ONE Night In LONDON

ONE Night In LONDON
Rantika 2



"Sayang, apa kamu tidak ingin resign saja." Tanya Adam untuk yang kesekian kali pada istrinya itu.


Adam meminta Disya untuk berhenti bekerja, kehamilannya yang semakin besar membuat Adam merasa begitu tidak tega.


"Nanti saja, jika aku sudah benar-benar ingin resign."


Adam hanya menghela napas, pria itu beranjak dari duduknya dan menghampiri Disya yang berdiri didepan dapur sedang membuat kopi.


"Tapi aku khawatir jika kamu kelelahan." Adam ikut membuatkan susu hamil untuk istrinya, sejak kehamilan diawal Adam selalu yang membuatkan susu untuk ibu hamil yang menurutnya manja.


"Jika aku lelah aku akan berhenti sayang." Jawab Disya sambil tersenyum.


Adam hanya bisa diam dengan bibir mengulum senyum mendengar kata sayang dari Disya yang memang jarang sekali meluncur dari bibir Disya. Wanita itu lebih nyaman memanggil namanya saja.


"Kata keramat mu hanya untuk membuatku luluh saja." Kata Adam berjalan menuju meja makan untuk menaruh susu Disya disana.


"Karena kamu suka nurut kalau aku bikin salting."


"Bisa ya sekarang godain aku, hmm..." Adam menarik hidung Disya dan menggoyangkan kekanan dan kiri, membuat kepala Disya ikut menggeleng.


"Ish, kamunya aja yang suka baper." Disya menepis tangan Adam dari hidungnya.


Adam hanya terkekeh. "Nanti setelah pulang kerja aku akan mengajakmu ke suatu tempat." Ucap Adam sambil menyeruput kopinya.


"Kemana?" Tanya Disya sambil menoleh pada Adam yang baru duduk disebelahnya.


"Kejutan, kalau aku bilang sekarang bukan kejutan namanya."


Disya hanya mecebikkan bibirnya mendengar ucapan suaminya.


Selain menjadi pria pencemburu, Adam juga berubah menjadi pria yang penuh kejutan. Belum lama Adam memberikan hadiah sebuah kalung berlian yang begitu cantik dan indah untuk istrinya itu, dan tak lama dari itu Adam kembali memberikan kejutan untuk Disya diner romantis di tempat pertama kali mereka bercinta setelah pulang dari London, dan hal itu cukup membuat Disya malu karena mengingat percintaan mereka di waktu pagi menjelang siang.


Siapa sangka terakhir mereka melakukannya menjadikan keduanya memiliki ikatan pernikahan. Dan kini tanpa paksaan atau tuntutan, keduanya saling mencintai dan bahagia.


Di apartemen yang sederhana seorang wanita baru saja keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lemas dan wajah sedikit pucat. Meskipun kehamilannya baru memasuki 6 Minggu tapi rasa mual dan muntah nya tidak berkurang, justru semakin membuat wanita itu tersiksa.


Rantika mengusap wajahnya sambil duduk di pinggir ranjang. Dirinya bingung ingin melakukan apa, statusnya yang belum menikah tapi sudah hamil membuatnya merasa takut dan malu jika harus pulang kampung ke rumah kedua orang tuanya.


Sedangkan di kota dirinya tidak memiliki pekerjaan dan Siapa-siapa.


Rantika mengambil buku tabungan miliknya, dirinya melihat nominal terakhir uang yang dia milikki. Dan setiap bulannya Rantika harus mengirim uang untuk kedua orang tuannya yang ada di kampung, jika saja dirinya tidak mengalami morning sickness parah setiap pagi, Rantika masih memilih bekerja dan menyembunyikan kehamilannya. Tapi semua tidak seperti yang dia bayangkan, dan kini dirinya harus menjadi pengganguran.


"Tinggal segini hanya cukup untuk beberapa bulan." Ucapnya dengan wajah yang sedikit pucat, tabungannya hanya tersisa untuk hidup beberapa bulan kedepan setelah di potong untuk mengirimi keluarganya di kampung.


"Kalau seperti ini, aku harus m mencari kerja." Rantika mengembalikan buku tabungannya kedalam laci.


Pikiranya menerawang dengan bayangan saat terakhir dirinya bertemu dengan pria membuatnya menyerahkan segalanya untuk pria itu. Kedekatan pertama dan terakhir bagi Rantika dengan Dino, dan siapa sangka jika Dino mengundurkan diri setelah malam panas mereka di dalam mobil.


Rantika menyalahkan televisi, di jam segini dirinya selalu melihat acara televisi yang menyuguhkan berita bisnis, dan sering sekali di acara itu Dino selalu muncul.


"Kita lihat papa kamu sayang." Rantika mengusap perutnya yang masih rata, tatapannya lurus kedepan sambil tersenyum melihat acara bisnis yang menampilkan Dino saat menghadiri acara amal. "Nah itu papa kamu nak." Rantika begitu antusias dengan mata berbinar melihat acara live yang menampilkan Dino disana. "Meskipun papa mu tidak tahu kehadiranmu, tapi Mama akan menunjukan padamu jika kamu adalah anak seorang pria yang begitu baik dan bijaksana." Rantika begitu terharu melihat Dino disana. Pria itu terlihat begitu tulus dan senang ketika menyapa anak-anak panti, apalagi saat Dino menyapa anak yang masih kecil dan menggendongnya, rasanya begitu mengharukan.


"Kenapa tiba-tiba pengen makan es krim." Ucap Rantika yang tiba-tiba melihat iklan di TV menunjukan esktrim yang terasa nikmat, Rantika sampai menjilat bibirnya sendiri sangking pengennya.


"Terima kasih Om Dino..dadaa...!"


Semua anak-anak panti melambaikan tangan saat mobil Dino pergi meninggalkan halaman panti yang setiap bulan di datangi Dino dan tak luput dari kejaran wartawan, tapi tidak semua yang Dino lakukan di liput media.


"Bye...!!" Dino membalas lambaian tangan anak-anak yang sudah sangat akrab dengannya.


"Tio tolong mampir ke supermarket depan."Ucap Dino pada asistennya yang sedang menyetir.


"Baik tuan."


Dino kembali menatap jendela mobil. Bayangan seorang wanita yang memapah dirinya masuk kedalam mobil selalu berputar diingatnya, apalagi postur tubuh wanita itu tidak asing baginya, tapi Dino tidak bisa mengingat siapa wanita itu.


Di dalam bar, semua yang masuk privasinya sangat terjaga, meskipun dirinya pelanggan VIP dan memiliki kekuasaan, tapi Dino tidak bisa menemukan informasi wanita yang membawanya keluar, bahkan betander yang mengenal wanita itu dan juga dirinya tidak mau memberi tahu dirinya tentang kejadian malam itu, sungguh Dino begitu merasa tidak nyenyak untuk tidur, bayangan samar-samar didalam mobil itu terus hadir dalam ingatannya.


Sedangkan sekarang dirinya menjadi pria yang sibuk dengan perusahaan papanya. Hendro yang saat itu begitu marah dan murka ketika tahu jika berkas penting perusahaan Adam dikembalikan Dino, saat itu Dino tidak pulang dan menemui orang tuanya selama satu bulan untuk memenangkan diri, siapa sangka jika hal yang Dino lakukan malah membuat Hendro sakit hingga membuat papanya itu struk, Dino yang mendapat kabar itu langsung mengambil alih perusahaan papanya yang memang sudah seharusnya dirinya yang memegang.


Dan kini Dino adalah CEO perusahaan yang papanya kelola, Dino adalah anak tunggal yang tidak memiliki ibu, hanya ada ibu sambung dan memilki anak dari papanya yang masih duduk di bangku sekolah.


Ibunya meninggal saat Dino berusia 13 tahun, meninggal karena sakit keras dan tidak bisa di selamatkan, dan saat usianya 15 tahun, papanya kembali menikahi seorang janda yang tidak memiliki anak, dan setelah menikah 2 tahun dengan papanya, wanita itu hamil.


Meskipun begitu Dino tidak perduli dengan kehidupan kedua orang tuanya, dan dirinya hanya fokus dengan apa yang dia lakukan untuk kelangsungan hidupnya dan kelurganya.


"Sudah sampai tuan." Tio bersuara saat Dino tidak bergeming setelah mobil berhenti.


Dino yang sadar langsung menoleh dan melihat mobilnya sudah berhenti di depan supermarket.


Dino langsung keluar dan masuk kesupermarket untuk mencari yang dia inginkan. Pria itu langsung melangkahkan kakinya menuju tempat sesuatu yang dia cari.


Di sana Dino melihat seseorang yang sedang berdiri didepan frizer es krim, sepertinya orang itu bingung ingin mengambil yang mana.


"Tika..!"


Tubuh Rantika membeku saat telinganya mendengar suara yang familiar memanggil namanya.


"Rantika, kamu kah ini." Dino menyentuh lengan Rantika agar wanita itu menoleh padanya.


Jantung Rantika semakin berdetak kencang saat kedua matanya melihat wajah pria yang selalu dia rindukan di saat malam dan pagi. Kedua mata Rantika sampai berkaca-kaca, tapi sebisa mungkin dirinya tidak menunjukan rasa terharunya ketika melihat pria itu.


"Kamu disini? kamu tidak bekerja?" tanya Dino yang beruntun.


Dino tersenyum melihat mantan sekretarisnya saat bekerja di kantor Adam.


"Em, saya."


"Kamu apa kabar?" Dino masih menyentuh lengan Rantika.


