Point Of Love

Point Of Love
Hati yang Membatu



Vivian berlari dengan sekuat tenaga. Suara teriakan dari kedua sahabatnya bagaikan angin yang hanya sekedar lewat. Mala dan Juwita merasa sangat khawatir dengan kondisi Vivian sekarang. Juwita mengutuk dirinya sendiri. Tidak seharusnya dia membawa Vivian untuk pergi bersamanya. Mungkin dengan dia merahasiakan semua itu akan membuat Vivian tidak terlalu sakit hati. Tapi dia juga tidak ingin dianggap sebagai teman yang buruk karena menyembunyikan kebenaran darinya. Juwita merasa serba salah menghadapi situaasi seperti ini.


Hari mulai gelap, yang muncul hanya bintang-bintang kecil dan bulan yang masih menampakkan setengah lingkarannya. Vivian duduk termenung ditempat tidurnya. Sisa air mata yang membasahi kedua pipinya terasa sudah mulai mongering. Diraihnya handphone dan menyalakannya. Terdapat sebuah pesan singkat dari sahabatnya Juwita.


<< Vivian kamu baik-baik saja kan.? Aku mau minta maaf sama kamu Vivian. Gara-gara aku kamu sakit hati lagi. Tidak seharusnya kamu mendengar semua ini. Sekali lagi aku minta maaf Vivian. Aku tidak merasa keberatan kalau kamu mau marah sama aku. Karena memang aku yang salah. Hati Juwita berkecamuk.>>


Vivian menghela nafas pelan lalu membalas pesan itu dan mengirimkannya kepada Juwita.


<< Aku nggak akan pernah marah sama kamu Juwita. Kamu adalah sahabat terbaikku. Selain keluargaku kamu dan Mala adalah orang yg sangat berarti bagiku. Aku yang harusnya berterima kasih berkat kalian aku dapat mengetahui siapa dia sebenarnya. Terima kasih ya karena telah menjadi orang yang sangat special didalam hidupku. >>


Vivian tersenyum lega dan meletakkan ponsel tersebut diatas nakas. Membaringkan diri dengan kedua tangan yang berada dibelakang kepala. Menatap langit-langit kamar sejenak lalu memejamkan mata. Sebenarnya Vivian tidak merasa mengantuk tapi dia hanya ingin melakukan hal tersebut sejenak.


Terima kasih ya allah. Engkau telah menunjukkan yang sebenarnya pada hamba. Aku juga sangat bersyukur karena engkau telah memberikan aku dua orang sahabat yang sangat berarti.


Vivian tersenyum dan memiringkan badan meraih bantal guling kesayangannya. Memejamkan mata dan mulai memasuki alam mimpi.


Keesokan hari Vivian telah bersiap untuk mendaftar ke SMA PERMATA. Semua hal yang berkaitan dengan pendaftaran telah disiapkan olehnya. Hari ini merupakan hari terpenting dalam hidupnya. Mala dan Juwita menunggu Vivian didepan rumah Mala. Mereka ingin berangkat sekolah bersama dengan Vivian. Karena kebetulan sekali SMA PERMATA satu jalur dengan SMP mereka. Mereka melihat Vivian mengayuh sepeda dari kejauhan. Saat Vivian sampai didepan rumah Mala, mereka langsung bergabung dan bersepeda bersama untuk berangkat ke sekolah. Mala memulai percakapan pagi itu sambil mengayuh sepeda.


“Vivian. Aku mau cerita sesuatu tapi kamu jangan marah ya.!” Kata Mala sedikit ragu.


“Apa.?” Ucap Vivian singkat.


“Sebenarnya kemarin kita nggak sengaja memergoki Nurdin sama Jalal bertengkar hebat.” Jawab Mala dengan sedikit ngotot.


“Kok bisa.?” Sahut Vivian cuek. Respon Vivian yang seakan cuek dan tidak mau tahu membuat Mala mengerutkan dahi dan menganggukkan kepala kepada Juwita yang ada di belakangnya. Juwita hanya mengernyitkan bibir sehingga Mala ragu untuk melanjutkan cerita yang telah dia mulai.


“Itu Vi. Nurdin marah sama Jalal karena Jalal menikah dengan orang lain.” Kata Mala sedikit ragu.


“Aku tidak peduli lagi dengan mereka. Walau mereka berdua jungkir balik di depanku. Aku juga tidak akan terkejut. Bagiku perasaan cinta itu hanya bualan semata. Hatiku sudah mati rasa dan membatu.” Kata Vivian sambil menatap Mala dengan tatapan tajam. Mala hanya bisa menelan ludahnya sendiri mendengar pernyataan Vivian yang mengejutkan.


Mereka telah sampai di tempat menunggu bus yakni di bawah pohon beringin. Vivian tampak berbeda dari biasanya. Dia berubah menjadi pendiam dan tidak banyak bicara. Raut muka yang biasanya ceria sekarang berubah menjadi kaku dan suram. Tidak ada seujung senyum pun muncul dari bibirnya.


“Kamu beneran baik-baik saja Vi.?” Tanya Juwita mulai cemas melihat perubahan Vivian yang begitu drastis.


“Aku baik. Baik banget malah. Jangan bahas itu lagi ya.! Aku mau fokus dulu sama tes masuk ke SMA.” Sahut Vivian sambil tersenyum yang dipaksakan.


