
Vivian dan Jasmine pergi berkeliling sekolah. Melihat setiap sudut yang ada di sekolah tersebut dan berakhir di kantin untuk membeli minuman melepas dahaga mereka. Jasmine membeli jus apel sedangkan Vivian lebih suka jus jeruk. Mereka duduk di kantin dengan santai. Ada tiga cowok mengenakan almamater merah maroon berjalan menuju ke arah penjaga kantin. Terlihat mereka sedang memesan makanan dan minuman.
“Eh lihat tuh. Mereka ganteng-ganteng ya.?” Jasmine begitu terpesona dengan mereka.
“Biasa aja. Dimana-mana yang namanya cowok itu ganteng. Mana ada cowok cantik.” Celetuk Vivian membuat Jasmine mengerutkan dahi keheranan.
“Ya beda dong Vivian. Maksud aku bukan kayak gitu. Dari yang aku dengar mereka itu selain ganteng juga bertalenta.” Jelas Jasmine penuh dengan semangat.
“Terus.?” Sahut Vivian sambil menyeruput jus jeruk kesukaannya.
“Mereka di kenal dengan sebutan D3 (D Trhee). Dion, Dafa dan Diandra. Pertama Dion yang ngawasi kita waktu tes tadi, dia sangat berbakat main basket dan juga sekaligus ketua osis di sekolah ini. Yang kedua Dafa, kalau dia vokalis band sekolah dan lagu ciptaannya juga sudah pernah liris. Dan yang terakhir Diandra, cowok terpintar dan sudah beberapa kali memenangkan kejuaraan cerdas cermat mewakili sekolah bahkan sampai ke tingkat nasional. Mereka memang diciptakan ganteng dan berbakat dari lahir. Lihat saja tuh banyak cewek-cewek yang sedang memperhatikan mereka. Tuh lihat kalau nggak percaya.!” Jasmine menjelaskan semuanya seperti sedang berpidato didepan umum.
Jadi namanya Dion. Kata Vivian dalam hati.
“Oh.” Sahut Vivian yang masih juga menganggap semua yang telah Jasmin ceritakan biasa-biasa saja baginya.
“Cuma oh.? Susah ngomong sama kamu Vi.” Sahut Jasmine sebal sambil menggelengkan kepala tak percaya dengan pernyataan Vivian dan kembali memperhatikan ketiga cowok yang duduk disudut kantin.
“Kamu tahu banyak tentang penghuni sekolah ini. Tahu dari mana.?” Tanya Vivian asal-asalan.
“Tadi responnya cuma oh. Sekarang jadi penasaran juga kan.?” Goda Jasmine.
“Nggak juga. Soalnya yang aku tahu diwebsite Cuma menjelaskan fasilitas dan keunggulan sekolah ini saja. Nggak ada tuh membahas apa tadi nama sebutan mereka.? D3.?” Sahut Vivian cuek.
“He he he. Aku tahu semua itu dari kakak sepupu aku. Dia juga sekolah disini.” Kata Jasmine sambil tersenyum. “Itu kakak sepupu aku.” Lanjutnya sambil melambaikan tangan ke arah cowok tinggi dengan badan atletis yang sedang berjalan mendekati mereka.
“Cumut sudah lama nunggu kakak.?” Tanya cowok itu sambil tertawa ringan. Jasmine hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.
“Cumut.? Nama kamu Jasmine kan.? Kok berubah jadi cumut.?” Tanya Vivian keheranan dengan panggilan yang baru saja dia dengar.
“Maksud kakak aku itu lucu dan imut.” Jasmine tertawa renyah. “Oh iya sampai lupa. Kenalin kak ini teman aku.” Lanjut Jasmine.
“Rino.” Cowok itu mengulurkan tangannya ke Vivian.
“Vivian.” Sahut Vivian sambil sedikit tersenyum.
“Teman kamu cantik mut.” Kata Rino kepada Jasmine dan dia melemparkan senyum ke arah Vivian.
“Iya dong.” Iya nggak.?” Tanya Jasmine sambil menatap Vivian dan memainkan kedua matanya. Vivian hanya tersenyum melihat tingkah Jasmine.
BEEP.. BEEP..
Ponsel Vivian bordering dan dia segera mengeluarkan ponsel dari dalam saku dan menggeser tombol hijau serta menempelkan ponsel ke telinganya.
“Hallo. Iya ada apa.?” Jawab Vivian.
“Kamu dimana.? Kalau sudah selesai pulang yuk. Aku sama Mala nunggu di halte bus.” Sahut Juwita dari balik ponsel.
“Siapa Vi.?” Tanya Jasmine penasaran.
“Temen aku udah nunggu di depan. Aku pulang duluan ya.” Kata Vivian sambil bergegas meninggalkan kantin. Dan saat Vivian berjalan terburu-buru.
