
Vivian dan bandnya juga sudah selesai tampil. Mereka sekarang sedang asyik nongkrong di depan pujasera yang berjejer menyajikan beragam jenis makanan dan minuman. Vivian menyeruput kopi susu miliknya sambil menyaksikan penampilan peserta lain.
Kopi yang masih panas atau hangat memang nikmat untuk segera dinikmati. Sesekali menatap layar ponsel yang sepi seperti kuburan. Vivian menghela nafas pelan dan memasukkan ponsel ke saku celana jeansnya.
Dion tidak pernah bosan memandang Vivian yang berada tepat di depannya sambil meminum kopi hitam miliknya. Yang hanya terhalang sebuah meja.
Dari kejauhan Vivian melihat seorang gadis dengan postur tubuh yang sangat ideal berjalan menghampiri mejanya. Kulit seputih salju dengan rambut berwarna pirang. Mengenakan dress casual berwarna pink dengan model bahu terbuka. Sangat elegan dan menawan bagi siapa saja yang melihatnya melintas.
Jasmine nampak seperti model yang sedang berjalan di catwalk yang disaksikan oleh banyak pandangan kagum. Terutama mata para lelaki.
Vivian berniat menyapa Jasmine terlebih dahulu dengan melambaikan tangan. Namun mengingat dengan apa yang terjadi kemarin saat disekolah membuat Vivian mengurungkan niatnya dan hanya senyum getir yang tampak di wajahnya.
Jasmine tiba-tiba menutup mata Dion dengan kedua tangannya. Dion terkejut dan meraba tangan yang menutup matanya.
"Siapa.?" Ujar Dion.
"Coba tebak.!! Sahut Jasmine dengan senyum mengembang.
Vivian hanya tersenyum melihat mereka yang sedang bertingkah layaknya sepasang kekasih yang sedang kasmaran.
Jasmine melepas tangannya dan mendekatkan kepala untuk menatap Dion dari samping. Begitu juga Dion memiringkan kepala menatap Jasmine. Tatapan mereka bertemu benerapa detik.
"Ehem.!!" Dafa berdehem disusul dengan yang lain yang membuat keduanya seketika menjadi malu.
Dion mempersilahkan Jasmine untuk duduk. Jasmine segera berinisiatif duduk di samping Dion dengan antusias.
"Hai Vi." Sapa Jasmine datar.
"Hai."
"Kak Dion. Aku pengen beli minuman di ujung sana." Pinta Jasmine dengan manja.
"Tinggal beli saja. Gampang kan." Ujar Dion sedikit cuek.
"Vivian. Kamu pengen makan apa lagi.?" Tanya Dion kepada Vivian. Membuat Jasmine mengerutkan bibir tidak senang.
"Nggak usah kak. Aku nggak laper." Sahut Vivian sambil tersenyum canggung.
"Kak Dion. Anterin.!!" Ujar Jasmine semakin manja dan menggandeng lengan Dion. Membuatnya merasa tidak nyaman di depan teman-temannya yang lain termasuk juga Vivian.
"Sudah anterin saja sana.! Kasihan kan kalau harus jalan sendiri. Ya nggak.?" Sahut salah satu teman sambil meminta pendapat yang lain.
Dengan berat hati Dion menuruti keinginan Jasmine untuk mengantarkannya membeli minuman yang dia inginkan. Vivian menatap punggung keduanya saat berjalan menjauh darinya.
Aku ikut senang melihat kamu mendapatkan apa yang kamu mimpikan selama ini Jasmine. Ujar Vivian dalam hati dengan senyum tulus di bibirnya.
Vivian segera tersadar.
Apa Jasmine marah sama aku gara-gara kak Dion dekat sama aku ya.? Ya ampun Vivian. Kenapa kamu tolol banget sih. Kamu kan tahu kalau Jasmine cinta mati sama Dion. Sambung Vivian dalam hati.
Saat Vivian berbalik dia melihat seorang pria mengenakan jaket levis warna navi di padukan dengan kaos putih yang terlihat di dalam balutan jaket yang dibiarkan terbuka serta celana jeans dengan sobekan di kedua lututnya. Tampilan yang begitu modis ditambah dengan sepatu warna putih.
Cowok itu keren juga. Tinggi dan tubuhnya porposional. Hati Vivian berdecak kagum.
Tubuh tinggi dan berisi yang nampak sempurna bagi kalangan wanita yang melihatnya berjalan mendekati Vivian.
"Sudah selesai.?" Ucapnya yang terdengar samar karena masker yang menutupi hidung dan mulutnya.
