Point Of Love

Point Of Love
Kita Sudah Kenal Lama



Siang itu Vivian sedang masak spageti seperti yang telah Candra perintahkan. Sedangkan Candra sendiri sibuk dengan laptopnya di ruang tamu. Kali Candra mengambil cuti cukup lama. Karena parusahannya sedang membatasi kegiatan di kantor. Jadi Candra bisa bekerja dari mana saja termasuk dari rumah.


Vivian telah selesai memasak dan dia melepaskan celemek lalu menggantungnya di tempat biasa. Membawa dua piring spageti yang terlihat begitu lezat ke ruang tengah. Karena mereka tidak punya ruang makan maka setiap makan mereka akan memilih di depan televisi atau di ruang tamu.


"Mas Candra." Teriak Vivian.


"Hmmm." Sahut Candra yang masih sibuk dengan laptopnya.


"Sudah matang nih spagetinya. Makan dulu nanti keburu dingin nggak enak mas." Ujar Vivian.


"Iya dek. Bentar lagi. Nanggung nih." Sahut Candra yang tidak beranjak dari tempatnya duduk sekarang.


Vivian kesal mendengar jawaban dari kakaknya. Dia meletakkan piring di samping meja televisi dan berjalan cepat menuju ruang tamu. Langkah kakinya terdengar keras dan kasar di telinga.


Vivian berdiri di depan Candra sambil berkacak pinggang menatap Candra dengan wajah kesal.


"Kamu kenapa dek.?" Tanya Candra santai seolah tidak terjadi apa-apa.


"Makan dulu mas.!!" Seru Vivian dengan nada datar.


"Iya. Bentar lagi nih." Sahut Candra tanpa melihat keberadaan Vivian.


"Mas.!!" Sentak Vivian kesal.


"Iya. Iya. Sudah selesai nih." Ujar Candra sambil meng shut down laptop dan menutupnya.


Vivian dengan wajah kesal pergi menuju ruang televisi tanpa menunggu Candra. Candra dengan patuh mengikuti langkah kaki Vivian di belakangnya.


"Kan mas sudah nurut sama kamu. Sekarang jangan marah lagi dong.!!" Ujar Candra sedikit menggoda Vivian yang terlanjur ngambek dengan bibir yang sedikit manyun ke depan.


"Males." Sahut Vivian cuek.


"Adek mas ini kalau lagi ngambek tambah imut aja." Ujar Candra sambil mencubit hidung Vivian yang terbilang mancung.


"Mas Candra." Teriak Vivian kesal.


Candra merangkul bahu Vivian dan mengacak-ngacak rambutnya dengan gemas.


"Mas Candra jail banget sih." Seru Vivian sambil merapikan rambutnya yang berantakan.


"Dek. Weekend ini kita camping yuk." Ujar Candra sambil meraih sepiring spageti dan memakannya.


"Tumben." Sahut Vivian heran.


 "Dalam rangka apa mas Candra ngajakin aku camping.?" Lanjutnya.


"Nggak ada. Lagi pengen aja." Sahut Candra sambil melahap makanannya. Vivian tidak menjawab dan lebih memilih untuk memakan spageti miliknya.


“Memangnya kamu ada acara weekend ini.?” Tanya Candra.


Vivian hanya menggelengkan kepala pelan.


“Cuma kita berdua apa gimana mas.?” Ujar Vivian sambilmemutar-mutar spageti menggunakan garpu miliknya.


 “Kalau mas terserah kamu saja dek. Kalau kamu suka kita rame-rame kesana. Kamu boleh kok ajak teman-teman kamu. Yang paling penting buat mas bisa refresing bareng sama kamu.” Sahut Candra.


“Beneran mas boleh.?” Ujar Vivian terdengar senang. Candra hanya tersenyum sambil mengelus rambut Vivian.


“Kalau gitu aku mau ngajak Mala sama Juwita. Oh iya mas sekalian saja kita ajak kak Faro. Gimana.?” Ujar Vivian antusias.


“Boleh. Tapi kamu yang ngomong sama dia. Mas lagi nggak mood.” Sahut Candra sambil beranjak dari tempat duduknya.


“Kenapa.? Kalian marahan lagi.?” Ucap Vivian sedikit berteriak karena Candra sudah masuk ke dalam untuk meletakkan piring kotor di dapur. Vivian hanya terkekeh sambil menghabiskan spageti miliknya yang tersisa sedikit.


Sore itu Candra dan Vivian pergi ke sebuah toko yang menyediakan perlengkapan untuk camping. Karena ini sesuatu yang belum pernah mereka lakukan maka mereka perlu banyak perlengkapan yang harus disiapkan. Dalam hal ini Candra tidak terlalu paham dengan peralatan apa saja yang perlu disiapkan. Maka dengan sangat tepaksa dia harus meminta tolong pada Faro untuk menemani mereka berbelanja kali ini. Walau dalam hati Candra menolak semuanya.


“Yang ini sepertinya cocok denganmu Vivian.” Seru Faro saat mengenakan sebuah syal warna hijau pada leher Vivian.


“Kalian ini apa-apaan sih.?” Ujar Candra kesal karena merasa diabaikan oleh keduanya sambil mencoba melepas syal yang sudah ada di leher Vivian.


“Mas Candra apaan sih. Bagus tahu.” Ujar Vivian sambil mengelak dan menolak syal itu terlepas darinya.


