
Motor melaju melewati padatnya lalu lintas malam. Sampailah mereka di kantor polisi tempat Revan bertugas. Faro menjelaskan kepada Vivian agar diam tanpa berkomentar. Biarkan semua di atasi sendiri oleh Faro dan Revan. Vivian paham dan segera mengunci mulutnya sendiri. Ya walaupun itu hanya pura-pura.
Faro menghubungi Revan untuk memberitahukan kalau mereka telah sampai di depan kantor. Revan segera keluar dan menghampiri Faro dan Vivian.
"Dari tadi Al.?" Tanya Revan pada Faro. Hanya Revan lah orang satu-satunya yang memanggilnya Al. Alfaro Baskoro Darmawan begitu papa Faro memberi nama pada putra semata wayangnya itu.
"Baru sampai. Dimana mereka.?" Seru Faro tidak sabar.
"Ikut aku.!!" Sahut Revan dan dia langsung masuk ke dalam di susul oleh Faro dan Vivian di belakangnya.
Revan membuka salah satu pintu dan mempersilahkan Faro juga Vivian untuk masuk ke dalam. Vivian begitu terkejut karena dalam ruangan itu terdapat Berlian dan ganknya. Di samping mereka terdapat laki-laki dan perempuan paruh baya. Mungkin mereka orang tuanya. Begitu fikir Vivian dalam hati.
Faro menatap seluruh penghuni ruangan dengan tatapan sinis dan benci. Revan memulai pembicaraan agar kedua belah pihak menemukan kesepakan.
"Mereka masih sekolah dan di bawah umur. Kenapa kamu tega melaporkan mereka ke kantor polisi." Seru ayah Berlian berapi-api.
"Iya itu benar. Kalau masalah uang itu hal yang kecil. Bahkan kami bisa membeli cafe mu itu." Sahut ibu Berlian membuat suasana semakin panas.
Vivian merasa sangat canggung menghadapi situasi yang ada di depannya sekarang. Benar apa kata Faro tadi. Vivian harus menutup mulutnya rapat-rapat.
"Kalau kalian sudah selesai berbicara. Sekarang giliranku untuk berbicara." Ucap Faro sinis.
"Kalau memang uang kalian banyak dan bisa membeli cafe milikku, kenapa makanan yang harganya segitu anak-anak kalian nggak bisa membayarnya.? Itu yang pertama. Dan juga kalau memang anak-anak kalian masih kecil dan di bawah umur kenapa mereka melakukan kekerasan fisik dan psikis pada adikku." Seru Faro kesal. Vivian terkejut mendengar pernyataan Faro barusan.
Darimana kak Faro tahu kalau mereka yang telah melakukannya. Padahal selama ini aku tidak pernah menceritakan semua itu pada siapa pun.
"Apa maksud perkataan mu. Jangan mengada-ada. Anak-anak kami selalu baik kepada siapa pun. Mana mungkin mereka melakukan hal keji seperti itu." Seru ibu Intan membela anaknya.
"Hahaha. Rupanya selama ini kalian sama sekali tidak mengenali siapa anak kalian sebenarnya." Faro tertawa hebat.
"Van. Tunjukan semuanya pada mereka.!! Aku ingin lihat setelah mereka melihatnya apa mereka masih bisa membela ketiga gadis arogan ini." Seru Faro pada Revan. Vivian hanya bisa diam sambil mengerutkan dahi.
Menunjukkan apa.? Apa kak Faro punya rekaman kejadian yang telah mereka lakukan padaku.
Revan segera menyalakan proyektor dan menunjukkan rekaman saat mereka dengan sengaja menumpahkan saus sambal pada Vivian. Rekaman itu terus berlanjut hingga sampai saat Faro menggendong Vivian yang sedang pingsan dan basah kuyup.
Wajah orang tua itu seketika pucat pasi melihat rekaman yang di tayangkan. Ketiga gadis itu saling menatap dan saling senggol satu dengan yang lain.
"Bisa saja kan itu bukan perbuatan mereka." Saru ibu Permata masih membela anaknya.
"Tunggu dulu. Masih ada satu lagi yang harus kalian lihat." Seru Faro sambil tersenyum.
Faro memberi kode kepada Revan agar menunjukkan rekaman cctv milik cafe yang memperlihatkan percakan mereka dengan jelas. Saat mereka selesai melihat rekaman itu mereka segera maminta maaf atas kesalahan anaknya yang tidak terpuji itu.
"Kalau saja waktu itu anak kalian yang ada di posisi adikku, apa yang akan kalian lakukan.?" Tanya Faro dengan lugas. Mereka semua hanya diam membisu tanpa bisa menjawab apa-apa.
