Point Of Love

Point Of Love
Saat di Cafe 2



Lelaki itu mengantarkan Vivian ke ruangan Faro seperti yang telah di perintahkan. Lelaki itu juga menjelaskan apa yang harus di jelaskan. Bahwa Faro tidak suka kalau barang miliknya di sentuh orang lain. Jadi jangan memindahkan apapun atau memindahkan barang dari ruangan ini. Biarkan mereka tetap berada di tempatnya seperti sedia kala.


Vivian mendengarkan semua pernyataan lelaki itu dengan malas. Sesekali Vivian memutar matanya dengan malas namun masih tetap mendengarkannya.


Vivian menatap seluruh sudut ruangan yang tertata dengan sangat rapi. Ruangan yang terasa sangat nyaman. Ada meja kantor dengan perangkat komputer lengkap di atasnya dan tidak lupa juga dengan kursi yang bisa berputar.


Di sudut ruang terdapat Sofa dan sebuah kulkas kecil yang berisi beberapa minuman kaleng bersoda dan beberapa minuman botol berisi jus buah.


Di dalam ruangan itu juga ada sebuah pintu yang menurut Vivian begitu misterius. Vivian ragu untuk mendekati pintu itu namun rasa penasaran Vivian mengalahkan keraguan dalam hatinya.


Vivian dengan perasaan sedikit takut membuka pintu itu secara perlahan. Saat pintu terbuka Vivian merasa sedikit lega karena ruangan itu ternyata hanya berisi tempat tidur dan lemari pakaian.


Vivian masuk ke dalam ruangan itu dan menyalakan lampunya. Ruangan yang tidak terlalu besar namun terasa begitu nyaman. Saat Vivian melihat tempat tidur dia langsung melemparkan diri di atasnya dengan asal-asalan. Terasa begitu nyaman hingga Vivian enggan untuk beranjak dari sana.


"Ruangan ini sangat nyaman." Seru Vivian pada dirinya sendiri.


"Si galak itu ternyata memiliki selera yang bagus juga." Lanjutnya lagi.


Vivian bangkit dan melihat sekeliling. Di dapatinya sebuah foto lama yang berdiri tepat di atas nakas yang berada di samping tempat tidur. Di amatinya foto itu dengan seksama.


Seorang lelaki dengan seragam kepolisian lengkap yang terlihat sangat gagah dan tampan. Disampingnya terdapat wanita cantik dengan busana kebaya yang terlihat begitu anggun. Di depan lelaki dan wanita itu terdapat dua anak. Yang lebih besar adalah anak laki-laki dan di sebelahnya anak perempuan yang terlihat sangat cantik. Sepertinya mereka kakak beradik.


"Siapa mereka.? Kenapa Foto mereka bisa ada di ruangan kak Faro.? Apa hubungan Faro dengan mereka.?" Semua pertanyaan yang muncul dalam kepala Vivian terucap di bibirnya sekarang.


Sekali lagi Vivian mencoba mengamati foto itu dengan seksama dan akhirnya dia menemukan titik temu juga.


"Wanita ini kan tante Sinta. Mamanya Faro. Berarti lelaki ini adalah Faro. Dan ayah Faro juga seorang polisi." Vivian menemukan fakta yang begitu mengejutkan dalam hidupnya.


Faro masuk ke dalam cafe melalui pintu belakang. Menghampiri pelayan yang sedang ketakutan di depan ketiga pelanggan yang sedang komplain dan marah-marah padanya.


"Ada apa ini.?" Ucap Faro membuat seluruh orang yang ada di ruangan itu melihat ke arahnya.


"Cafe ini sudah tidak sehat dan bersih lagi. Lihat tuh ada rambut di makananku." Ujar Berlian.


Ya Tiga orang yang tengah memarahi pelayan di Cafe milik Faro adalah Berlian and the gank.


"Bukan cuma rambut. Tapi tempat minumnya juga tidak di bersihkan dengan benar. Masak di cangkir kopiku ada kotorannya." Sahut Intan menimpali.