Vivian mengambil sebuah topi jenis beanie warna hitam dan mengenakan topi itu kepada Candra. Candra hanya terdiam dan sedikit terkejut menerima perlakuan adiknya.


“Ini baru masku yang paling ganteng.” Seru Vivian dengan perasaan senang. Candra hanya tersenyum senang mendapat perhatian dari adiknya yang mulai beranjak dari anak-anak menjadi remaja yang terlihat manis.


Vivian sibuk memilih baju hangat dan memilih beberapa jaket yang menurutnya terlihat lucu dan modis. Faro menghampiri Candra yang tersenyum sendiri melihat tingkah Vivian yang tak biasa baginya.


“Kamu kenapa Ndra.?” Ucap Faro membuka pembicaraan di antara keduanya.


“Nggak terasa ya Al. Dia sudah sebesar ini.” Ujar Candra pada Faro. Faro tersenyum sambil merangkul bahu Candra serta ikut memperhatikan Vivian.


“Kamu inget nggak. Dulu waktu masih kecil dia suka banget gendong belakang sama kamu Al. Katanya dia paling seneng kalau yang gendong cowok ganteng. Dan impiannya waktu itu jadi istri kamu. Dan lucunya lagi kamu menolak mentah-mentah keinginannya waktu itu. Konyol banget pokoknya.” Seru Candra sambil tertawa renyah mengingat masa-masa kecil mereka yang sempat tumbuh bersama.


“Apa dia masih ingat kejadian waktu itu.?” Tanya Faro sedikit antusias.


“Maksud kamu.?” Sahut Faro mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Faro padanya.


"Aku nggak bermaksud apa-apa. Kalau hal itu masih menjadi impiannya. Aku mau menarik kembali ucapanku waktu itu. Bagaimana menurutmu Ndra.?" Ujar Faro berharap.


"Aku akan menolaknya untuk Vivian. Aku nggak akan pernah setuju dengan hubungan kalian." Sahut Candra kesal.


“Kamu bukan orang lain dalam hidupku Ndra. Kita sudah kenal dari dulu. Kamu yang paling tahu bagaimana perasaanku pada Vivian.” Ujar Faro tulus.


“Kita sudah pernah bahkan sering membahas hal ini Al. dan kamu tahu sendiri apa jawabanku untuk semua ini.” Ucap Candra sedikit sinis.


Faro terdiam mendengar pernyataan Candra yang begitu menyayat hatinya dan terasa begitu perih.


Vivian yang melihat dari kejauhan raut muka Candra yang tidak menyenangkan saat menatap Faro merasa sedikit merinding. Tatapan Candra yang begitu tajam dan terihat serius seakan memendam sesuatu yang begitu besar dalam hatinya. Vivian segera bergegas menghampiri keduanya.


Mas Candra sama kak Faro wajahnya tegang banget. Apa mereka bertengkar lagi.? Nggak. Nggak mungkin kalau bertengkar raut mereka sampai seperti itu. Apa ada sesuatu yang mereka sembunyikan dariku.? Ujar Vivian dalam hati.


Faro yang mengetahui Vivian sedang menghampiri mereka segera menyenggol lengan Candra. Candra segera sadar dan melihat Vivian sudah berada beberapa meter darinya.


“Kalian kenapa.?” Tanya Vivian asal.


“Kenapa. Kita Cuma ngobrol biasa saja kok. Nggak ada yang begitu penting. Ya nggak.?” Sahut Faro sambil menyenggol lengan Candra sekali lagi.


“Iya betul. Nggak ada yang penting.” Ujar Candra sambil menggelengkan kepala.


“Kamu sudah dapat yang cocok belum dek.?” Tanya Candra mencoba mengalihkan perhatian Vivian. Candra segera mengajak Vivian menjauh dari Faro dan menuju kasir.


Vivian hanya berlalu menuruti keinginan kakaknya. Meninggalkan Faro yang masih terdiam dan termenung melihat dirinya menjauh menuju kasir. Terlihat Faro menghela nafas dalam dari mulutnya dan berjalan perlahan menghampiri Vivian dan Candra.


Setelah selesai membayar di kasir, Vivian meminta Candra untuk membelikannya sebuah ice cream cone di sebuah kedai ice cream yang ada di Mall tersebut. Candra dengan senang hati melakukan permintaan adik kesayangannya itu. Saat Candra sedang sibuk memesan ice cream, Vivian mendekati Faro dan menyodorkan sebuah tas belanjaan kepadanya.


“Buat mas Faro.” Ujar Vivian sedikit malu.


“Apa ini Vi.?” Tanya Faro sambil tersenyum.


“Sebagai ucapan terima kasih karena kak Faro sudah mau menemani aku beli perlengkapan buat camping.” Ujar Vivian sedikit canggung.


“Kenapa jadi repot kayak gini.” Sahut Faro.


“Ya kalau nggak mau. Kembaliin saja sini.” Ujar Vivian.


“Nggak. Enak aja.” Sahut Faro dengan cepat. “Lagian ya sesuatu yang sudah diberi kepada orang lain, mana boleh diminta lagi. Pamali tahu.” Lanjutnya.


"Masak sih.?" Ujar Vivian meledek.


Vivian hanya terkekeh mendengar pernyataan Faro padanya. Faro juga ikut tersenyum melihat Vivian yang begitu bahagia saat ini.


Dari kejauhan Candra yang melihat adik dan sahabatnya tertawa bersama, terlihat tidak begitu senang. Candra berjalan mendekati keduanya dengan wajah datar tanpa ekspresi.