
Drama pagi ini membuat Vivian sedikit lelah dan melupakan sesuatu hal yang sangat penting. Vivian baru sadar kalau dia belum makan apapun mulai pagi. Perutnya mulai meronta-ronta protes pada tuannya agar segera di isi. Saat bel istirahat berbunyi Vivian segera bergegas menuju kantin untuk mengisi perutnya yang tidak bisa di ajak kompromi lagi.
Di pesannya semangkuk bakso beserta sebuah lontong dan beberapa bakwan dari ibu kantin ditambah lagi dengan segelas jus jeruk kesukaannya. Ibu kantin yang mendengarkan pesanan Vivian terheran-heran sambil memperhatikan tubuh Vivian yang tidak gemuk itu.
Badannya boleh kecil. Tapi makannya kayak kuli bangunan. Seru ibu kantin dalam hati.
Setelah pesanan Vivian datang dia langsung dengan sigap menyantap makanan itu. Entah apa yang telah merasuki dirinya. Fikir orang-orang yang berada dekat dengannya.
Jasmine menghampiri Vivian dengan mulutnya yang menganga. Tanpa bersuara dia duduk di tepat di depan Vivian yang sedang asyik menikmati makanannya.
Jasmine yang melihat Vivian makan dengan lahapnya hanya bisa menelan ludahnya sendiri sambil sesekali menyedot es tes dalam kantong plastik yang es nya sudah terlanjur mencair.
"Vivian." Sapa Jasmine ragu.
"Hmm." Vivian hanya bergumam karena seluruh sisi mulutnya penuh dengan makanan yang akan dia kunyah.
"Kamu lagi makan apa kesurupan.?" Tanya Jasmine sedikit berbisik.
"Ya makan lah." Seru Vivian dan makanannya sedikit muncrat ke arah Jasmine.
"Sorry nggak sengaja." Lanjutnya.
Jasmine hanya diam sambil mengelap wajahnya dengan tisu akibat muncratan makanan dari mulut temannya.
Setelah Vivian usai dengan makanannya dia segera mengakhiri dengan meneguk es jeruk sampai tersisa setengah.
"Aiighh." Vivian tanpa sengaja bersendawa.
"Vivian jorok ih." Gerutu Jasmine yang kesal dengan kelakuan temannya itu.
Vivian hanya merespon dengan senyuman.
"Kamu nggak makan.?"
"Nggak. Sudah kenyang." Jawab Jasmine ketus.
"Ooo. Ya udah yuk balik ke kelas." Seru Vivian beranjak berdiri.
"Vivian." Jasmine berteriak.
"Jangan teriak-teriak Cumut. Kamu kenapa sih.?
"Kamu yang kenapa.? Makan sebanyak itu kayak porsi kuli. Makannya sampai kayak gitu lagi. Kayak nggak pernah makan saja. Tuh liat sekitar kamu.!! Kamu jadi bahan omongan." Celetuk Jasmine.
Vivian hanya membalas dengan tersenyum dan tawa kecilnya.
"Di bilangin malah senyum-senyum. Kamu ngerti nggak sih aku ngomong apa.?" Seru Jasmine kesal.
"Iya aku ngerti kok. Ya udah aku minta maaf. Aku nggak akan kayak gitu lagi. Janji.!!" Ujar Vivian memegang kedua telinganya sendiri dan merasa sangat menyesal.
"Bener janji.?"
"Iya."
Mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke dalam kelas. Saat berada dalam kelas hati Jasmine masih diselimuti rasa penasaran karena sikap Vivian yang tidak biasa. Akhirnya dia memutuskan untuk memberanikan diri bertanya sekali lagi kepada Vivian dengan sungguh-sungguh.
"Vivian. Kamu tadi sebenarnya kenapa sih.?"
"Aku lapar Cumut. Makannya aku makan di kantin. Apa ada yang salah dengan itu.?" Vivian balik bertanya.
"Ya nggak ada yang salah sih. Kamu bener. Kalau lapar ya makan." Seru Jasmine mendukung pernyataan Vivian.
Vivian hanya menggelengkan kepala pelan sambil tertunduk.
"Kenapa.?" Tanya Jasmine heran.
"Males." Sahut Vivian cepat.
"Kamu lagi ada masalah di rumah.?"
Vivian menggeleng kepala pelan lalu berkata, "Jangan di bahas lagi ya.!" Serunya lirih.
