Point Of Love

Point Of Love
Rasa itu Mulai Tumbuh



Hari ini adalah hari yang sangat mendebarkan dimana hari ini merupakan hari pertama ujian akhir nasional tingkat SMP sederajat. Vivian menyisir rambutnya yang panjangnya sepinggang dengan sangat hati-hati. Bukan dia tak ingin segera bergegas berangkat ke sekolah namun rambutnya sangat mudah rontok akhir-akhir ini. Jadi dia tidak ingin rambutnya rusak karena menyisir yang terburu-buru.


Setelah semua di rasa telah beres. Vivian segera menuju dapur untuk mengambil sarapan. Menu sarapan pagi ini sedikit berbeda dari biasanya. Sayur lodeh nangka muda dengan telur goreng setengah matang kesukaan Vivian. Vivian dengan lahap menikmati makanan pagi itu. Selesai sarapan Vivian segera bergegas menenteng tas dan mengendarai sepeda mininya.


Sampailah Vivian di tempat penitipan sepeda. Dia menstandartkan sepedanya dan berjalan menuju pohon beringin yang hanya membutuhkan beberapa langkah. Jalal telah duduk di bawah pohon beringin saat Vivian tiba disana.


"Kakak ngapain disini?" Sapa Vivian. Jalal sedikit terkejut karena dia tidak menyadari kedatangan Vivian.


"Nungguin kamu Vi." Sahut Jalal disusul dengan senyum di bibirnya.


Wajah Vivian langsung merona merah karena malu. Sejak Jalal mulai pendekatan dengan Vivian apalagi sejak Jalal menjeput Vivian saat pulang sekolah menjadikan hubungan mereka semakin dekat dan akrab satu sama lain. Vivian sekarang bisa lebih bersikap manis pada Jalal dari pada sebelumnya.


"Bolehkan kalau aku mengantarkan orang yang spesial di hatiku?" Tanya Jalal dengan nada menggoda.


"Kakak apaan sih?" Sahut Vivian malu setengah mati.


"Yuk berangkat!" Ajak Jalal sambil menggandeng tangan Vivian tanpa ragu. Vivian hanya bisa mengangguk sambil menahan senyumnya yang malu-malu. Jalal menyodorkan helm agak di kenakan oleh Vivian. Selagi Vivian mengenakan helmnya Jalal juga memakai helmnya sendiri sambil duduk di atas motornya. Setelah Vivian selesai memakai helm dia segera naik ke atas motor Jalal.


"Sudah?" Tanya Jalal.


"Yuk jalan!" Sahut Vivian sambil berpegangan pada jaket Jalal. Itupun Vivian membutuhkan keberanian lebih untuk berpegangan padanya. Meski pada kenyataannya Vivian tidak dapat membohongi dirinya sendiri tentang perasaannya pada Jalal yang semakin tumbuh dengan sendirinya tanpa dia sadari. Dengan kehadiran Jalal dalam hidupnya dapat sedikit mengobati luka di hatinya karena cinta yang tak terbalas oleh orang yang dia sukai.


Jalal tidak pernah lagi menanyakan tentang perasaan Vivian padanya. Karena Jalal yakin rasa itu akan tumbuh dengan sendirinya seiring dengan hubungan baik yang mereka jalin selama ini. Selama Vivian tak pernah menolak dengan segala permintaan Jalal yang terkait dengan hubungan mereka. Jalal tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut.


Tak terasa Vivian telah sampai di depan gerbang sekolah. Dia segera turun dari motor dan melepaskan helmnya. Jalal juga melepaskan helm dan meletakkan di atas kaca spionnya. Menatap Vivian di susul dengan senyuman manis di bibirnya. Meraih salah satu tangan Vivian dan mengelusnya.


"Kakak kenapa?" Tanya Vivian gugup. Jalal sudah berani memegang tangan Vivian tanpa harus meminta izin terlebih dahulu padanya. Mungkin karena sikap Vivian yang sudah berubah hingga bisa menerima keberadaan Jalal dalam hati. Dan Vivian pun tak pernah menolak atau menepis tangan Jalal.


"Kamu semangat ya! Aku tahu kamu sudah belajar dengan giat. Tapi aku harap kamu akan lebih semangat jika aku juga akan menyemangati mu dalam mengerjakan soal-soal ujiannya." Sahut Jalal.


"Iya kak. Terima kasih karena sudah perhatian sama aku." Jawab Vivian sambil tersenyum. Tiba-tiba Jalal melepas genggamannya dan menutup mulutnya.


