Point Of Love

Point Of Love
Menolong Berlian



Faro mengenakan helm dan memberikan helm yang satunya kepada Vivian. Namun Vivian malah melipat kedua tangan ke siku dengan bibir manyun ke depan.


"Kamu kenapa.?"


"Sebel."


Faro mengenakan helm ke kepala Vivian namun Vivian tetap menolaknya.


"Kamu kenapa sih.?" Tanya Faro mulai kesal.


Vivian masih diam dengan bibir cemberutnya. Faro mendesah pelan dan melepaskan helmnya.


"Aku minta maaf kalau aku punya salah sama kamu." Ujar Faro.


Vivian masih diam dan menatap Faro dengan muka kesalnya. Dan tiba-tiba.


Kruuugggh.!!


Perut Vivian mengeluarkan bunyi aneh yang membuatnya memalingkan muka karena malu.


"Kamu lapar.?" Ujar Faro sambil tertawa.


Vivian merasa sangat malu dan ingin pergi meninggalkan Faro. Namun dengan sigap Faro meraih tangan dan menariknya. Vivian mendarat di dada Faro yang bidang. Detak jantung Faro dapat terdengar jelas di telinga Vivian. Begitu juga jantungnya sendiri yang berpacu dengan cepat.


"Lepasin." Sentak Vivian sambil mendorong tubuh Faro dengan kasar.


Faro menghela nafas pelan. Dan memegang kedua bahu Vivian.


"Kamu marah.? Sebelum pulang kita makan dulu." Ucap Faro sopan. Vivian menatap wajah Faro yang sudah tersenyum mengembang dalam diam.


"Kalau marah kamu jadi tambah cantik Vivian." Lanjut Faro sambil tersenyum.


"Nyebelin-nyebelin.!!" Ujar Vivian.


Vivian cemberut dan memukul dada Faro dengan kedua tangannya. Faro senang dengan perlakuan Vivian padanya. Dia menganggap pukulan itu sebagai wujud perhatian Vivian padanya.


Faro mengenakan helm dan juga membantu Vivian untuk mengancingkan pengait di helmnya. Menyalakan motor dan meninggalkan tempat itu dengan kegembiraan yang tak bisa dia tahan lagi. Bibirnya tidak berhenti tersenyum membayangkan apa yang telah terjadi hari ini. Hari yang menurutnya begitu spesial dalam kehidupannya.


Sampailah mereka di sebuah restoran plus cafe. Vivian turun dari motor dengan bibir manyunnya.


"Kenapa kita berhenti disini sih.?" Celetuknya kesal.


"Memangnya kamu mau kita makan di pinggir jalan.?" Sahut Faro.


Vivian memilih untuk diam. Dia bingung ingin mengatakan apa untuk membalas perkataan Faro.


"Kamu tenang saja. Kali ini aku yang traktir." Ujar Faro sambil melepaskan helm yang di pakai Vivian.


Vivian masih diam dan cuek. Faro langsung menggenggam tangan Vivian dan mengajaknya masuk ke dalam restoran.


Mengambil tempat duduk di dekat jendela. Faro melambaikan tangan pada salah satu pegawai. Pengawai restoran itu segera menghampiri mereka dengan daftar menu di tangannya.


"Selamat datang di restoran kami." Sapa pegawai itu dengab sopan sambil meletakkan dua daftar menu kepada mereka.


"Kamu mau makan apa.?" Tanya Faro sambil membolak-balik daftar menu di tangannya.


Vivian masih juga diam tidak menjawab dengan raut muka kesalnya. Faro meletakkan daftar menu dan menatap Vivian yang masih merasa kesal.


"Vivian sayang. Kamu mau makan apa.?" Ucap Faro mesra. Telinga Vivian terasa panas dan matanya langsung melirik Faro dengan tajam.


Pegawai yang berdiri di antara mereka langsung tersenyum kecil sambil menutup mulutnya.


Vivian menendang kaki Faro dengan keras dari bawah meja. Membuat Faro meringis kesakitan sambil mengelus kakinya yang sakit.


"Kita pesan nasi goreng saja mas. Sama jus jeruknya dua." Ujar Faro.


"Itu saja mas.?" Sahut pelayan itu sopan.


"Baiklah. Mohon ditunggu sebentar." Ujar pelayan sambil meninggalkan mereka. Dan tak lupa mengambil kembali daftar menunya.