Jasmine hanya bisa tertegun melihat respon Vivian seperti itu dan dia sudah tidak pernah menyinggung lagi tentang masalah ini.
Sebenarnya dalam kepala Jasmine ada begitu banyak pertanyaan yang akan dia tujukan padanya. Tapi hal itu dia urungkan karena dia tidak ingin terlalu ikut campur dalam masalah orang lain. Apalagi orang itu tidak mau terbuka dan bercerita padanya.
Maafkan aku Cumut. Aku belum bisa cerita sama kamu sekarang. Waktunya belum tepat. Aku sendiri saja seakan tidak percaya dengan semua yang terjadi. Bagaimana mungkin aku mampu bercerita pada orang lain tentang masalahku sekarang. Sekali lagi maafkan aku Jasmine. Suatu saat aku pasti akan menceriktakan semuanya sama kamu. Ujar Vivian dalam hati dengan penuh sesal.
Jarum menunjukkan waktu kurang dari lima menit pembelajaran berakhir. Vivian menatap jam yang berada tepat di atas papan tulis dengan lesu sambil menyangga dagu dengan satu tangannya. Sayup-sayup mendengarkan guru yang belum usai menjelaskan pelajaran hari ini.
Teet.. Teet.. Teet..
Akhirnya suara yang di tunggu sejuta umat berbunyi juga. Vivian segera merapikan buku dan peralatan tulis miliknya. Memastikan semuanya telah masuk ke dalam tasnya.
Saat semua begitu antusias untuk segera keluar kelas dan pulang. Ada satu siswa yang tidak mempedulikan hal itu. Bukan karena tidak mau pulang ke rumah dan segera beristirahat. Namun karena hari ini Vivian ada jadwal ekstrakulikuler yang tengah dia ikuti.
Vivian melangkahkan kaki menuju pintu kelas dan hendah keluar menuju ruang musik.
"Vivian." Teriak Dafa dari sudut lorong yang berjarak 30 meter darinya. Vivian hanya membalikkan badan dan melambaikan tangan.
Dafa berlari menghampiri Vivian yang masih berdiri di depan kelasnya.
"Baru keluar.?" Tanya Dafa dengan nafas yang terengah-engah karena berlari.
Vivian hanya mengangguk. Membenarkan pernyataan Dafa padanya.
Vivian dan Dafa berjalan beriringan menuju ruang musik. Vivian memilih untuk lebih diam dari biasanya. Membuat Dafa merasa keheranan dengan sikapnya yang tidak biasa.
"Kamu kenapa Vi.? Sakit.?" Tanya Dafa sedikit khawatir.
"Aku nggak kenapa-napa kok kak. Memang ada yang aneh ya sama aku.?" Tanya Vivian sedikit bingung dengan pertanyaan Dafa padanya.
"Kamu nggak kayak biasanya. Kamu lebih banyak diam. Sakit gigi.? Atau lagi sariawan.?" Tanya Dafa semakin tidak terkendali.
"Hahaha. Kak Dafa apaan sih.? Aku sehat wal afiyat kak. Nggak ada yang sakit." Seru Vivian sambil menahan tawa.
Vivian berjalan cepat menuju ruang musik meninggalkan Dafa yang masih terheran-heran mendengar jawaban Vivian barusan.
"Hey. Tunggu Vivian.!" Teriak Dafa yang baru sadar kalau Vivian sudah jauh darinya.
Vivian tetap berjalan tanpa mempedulikan teriakan Dafa padanya.
Pemandangan yang tidak biasa ini membuat Berlian and the gank merasa sangat kesal. Berlian menatap Vivian dari kajauhan dengan tatapan yang sangat menyeramkan. Kalau saja Vivian tahu dia pasti akan bergidik ketakutan melihat tatapan Berlian yang seakan ingin membunuhnya.
"Lian. Kayaknya anak baru itu mulai berulah. Lihat saja gayanya.!" Seru Intan.
"Benar banget dengan apa yang di katakan Intan. Kamu harus beri dia pelajaran.!! Biar dia tahu siapa yang berkuasa di sekolah ini." Ujar Permata menimpali.
"Kalian tenang saja. Aku sudah punya rencana yang bagus buat dia. Aku jamin dia nggak akan pernah lagi dekat dengan D3." Sahut Berlian dengan senyum sinisnya.