"Uhuk.. Uhuk.." Jalal tiba-tiba batuk. Vivian mulai merasa cemas.


"Kakak kenapa?" Ucap Vivian sambil mengelus punggung Jalal pelan.


"Aku nggak apa-apa kok. Sudah kamu masuk sana!" Sahut Jalal sambil mengisyaratkan Vivian agar segera masuk ke sekolah.


Kak Jalal. Kamu kenapa tiba-tiba batuk kayak gitu.? Kamu sakit apa kak.? Begitu banyak pertanyaan dalam hatinya yang tidak dapat dia temukan jawabanya. Vivian melangkahkan kaki dengan segala keraguan dalam hatinya.


Flashback


Sekali lagi Vivian di jemput oleh Jalal. Orang yang selama ini tak pernah ada dalam hatinya. Jangankan dalam hati terlintas dalam fikirannya meski sejenak hanya dalam mimpi fikirnya. Namun inilah kenyataan yang harus dia hadapi sekarang. Dia tidak terlalu buruk untuk di pertimbangkan fikirnya. Dari pada mencintai seseorang yang tak pernah mau membalas cinta tulusnya. Lebih baik mencoba mencintai orang yang begitu sayang dan mempedulikan kita. Lagi pula ini bukanlah akhir dari segalanya. Kisah cinta Vivian masih panjang. Ini baru permulaan saja.


Vivian masih merasa risih dengan kondisi roknya yang terkena bercak darah. Walaupun sudah tertutup oleh jaket milik Jalal namun rasa cemas itu masih saja menyelimuti fikirannya dan itu terlihat jelas di raut muka Vivian. Tanpa Vivian membuka mulut Jalal sudah mengetahui kecemasan dalam hati Vivian. Jalal menggenggam tangan Vivian dengan erat dan sampailah mereka di depan pintu gerbang sekolah Vivian.


Pak Slamet selaku satpam sekolah memandang kami dengan pandangan sinis. Vivian pun terasa canggung dibuatnya. Bukannya segera menghidupkan motor Jalal malah memandang pak Slamet dan memberi salam sambil membungkukkan badan. Vivian tertegun dengan sikap Jalal yang seperti itu. Pak Slamet hanya membalas sambil tersenyum sinis seakan menghina mereka berdua.


"Kakak ngapain sih kayak gitu?" Bisik Vivian pelan pada Jalal.


"Orang yang modelnya kayak begitu dia gila hormat. Aku tahu dia nggak suka sama aku. Sebenarnya tadi aku memaksa buat masuk dengan alasan bahwa adik aku sedang sakit dan dia sekarang ada di UKS sekolah." Kata Jalal sambil tersenyum lalu tertutup oleh helm.


Vivian tanpa fikir panjang langsung memukul bahu Jalal dengan gemas. Jalal hanya bisa mengeluh kesakitan karena ulah Vivian lalu tertawa pelan. Jalal memberikan helm agar di kenakan oleh Vivian dan segera naik ke atas motor.


"Kita mampir ke supermarket sebentar ya." Ucap Jalal saat hendak menghidupkan motornya.


"Oke kak." Kata Vivian. Walau sebenarnya dia sedikit tidak setuju dengan keputusan Jalal. Melihat kondisinya yang tidak memungkinkan sekarang.


Saat tiba di depan supermarket Vivian memilih untuk tetap di parkiran motor. Vivian tidak ikut masuk ke dalam supermarket. Beberapa menit berlalu seakan sangat lama Vivian menunggu diluar. Tak lama kemudian Jalal keluar dengan sekantong plastik warna putih di tangannya dan berjalan mendekati Vivian.


"Ini buat kamu." Kata Jalal sambil menyodorkan sekantong plastik di tangannya kepada Vivian.


"Ini apa kak?" Sahut Vivian dengan ragu menerima kantong plastik itu. Setelah Vivian membukanya ternyata ada beberapa kotak merk pembalut wanita dan beberapa camilan ringan.


"Ini.." Kalimat Vivian menggantung.


"Maaf ya. Aku tidak tau kamu biasanya pakai pembalut merk apa. Jadi aku beli saja semuanya." Ucap Jalal santai sambil mengenakan helmnya.


"Iya kak. Terima kasih banyak." Sahut Vivian canggung. Vivian merasa sangat malu, aneh dan tidak biasa. Kenapa malah Jalal yang membeli pembalut bukannya dia sendiri.


Ya Allah kak Jalal. Aku mana tahu mau beli pembalut yang kayak apa dan merk apa. Ini kan kali pertama aku menstruasi.