
Hujan lebat pagi itu masih belum reda. Vivian mengikat tali sepatunya sambil menghela nafas melalui hidungnya. Duduk bersandar pada kursi di depan rumah sambil menunggu hujan reda. Sesekali menatap layar ponsel hanya untuk mengetahui pukul berapa sekarang. Berharap hujan tidak akan membuatnya terlambat ke sekolah hari ini.
Faro muncul dari arah ruang tamu menuju depan rumah. Menghampiri Vivian yang sedang menunggu hujan reda. Faro bersandar pada salah satu tembok dan menyalakan rokok yang sudah ada di ujung bibirnya sambil menutupi nyala api agar tidak tertiup angin.
Menghirup rokok dan menghembuskan asap melalui mulut dan hidungnya.
"Kamu berhenti saja ya dari ekskul musik." Ucap Faro tiba-tiba membuat Vivian menatap dengan muka heran dan mengerutkan dahi.
"Memangnya kenapa kak.? Aku suka musik. Aku juga suka nyanyi. Sayang kan kalau bakat aku ini nggak dikembangkan." Sahut Vivian mencoba memberi penjelasan.
"Aku tidak pernah melarang mu untuk menyanyi. Aku tidak suka saja kalau kamu dekat dengan mereka yang dibilang populer di sekolah. Kamu paham kan maksud kakak apa.?" Seru Faro lebih menekankan.
"Kejadian kemarin tidak ada hubungannya dengan mereka kak. Aku saja yang lagi sial dan menjadi pelampiasan mereka." Ucap Vivian.
"Kakak nggak mau tahu. Pokoknya hari ini kamu harus keluar dari ekskul itu. Kalau kamu menolak kakak akan pastikan group band kesayangan kamu itu akan bubar selamanya." Seru Faro sedikit gusar.
Vivian hanya bisa menelan ludahnya sendiri. Kalau dia sampai menolak pasti Dafa dkk akan menjadi incaran kakaknya.
"Iya kak. Aku paham." Sahut Vivian sambil mengangguk pelan.
Suara klakson mobil terdengar jelas dalam derasnya hujan yang turun. Faro melambaikan tangan menandakan agar supir mobil itu mau menunggu sebentar.
"Ayo berangkat. Sekalian kakak mau ke Cafe hari ini." Ucap Faro sambil menginjak putung rokok yang telah habis dia hisap.
"Mobil siapa kak.?" Tanya Vivian sedikit penasaran.
"Temen. Udah jangan banyak tanya.!! Nanti kamu terlambat lagi." Seru Faro sambil membuka payung yang tengah dia siapkan sejak tadi. Faro memayungi Vivian dan dirinya sendiri menggunakan satu payung untuk masuk ke dalam mobil.
"Kak Revan." Sapa Vivian pada lelaki yang berada di balik kemudi supir. Namun Revan hanya tersenyum tanpa menoleh pada orang yang sedang menyapanya. Membuat Vivian hanya bisa memanyunkan bibirnya dengan perasaan sebal.
Ternyata kak Revan nggak jauh berbeda dengan kak Faro. Sama-sama nyebelin. Dasar Cowok.!! Gerutu Vivian dalam hati.
"Morning bro." Sapa Revan pada Faro sambil mengajukan tangan yang mengepal.
"Morning." Sahut Faro dan membalas kepalan tangan Revan. Begitulah salam mereka jika bertemu satu dengan yang lain.
Keheningan menyelimuti suasana dalam mobil. Tidak ada satu patah kata pun keluar dari ketiga makhluk yang berada di dalamnya.
Begitu juga Vivian yang hanya diam menatap jendela mobil yang tertutup. Dan sekarang telah dilapisi dengan embun yang di akibatkan oleh hujan yang turun dengan lebatnya.
"Vivian." Ucap Faro tiba-tiba.
"Iya kak."
"Kamu jangan lupa pesan kakak tadi ya.?" Seru Faro pada adiknya. Vivian tidak menjawab pernyataan Faro padanya. Dia hanya mengangguk paham.
"Jangan terlalu keras lah Al sama adik sendiri.!! Kasihan." Sahut Revan sambil mengemudi.
"Aku bukannya keras sama dia. Aku cuma sedikit tegas saja. Biar dia itu tahu, dunia ini tidak sebaik yang dia fikir." Ujar Faro.
"Iya. Aku paham. Tapi lihat situasi dan kondisi juga. Dia baru lima belas tahun Al. Kamu kira-kira dong.!!" Sahut Revan.
"Kamu yang harusnya belajar dari ku Van. Pada masa itu lah rasa penasaran dan ingin tahu mereka besar. Juga kadang mereka melakukan hal-hal yang di luar kendali. Makanya kita sebagai orang terdekat wajib menjaga dan mengingatkan agar mereka tidak salah arah nantinya. Aku hanya tidak ingin kejadian yang sudah berlalu terulang kembali." Ujar Faro panjang lebar.