Brug.!!
Tanpa sengaja Vivian menubruk seorang cewek hingga membuat keduanya terjatuh. Jasmine dan Rino yang mendengar kehebohan langsung bergegas berdiri dan menghampiri asal suara tersebut.
“Aduh. Punya mata nggak sih.? Kalau jalan pakek mata donk.” Teriak cewek itu sambil berdiri.
“Maaf kak. Nggak sengaja.” Sahut Vivian sambil berdiri. Terlihat Jasmine dan Rino berlari mendekati Vivian.
“Kamu nggak apa-apa kan Vi.?” Tanya Jasmine khawatir. Vivian memandang Jasmine dengan senyum yang tersemat di bibirnya.
“Kamu nggak kenapa-kenapa kan Lian.? Ada yang luka nggak.?” Tanya Rino kepada cewek yang bernama Berlian itu.
“Kamu apaan sih.?” Celetuk Berlian dengan tatapan sinis ke Rino. “Kamu juga. Kalau jalan itu pakek mata.” Lanjutnya sambil meledak-ledak pada Vivian. Vivian hanya bisa diam mendengarkan celotehan wanita yang ada di depannya dan Vivian berkali-kali meminta maaf padanya. Karena Vivian sadar kalau kali ini dia yang salah hingga dia menerima semua amarah Berlian dengan lapang dada. Setelah Berlian selesai dengan amarahnya dan meninggalkan mereka, Jasmine segera mengajak Vivian untuk duduk terlebih dahulu dan mencoba menenangkannya.
“Kamu beneran nggak kenapa-kenapa.?” Tanya Jasmine cemas.
“Iya. Aku baik-baik aja kok.” Sahut Vivian sambil memeriksa seluruh tubuhnya memastikan tidak ada satu luka pun. Dan ternyata salah satu siku Vivian lecet akibat terjatuh tadi.
“Ini apa.?” Jasmin menunjukkan luka yang ada di salah satu siku Vivian.
“Cuma lecet sedikit.” Vivian mencoba menenangkan teman barunya agar dia tidak terlalu khawatir terhadapnya. Rino berjalan mendekati Jasmine dan Vivian.
“Vivian nggak apa-apa kan.?” Tanya Rino menunjukkan simpatinya.
“Nggak usah tanya lagi.!” Celetuk Jasmine kesal. “Harusnya kak Rino tolongin temen aku donk.! Bukannya malah nenek lampir itu.” Lanjut Jasmine sambil berkacak pinggang di depan Rino.
“Udah jasmine jangan dibahas lagi. Lagian aku juga nggak apa-apa kok.” Sahut Vivian menengahi.
“Oke. Aku minta maaf cumut. Kamu kan tahu sendiri kak Rino udah ngejar Berlian mulai awal masuk sekolah dulu. Jadi tadi itu adalah moment yang tepat untuk menunjukkan perhatian kakak sama dia.” Kata Rino.
“Ya nggak temen aku juga yang jadi korbannya.” Sahut Jasmine yang masih saja kesal dengan kelakuan kakak sepupunya.
“Udah-udah. Aku pulang dulu ya.” Vivian segera berdiri dan meninggalkan dua saudara yang masih saling menyalahkan. Jasmine meneriakkan nama Vivian tapi dia tetap berjalan dan melambaikan tangan tanpa menoleh ke belakang.
“Kak Rino nyebelin.! Gara-gara kakak Vivian pergi. Padahal kan tangannya sedang luka dan harus diobati segera.” Tegas Jasmine.
“Luka.? Kenapa kamu nggak bilang dari tadi sih cumut.” Kata Rino merasa menyesal.
“Kak Rino sih. Dalam fikiran kakak itu hanya ada Berlian-Berlian-Berlian.” Celetuk Jasmine dan dia juga segera meninggalkan Rino yang masih berdiri disana.
Vivian keluar dari gerbang sekolah. Dari seberang jalan nampak dua sosok cewek yang begitu akrab di matanya. Mala dan Juwita telah duduk di halte bus menunggu kedatangannya sedari tadi. Vivian melambaikan tangan kepada keduanya dan mereka pun membalas lambaian tangan Vivian. Setelah jalanan dirasa sepi dari kendaraan, Vivian segera menyebrang untuk menemui kedua sahabatnya. Berlari menghambur dan saling berpelukan satu dengan yang lainnya. Vivian menceritakan semua kejadian yang dia alami hari ini kepada kedua sahabatnya. Dan diujung cerita membuat Mala mengepalkan tangan karena melihat luka lecet pada siku Vivian. Beruntungnya Juwita selalu membawa plester dalam tasnya. Segera Juwita mengeluarkan plester dan menempelkannya pada siku Vivian.