"Asal kalian tahu saja. Tempat ini sudah di jamin kebersihannya. Aku yang mengontrolnya sendiri dengan memasang cctv di setiap sudut dapur. Selama ini semuanya lancar tanpa ada kendala. Kenapa kalian malah mencari-cari kesalahan yang tidak pernah di lakukan oleh karyawanku." Seru Faro dengan nada tegas dan penuh wibawa.


"Tapi kenyataannya berbeda kan. Sekarang kami tidak bisa menikmati makanan kami karena ada banyak rambut disana." Seru Berlian masih bersikukuh dengan pendiriannya.


"Kalian fikir aku bodoh. Mau mempercayai perkataan kalian begitu saja." Sahut Faro dengan nada sinisnya.


"Kamu nggak tahu siapa kita kan. Kita akan buat Restoran kamu sepi hingga tidak akan ada pelanggan yang akan makan dan minum disini. Kamu dan cafe jelekmu akan Viral di media sosial." Seru Permata dan kedua temannya juga mendukung pernyataannya.


"Hahaha. Siapa takut. Kita lihat saja siapa yang akan Viral duluan. Kalian atau aku." Seru Faro dengan penuh percaya diri.


Semua pelayan menatap ketiga gadis itu sambil tersenyum. Melihat ketiganya yang mulai ragu dengan perkataan mereka sendiri dan mulai takut dengan ancaman atasannya yang terk3nal kejam dan tak pandang bulu. Mereka sangat hafal betul dengan sifat Faro yang selalu tegas dan adil terhadap siapapun. Apalagi kalau itu menyangkut karyawannya sendiri. Karena bagi Faro karyawannya sudah seperti keluarganya sendiri.


Selang beberapa detik datanglah polisi dengan beberapa anggotanya ke dalam cafe. Membuat suasana seisi cafe terasa begitu menakutkan.


"Lian. Kenapa ada polisi disini.?" Seru Intan yang mulai ketakutan.


"Selamat malam." Sapa polisi itu.


"Malam pak." Sahut seluruh pelayan Cafe dengan ramah.


"Selamat malam mas Faro." Sapa polisi itu sambil bersalaman dengan Faro. Faro hanya tersenyum sambil membalasnya.


"Malam pak Revan." Sahut Faro sopan.


"Seperti yang sudah mas Faro laporkan kepada kami. Kalau disini ada keributan dan menimbulkan gangguan kepada pelanggan yang lain." Ujar polisi itu.


Wajah ketiga gadis itu berubah menjadi pucat pasi. Bagaimana kalau mereka benar-benar di laporkan ke polisi dan mereka akan membawa ketiganya untuk di cebloskan ke penjara hanya gara-gara ulah mereka yang tidak masuk akal.


"Oh iya. Silahkan dibawa pak. Ketiga gadis ini sudah membuat keributan disini. Dan melakukan hal yang tidak menyenangkan kepada karyawan saya. Setelah ini semua barang bukti akan di antar ke kantor bapak oleh karyawan saya." Ucap Faro dengan sopan dan penuh percaya diri.


Ketiga gadis itu langsung berlutut di depan Faro sambil meminta maaf.


"Maafkan kami. Kami janji tidak akan melakukan hal ini lagi. Jangan laporkan kami ke polisi." Ucap permata dengan linangan air mata.


Revan dan anggota yang lain segera membawa ketiga gadis alias Berlian and the gank ke kantor polisi.


>>Flashback<<


Berlian and the gank memutuskan untuk makan di sebuah cafe yang begitu hits di sosial media saat ini.


Cafe yang begitu fasionable dan cocok untuk nongkrong bagi anak muda. Konsep cafe yang begitu kekinian sangat cocok untuk foto dan di unggah di akun sosial media masing-masing.


Sampailah ketiga gadis itu disana. Mereka memesan begitu banyak makanan dan minuman. Hanya untuk mereka unggah di akun sosial media milik mereka.


"Makan disini mahal nggak sih.?" Tanya Intan tiba-tiba.


"Memang kenapa.? Kamu lagi bokek.?"sahut Berlian.


"Hahaha. Kamu tahu saja kalau aku lagi bokek. Kali ini kamu yang traktir ya Lian." Seru Intan sedikit memohon.


