
Vivian menampilkan suara terbaiknya untuk latihan kali ini. Membuat Dafa dan teman-teman yang lain yang tergabung dalam klub ekstrakulikuler musik semakin kagum terhadapnya.
Vivian mendapatkan banyak pujian karena usahanya tersebut. Hal ini merupakan awal yang baik bagi Vivian dalam meniti karir terutama di bidang musik.
Latihan hanya memakan waktu 30 menit saja. Karena Vivian membawakannya dengan sangat baik hinga mereka cepat menyelesaikan kegiatan hari itu. Padahal kalau menurut jadwal yang tertera seharusnya mereka baru selesai sekitar 45 menit. Semua ini berkat Vivian yang sangat berbakat.
Berlian and the gank yang memperhatikan mereka yang sedang bersantai di ruang musik setelah selesai latihan sangat kesal. Berlian sesekali mengepalkan tangan saat mereka berkali-kali memuji Vivian yang sangat berbakat menurut mereka.
"Hebat kamu Vivian. Kalau kita latihan kayak gini terus. Kita bisa pulang cepat." Seru salah satu anggota.
"Iya bener banget tuh. Ternyata selera Dafa memang oke." Yang lain menimpali.
"Ya iyalah. Siapa dulu Dafa." Seru Dafa dengan sikapnya yang sedikit sombong membuat seisi ruangan berubah menjadi gelak tawa yang menggema.
"Memang pilihan Dafa top markotop pokoknya." Sahut yang lain.
Dan ruangan itu semakin terdengar gema gelak tawa yang menjadi-jadi.
"Kak Dafa kalau sudah selesai aku pamit pulang dulu ya." Ujar Vivian di tengah tawa mereka yang belum usai.
"Kamu pulang sama siapa Vivian.? Apa naik kendaraan umum lagi.?" Tanya Dafa.
"Nggak kok kak. Aku.." Vivian ragu ingin mengatakan kalau dia hari ini di jemput oleh Faro. Calon kakak tirinya.
"Udah Daf. Anterin saja. Kasihan kan kalau harus naik kendaraan umum." Sahut salah satu teman Dafa.
"Nggak usah kak. Aku di jemput hari ini." Kalimat Vivian begitu cepat namun dapat terdengar jelas di telingan mereka semua.
"Kamu di jemput siapa Vivian.?" Tanya Dafa ragu. Karena baru kali ini dia mendapatkan penolakan dari seorang cewek. Biasanya para cewek yang ada di sekolah itu akan berlomba-lomba untuk menarik perhatian Dafa. Agar pada akhirnya Dafa mau mengantarkan mereka pulang.
Namun kali ini bertolak belakang dengan semuanya. Vivian tidak ingin di antarkan Dafa pulang. Bagi Dafa hal ini di luar batas kewajaran.
"Aku di jemput kakakku kak Dafa." Ucap Vivian ragu. Berharap Dafa tidak akan salah paham padanya. Karena dia tahu betul di dalam kamus kehidupan Dafa tidak pernah terjadi yang namanya penolakan. Apalagi itu di lakukan oleh seorang cewek. Bisa-bisa dia merusak reputasinya di sekolah.
"Ooo kakak." Sahut teman-teman Dafa bersamaan membuat Dafa sadar dan segera keluar dari lamunannya.
"Vivian. Kakak kamu nggak galak kan.?" Goda salah satu teman Dafa.
"Kalian ini kenapa sih.?" Seru Dafa.
"Ya kalau kakaknya galak kamu hati-hati saja Dafa." Sahut yang lain menimpali.
"Sedikit." Sahut Vivian singkat. Membuat semuanya tidak bersuara dan bertanya lagi.
"Ya udah kak. Aku pamit pulang duluan. Takutnya kakak sudah nunggu lama di luar." Ujar Vivian sambil bergegas meninggalkan ruang musik.
"Iya Vivian hati-hati." Sahut Dafa.
Vivian berjalan menelusuri lorong yang begitu sepi. Karena semua siswa telah pulang terkecuali klub musik dan.
Bruugg.!!