Vivian yang mendengarkan perbincangan mereka dari belakang kursi penumpang sedikit paham dengan apa yang tengah mereka bicarakan. Namun Vivian tidak berinisiatif untuk menimpali. Dia hanya menjadi pendengar yang baik saja. Dianggapnya perbincangan dua lelaki itu sebagai siaran radio di pagi hari.
Sampailah mereka di depan pintu gerbang sekolah. Vivian segera turun dari mobil begitu juga Faro. Faro memberikan payung kepada adiknya agar saat dia menuju kelas bajunya tidak basah dan tetap kering.
"Nanti pulangnya kakak jemput." Ujar Faro.
"Iya kak. Kakak langsung ke Cafe.?" Tanya Vivian.
"Pasti lah. Memang mau kemana lagi. Kamu ingat kan pesan kakak tadi.? Faro kembali mengingatkan Vivian.
"Iya." Sahut Vivian dengan terpaksa.
"Ya sudah sana masuk.!!" Seru Faro. Vivian mencium tangan Faro dan segera masuk ke dalam. Sedangkan Faro sendiri segera berlari menuju mobil sambil menutupi kepala dengan tangannya. Karena payung tadi dia berikan kepada adiknya. Mobil Revan segera meninggalkan tempat itu dan menghilang jauh tertutup derasnya hujan.
Vivian masih belum sampai di kelas. Dia sedang menatap layar ponsel berharap sesuatu muncul disana. Entah apa yang sedang dia tunggu.
Dari arah belakang Dion berlari ke arah Vivian. Bukan untuk menghampirinya tapi untuk berteduh dari hujan.
"Kamu Vivian kan.?" Sapa Dion tiba-tiba.
"I..Iya kak. Ada apa.?" Tanya Vivian terbata-bata. Bukan karena canggung karena Dion orang populer di sekolah. Tapi inilah Vivian. Dia akan bersikap seperti ini dengan orang yang baru di kenalnya.
"Aku dengar katanya kamu di kerjain sama Berlian. Apa benar.?" Tanya Dion.
Deg.!! Dari mana dia tahu.? Apa kabar itu memang sudah menyebar.? Seru Vivian dalam hati yang masih di selimuti kebingungan.
"Dari mana kak Dion tahu hal ini.?" Tanya Vivian ragu.
"Satu sekolah juga sudah tahu. Bukan cuma aku saja. Mulai hari ini Berlian dkk di skors oleh pihak sekolah selama satu minggu. Memangnya kamu tidak tahu.?" Ujar Dion. Vivian hanya menggelengkan kepala sambil setengah terkejut. Dion hanya tersenyum tipis.
Hujan sudah mulai reda. Dion mengajak Vivian berbincang sambil berjalan menuju kelas.
"Baru kali ini ada yang berani melawan Berlian dkk. Selama aku bersekolah disini tidak ada satu siswa pun yang berani melawan mereka. Keluarga mereka sangat berpengaruh di sekolah ini. Namun entah mengapa saat korban mereka itu kamu. Mereka sekarang malah di skors oleh pihak sekolah." Seru Dion sambil tertawa kecil. Vivian hanya diam mendengarkan semua perkataan Dion padanya.
Ya iyalah mereka di skors. Kak Faro masih berbaik hati mau mencabut laporannya. Kalau tidak mereka akan bermalam di jeruji besi yang dingin dan gelap. Seru Vivian dalam hati.
"Apa kamu mengatakan sesuatu.?"
"Tidak kak. Ya sudah kak aku masuk ke kelas dulu." Vivian segera berlari meninggalkan Dion.
Dia memang berbeda dari cewek-cewek lain. Andai saja aku bisa lebih dekat denganmu Vivian. Akan ku pastikan kamu tidak akan di sakiti lagi oleh Berlian dkk atau siapapun. Seru Dion dalam hati.
"Apa yang kamu fikirkan Dion.!!" Dion memukul kepalanya sendiri lalu berjalan menuju kelas dengan senyum mengembang di wajahnya.
Flashback :
Setelah Faro mencabut laporannya dari kantor polisi dan membuat kesepakatan dengan pihak keluarga mereka. Faro segera menghubungi kepala sekolah. Dan mengirimkan semua video tentang kasus bullying yang menimpa adiknya.
Pada awalnya pihak kepala sekolah masih bersikukuh untuk melindungi Berlian dkk. Namun saat Faro mengirimkan video terakhir saat di kantor polisi membuat kepala sekolah tidak bisa berkutik lagi. Disana terlihat semua permasalahan dengan sangat jelas.
Faro juga mengancam bila ketiga gadis itu tidak di hukum maka video itu akan segera beredar di media sosial dan akan menjadi viral. Demi nama baik sekolah dengan terpaksa kepala sekolah menskors ketiga gadis tersebut. DanĀ keputusan tersebut membuat gempar seluruh penghuni sekolah. Dan banyak juga yang bersyukur dengan di hukumnya ketiga gadis yang terkenal angkuh dan sombong tersebut.