"Kak Faro kenapa bilang kayak gitu.?" Celetuk Vivian kesal.


"Memangnya aku nggak holeh panggil kamu sayang.?" Ujar Faro.


"Nggak. Nggak boleh.!!" Seru Vivian.


"Ya kalau nggak boleh panggil sayang. Panggil cinta boleh kan.?" Goda Faro.


"Kak Faro." Sentak Vivian sambil mencubit lengan Faro dengan keras.


"Aduh. Aduh. Sakit Vivian." Ujar Faro meringis kesakitan sambil mengelus lenganya sendiri.


"Rasain.!! Mau lagi.?"


Faro segera menggelengkan kepala cepat.


"Lepaskan.!!" Teriak gadis dari ujung ruangan membuat seisi restoran memperhatikan mereka. Begitu juga Vivian dan Faro.


Vivian menyipitkan mata sejenak untuk mengenali sosok perempuan itu. Matanya terkejut mendapati wanita itu adalah seseorang yang sangat familiar.


"Itu kan kak Berlian." Seru Vivian dengan nada sedikit terkejut.


"Memang kenapa.? Biarin saja lah. Kamu jangan ikut campur dengan urusan mereka.!!" Seru Faro dengan nada cuek dan sedikit mengancam.


"Tapi kak. Kak Faro lihat deh. Dia kelihatannya sedang membutuhkan bantuan." Sahut Vivian mencoba meyakinkan Faro.


"Vivian. Jangan macam-macam.!!" Seru Faro tidak senang.


"Ya sudah. Aku aja yang nolongin dia." Ujar Vivian sambil bergegas menghampiri Berlian.


"Vivian." Sentak Faro memanggilnya dengan sedikit emosi. Namun Vivian tidak menggubris panggilan Faro padanya.


Vivian tiba-tiba duduk bergabung dengan keduanya sambil tersenyum tanpa beban.


"Ngapain kamu duduk disini.?" Sentak lelaki itu dengan nada sinis.


"Aku nggak ada urusan sama kakak yang galak ini. Aku temannya kak Berlian. Ya kan kak.?" Ujar Vivian sambil tersenyum kepada Berlian.


Apa yang ada dalam otak gadis ini.? Bisa-bisanya dia mengaku sebagai temanku. Tapi nggak apa-apa lah. Hitung-hitung aku bisa terlepas dari cowok berengsek ini. Seru Berlian dalam hati.


"Vivian. Kamu ngapain disini.? Mau makan juga.?" Sahut Berlian dengan lugasnya.


"Iya kak Lian. Aku boleh kan gabung dengan meja kalian.?" Tanya Vivian sopan.


"Boleh dong. Kenapa juga nggak boleh. Kan kalau lebih rame makannya lebih seru juga." Sahut Berlian menimpali ucapan Vivian.


"Urusan kita belum selesai Berlian. Kenapa kamu malah ngajak teman kamu untuk makan bareng sama kita.?" Ucap lelaki itu dengan nada kasar.


"Itu bisa kita bicarakan nanti kan. Sekarang kita makan dulu." Sahut Berlian sedikit gugup.


Pokoknya aku harus bisa lepas dari dia. Seru Berlian dalam hati.


"Nggak. Kamu sekarang ikut aku." Lelaki itu segera menyeret tangan Berlian agar mengikuti langkah kakinya.


Berlian dengan wajah memohon agar Vivian segera menolongnya. Walaupun dia sendiri tidak tahu apa yang dilakukan saat ini. Vivian semakin bersimpati melihat ketidak berdayaan Berlian yang tidak mampu melakukan apa-apa. Bukan kata tidak mampu yang tepat namun tidak berdaya melawan seorang laki-laki yang begitu posesif terhadapnya.


Dengan cepat Vivian mengeluarkan ponsel dan merekam kejadian itu secara live di akun media sosialnya. Lelaki itu dengan kasar melepas cengkraman tangannya pada Berlian dan menghampiri Vivian.


"Praakk."


Ponsel Vivian yang tak berdosa mendarat di lantai restoran. Lelaki itu merampas ponsel Vivian dan membantingnya di lantai dengan kasar. Tidak hanya itu, dia juga menginjak ponsel itu dengan penuh tenaga dan amarah hingga ponsel itu mati total dengan layar yang juga rusak parah. Vivian hanya bisa tertegun melihat ponselnya dengan kondisi mati dan layar yang hancur.