"Ups. Sorry nggak sengaja." Seru Intan yang dengan sengaja menabrak Vivian sambil menuangkan saus sambal pada bajunya.
"Aduh. Ini kan sambal." Teriak Vivian sedikit kesal sambil menjimpit bajunya yang terkena sambal.
"Iya nggak apa-apa. Aku maafin." Seru Vivian walau dalam hati masih menggerutu tiada henti. Bagaimana bisa dia membawa saus sambal kemana-mana begitu fikirnya.
Vivian dan Intan berjalan menuju toilet. Dari kejauhan Intan memberikan kode jempol kepada Berlian dan Permata yang sedang bersembunyi.
Intan memberikan beberapa tisu kepada Vivian untuk membersihkan sisa sambal yang menempel pada bajunya. Saus sambalnya sudah hilang tapi tidak dengan noda merah pada baju itu.
"Wah. Sepertinya noda merahnya nggak mau hilang. Harus di cuci itu." Seru Intan dengan nada sinisnya.
"Sini aku cuciin." Sahut Berlian.
"Kak Lian. Kakak ngomong apa sih. Nggak usah repot-repot kayak gitu kak. Aku bisa ngelakuin ini sendiri." Seru Vivian yang mulai merasa tidak nyaman dengan situasi saat ini.
"Vivian. Intan kan sudah buat baju kamu kotor. Karena Intan salah satu anggota gank ku maka aku juga harus ikut bertanggung jawab. Bener nggak.?" Ujar Berlian pada kedua temannya.
"Yups. Bener banget." Permata menimpali.
Vivian mulai paham dengan kondisinya sekarang. Dia mulai bisa berfikir jernih dan ingin segera keluar dari toilet tersebut.
"Eit. Mau kemana.?" Saru Permata yang menghalangi langkah Vivian.
"Aku mau pulang kak." Sahut Vivian cepat dan raut mukanya mulai ketakutan.
"Baju kamu kan kotor. Biar kita bantu membersihkannya." Ujar Berlian dengan sinis.
Intan mengambil sebuah ember yang telah terisi air dengan penuh. Menyiramkan seluruh air itu kepada Vivian mulai dari ujung rambut. Hingga tidak terbisa lagi baju Vivian yang kering. Semua berubah menjadi basah kuyup seperti tikus yang masuk ke dalam got. Vivian duduk bersimpuh di lantai kamar mandi sekolah tersebut.
"Apa ini kak.?" Teriak Vivian yang mulai ingin menangis.
"Baju kamu kan kotor. Makanya kita bantu membersihkannya." Sahut Intan tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Gays. Kayaknya masih kotor deh." Seru Berlian.
"Oke." Sahut Permata dengan cepat. Beberapa saat kemudian dia telah tiba dengan sebuah ember lagi yang terisi air penuh dan.
Byuuuurr..!!
Air itu mendarat kepada tubuh Vivian sekali lagi. Basah kuyup hasilnya.
"Ampun kak. Kenapa kalian melakukan semua ini padaku.?" Ucap Vivian di sela-sela isak tangisnya.
"Kenapa kamu bilang.? Harusnya kamu itu ngaca. Sadar diri.!! Kamu siapa.? Dan Dafa itu siapa.?" Sahut Berlian kesal.
"Aku hanya berteman dengan kak Dafa." Sahut Vivian lirih.
"Berteman kamu bilang. Kata-kata itu nggak seharusnya keluar dari mulutmu." Berlian mencengkram dagu Vivian dengan keras lalu melemparnya.
"Gays. Kalian tahu kan apa yang harus di lakukan." Seru Berlian pada kedua temannya. Mereka paham dan segera melaksanakan apa yang di inginkan oleh Berlian.
Intan dan Permata menyeret Vivian agar masuk ke ruang Wc. Meski Vivian menolak dan meronta agar mereka tidak melakukannya, namun hal itu sia-sia. Tenaga Vivian masih kurang kuat di banding dengan tenaga kedua wanita yang menyeretnya itu.
Vivian terkunci dalam ruangan sempit dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Rasa dingin yang merasuk dalam tubuhnya akibat siraman yang di lakukan Berlian and the gank membuatnya kedinginan setengah mati.