Point Of Love

Point Of Love
Aku Bukan Penghianat



Sepekan berlalu setelah malam itu. Vivian tinggal di rumah barunya seorang diri. Candra juga harus kembali ke kota untuk bekerja. Namun Candra juga tidak terlalu ceroboh membiarkan adiknya tinggal sendiri di rumah. Candra memasang CCTV di setiap sudut rumah dan perumahan. Agar dia bisa memantau pergerakan Vivian setiap harinya.


Sedangkan Mala dan Juwita berkunjung ke rumahnya setelah pulang sekolah. Hal itu menjadi hiburan tersendiri bagi Vivian.


Faro juga hampir setiap hari menemui Vivian. Kadang menjemput dan mengantarkannya pulang sekolah. Kadang juga hanya sekedar main saja.


Setiap akhir pekan Candra akan menyempatkan kembali dan pulang ke rumah Vivian. Candra tidak ingin adiknya merasa kesepian. Maka dengan berat hati Candra meminta Faro agar menjaganya saat dia tidak ada disana. Faro yang mendapat mandat itu begitu antusias dan bersemangat. Tanpa Candra memintanya pun Faro akan dengan senang hati melakukannya.


Pagi itu seperti biasa Vivian menyiapkan perlengkapan sekolah. Memasukkannya ke dalam tas warna hijau dan menenteng tas itu di bahu dengan asal. Keluar dari kamar dan menutup pintu. Memandang jam dinding di atas pintu dapur sesaat.


Sudah jam enam lewat lima belas menit. Vivian segera mengambil sepatu di rak belakang pintu dan memakainya.


"Beres." Ucap Vivian pada dirinya sendiri.


Vivian keluar rumah dan tidak lupa mengunci pintu. Saat Vivian berbalik.


"Astagfirulloh." Teriak Vivian terkejut sambil mengelus dadanya sendiri.


Faro sudah berdiri tepat di depannya sambil tersenyum simpul.


"Selamat pagi cantik." Sapa Faro.


"Pagi-pagi sudah gombal." Ujar Vivian kesal.


"Siapa juga yang gombal. Aku bicara berdasarkan fakta." Sahut Faro sambil menyodorkan helm kepada Vivian.


"Bohong." Seru Vivian mengambil helm dari tangan Faro dan memakainya. Namun saat menguncinya Vivian masih saja kesulitan.


"Sini kakak bantu. Dari dulu nggak ada perubahan. Masih saja nggak bisa." Ujar Faro.


"Biarin. Bawel."


Klik.!!


"Sudah. Beres." Ujar Faro.


Faro menstater motor dan menyuruh Vivian agar segera naik. Vivian naik dengan kasar ke atas motor. Membuat Faro terkejut dan hampir tidak bisa menjaga keseimbangan.


"Pelan-pelan Vivian.!!" Seru Faro. Namun Vivian yang masih merasa kesal hanya diam tidak merespon.


Faro melirik sedikit ke belakang dan mendapati muka Vivian sudah cemberut tidak sedap di pandang.


"Ngambek.?" Ucap Faro sedikit meledek. Vivian semakin tidak terkendali.


"Tau ah gelap." Sahut Vivian malas.


"Pegangan.!! Nanti jatuh lagi." Seru Faro sambil tersenyum simpul melihat ke depan.


"Bodoh amat."


Faro melajukan motor dengan kecepatan penuh. Hal ini membuat Vivian merasa sedikit takut hingga dengan perasaan terpaksa dia harus memeluk pinggang Faro dengan erat.


Kegembiraan dalam hati Faro tak dapat di pungkiri lagi. Hal ini tidak bisa menahannya untuk tersenyum senang. Semua tergambar jelas di wajah Faro. Pagi itu terasa begitu istimewa baginya.


Waktu berjalan dengan sangat cepat. Tidak membutuhkan waktu yang begitu lama akhirnya mereka sampai juga di depan pintu gerbang sekolah.


Vivian turun dari atas motor sambil melepas helm. Memberikannya kepada Faro yang masih duduk di atas motornya.


Rambut Vivian yang sedikit berantakan usai mengenakan helm membuat Faro berinisiatif. Faro menyuruhnya mendekat. Dengan penuh kasih sayang Faro merapikan rambut Vivian dengan tangan kosong.


Vivian terkejut mendapati sikap Faro padanya.Vivian yang semula kesal berubah menjadi diam dan penurut. Perlahan pipi Vivian memancarkan rona merah muda. Vivian segera menepis tangan Faro dan berlari ke dalam sekolah.


Tanpa sengaja pagi itu mereka telah menarik perhatian siswa yang melintas di dekat mereka. Ada yang memuji keromantisan dan perhatian sebuah pasangan. Ada juga yang mencibir tidak tahu malu melakukan semuanya di depan umum.