Sedangkan tubuh Rantika sudah lemas, karena begitu merindukan pria yang sudah menitipkan darah dagingnya di rahimnya. Rantika ingin sekali memeluk pria didepanya yang menjadi ayah biologis anak yang dia kandung, entah kenapa hari-harinya begitu berat saat mengalami morning sickness yang begitu menyiksa.


"Sudahlah, aku tau pasti kamu baik-baik saja." Dino masih tersenyum menatap wanita yang tanpa sadar sudah mencintainya saat pertama kali menjadi sekretaris Dino.


Rantika hanya tersenyum tipis, mendengar ucapan Dino.


"Bapak ngapain disini?" tanya Rantika yang berusaha mengontrol debaran jantungnya yang sejak tadi terus berdebar kencang, bahkan hidungnya bisa mencium aroma parfum maskulin Dino yang begitu membuatnya merasa nyaman.


"Aku." Dino menatap jejeran es krim di dalam frizer yang tersusun rapi. "Nah ini." Dino megambil satu bungkus es krim bergambar Spongebob, dengan tiga rasa.


Rantika mengangkat satu alisnya melihat es krim yang mantan atasannya itu ambil.


"Bapak kan ngak suka makanan manis?" Ucap Rantika yang cukup tahu apa saja yang suka atau tidak Dino sukai.


"Em." Dino mengusap belakang lehernya. "Tidak tahu, hanya pengen makan ini saja." Jawabnya yang terdengar membingungkan bagi Rantika.


Rantika juga ikut mengambil apa yang dia inginkan, keduanya lalu berjalan ke kasir untuk membayar.


Dino menatap tubuh Rantika dari belakang, sepertinya dirinya merasakan sesuatu yang sama seperti wanita yang ada di vidio itu.


"Berapa Mbak?" Tanya Rantika pada kasir.


"Biar aku saja yang membayar, sekalian ini mbak." Dino menyerahkan eskrim yang dia ambil dan membayarnya.


"Terima kasih pak." Ucap Rantika setelah keluar dari supermarket.


"Kamu tinggal di dekat sini?" Tanya Dino yang melihat kesekeliling hanya ada mobilnya saja yang terparkir. dan beberapa kendaraan roda dua.


"Hm, saya tinggal di apartemen itu." Rantika menujuk bangunan apartemen yang terlihat dari supermarket itu.


Dino hanya mengagguk, "Duduk disini dulu, temani aku makan es krim ini sebelum mencair." Dino menarik tangan Rantika untuk membawanya duduk di kursi depan supermarket yang tersedia.


Rantika terpaku melihat tangan Dino yang menggenggam tangannya, rasa hangat dengan desiran halus dihatinya begitu terasa, bahkan bibirnya sampai membentuk senyum karena rasa bahagia.


"Duduk lah." Dino menyuruh Rantika untuk duduk di kursi dengan meja bulat kecil, keduanya duduk berhadapan. "Bukan kah ini terlalu pagi untuk memakan es krim?" Dino terkekeh. "Tapi aku sangat menginginkan nya." Pria itu membuka bungkusan es krim dan memakannya.


Ekpresi Dino membuat Rantika tersenyum. "Apakah pak Dino memiliki ikatan batin dengan anaknya." Batin Rantika sambil mengelus perutnya di bawah meja.


Pagi ini keduanya menikamati es krim seperti anak kecil, saling berbincang dan mengundang tawa keduanya ketika Dino mengingat suatu hal yang lucu saat mereka terlibat pekerjaan.


Drt... Drt... Drt...


Ponsel Rantika berdering, wanita itu melihat nomor keluarganya di kampung. Rantika pun segera mengangkatnya.


"Halo.."


"...."


"Apa? bagaimana bisa Bu." Rantika menutup mulutnya setelah menjatuhkan eskrim yang dia pegang ke lantai, air mata wanita itu luruh seketika.


"Iya Bu, Rantika akan pulang sekarang."


Setelah mematikan ponselnya, Rantika langsung ingin bergegas pergi tanpa ingat jika ada Dino yang duduk disana.


"Hey, mau kemana?" tanya Dino yang mencekal lengan Rantika ketika wanita itu hendak pergi dengan air mata yang bercucuran.


"Bapak saya pak." Rantika menangis, wajah wanita itu sudah basah dengan air matanya.


"Iya, bapak kamu kenapa? kamu mau kemana?" Tanya Dino yang merasa tidak rela jika Rantika pergi begitu saja.


"Bapak saya kecelakaan dan-dan keadaanya kritis, saya mau pulang." Rantika hendak kembali pergi dan melepaskan cekalan tangan Dino, tapi Dino kembali mencekal tangan Rantika lagi.


"Biar aku antar." Dino langsung menarik Rantika untuk masuk kedalam mobilnya, tanpa bisa menolak Rantika pun ikut masuk.


Apakah setelah ini Dino akan mengetahui keadaan Rantika yang sebenarnya???


Tinggalkan LIKe... Komen kalian sayang....🤣🤣🤣