
Matahari begitu terik siang itu. Terasa panas membakar kulit yang terbuka. Vivian mengelap keringat yang mengalir dari keningnya dengan asal-asalan lalu turun dari bus. Senyuman tipis nampak pada bibirnya yang mungil. Vivian terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Mencurahkan segala isi hati dan meluapkan semua gundah kepada teman-temannya membuat hati Vivian sedikit lega. Setidaknya itu bukanlah akhir dari segalanya. Jalan hidup Vivian masih panjang dan dia harus lebih tegar dan kuat untuk melangkah ke depan menuju masa depan yang cerah. Mencapai cita-cita dan membanggakan orang-orang disekitarnya.
Pulang ke rumah dengan suasana hati yang lebih baik. Amarah yang ada dalam hatinya sedikit demi sedikit mulai memudar. Apa yang dikatakan semua teman-teman Vivian saat berada di sekolah ada benarnya juga. Vivian tidak
sendiri dan masa depannya masih panjang serta masih banyak yang harus Vivian lakukan. Untuk saat ini Vivian hanya ingin fokus masuk ke SMA yang Vivian inginkan. Vivian tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan yang tiada arti dan seperti orang bodoh. Vivian mempersiapkan diri untuk menjalani tes beasiswa masuk ke SMA. Hari demi hari dia habiskan hanya untuk belajar dan belajar. Tekad Vivian untuk masuk ke SMA tersebut sangatlah kuat.
Siang itu Vivian sedang asyik membaca novel didepan rumahnya. Inilah salah satu hobi Vivian yang tidak banyak diketahui orang yaitu membaca novel romantis. Ada tukang pos berhenti tepat dihadapannya. Turun dari motor dan mengambil sebuah paket berwarna coklat. Awalnya Vivian mengira kalau dia hanya akan menanyakan alamat seseorang tapi itu semua diluar dugaannya. Vivian menutup novel dan segera berdiri karena tukang pos itu berjalan
menghampirinya.
“Vivian Maharani.!” Serunya.
“Iya saya sendiri.” Vivian sedikit terkejut mendengar nama lengkapnya diucapkan orang lain, karena baru kali ini dia menerima paket atas namanya sendiri. Entah siapa yang sudah berbaik hati untuk mengiriminya sebuah paket.
“Tolong tanda tangan disini.” Pinta tukang pos itu sambil mengulurkan sebuah pulpen hitam kepada Vivian. Vivian meraih pulpen tersebut dan menandatangani seperti yang diminta oleh lelaki yang mengenakan baju oren tersebut. Setelah selesai akhirnya Vivian menerima paket tersebut dan berterima kasih kepadanya. Tukang pos langsung berpamitan dan segera pergi untuk mengantarkan surat dan paket yang lainnya.
Vivian membolak balikkan paket tersebut dan segera masuk ke dalam kamar. Duduk didepan meja dan mengambil gunting yang berada didalam loker meja belajarnya. Vivian segera membuka paket tersebut menggunakan gunting. Rasa penasaran menyelimuti hatinya sekarang. Setelah beberapa lapis bungkus itu telah terbuka hingga nampaklah sebuah kotak dengan gambar telepon genggam. Vivian tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. Dia tersenyum dengan riang sambil memeluk kotak tersebut.
Telah lama Vivian menginginkan handphone tersebut. Terakhir saat ibunya menelpon melalui telepon rumah milik tetangga Vivian. Hal itu membuatnya merasa tidak enak hati dengan tetangganya tersebut karena setiap bertemu dengan Vivian selalu saja menyindir secara tidak langsung padanya. Hingga Vivian mengutarakan keinginannya agar ibunya membelikan sebuah handphone. Sehingga mereka lebih mudah untuk berhubungan antara satu dengan yang lain. Akhirnya keinginan untuk mempunyai sebuah handphone bisa terwujud sekarang. Dibalik kotak terdapat sebuah kertas dengan beberapa kata yang tertulis.
