Point Of Love

Point Of Love
Di bawah Payung Biru



Hati Vivian seakan terasa perih menyaksikan Faro kehujanan di depan rumahnya. Vivian juga tidak mengerti kenapa dia merasakan semua itu. Vivian berbalik dan menatap kakaknya penuh harap.


Candra seolah mengerti dengan keinginan adiknya saat ini. Candra hanya menganggukkan kepala pelan. Vivian segera mengambil payung yang tergantung di gantungan belakang pintu ruang tamu. Bergegas membuka pintu dan memakai payung berwarna biru muda. Berlari menghampiri Faro yang sudah terlalu lama kehujanan.


Vivian memakaikan payung di atas kepala Faro. Pandangan Faro yang semula kosong perlahan mulai menyadari kehadiran Vivian di sekitarnya. Mata yang kosong itu menatap Vivian yang sekarang sedang berdiri di depannya sambil memakaikan payung untuknya.


"Kak Faro Bodoh atau gimana sih.?" Teriak Vivian dalam derasnya hujan.


Faro masih terdiam menatap Vivian.


"Kenapa malah hujan-hujanan kayak anak kecil gini.?" Celetuk Vivian kesal.


Namun sekali lagi Faro hanya diam menatapnya.


"Kalau kak Faro sakit siapa yang repot.? Aku juga kan." Ucap Vivian. Perkataan Vivian saat ini membuat Faro mulai tersenyum.


"Vivian." Ucap Faro pelan.


"Kak Faro denger nggak sih aku ngomong apa.?" Ucap Vivian ketus.


"Kamu sudah nggak marah lagi sama kakak.?" Tanya Faro ragu.


"Aku marah karena kak Faro hujan-hujanan kayak gini." Celetuk Vivian.


Faro tersenyum menatap Vivian. Vivian membalas senyuman Faro. Faro segera memeluk Vivian di bawah payung biru.


Vivian membalas pelukan Faro. Namun tiba-tiba pelukan Faro lepas dengan sendirinya dan kepala Faro menempel ke bahu Vivian.


"Kak. Kak Faro." Ucap Vivian sambil menggerakkan tangan Faro yang tergantung. Namun Faro tidak juga menjawab.


"Lihat tuh mereka romantis banget ya. Kayak dalam drama korea saja." Celetuk Mala dari balik jendela rumah.


"Iya Mala. Berpelukan di bawah satu payung di tengah derasnya hujan." Sahut Juwita.


"Tapi kalau terlalu lama kehujanan seperti itu juga tidak baik. Bisa terkena flu dan demam." Ujar Candra tiba-tiba menyela.


Kedua gadis itu hanya bisa tersenyum nyengir mendengar perkataan Candra.


"Suruh mereka cepat masuk. Jangan terlalu lama di luar dalam cuaca seperti ini.!!" Seru Candra.


"Baik mas." Sahut Mala dan Juwita bersamaan.


Mala dan Juwita membuka pintu dan menyuruh Vivian membawa Faro untuk masuk ke dalam rumah. Namun Vivian kesulitan membawa Faro yang sudah tidak sadarkan diri sendiri ke dalam rumah. Mala dan Juwita yang mendengar teriakan Vivian segera berlari menolong mereka.


Tiga gadis itu membawa Faro masuk ke dalam rumah. Pakaian Faro basah kuyup akibat hujan yang begitu deras. Bahkan sampai tidak tersisa bagian yang kering. Vivian menyarankan agar Faro di bawa ke kamarnya saja.


Karena dalam satu rumah hanya ada dua kamar maka kamar yang satu sudah digunakan oleh Candra dan dengan terpaksa Faro harus istirahat di kamar Vivian.


Vivian melepas pakaian atas yang di kenakan Faro. Sekarang tinggal celana basahnya yang belum terlepas. Vivian meminta tolong pada Candra agar melepas pakaian Faro dan menggantinya dengan pakaian ganti miliknya.


Candra mengganti pakaian Faro sesuai dengan keinginan adik kesayangannya.


"Kalau bukan karena Vivian. Aku nggak akan sudi membantumu." Ucap Candra sambil mengganti pakaian Faro yang basah dengan pakaian yang kering.


