Point Of Love

Point Of Love
RS Bhakti Husada



Dafa segera melajukan motor menuju rumah sakit atau klinik terdekat. Selang tiga menit sampailah mereka di depan pintu masuk Rumah Sakit Bhakti Husada yang berjarak hanya 200 meter dari sekolah mereka.


Faro segera turun dari motor dan menggendong Vivian menuju ruang UGD agar segera di periksa oleh dokter yang bertugas disana.


Faro menidurkan Vivian pada tempat yang sudah di sediakan. Dan berteriak-teriak memanggil dokter yang ada disana.


Dafa yang sudah selesai memarkirkan motor segera berlari menyusul Faro dan Vivian.


"Tolong mas nya tunggu di luar dulu. Biar kami dapat memeriksa pasien dengan lebih efisien." Seru salah satu perawat yang mencoba menenangkan Faro yang sudah di luar kendali.


Faro terpaksa menuruti perintah perawat itu. Berharap mereka akan melakukan yang terbaik untuk kesehatan Vivian.


Vivian segera mendapatkan pengobatan dari dokter dan para perawat di klinik tersebut. Setelah beberapa menit akhirnya Vivian sadar juga dari pingsannya.


Di luar ruang UGD terdapat dua lelaki yang terlihat cemas dan khawatir. Dafa sedang duduk santai di kursi yang tersedia. Sedangkan Faro bolak-balik seperti setrika uap yang sedang bekerja.


"Kakak duduk dulu. Vivian pasti akan baik-baik saja. Mata aku pusing lihat kakak mondar-mandir terus." Seru Dafa kepada Faro.


"Berisik." Gertak Faro gusar.


Dafa hanya bisa menghela nafas kasar dari hidungnya. Seorang perawat keluar dari ruang UGD.


"Keluarga pasien atas nama Vivian." Teriak perawat perempuan itu.


"Saya sus. Saya kakaknya." Seru Faro sambil menghampiri perawat.


"Pasien sudah sadar. Namun kondisinya masih lemah. Biarkan dia beristirahat sebentar agar kondisinya cepat membaik." Ujar perawat.


"Kenapa dia sampai pingsan seperti itu sus.?" Tanya Faro.


"Karena pasien sedikit shok maka hal itu penyebab dia jatuh pingsan. Kalau tidak ada yang di tanyakan lagi, saya permisi dulu. Karena mau mengontrol pasien yang lain." Seru Perawat tersebut.


"Apa saya boleh menengoknya sus." Tanya Faro.


"Boleh. Silahkan."


"Terima kasih sus."


Dafa begitu antusias untuk melihat keadaan Vivian hingga dia ingin segera berlari ke dalam ruangan tempat Vivian dirawat.


"Mau kemana kamu.?" Sentak Faro kasar.


"Mau lihat kondisi Vivian kak."


"Nggak usah. Lebih baik kamu pulang saja sana. Sumpek mataku lihat kamu." Seru Faro tanpa basa-basi membuat Dafa bergidik berkali-kali mendengar pernyataan Faro padanya.


"Kakak jangan gitu dong. Aku juga kan khawatir dengan kondisi Vivian sekarang." Ucap Dafa dengan nada memohon.


"Oke. Tapi sebentar saja. Setelah itu kamu langsung pulang."


"Iya kak." Sahut Dafa dengan terpaksa.


Dafa dan Faro segera bergegas masuk ke dalam ruang UGD. Vivian masih terlihat lemah dengan selang infus yang menempel pada tangan kirinya. Faro menatap adik tirinya dengan penuh rasa iba. Dan tanpa Faro sadari matanya sedikir berair. Dia membalikkan badan dan mengusap ujung matanya.


Vivian tersenyum saat Dafa mendekatinya. Berfikir dalam hati kalau dialah pangeran kesiangan yang menyelamatkan hidupnya. Karena Faro masih di luar ruangan untuk mengatur hatinya yang tidak karuan.


"Bagaimana keadaan kamu Vivian.?" Tanya Dafa.


"Aku nggak apa-apa kok kak."


"Syukurlah. Aku lega mendengarnya."


"Iya sama-sama. Sebenarnya orang yang berhak mendapatkan pujian ini bukan aku Vivian." Ujar Dafa.


"Maksud kak Dafa apa.?"


"Iya. Sebenarnya kak Faro yang lebih pantas mendapatkan pujian ini. Karena dia juga yang sudah menemukanmu di kamar mandi dan segera membawamu kesini." Seru Dafa.