"Dan kalau saja aku terlambat menyelamatkan adikku waktu itu. Dan terjadi hal-hal yang tidak di inginkan padanya. Mungkin kalian saat ini tidak akan bisa meliahat anak-anak kalian lagi." Ujar Faro penuh dengan kebencian. Membuat siapa saja yang mendengar akan bergidik ketakutan.
"Apa maksud perkataan kamu nak.?" Tanya orang tua Berlian ragu.
"Kalian fikir saja sendiri. Kalau sampai adik kesayanganku kenapa-napa. Akan kupastikan masa depan anak-anak kalian suram." Seru Faro.
Mereka hanya bisa menelan ludah mereka sendiri. Mereka juga berjanji tidak akan membiarkan hal seperti ini terjadi lagi. Faro meminta kompensasi kepada mereka atas apa yang telah mereka lakukan pada adik dan juga cafe nya. Setelah kesepakatan telah di setujui oleh semuanya.
Mereka akhirnya pulang bersama dengan anak mereka masing-masing. Terlihat mereka sedang mamarahi anak mereka dengan cara mereka sendiri.
Faro dan Vivian masih berada dalam ruangan. Selang beberapa menit Revan masuk ke ruangan itu dengan dua cangkir kopi dan secangkir teh hangat.
"Udah. Nggak apa-apa." Sahut Faro sambil tersenyum.
"Ini adik yang kamu ceritain itu kan.?" Tanya Revan.
"Iya. Kenalin teman kakak namanya Revan." Ujar Faro pada Vivian.
"Vivian."
"Revan." Mereka bersalaman cukup lama membuat Faro emosi melihatnya.
"Jangan lama-lama.!! Kebiasaan." Faro melepaskan tangan Revan dan Vivian.
"Al Al dari dulu sampai sekarang kamu nggak pernah berubah." Seru Revan dan di susul gelak tawa.
"Kak Faro dapat dari mana rekaman tadi.?" Tanya Vivian tiba-tiba.
"Berisik." Sahut Faro.
"Vivian. Jangan tanya dia. Tanya aku saja. Akan aku jelaskan semuanya." Ujar Revan.
"Kak Revan tahu semuanya. Asal dari rekaman itu. Kok bisa.? Dapat dari mana.?" Seru Vivian sedikit heran.
"Oke. Kak Revan akan jelasin semuanya sama kamu. Kakak kamu ini punya banyak koneksi dimana-mana. Ya maklum saja mantan anggota kepolisian memang pemikiran intelejennya tinggi." Seru Revan.
"Panas nih ruangan. Ac nya mati apa.?" Gerutu Faro dan segera beranjak keluar ruangan.
"Kak mau kemana.?"
"Toilet. Ikut.?" Sahut Faro. Vivian menggelengkan kepala cepat.
"Awas nyasar.!!" Seru Revan menggoda Faro.
"Lanjut ceritanya kak Revan.!!
"Kakak kamu dulu anggota kepolisian disini. Dia tugas bareng sama kakak. Tapi karena suatu alasan dia memutuskan untuk berhenti dan keluar dari kepolisian. Rekaman cctv itu dia dapat dari sekolah. Dia sengaja menyuruh salah satu pelayan termasuk siswa disana untuk meminta rekaman itu." Ujar Ravan.
"Tapi nggak mungkin kan mereka menyerahkannya begitu saja.?" Ucap Vivian.
"Kamu memang pintar. Siapa penghuni sekolah yang tidak kenal dengan Alfaro Baskoro Darmawan. Alumni sekolah yang begitu di banggakan oleh para guru. Bahkan sampai sekarang Faro masih berhubungan baik dengan mereka semua." Ujar Revan.
"Ooo jadi seperti itu. Pantas dia dengan mudah mendapatkannya." Seru Vivian.
"Al itu memang sedikit kasar dan keras Vi. Tapi kamu jangan takut, memang seperti itulah sifatnya. Sebenarnya walaupun dia terlihat kasar tapi hatinya baik. Dia tipe orang yang penyayang. Apalagi kalau itu menyangkut keluarganya. Dia sedikit lebih sensitif." Seru Revan.
"Hahaha. Iya kak Revan. Kakak betul banget." Sahut Vivian di susul gelak tawa keduanya.
Ceklek.!!
"Sudah bercandanya.? Ayo pulang.!!" Ucap Faro tiba-tiba sambil bersandar di pintu.
"Kak Revan. Aku pulang dulu ya." Ujar Vivian dan dia segera berdiri berjalan menghampiri kakaknya yang asyik bersandar di pintu.
"Hati-hati.!!"
"Oke." Sahut Faro sambil berlalu meninggalkan Revan di sana.