“Oke.” Sahut mala dan Juwita mengganggukkan kepala mengiyakan keinginan temannya.


Mereka tetap diam sampai bus yang mereka tunggu datang. Mala dan Juwita menatap Vivian dengan tatapan iba. Trauma akan seorang lelaki membuatnya terlihat sangat menyedihkan. Mereka hanya mengawasi keadaan Vivian dalam diam. Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai juga di halte bus yang tepat  diseberang jalan SMA PERMATA. Sedangkan SMP Mala dan Juwita berada disampingnya.


Vivian menyebrang jalan dan setelah sampai di seberang Vivian melambaikan tangan kepada Mala dan Juwita yang masih berdiri di halte bus hanya untuk memastikan temannya baik-baik saja. Vivian melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah dan saat dia sampai tepat didepan gerbang Vivian sedikit kagum dengan bangunan yang ada di depannya hingga dia tidak menyadari dari belakang telah ada sebuah motor dan mengklaksonnya berkali-kali.


Vivian terkejut dan langsung masuk ke dalam dan menepi. Bukan karena cowok itu yang sedikit keren tapi dia hanya terkejut setelah beberapa detik melamun. Cowok tersebut langsung melajukan motornya masuk ke dalam sekolah dan saat melewati Vivian, dia menggerutu dan terdengar jelas di telinga Vivian.


“Melamun di tengah jalan. Mau mati apa.” Suara cowok itu terdengar kesal.


Vivian menghela nafas sejenak dan melanjutkan langkahnya masuk ke dalam sekolah. Bangunan-bangunan yang begitu megah dan bertingkat membuat Vivian tertegun melihatnya. Baru kali ini Vivian melihat bangunan sekolah yang begitu megah dan sangat indah dengan penataan bunga-bunga cantik dengan furniture yang serasi.


Vivian mendaftarkan diri untuk mengikuti tes. Setelah selesai mengisi formulir dan melengkapi semua persyaratan yang di minta oleh sekolah dia segera masuk ke dalam ruangan yang telah disiapkan untuk mengikuti tes tertulis. Dia memutuskan untuk mengambil tempat duduk disamping jendela. Vivian mengeluarkan ponsel hanya untuk melihat pukul berapa sekarang.


“Hai.” Sapa seorang cewek yang duduk tepat disampingnya.


“Hai juga.” Sahut Vivian canggung.


“Kenalin aku Jasmine. Nama kamu siapa.?” Cewek itu mengulurkan tangannya kepada Vivian. Vivian sedikit ragu untuk meraih tangan cewek itu namun dia mengesampingkan keraguannya dan bersalaman dengan cewek tersebut.


“Vivian. Namaku Vivian.” Kata Vivian gugup.


“Kamu sendirian.?” Tanya Jasmine sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Vivian hanya menganggukkan kepala membenarkan pertanyaan teman barunya.


“Boleh minta nopenya.?” Tanya Jasmine.


“Nope.?” Sahut Vivian bingung dengan perkataan Jasmine.


“Maksud aku nomor hp.” Jawab jasmine sambil tersenyum.


“Oh itu. Boleh.” Sahut Vivian membalas senyuman Jasmine. Vivian menunjukkan nomor hp yang ada di layar ponselnya dan Jasmine segera mengetik nomor tersebut di ponselnya. Setelah tersimpan Jasmin segera melakukan panggilan telepon kepada Vivian. Ponsel Vivian bordering.


“Simpan ya. Itu nomerku.” Kata Jasmine. Vivian hanya mengangguk dan segera menyimpan nomor Jasmine ke dalam kontak ponselnya.


Semua calon siswa baru telah memenuhi ruangan dan bersiap untuk mengikuti tes tertulis pada sesi pertama. Vivian selalu berdoa dalam hati agar dia bisa menjawab semua dengan mudah dan membuahkan hasil yang baik sehingga dia dapat masuk ke sekolah tersebut.


Dua orang yang mengenakan almamater warna merah maroon memasuki ruangan tersebut dengan setumpuk lembar tes. Mereka berdiri didepan dan salah satu dari mereka menjelaskan peraturan serta tata tertib dalam mengikuti tes. Waktu yang disediakan hanya satu jam saja. Setelah semua sudah jelas, mereka segera membagikan lembaran tes tersebut.


Seisi ruangan berubah menjadi sunyi sepi seperti kuburan. Tak ada satu pun suara yang keluar. Satu jam telah berlalu dan semua calon siswa baru segera mengumpulkan hasil pekerjaan mereka ke depan. Vivian merasa sangat lega akhirnya dia bisa menyelesaikan semua soal dengan mudah. Ini adalah hasil dari kerja kerasnya selama ini. Vivian maju ke depan dan mengumpulkan pekerjaannya dan dia tak sengaja melirik ke arah cowok yang sedang duduk sambil merapikan lembar tes yang telah usai. Dan Vivian sedikit tertegun.


Dia kan cowok yang tadi pagi. Ternyata dia Anggota Osis. Pantas saja datangnya pagi banget. Tapi sayang galak. Kata Vivian dalam hati.


Vivian segera pergi meninggalkan ruangan tersebut dan dari belakang disusul oleh Jasmine yang merpakan teman baru Vivian pagi itu.