<< Vivian sayang. Gimana suka sama kado ibu.? Ibu harap dengan adanya handphone ini komunikasi dan kasih sayang kita semakin menumpuk nak. Ibu sayang Vivian. Ibu nitip ayah
sama adek ya sayang. Selagi ibu nggak ada Vivian harus sayang dan jagain mereka. Salam rindu untuk yang terkasih. Gadis kecilku Vivian. >>
Vivian tidak dapat membendung air matanya lagi. Dipeluknya surat yang menempel pada kotak tersebut dan semakin lama semakin erat. Vivian membayangkan ibunya sekarang berada dihadapannya dan memeluknya dengan erat.
Inilah kepedihan yang tidak pernah Vivian tunjukkan kepada siapapun. Kalau sebenarnya dia sangat rapuh dan haus akan kasih sayang seorang ibu. Dia tidak pernah merasakan pelukan ibunya lagi sejak dia baru duduk kelas satu Sekolah Dasar. Setiap ada orang yang bertanya menyinggung soal ibunya, dia selalu bersikap tegar di depannya meski yang bertanya kala itu keluarganya sendiri. Vivian menyimpan semua kepedihan dalam hatinya.
Vivian berbaring ditempat tidur sambil memeluk kotak yang belum sempat dia buka. Memejamkan mata dan membayangkan ibunya sedang berdiri mengenakan daster warna kuning sambil tersenyum menatap kearahnya.
Vivian janji bu. Vivian akan jaga ayah sama adik. Vivian juga janji akan masuk ke sekolah ternama pilihan Vivian. Agar ibu dan ayah bangga sama Vivian. Vivian janji. Vivian mengatakan semuanya dalam hati.
Perlahan Vivian mulai tertidur dan memasuki alam mimpi yang begitu indah hingga membuatnya tersenyum dalam tidurnya.
Sore itu Vivian tebangun dari tidur siangnya. Hari ini libur mengaji karena ustad Fathon pergi ke rumah saudaranya yang sedang hajatan didesa tetangga. Vivian memainkan handphone barunya dan duduk bersandar dikursi depan rumahnya. Entah dari mana Mala dan Juwita datang. Karena mereka tiba-tiba telah berada didepan Vivian. Raut muka mereka begitu kesal hingga membuat Vivian mengerutkan dahi dan beranjak dari duduknya.
“Kalian kenapa.? Mukanya gitu amat. Serem.” Seru Vivian sambil tersenyum berharap kedua temannya juga ikut tersenyum karena leluconnya.
“Vivian kamu harus ikut kita sekarang.!” Juwita menarik salah satu tangan Vivian.
“Eh. Tunggu dulu. Memang mau kemana.?” Vivian menarik tangannya lagi.
“Udah ikut aja.!” Sahut Mala sambil meraih tangan Vivian dan memberikan kode kepada Juwita untuk menarik tangan Vivian yang satunya. Mereka membawa Vivian ke pinggir sungai yang berada dekat dengan rumah Juwita. Vivian merasa sangat bingung dengan sikap kedua temannya. Mereka sekarang berada dibalik semak. Mala mengisyaratkan untuk diam dan tidak berisik. Vivian menuruti keinginan temannya tersebut hingga dia mendengar suara seseorang yang sedang berbincang disisi sungai yang lain.
“Siapa dulu. Jalal.” Sahutnya dengan bangga.
“Bukannya Nurdin juga suka sama Vivian. Dan aku dengar Vivian menyatakan perasaannya juga sama dia.” Katanya.
“Itulah bodohnya Nurdin. Sebenarnya ya aku juga tahu kalau Nurdin juga suka sama Vivian. Makanya saat aku tahu Vivian ingin menyatakan perasaannya kepada Nurdin. Aku mengambil langkah duluan. Aku bilang sama Nurdin
kalau aku suka sama Vivian. Eh siapa sangka kalau Nurdin rela mengubah isi surat dan mengganti dengan namaku.” Jelas Jalal sambil tertawa puas.
