Point Of Love

Point Of Love
Drama di Pagi Hari



Vivian bangun lebih pagi hari ini. Pagi yang begitu dingin hingga merasuk ke seluruh tubuh Vivian. Hingga Vivian harus dengan terpaksa


mengenakan jaket sweter hijau miliknya. Sebenarnya dia enggan untuk memakainya.


Takut akan menarik perhatian siswa lain saat di sekolah nanti.


Jam menunjukkan jarum ke angka 6. Vivian telah bersiap berangkat ke sekolah. Pagi ini Sinta dengan sengaja datang ke rumah Vivian


untuk membuatkan sarapan. Vivian hanya bisa diam tanpa protes dengan perlakuan


Sinta terhadap keluarganya.


Vivian bisa saja menolak dan mengusirnya dari rumah. Tetapi dia harus memikirkan akibat dari perbuatannya tersebut. Jadi Vivian tidak terlalu ambil pusing memikirkan hal itu. Selama semua masih dalam batas kewajaran. Begitu fikirnya.


Vivian bergegas keluar kamar. Berjalan menuju rak sepatu yang ada di balik pintu ruang tamu dan berjalan cepat keluar rumah. Vivian


duduk di kursi dan mengenakan sepatunya.


“Pagi banget berangkatnya.?” Sapa Faro dengan nada sinis dan mengejek yang selalu melekat padanya. Vivian diam sejenak lalu melanjutkan mengikat tali sepatunya tanpa berkata apapun.


Vivian menghela nafas dan balik menatap Faro yang sedang berdiri sambil bersandar pada tembok tak jauh dari tempat Vivian duduk sekarang.


Faro menatap Vivian dengan tatapan sinis dan tidak senang. Vivian hanya berlalu melewati Faro. Berjalan menuju samping rumah dan mengambil


sepeda mini usang miliknya.


“Hahaha.” Faro terkekeh melihat Vivian yang sedang menuntun sepeda mini. “Kamu mau naik ini ke sekolah.? Apa aku nggak salah lihat.?”


Serunya sambil terus tertawa menertawakan Vivian.


Dasar cowok nyebelin.


Awas kamu ya.! GerutuVivian dalam hati.


“Memangnya kenapa.? Apa ada yang salah.? Nggak usah ikut campur urusan orang deh. Sana urus saja urusanmu sendiri.” Sahut Vivian tak mau


kalah dengan ejekan Faro terhadapnya.


Faro menghentikan tawanya dan mulai mengatur nafas.


“Hei cewek judes.!! Kamu nggak malu apa ke sekolah naik kayak gituan. Lihat tuh sudah reot kayak gitu. Nanti kalau rusak terus kamu


terluka kan kasihan.” Ucap Faro memperlihatkan wajah sok manisnya di depan Vivian.


“Nggak usah sok perhatian deh. Kamu senang kan kalau aku terluka.” Sahut Vivian kesal.


“Kepedean banget jadi cewek. Maksud aku itu kasihan sepedanya. Bukan orangnya. Hahahaha.” Faro tertawa lepas kendali hingga tanpa


sadar Sinta keluar dan menghampiri mereka.


“Ada apa Faro.? Bahagia banget kayaknya.” Seru Sinta tiba-tiba membuat Faro langsung menutup mulutnya.


“Nggak ada apa-apa tante. Vivian berangkat ke sekolah dulu.” Sahut Vivian ingin segera meninggalkan dua orang itu.


“Tunggu Vivian.! Kamu nggak sarapan dulu.?” Ujar Sinta.


“Nggak usah tante. Nanti saja di sekolah.” Sahut Vivian mencoba berkata sesopan mungkin meski dalan hati mengumpat tiada henti.


“Ya udah sana berangkat.!” Sahut Faro dengan kasar. Sinta segera mencubit pinggang Faro dan dia mengaduh kesakitan.


“Vivian. Hari ini biar dianterin Faro ya.?” Seru Sinta.


“Nggak usah tante. Vivian bisa berangkat sendiri kok.” Vivian langsung menolak tawaran wanita itu.


Idih amit-amit jangan sampai di anterin sama dia. Ogah!!. Ujar Vivian menggerutu dalam hati.


“Mama ini apa-apaan sih.? Dia itu sudah gede ma. Nggak usah di anterin bisa berangkat sendiri kok. Kayak anak TK aja minta di anterin.” Sahut Faro mulai kesal dengan permintaan aneh mamanya.


“Faro.” Sentak Sinta.


“Mama.” Seru Faro memelas.


Ya alloh. Drama apa lagi yang harus kulihat pagi ini. Rasanya kayak pengen muntah saja. Vivian


memalingkan muka untuk menyembunyikan raut wajah kesalnya.