Tiga gadis itu sedang menyibukkan diri di dapur. Mencari bahan makanan untuk di masak.


"Vivian. Kita mau masak apa nih.?" Tanya Mala sambil membuka lemari bahan makan yang ada di dapur.


"Iya Vi. Yang ada cuma mie instan nih." Sahut Juwita sambil memegang mie instan di tangannya.


Vivian membuka kulkas dan menemukan sebungkus sosis ayam dan beberapa telur ayam.


"Mau gimana lagi.? Di luar juga masih hujan lebat. Nggak mungkin kita keluar dan belanja dalam keadaan seperti ini." Sahut Vivian.


"Memangnya nggak apa-apa kalau cowok nyebelin itu di kasih makan mie instan.?" Celetuk Mala.


"Dia punya nama bawel." Sahut Vivian sedikit kesal.


"Ciye. Ada yang marah nih.!!" Goda Juwita sambil memainkan mata pada Mala. Mala tertawa sambil menutup mulutnya sendiri.


"Berdua di bawah payung yang sama di temani dengan rintikan hujan." Ucap Juwita seperti sedang mengucapkan sebuah sajak romantis.


"So sweet." Sahut Mala menimpali.


"Kalian ini kenapa sih.? Kesambet setan belakang rumah." Seru Vivian membalas dua sahabat yang selalu menggodanya.


"Iya ni Vi. Kesambet gara-gara lihat drama korea di depan rumah tadi." Ucap Juwita yang masih mencoba menggoda temannya.


"Kalian mau aku kasi pelajaran ya.?" Seru Vivian sambil tersenyum seram.


"Iiih. Atut." Sahut Mala bertingkah konyol. Vivian tidak tahan dengan dua temannya yang menyebalkan dan selalu menggodanya. Vivian dengan cepat menggelitik Mala dan juga Juwita secara bergantian. Setelah merasa puas, Vivian segera menyudahi candaannya bersama dua sahabat terbaiknya.


"Udahan donk bercandanya. Masak dulu yuk.!! Laper." Seru Vivian sambil mengelus perutnya sendiri.


Mala dan Juwita hanya mengangguk di sertai sisa tawa di bibir mereka. Mala merebus telur sedangkan Juwita sedang memotong sosis untuk di campur ke dalam mie. Vivian merebus lima mie instan dalam wajan berukuran besar.


Hanya membutuhkan waktu lima menitan saja makanan sudah siap tersaji. Namun mereka harus mengupas kulit telur terlebih dahulu untuk topping mie nya.


Juwita menyiapkan lima mangkok untuk tempat mie yang sudah matang. Vivian membagi mie itu menjadi lima bagian. Sedangkan Mala dan Juwita menghiasnya dengan topping telur rebus yang sudah di potong menjadi dua bagian.


Setelah semuanya sudah selesai Vivian segera membawa mie itu ke ruang tengah. Di bantu oleh dua sahabat koplaknya.


Vivian masuk ke dalam kamar untuk melihat kondisi Faro. Saat Vivian mendekat dan duduk di samping Faro yang tengah terbaring tidak sadarkan diri, tiba-tiba jantung Vivian berdegup kencang. Vivian juga merasa sangat gugup.


Apa ini.? Kenapa aku jadi gugup kayak gini saat di dekat kak Faro. Tenang Vivian.!! Kamu harus tenang.!! Kendalikan dirimu.!! Tarik nafas Vivian. Tenang.!! Seru Vivian dalam hati.


Vivian menarik nafas beberapa kali untuk menenangkan dirinya sendiri. Setelah sedikit tenang Vivian mencoba membangunkan Faro.


"Kak. Kak Faro." Ucap Vivian sambil menggerakkan bahu Faro.


"Bangun kak.!! Kita makan dulu yuk." Lanjut Vivian.


Faro mulai menggerakkan kepala pelan. Lalu perlahan-lahan mulai mencoba membuka mata. Badan Faro demam. Mungkin ini akibat kehujanan tadi. Mukanya juga terlihat sangat pucat. Vivian sangat mengkhawatirkan kondisi Faro saat ini. Namun Vivian tidak ingin Faro tahu tentang rasa khawatirnya hingga senyum yang begitu di paksakan singgah di bibir Vivian.