Point Of Love

Point Of Love
Kelulusan



Setelah semua perjuangan Vivian selama tiga tahun di sekolah tersebut kini tiba saatnya untuk pengumumam kelulusan kelas IX. Vivian sangat menantikan hal tersebut. Tidak lama lagi dia akan masuk ke sekolah dengan tingkat yang lebih tinggi yakni SMA. Dia sudah tidak sabar untuk masuk ke sekolah yang terbaik di daerah tempat tinggalnya. Bagaimana tidak sekolah itu telah banyak meluluskan siswa-siswa terbaik dan dipastikan akan masuk ke perguruan tinggi negeri. Mimpi terbesar Vivian adalah dia ingin melanjutkan sekolah sampai tingkat kuliah di universitas ternama. Tentu saja hal tersebut tidak mudah baginya. Apalagi dengan kondisi keluarganya saat ini yang tidak akan mungkin mendukung keinginannya.


Hari itu kondisi satu kelas begitu tegang. Hening tanpa ada satu patah kata yang keluar dari mereka semua termasuk Vivian. Dari kejauhan terlihat Bapak Puryanto berjalan menuju kelas mereka dengan membawa setumpuk amplop putih dengan nama masing-masing siswa kelasnya. Jantung Vivian berdegup dengan kencang. Apa yang tertulis dalam amplop itu. Pertanyaan itu selau terngiang-ngiang dalam fikiran Vivian saat ini. Entah itu tertulis LULUS atau TIDAK LULUS.


Seorang lelaki paruh baya mengenakan baju batik lengan panjang di padukan dengan celana panjang warna hitam serta sepatu hitam favouritnya. Tubuh yang tinggi berisi serta kult putih yang menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka anak-anak didiknya. Bapak Puryanto nama beliau. Pak Pur begitu kami biasa memanggilnya. Senyum manis yang selalu tampak di bibirnya membuat kami selalu rindu dengan cara beliau mengajar di dalam kelas mereka. Pak Pur mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia dan juga sekaligus Wali Kelas IX G.


Pak Pur telah berada tak jauh dari kelas Vivian. Setelah beberapa langkah sampailah beliau di depan kelas IX G. Pak Pur berhenti sejenak dan terlihat sedang menarik nafas panjang. Langkahnya seakan berat untuk masuk ke dalam kelas tersebut. Dengan berat hati akhirnya beliau masuk juga. Pandangannya tertuju kepada para murid yang sudah dari tadi menunggunya dengan penuh kecemasan dalam hati mereka.


“Selamat Pagi anak-anak.” Sapa Pak Pur.


“Selamat Pagi Pak.” Sahut mereka bersama-sama.


“Hari ini hari dimana kalian akan mengetahui hasil jerih payah kalian selama 3 tahun terakhir belajar disini. Bapak sangat senang karena bapak telah menjadi wali kelas kalian selama dua tahun terakhir. Bapak juga minta maaf apabila selama bapak menjadi wali kelas kalian bapak sering menghukum dan memarahi kalian.” Kata Pak Pur dengan nada suara serak seakan menahan air mata di ujung matanya.


“Pak Pur tidak perlu minta maaf kepada kami. Kami yang seharusnya minta maaf kepada bapak karena telah merepotkan dengan semua kenakalan kami.” Sahut Sham selaku ketua kelas kami sebagai perwakilan.


Isak tangis dalam kelas itu akhirnya pecah dan tidak dapat tertahankan lagi. Mereka semua menangis di bangku masing-masing. Terlihat juga Pak Pur meneteskan air mata namun langsung dihapusnya menggunakan tangannya. Karena beliau tidak ingin anak-anaknya melihatnya menangis.


Setelah dirasa keadaan kelas sudah kondusif. Pak Pur memanggil nama mereka satu per satu untuk menerima amplop putih. Sebelum itu Pak Pur berpesan agar tidak terkejut dengan isi maupun tulisan yang tertera didalammya. Hati mereka semakin amburadul tidak karuan mendengar ucapan Wali Kelasnya tersebut.