“Sudah sana anterin.!! Kasian kan kalau harus berangkat sendiri.” Seru Sinta sambil berkacak pinggang.


“Yaudah oke. Aku anterin.” Faro menghela nafas dan akhirnya malas kalau harus berargumen dengan mamanya. “Tunggu.!! Aku ngambil kunci motor dulu.” Lanjutnya.


Astagfirullohaladzim.


Kenapa pagi-pagi harus melihat pemandangan ngeselin kayak gini sih. Kamu harus kuat Vivian. Vivian memejamkan mata dan mengambil nafas dalam untuk menenangkan hatinya.


“Nih pakek.!!” Faro mengulurkan sebuah helm kepada Vivian. Vivian menerima helm itu dengan terpaksa.


“Hati-hati di jalan ya. Ingat Faro jangan ngebut.!!” Seru Sinta yang tiba-tiba muncul tanpa mereka sadari.


“Iya mama.” Sahut Faro.


Dengan berat hati Vivian berpamitan kepada Sinta. Walau hatinya memberontak dan menolak dengan keras tapi dengan terpaksa dia harus


melakukan semua itu.


Faro menstater sepeda motor miliknya. Berkata dengan keras kepada Vivian agar segera naik ke atas motor. Vivian menggerutu dalam hati dan


segera naik ke atas motor.


“Pegangan.!! Entar jatuh lagi.” Ujar Faro dengan senyum menyeringai yang tersembunyi dari balik helm.


"Bawel."


Vivian berpegangan pada ujung jaket Faro bagian belakang. Motor pun melaju dengan cepat.


Vivian dan Faro sampai juga di depan pintu gerbang SMA PERMATA. Vivian segera turun dari motor dan melepaskan helm. Menyerahkan helm itu kepada Faro. Faro tidak menanggapi Vivian sama sekali. Dia malah melepaskan helm


miliknya.


“Nih helmnya.” Seru Vivian sedikit kesal.


“Nggak usah. Nanti kamu pulang jam berapa.?” Tanya Faro dengan nada menyebalkan.


“Jangan macam-macam kamu ya.”


Faro tersenyum menyeringai membuat Vivian mengerutkan dahi tanda tak mengerti.


“Kamu yang jangan macam-macam.!! Kamu senang kan kalau aku sampai di marahin mama gara-gara kamu.” Ujar Faro sedikit berteriak hingga


membuat siswa lain memperhatikan mereka.


“Sssttt. Kamu bisa kan kalau ngomongnya pelan sedikit.” Seru Vivian sambil membungkam mulut Faro menggunakan tangannya.


Faro membelalakkan mata tak percaya. Dengan berani Vivian melakukan hal itu padanya tanpa rasa canggung sedikit pun. Sentuhan tangan Vivian yang sedikit dingin namun lembut membuat jantungnya hampir meloncat keluar.


“Kamu apa-apaan sih.” Ujar Faro melepas bungkaman tangan Vivian.


“Makanya kalau ngomong pelan-pelan. Kamu fikir ini hutan belantara apa. Sampai kamu harus berteriak kayak gitu.” Sahut Vivian sambil


melipat kedua tangannya ke dalam siku tangannya.


“Oke. Kamu pulang jam berapa nanti.?” Sekali lagi Faro dengan terpaksa harus kalah berargumen dengan Vivian. Vivian menatap tam tangan


miliknya.


“Hari ini aku ada jadwal ekskul sepulang sekolah. Jadi pulangnya pukul 2.00 siang.”


“Aku jemput pukul 2 kurang seper empat.” Sahut Faro dan dia segera mengenakan helm dan meninggalkan Vivian yang masih berdiri disana.


Vivian menghela nafas lalu melangkahkan kaki masuk melewati pintu gerbang dengan helm yang ada di tangannya.


Seseorang merangkul bahu Vivian dari belakang membuatnya kaget setengah mati. Saat Vivian menoleh ternyata itu adalah sahabatnya Jasmine.


“Ciyee.. Berangkat sama siapa.?” Ucap Jasmine sambil memainkan mata.


“Cowok nyebelin.” Sahut Vivian tanpa ragu.


“Siapa.?” Seru Jasmine antusias.


Vivian tidak menjawab pertanyaan temannya malah balik menatap Jasmine dengan tatapan malas dan sebal.


“Widih.. serem amat tatapannya. Sampai merinding nih bulu kudukku.”


Vivian masih dengan reaksi yang sama meski Jasmine mencoba untuk melawak di depannya.


Jangan bahas dia lagi bisa nggak.? Aku sidah cukup lelah dengan drama pagi ini. Ya Alloh semoga hati ini selalu kuat melewati semuanya. Seru Vivian dalam hati.


Jasmine tidak mau menyerah dengan usahanya. Dia semakin mencecar Vivian dengan pertanyaan yang aneh-aneh.