sambil menunjuk muka Nurdin yang tak enak di pandang. Rasa bersalah, kecewa dan sakit hati bercampur aduk jadi satu dalam hati Nurdin.


Perkataan Vivian masih terngiang-ngiang dalam fikiran Nurdin. Semua itu seperti tamparan keras baginya. Semua itu memang harus diterima oleh Nurdin. Karena dia sendiri lah yang memulai semuanya. Seandainya dia tidak mengganti ulang surat dari Vivian dan seandainya juga dia tidak mengatakan kebohongan tentang perasaan Vivian pada Jalal. Mungkin semua ini tak perlu terjadi dan dia tidak akan menyakiti dan mempermainkan perasaan Vivian.


Nia mendekati Nurdin dan menenangkan dirinya. Memberi penjelasan agar Nurdin meminta maaf kepada Vivian. Mungkin dengan seperti itu mereka masih bisa berteman dan tidak saling menyimpan dendam dalam hatinya.


Vivian yang masih berlari akhirnya terjatuh juga. Luka di kakinya tak lebih sakit dari luka dalam hatinya. Dia menangis sejadi jadinya. Mala dan Juwita merasa sedih menyaksikan sahabatnya begitu menderita. Mereka pun berhamburan dan memeluk Vivian. Tapa mereka sadari mereka juga meneteskan air mata.


Begitulah persahabatan mereka yang begitu erat melebihi saudara sendiri. Mereka berbagi suka duka bersama. Pertemanan yang terjalin semenjak mereka masih kecil hingga sekarang sangat menyentuh hati.


***


Point atau hal yang terpenting dalam suatu hubungan adalah kejujuran. Jika hubungan tersebut di awali dengan kebohongan dan tipu muslihat pasti pada akhirnya hanya kekecewaan dan penyesalan yang akan didapatkan dan tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya.