Point Of Love

Point Of Love
Mereka Tahu..



Tatapan tajam dari sorot mata Jasmine terpampang dengan jelas kalau dia sangat membenci Vivian. Di depan matanya sendiri dia menyaksikan Dion mencoba mendekati Vivian. Bahkan mengajaknya untuk pulang bersama.


Jasmine dengan pesona yang dia miliki segera berjalan mendekati Dion dan yang lainnya. Berlian dkk melihat semuanya dan segera paham dengan situasi yang telah terjadi antara Vivian dan Jasmine.


"Oh my god." Celetuk Pertama sambil menatap dua sahabatnya seakan tak percaya.


"Jadi ini alasan sahabat kamu menjauhimu.? Nggak banget." Tanya Berlian pada Vivian.


"Ha. Maksud kak Lian apa.?" Ujar Vivian gugup. Berharap mereka tidak tahu kalau pertengkarang ini disebahkan oleh seorang laki-laki yaitu Dion.


"Tenang Lian. Biar aku saja yang memperjelas semua. Vivian, kamu lihat sendiri kan sekarang. Sahabat kamu sedang mencoba mendekati Dion. Cowok terpopuler di sekolah ini. Ya walaupun sudah tidak semenarik yang dulu." Ujar Intan sambil melirik Berlian.


"Menurut kacamata intuisiku jelas kalau dia suka sama Dion. Dan pastinya dia juga berharap Dion akan membalas perasaannya itu. Namun kenyataannya apa, jelas-jelas kalau Dion malah sukanya sama kamu." Lanjut Intan dengan panjang lebar.


"Vivian. Kamu cewek yang baik. Jadi nggak ada salahnya kalau Dion pun jatuh hati padamu." Celetuk Berlian.


Yang lain hanya menyetujui ucapan Berlian dengan anggukan kepala mereka.


Tiba-tiba ponsel Vivian berdering. Satu panggilan dari Candra. Senyuman manis langsung terpancar dari bibirnya. Vivian segera mengangkat telepon dari kakak kesayangannya.


"Assalamualaikum mas."


"Waalaikumsaalam adikku yang paling cantik. Kamu sudah pulang sekolah belum.?" Tanya Candra.


"Belum mas. Dua jam lagi baru pulang. Memangnya kenapa.?" Ujar Vivian bersemangat.


"Mas sudah ada di dalam kereta. Mungkin satu jam setengah lagi sampai di stasiun dekat sekolahmu. Kamu mau nggak mas jemput nanti.?" Ujar Candra.


"Mau. Mau banget." Ucap Vivian sedikit manja.


"Ya sudah. Mas tutup dulu ya. Assalamualaikum."


"Iya mas. Waalaikumsalam." Ucap Vivian sambil menutup teleponnya.


"Siapa Vi.?" Tanya Intan penasaran.


"Kakakku. Namanya mas Candra." Sahut Vivian sambil tersenyum.


"Kakak.? Yang biasa jemput kamu di depan sekolah yang pakai motor itu bukan.?" Ujar Permata mengklarifikasi.


"Bukan. Kalau yang itu namanya kak Faro." Sahut Vivian.


"Faro kakakmu juga.?" Tanya Permata.


"Sebenarnya dulu ibu kak Faro dan bapak angkatku mau menikah tapi nggak jadi. Setelah semuanya berlalu, kak Faro masih menganggapku sebagai adiknya sampai saat ini." Ujar Vivian sambil tersenyum.


Tringg..!!


Bel berbunyi tanda di mulainya jam pelajaran kembali. Semua siswa-siswa bergegas masuk ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.


Dua jam berlalu dengan sangat cepat. Vivian segera keluar kelas dan tidak sabar untuk bertemu dengan kakak yang sangat dia rindukan.


Vivian mempercepat langkahnya menuju pintu gerbang sekolah. Nampak dari kajauhan Candra sedang bersandar pada salah satu tembok yang ada di depan gerbang sekolah. Candra tersenyum melihat adiknya. Vivian segera berlari menghampiri Candra. Candra tersenyum lebar sambil membentangkan kedua tangannya. Vivian berhambur memeluk Candra dengan senyum ceria. Candra memeluk adiknya dengan penuh kasih sayang.


Semua mata memandang keduanya dengan tatapan tidak senang. Ada juga yang merasa sangat iri dan juga ingin seperti mereka berdua. Bisa di jemput seseorang yang spesial sepulang sekolah.