Mereka menerima amplop putih tersebut dengan tangan gemetar dan kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Pandangan Vivian tak dapat terlepas dari benda putih yang sekarang ada di depan matanya. Begitu juga dengan semua teman-teman Vivian.


"Sekarang buka amplopnya.!!" Seru Pak Pur kepada semua anak-anaknya.


Semua siswa termasuk Vivian dengan gemetar membuka amplop mereka sendiri-sendiri dengan bersamaan. Betapa terkejutnya hati Vivian hingga tidak dapat berkata-kata lagi. Tertulis dengan jelas di dalam amplop tersebut sebuah kata yaitu "LULUS".


Vivian menatap teman sebangkunya Lutvi lalu tawa dan tangis itu pun terjadi dengan bersamaan. entah bagaimana hal tersebut terjadi. mungkin karena mereka bahagia sekaligus terharu dengan apa yang telah mereka alami saat ini. tidak hanya Vivian dan Lutvi tapi seisi ruangan itu merasakan hal yang sama.


Setelah tragedi tangis dan saling peluk berakhir Pak Puryanto mengizinkan mereka untuk segera pulang dan membagi kebahagiaan dengan kedua orang tuanya. Vivian membereskan peralatannya dan segera keluar kelas. sebelum itu tak lupa dia berpamitan terlebih dahulu kepada Pak Puryanto.


Vivian ingin segera pulang ke rumah untuk membagikan kebahagiaannya saat ini. Dia segera menenteng tas dan keluar dari kelas. Tidak lupa dia berpamitan terlebih dahulu kepada Wali Kelas kesayangannya yaitu Pak Pur. Orang yang seperti ayahnya sendiri yang selalu mengedepankan kepentingan anak didiknya terlebih dahulu dan memberikan yang terbaik untuk mereka.


Saat Vivian sedang berjalan menuju gerbang sekolah ternyata Jalal telah berdiri disana dan sedang menunggu Vivian keluar. Vivian hanya bisa tersenyum menatap Jalal yang sedang melambaikan tangan padanya dan dia berlari ke arah Jalal. Ingin rasanya Jalal memeluk Vivian saat itu juga namun hal itu tidak mungkin karena dia sadar itu akan membuat Vivian malu terhadap teman-temannya.


Vivian tersenyum riang manatap Jalal dan dia menunjukkan amplop putih yang ada di tangannya.


“Tara.” Seru Vivian sambil menberikan amplop itu kepada Jalal.


“Apa ini sayang.?” Celetuk Jalal dengan santai. Vivian segera membungkam mulut Jalal dengan tangannya dan melihat ke sekeliling berharap tidak ada satu orangpun yang mendengar perkataan Jalal barusan.


“Kakak ngomong apaan sih.?” Sahut Vivian geram dengan raut muka merona karena malu. Jalal melepaskan tangan Vivian perlahan sambil menahan tawa lalu berkata.


“Maaf aku keceplosan.” Lalu Jalal mendekatkan kepalanya ke telingan Vivian. “Sayang.!” Lanjutnya.


“Kakak.!” Teriak Vivian tiba-tiba hingga tanpa dia sadari telah membuat orang di sekeliling menatapnya dengan heran. Wajah Vivian semakin merah merona karena malu hingga dia menutup muka itu dengan kedua tangannya. Jalal hanya bisa menahan tawanya sendiri sambil membuka isi amplop tersebut.


“Selamat ya sayang. Akhirnya perjuangan selama tiga tahun terakhir sekarang membuahkan hasil.” Kata Jalal lirih sambil mengembalikan amplop itu kepada Vivian.


“Makasih ya kak. Akhirnya setelah ini aku bakalan makek seragam putih abu-abu.” Sahut Vivian dengan senyum termanis hingga membuat Jalal gemas dan tanpa fikir panjang langsung mencubit salah satu pipi Vivian dengan pelan.


Vivian mengajak Jalal untuk mengantarnya ke SMA tempatnya mendaftar sekolah. Jalal mengabukan keinginan Vivian dan segera melajukan motor kesayangannya menembus padatnya arus lalu lintas siang itu.