"Eh kalian lihat nih.!!" Permata mengambil sepotong kentang goreng dan mencolekkan saus sambal di ujungnya.


"Aku baru ingat. Wajah anak bodoh yang begitu ketakutan saat kita menyiramnya dengan seember air. Hahaha." Sahut Intan tertawa terbahak-bahak.


"Itu hukuman buat dia. Karena dia sudah berani mendekati D3." Ucap Berlian sinis.


"Harusnya kita ngelakuin hal ini dari awal Lian. Jadi dia nggak akan punya kesempatan untuk sok di depan D3." Seru Permata menimpali.


"Kalian tenang saja. Kalau dia masih berani mendekati D3 lagi. Aku jamin dia akan di keluarkan dari sekolah kita." Sahut Berlian.


Setelah mereka merasa sudah selesai makan. Mereka memutuskan untuk pergi dari Cafe itu.


"Gays. Kayaknya aku lupa bawa dompet deh." Ucap Berlian lirih.


"Kamu jangan bercanda Lian.!! Nggak lucu tahu." Seru Intan.


"Iya Lian. Nih liat uang aku cuma segini." Permata memperlihatkan isi dompetnya kepada kedua temannya.


"Beneran gays. Dompet aku di tas satunya." Seru Berlian meyakinkan.


"Terus ini gimana dong. Siapa yang bayar.?" Tanya Permata cemas.


Tiba-tiba berlian menjambak rambut Permata hingga dia mengaduh kesakitan. Di dapatnya beberapa rambut Permata dan di letakkan dalam beberapa makanan.


"Berlian. Apa tidak apa-apa.?" Tanya Intan cemas.


"Kamu mau jadi tukang cuci di dapur gara-gara nggak bayar makanan yang kamu makan.?" Seru Berlian. Mereka menggeleng kepala bersamaan.


"Tan. Sepatu kamu kan mulai kemarin belum di cuci tuh. Cari beberapa kotoran tanah disana. Cepet.!!" Ujar Berlian lirih. Dengan terpaksa Intan menuruti perintah Berlian walaupun sebenarnya dia merasa jijik sendiri.


"Ini Lian. Mau buat apa sih.? Jijik tahu." Sahut Intan dengan tangannya yang menjimpit.


"Taruh sini." Pinta Berlian pada Intan dan Intan segera menaruh kotoran tanah pada cangkir dan gelas yang lain hingga semua terlihat begitu kotor.


"Pelayan." Teriak Berlian dengan keras. Salah seorang karyawan datang menghampiri mereka.


"Ada apa mbak. Apa yang bisa di bantu." Sahut pelayan itu dengan sigap.


"Apa-apaan ini.? Kenapa ada rambut didalam makanan kita.? Dan ini juga gelas dan cangkirnya. Tidak dicuci dengan bersih. Pokoknya aku mau komplain semuanya. Tidak sesuai dengan standart Cafe bersih." Seru Berlian berapi-api.


"Maaf mbak. Tidak mungkin hal seperti itu terjadi. Karena cafe kami sangat mengutamakan kebersihan." Sahut pelayan itu dengan nada sopan.


"Jadi maksud kamu kami mengada-ada gitu.? Kamu sok banget jadi orang. Pangkat cuma pelayan saja blagu." Sahut Intan sinis.


"Dia ini bukannya Joni anak kelas sebelah ya.? Ya ampun ternyata kerja disini jadi pelayan." Seru Permata dengan nada mengejek.


"Masak sih. Nggak bisa di percaya. Sekolah kita yang elit punya siswa seorang pelayan." Sahut Berlian dengan tawa yang mengejek.


"Kalian tidak berhak mengejekku seperti itu. Pekerjaan ini halal dan juga tidak mengganggu waktu belajarku di sekolah." Seru Joni sedikit kesal.


"Sudah lah. Nggak usah basa-basi. Panggil saja atasan kamu. Karena aku mau komplain. Joni segera meninggalkan ketiga gadis sombong yang merendahkan harga dirinya. Mengambil ponsel dan segera menghubungi Faro.