Vivian terkejut dan tertegun. Dia tidak pernah menyangka sama sekali kalau Faro lah yang telah menyelamatkan hidupnya. Selama ini dia selalu saja bermasalah dengannya. Namun kali ini di luar dugaan ternyata dia adalah orang yang menolongnya. Vivian merasa tidak enak dan malu terhadap Faro.


"Kamu sangat beruntung Vivian. Kamu memiliki kakak laki-laki yang selalu siap sedia untuk melindungimu." Lanjut Dafa.


Ceklek.!!


Pintu ruang UGD terbuka. Faro berjalan melewati pintu dan masuk ke dalam. Kali Faro sudah lebih tenang dan bisa mengendalikan dirinya.


"Ya udah Vivian. Aku pulang dulu. Semoga lekas sembuh ya." Seru Dafa sambil mengelus tangan Vivian.


"Ehem." Faro berdehem dengan sedikit keras membuat Dafa ingin segera keluar dari ruangan itu.


Sekarang hanya tinggal Faro dan Vivian yang berada dalam satu ruangan. Suasana menjadi sepi dan canggung. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Mereka berdua hanya diam seperti orang bisu.


Faro memberanikan diri mendekati Vivian dan duduk di sampingnya. Namun satu patah kata tidak kunjung keluar dari mulutnya.


Vivian menata hati dan memberanikan diri untuk memecahkan kecanggungan yang tengah mereka hadapi.


"Terima kasih." Ucap Vivian ragu.


"Iya sama-sama." Sahut Faro singkat.


"Aku.." Ucap mereka bersamaan.


"Kamu saja dulu." Seru Faro.


"Nggak. Kamu saja dulu." Sahut Vivian.


"Ladies First." Ujar Faro.


"Aku mau pulang sekarang. Aku tidak nyaman disini. Bisa kita pulang sekarang.?" Ucap Vivian sedikit memohon.


"Nggak bisa. Lihat kondisi kamu sekarang. Badan kamu masih lemah dan juga kamu sekarang demam." Faro menempelkan tangannya pada dahi Vivian. Dan memang benar Vivian sekarang sedang demam.


"Kan bisa di rawat di rumah saja. Lagi pula ini hanya demam biasa. Besok juga akan sembuh sendiri." Seru Vivian yang masih saja memohon pada Faro.


Faro hanya menghela nafas kasar dari hidungnya. Keluar ruangan UGD menuju bagian administrasi. Membayar semua biaya perawatan dan meminta izin doktek untuk segera pulang.


Sebenarnya kondisi Vivian memang tidak terlalu parah hingga dokter pun tidak punya alasan untuk menghentikan kepulangan Vivian dari rumah sakit tersebut.


Setelah semuanya selesai Faro segera menghampiri Vivian yang masih di ruang UGD. Memberitahukan bahwa dia akan segera keluar dari Rumah Sakit. Vivian merasa sangat senang mendengar hal itu. Faro juga berpesan agar menunggunya beberapa menit lagi. Karena Faro harus mengambil motor miliknya yang masih ada di sekolah Vivian. Vivian menurut dengan perintah Faro.


Faro segera bergegas menuju sekolah Vivian. Beruntungnya di depan Rumah Sakit terdapat beberapa ojek pengkolan yang stand by disana. Hingga Faro tidak perlu capek jalan kaki menuju sekolah Vivian.


Setelah lima menit Vivian menunggu akhirnya Faro datang juga. Faro meminta tolong pada salah satu perawat agar melepas selang infus yang masih menempel pada tangan kiri Vivian.


Selang infus telah terlepas dan Faro membantu Vivian untuk berjalan. Vivian sedikit kesulitan untuk berjalan. Hal ini membuat Faro sedikit kesal dan tidak sabaran. Tanpa berfikir panjang Faro langsung menggendong Vivian. Vivian terkejut bukan kepalang namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan kondisinya yang lemah sekarang tidak mungkin baginya untuk melawan Faro.


Faro menggendong Vivian sampai pada tempat parkir motor. Faro meletakkan Vivian pada boncengan belakang motornya. Faro melepaskan jaket kulit hitamnya.


"Pakai ini.!! Biar tidak dingin." Seru Faro sambil mengenakan jaket miliknya kepada Vivian.


Vivian hanya menurut tanpa berkata apa-apa. Faro menstater motor dan tanpa Faro memintanya Vivian segera merangkul pinggang Faro. Faro sedikit terkejut namun terdapat seuntai senyum dari ujung bibirnya. Faro segera melajukan motor dengan kecepatan sedang dengan senyum mengembang dari bibirnya.