ONE Night In LONDON

ONE Night In LONDON
Boncap 2



Di lorong rumah sakit, Dino terus menggenggam tangan Istrinya yang merintih kesakitan.


"Emm, Mas sakit." Rantika terus mendesis kesakitan saat di bagian perutnya merasakan sakit yang tiada terkira.


"Iya sayang, tahan ya." Dino tampak panik dan ketakutan melihat wajah Rantika yang kesakitan dan suara rintihan yang menyayat hati.


Dino menemani sang Istri sampai masuk keruang persalinan, dan didalam dokter sudah bersiap akan membatu Rantika untuk melahirkan, karena Rantika sudah mengalami pembukaan lengkap dan karena itu dirinya merasakan begitu sakit yang luar biasa.


"Uhh Mas, aku tidak kuat." Ucapnya dengan suara rintihan.


"Kamu kuat sayang, kamu pasti kuat." Dino mengecup kening dan punggung tangan Rantika bergantian. Sampai-sampai Dino meneteskan air matanya saat melihat sang istri yang begitu kesakitan. "Demi buah hati kita sayang, kamu pasti kuat." ucapnya sambil tersenyum sedih.


"Ikuti instruksi saya nyonya. Tarik napas dan keluarkan perlahan." Ucap sang dokter yang membatu proses persalinan Rantika.


"Maaf, jika bisa aku saja yang menggantikan rasa sakit ini." Dino mengusap kening Rantika yang basah oleh keringat.


Rantika tidak menggubris apa yang diucapkan Dino, wanita itu sudah terlalu kesakitan merasakan tulang rusuknya seperti ingin lepas dari tempatnya.


"Dengarkan intruksi saya nyonya." Dokter kembali mengintrupsi.


Rantika menarik napas sebelum dirinya mengejan sesuai dengan arahan sang dokter.


Wanita itu mengerang keras dengan wajah bercucuran keringat saat sesuatu dalam dirinya mendesak ingin keluar. Sehingga membuat Rantika mengejan begitu kuat dan terdengar suara tangisan bayi yang begitu kencang dengan seluruh rasa sakitnya yang terlepas begitu saja.


"Selamat tuan dan nyonya, bayinya laki-laki dan sehat." Ucap dokter yang dengan tersenyum.


"Terima kasih tuhan, terima kasih sayang." Dino mengucap syukur dan mencium kening beserta wajah Rantika tanpa ada yang terlewat.


Rantika tidak bisa mengucapkan apapun kecuali hanya ada rasa syukur yang dia ucapkan didalam hati. Hari ini dirinya sudah menjadi ibu dan wanita seutuhnya setelah menikah dan melahirkan.


Siapa sangka satu malam di dalam mobil yang Rantika inginkan tapi juga tidak dia sangka bisa membawanya dalam kehidupan yang tidak pernah dia bayangkan.


Pria yang memang dia kagumi sejak pertama kali, dan dia cintai dalam diam kini sudah menjadi suaminya, bahkan dirinya telah memberikan seorang putra dalam kehidupan singkat mereka.


"Sayang lihat, dia mirip diriku bukan." Dino mencoba untuk belajar menggendong putranya meskipun dalam keadaan sedikit takut.


Kini Rantika sudah berada di ruang inap, setelah Dino melakukan tugasnya pertama kali saat putranya lahir. Pria itu tidak henti melengkungkan senyum melihat malaikat kecil yang ada di gendongannya.


Rantika hanya tersenyum melihat bayi mungil memang sangat mirip dengan sang suami.


"Aku yang mengandung, ngidam dan merasakan rasa sakit saat melahirkan, tapi kenapa wajahnya sangat mirip denganmu Mas. Tidak adil sekali m" Ucap Rantika merajuk dengan bibir mengerucut.


Dino tertawa. "Tapi dia hasil cetakkan ku sayang."


Rantika hanya mencebik, lalu ikut tersenyum juga. "Em, siapa nama untuk putra kita?" tanya Rantika sambil mengusap pipi kemerahan bayinya itu.


Dino duduk di samping ranjang, dengan Rantika yang menggendong sambil menyusui putranya.


"Em, Endrew."


"Bagaimana?" Tanya Dino sambil menatap putranya yang begitu lahap menyesap nutrisinya.


"Nama yang bagus." Rantika juga menatap suaminya dengan senyum. "Terima kasih Mas sudah hadir dalam hidupku, apalagi ditambah dengan kehadiran putra kita." Rantika bicara dengan tulus.


"Justru aku yang seharusnya berterima kasih, karena kedatangan mu membuat hidupku lebih berwarna dan bahagia, terima kasih kalian sudah hadir dalam hidupku." Dino memeluk dan mencium kening putranya dan beralih mencium Rantika. Keduanya tersenyum bahagia sambil menatap putra mereka.


.


.


Lunas untuk Rantika dan Dino..😌


Terima kasih kalian yang selalu mendukung author receh ini,😘 Love you All..


END