“Itu namanya rejeki nomplok.” Sahut temannya dan juga ikut tertawa puas.
Vivian membungkam mulutnya sendiri dengan linangan mata yang tak tertahankan. Juwita mengepalkan tangan dan bersiap untuk segera berdiri menghampiri Jalal dan temannya itu. Namun Vivian menggenggam lengan Juwita dan melarangnya. Mala hanya mengangguk menyetujui kepusutan Vivian.
“Gimana persiapan pernikahannya.? Lancar kan.?” Temannya bertanya lagi.
“Lancar, semua sudah ada yang ngatur.” Sahut Jalal singkat.
“Enak ya habis ini jadi mantunya pak Lurah.” Sambil menepuk bahu Jalal dan tersenyum.
“Biasa aja. Ya mau gimana lagi, kamu tau kan aku sama Hana sudah pacaran cukup lama. Aku sangat mencintainya hingga rasa cintaku semakin lama semakin menumpuk. Hana gadis yang sangat cantik. Dia juga sangat pintar dan yang terpenting ayahnya adalah orang yang berpengaruh didesa ini.” Jelas Jalal dengan gamblang.
“Terus Vivian gimana.? Tanyanya lagi.
“Vivian.? Dia itu hanya gadis bodoh kemarin sore. Lagi pula aku hanya ingin main-main saja sama dia. Aku tidak pernah menganggapnya serius.” Cetus Jalal cuek.
“Kamu jangan kayak gitu dong. Bagaimana pun Vivian itu juga seorang cewek. Kalau dia sampai tahu gimana.?” Jawab temannya dengan sedikit iba.
“Cewek kamu bilang. Lebih tepatnya bukan cewek tapi anak baru kemarin sore yang haus akan cinta. Ya kalau ketahuan mau gimana lagi.” Ucap Jalal disusul dengan tawa yang begitu menyayat hati Vivian. Teman jalal hanya diam dan tersenyum menanggapi sikap Jalal yang sangat berlebihan.
Vivian tidak dapat mengendalikan dirinya lagi. Semua yang telah dikatakan Jalal sangat menyakiti hatinya. Dia segera berdiri dan menghampiri Jalal yang masih tertawa. Mala dan Juwita menyusul dibelakangnya.
“Aku memang gadis bodoh ya.? yang dengan mudah kamu mainin.! Dan aku hanya anak kemarin sore yang haus akan cinta.” Kata Vivian dengan suara sedikit serak karena tangis.
“Vivian. Kenapa kamu disini.?” Jalal terkejut dan sangat kebingungan.
“Kenapa kak.? Kaget aku ada disini.? Kak Jalal itu memang lelaki brengs** yang pernah aku kenal. Aku nyesel udah pernah kenal sama kakak.” Ucap Vivian sedikit menggebu-gebu.
“Kamu dengerin aku dulu Vi.” Pinta Jalal memohon.
“Nggak ada yang perlu dijelasin. Semuanya sudah jelas sekarang.” Vivian sedikit tertawa disela ucapannya. “Terima kasih banyak, setidaknya kamu mengajarkan satu hal sama aku. Bahwa jadi cewek nggak boleh lemah dan mudah percaya sama orang lain. Jadi ke depannya aku nggak bakalan sakit hati lagi hanya gara-gara seorang cowok yang brengs** kayak kamu.” Lanjut Vivian tegas.
Jalal hanya bisa diam mendengarkan semua yang dikatakan oleh Vivian. Dia merasa sangat bersalah kepadanya. Bagaimana pun Vivian juga seorang cewek. Dan dia telah menyakiti hatinya. Vivian berlari meninggalkan mereka semua. Air mata tak dapat terbendung lagi. Mengalir bagai aliran sungai yang begitu deras. Sakit dibadan sangat memungkinkan untuk diobati tapi sakit dalam hati akan selamanya membekas meski terkikis oleh waktu. Trauma akan kisah percintaan akan selalu menghantui fikirannya.