"Mas kangen sama kamu dek." Seru Candra sambil memeluk Vivian dengan erat.


Keduanya melepas pelukan dan saling pandang dengan senyum di bibir masing-masing.


"Ehem.. Ehem."


Suara Faro mengejutkan keduanya.


"Kenapa jadi mesra-mesraan di depan sekolah kayak gini sih. Nggak malu apa di lihatin banyak anak belum cukup umur." Celetuk Faro kesal.


"Biarin. Bilang saja kalau kak Faro cemburu." Ujar Vivian meledek Faro sambil menjulurkan lidahnya.


Candra hanya terkekeh mendengar ledekan Vivian pada Faro.


"Kamu ngapain sih jemput Vivian Ndra.? Kan sudah jadi tugasku." Seru Faro kesal.


"Memangnya salah kalau abangnya mau jemput adiknya sendiri.? Kenapa jadi kamu yang sewot sih Al.?" Ujar Candra sambil tertawa melihat tingkah Faro.


"Kalau tahu kamu sudah disini. Aku juga tidak perlu repot-repot datang kesini." Ujar Faro kesal.


"Aku sengaja. Biar sureprise." Sahut Candra tersenyum lebar.


"Oh jadi selama ini kak Faro jemput Vivian setiap hari usai pulang sekolah itu marepotkan. Ya sudah kalau gitu seterusnya nggak perlu repot-repot jemput Vivian lagi. Gampang kan.?" Sahut Vivian membuat Faro membelalakkan mata seakan ingin keluar.


"Bukan seperti itu Vivian. Tahu ah gelap." Ujar Faro kesal dan merasa apa yang akan dia katakan selanjutnya hanya akan menjadi bahan ledekan kakak beradik ini.


Vivian dan Candra hanya bisa tersenyum sambil menutup mulut mereka sendiri.


Berlian dkk sampai di depan pintu gerbang. Mereka berpapasan dengan Vivian serta kedua kakaknya yang sedikit konyol memperebutkan ingin menjemput Vivian. Vivian melambaikan tangan dan mereka juga membalas hal itu.


"Jadi pulang apa nggak.?" Tanya Faro kesal.


"Ya jadi lah. Tapi kamu pulang sendiri sana. Aku mau pulang sama adikku." Ujar Candra merangkul bahu Vivian dengan penuh percaya diri yang membuat Faro semakin kesal.


Vivian hanya terkekeh mendengar ucapan Candra pada Faro yang semakin membuatnya merasa jengkel. Beginilah cara mereka dalam berteman. Sehebat apapun mereka bertengkar namun itu hanya ucapan belaka. Mereka tidak pernah memasukkannya dalam hati.


Faro meninggalkan Candra dan Vivian dengan wajah kesalnya. Melajukan motor dan berlalu begitu saja. Candra dan Vivian juga akan meninggalkan tempat itu dan pulang ke rumah. Namun langkah mereka terhenti. Seseorang memanggil nama Candra.


"Mas Candra." Sapa Dion. Membuat ekspresi Candra yang semula ceria menjadi datar dan terlihat kesal.


"Hmm." Sahut Candra sambil melambaikan tangan cuek. Dion segera mendekati Candra dan Vivian.


"Kapan datang mas.?" Tanya Dion sok akrab.


"Barusan. Kenapa.?" Sahut Candra kesal. Vivian merasa tidak enak dengan Dion dan mencubit pinggang Candra sambil berbisik sangat pelan.


"Mas Candra bisa nggak jangan ngomong kayak gitu sama kak Dion.!!" Ucap Vivian lirih lalu memandang Dion sambil tersenyum yang dibuat-buat. Candra meringis mendapat cubitan kecil dari tangan Vivian tanpa mengeluh kesakitan.


Dion merasa canggung mendapat respon yang kurang baik dari Candra. Dion segera berpamitan dan berlalu pergi.


Candra dan Vivian saling pandang dengan pandangan yang sengit.


"Kenapa kamu jadi ngatur-ngatur mas.?" Ujar Candra kesal sambil melipat kedua tangannya.


Vivian melempar muka tidak menjawab pertanyaan Candra dan dia malah pergi meninggalkan Candra disana. Candra segera menyusul Vivian dari belakang dan menggelitiki pinggang Vivian hingga Vivian tertawa terbahak-bahak dibuatnya. Mereka bercanda sambil menunggu angkutan di pinggir jalan.