Ada apa denganku ini.? Kenapa jantungku berdegup kencang kayak gini.? Tenang Vivian.!! Kamu harus tenang. Seru Vivian dalam hati sambil mengelus dadanya sendiri beberapa kali.


"Aduh. Kak Dion ngagetin aja." Sahut Vivian.


"Hahaha." Dion tertawa renyah.


"Lucu aja lihat ekspresi kamu kayak gitu." Ucap Dion.


"Kak Dion apaan sih.? Nggak lucu tahu." Seru Vivian kesal.


"Maaf deh. Memangnya kamu kenapa barusan.? Kayak ketakutan gitu." Ujar Dion.


"Aku nggak apa-apa kok. Oh iya, aku mau mengucapkan terima kasih sama kak Dion." Ucap Vivian sambil berjalan pelan bersama dengan Dion di sampingnya. Kedekatan mereka pagi itu banyak menarik perhatian seluruh warga sekolah. Karena kebanyakan dari mereka begitu mengidolakan Dion.


"Terima kasih buat apa.?"


"Karena waktu itu kak Dion sudah mau menolong dan membantuku."


"Sudah menjadi kewajiban kita untuk saling tolong menolong. Dan kamu harus ingat satu hal Vivian. Dalam kamusku tidak menerima kata terima kasih untuk seorang teman." Ujar Dion tersenyum simpul. Membuat Vivian juga ikut tersenyum dibuatnya.


Dion menoleh ke arah pintu gerbang dan melihat Faro yang masih stay di atas motor sambil memperhatikan Vivian.


"Kamu tadi berangkat sama siapa Vi.?" Tanya Dion asal.


"O itu. Aku di antar sama kak Faro." Ucap Vivian santai.


"Kak Faro.? Pacar kamu.?" Tanya Dion.


"Hahaha. Kak Dion bisa ngelawak juga." Vivian tertawa lepas dan berkata "Sudah yuk masuk." Ajak Vivian yang sudah berjalan menyusuri beberapa ruang untuk menuju kelasnya.


Dion hanya bisa tersenyum sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Berjalan bersama Vivian sambil sesekali tertawa bersama.


Tatapan Faro yang tajam bagai pedang tak dapat terlepas dari Dion yang mencoba mendekati Vivian. Dia memandang penuh dengan kebencian. Faro menghidupkan motor dan meninggalkan tempat itu dengan kekesalan dalam hatinya.


Keakraban antara Vivian dan Dion juga tak luput dari pandangan Jasmine pagi itu. Tangan Jasmine mengepal secara tiba-tiba. Meremas tali tas yang tergantung di bahunya.


Semua berjalan seperti biasanya. Pembelajaran juga berjalan dengan lancar sampai jam istirahat tiba. Vivian pergi ke kantin seorang diri. Tidak seperti biasa, hari ini Jasmine tidak berkunjung ke kelasnya.


Saat Vivian sampai di kantin dia melihat Jasmine sedang bercanda dengan teman sekelasnya. Vivian tersenyum simpul sambil melambaikan tangan padanya. Namun Jasmine tidak mendengar dan melihatnya. Vivian segera membeli jus jeruk pada ibu kantin. Lalu berjalan mendekati Jasmine sambil membawa jus jeruk di tangannya.


"Hai cumut." Sapa Vivian.


"Hai Vi." Sahut Jasmine malas.


"Aku boleh gabung nggak.?"


Jasmine dengan ekspresi datar. Menjawab dengan santai.


"Maaf ya Vivian. Aku lagi asyik nih sama temen-temenku. Sudah nggak ada tempat buat penghianat kayak kamu." Seru Jasmine dengan nada kasar.


"Maksud kamu.?" Vivian terkejut sambil mengerutkan dahi.


"Mending kamu pergi saja sana.!!" Sentak salah satu teman Jasmine.


Perih dan sakit hati Jasmine terhadap Vivian membuat hubungan persahabatan mereka semakin jauh.


"Ngapain kamu masih disini.? Pergi sana.!!" Seru teman Jasmine yang lainnya.


"Oke. Aku pergi." Ucap Vivian lesu. Vivian meninggalkan Mereka dengan perasaan kecewa dan bingung. Kecewa karena sikap Jasmine yang kasar terhadapnya. Dan bingung dengan apa yang telah di ucapkan Jasmine padanya. 'Penghianat' apa maksud dari ucapan Jasmine itu.


Apa maksud kamu Jasmine.? Penghianat.? Aku bukan penghianat. Dan aku tidak pernah menghianati kamu. Ucap Vivian dalam hati.


Dengan terpaksa Vivian meninggalkan Jasmine bersama dengan teman-teman barunya.