Suara itu membuat Vivian menoleh ke arah suara berasal. Vivian mengerutkan dahi melihat lelaki yang di kaguminya dalam hati sedang mengajaknya berbicara.
Lelaki itu melepas masker dan segera duduk di samping Vivian.
"Kak Faro."
"Kenapa.? Kamu nggak ngenalin aku lagi.?" Ujar Faro ketus.
"Di tutup pakai ini nih. Makanya aku nggak ngenalin." Sahut Vivian sambil menunjuk masker yang ada di tangan Faro.
"Hai kak." Sapa Dafa ragu.
"Hmm." Faro hanya bergumam membalas sapaan Dafa padanya.
Sikap Faro yang selalu dingin dan kaku terhadap orang lain membuat meja yang mereka tempati saat ini terasa membeku seperti tertelan salju.
"Kak Faro mau pesan apa.? Makan apa minum.? Biar Vivian belikan. Vivian mencoba mencairkan suasana yang terasa aneh itu.
"Nggak usah. Kalau kamu sudah selesai kita pulang sekarang." Sahut Faro ketus dengan pandangan tidak senang menatap semua teman Vivian yang mayoritas laki-laki. Terutama Dafa.
Vivian menelan ludahnya sendiri sambil bergantian menatap Faro kemudian melihat semua teman-temannya yang mulai ketakukan dengan kehadiran Faro disini.
Aku harus segera membawa kan Faro pergi dari sini. Jangan sampai mereka jadi korban Kak Faro selanjutnya.
"Kita pulang sekarang saja Kak." Ujar Vivian.
Faro segera berdiri dan menggandeng tangan Vivian. Vivian berpamitan kepada semua temannya dengan senyuman terpaksa di bibirnya. Teman-temannya mengerti dan menganggukkan kepala pelan. Faro dan Vivian meninggalkan Dafa dan semua temannya.
"Gila. Aura cowok barusan dingin banget." Celetuk salah satu teman Dafa.
"Iya. Bener banget. Bulu kudukku sampai berdiri semua nih. Serem." Sahut yang lain.
Dafa menghela nafas pelan dan segera meneguk jus apel sampai habis.
"Itu tadi siapa Daf.? Over protektif banget sama Vivian.? Pacarnya ya.?" Tanya teman Dafa antusias.
"Bukan. Barusan itu kakaknya Vivian." Sahut Dafa kesal. Walaupun dia idola di sekolah dan di segani banyak orang. Namun keberadaannya selalu menciut saat di depan Faro.
"Patesan. Kayak pernah lihat dimana gitu."
"Aku ingat sekarang. Waktu itu dia pernah jemput Vivian di depan Sekolah." Yang lain menimpali.
Dion kembali bersama dengan Jasmine yang membawa minuman di tangannya. Dion terkejut karena Vivian sudah tidak ada disana.
"Vivian mana.?" Tanya Dion.
"Sudah pulang." Sahut yang lain hampir bersamaan.
"Kok bisa.? Pulang sama siapa.? Naik apa.?" Pertanyaan Dion bertubi-tubi membuat Jasmine kembali mengerutkan bibirnya kesal.
"Woi. Sabar bro. Sabar" Sahut Dafa menenangkan Dion.
"Vivian di jemput sama kakaknya." Sambung Dafa.
"Siapa.? Candra apa Faro.?" Tanya Dion lagi.
"Siapa lagi yang over protektif sama Vivian kalau bukan Faro." Ujar Dafa sedikit kesal.
Jasmine duduk di depan Dion dengan raut muka kesalnya.
"Kenapa sih Vivian terus yang di bahas.? Bikin bete." Celetuk Jasmine yang tidak bisa menahan kekesalannya lagi.
"Memangnya kamu nggak lihat apa.? Kalau Dion ini." Ujar Dafa yang langsung di bungkam oleh tangan Dion.
"Bukan begitu Jasmine. Wajar dong kalau aku tanya kayak gitu. Kan Vivian berangkatnya bareng-bareng mereka. Masak harus pulang sendiri." Sahut Dion.
Bilang saja kalau kak Dion suka sama Vivian. Celetuk Jasmine dalam hati.
Dafa melepaskan cengkraman tangan Dion di mulutnya dengan paksa dan menatap Dion kesal.
"Oh gitu ya." Sahut Jasmine ketus.
Jasmine memilih untuk pulang terlebih dahulu dengan perasaan kesal. Dia juga semakin membenci Vivian.