ONE Night In LONDON

ONE Night In LONDON
Kembali bekerja



Liburan untuk bulan madu telah usai, kini kedua pengantin yang sudah mendahului malam pertama sebagai pengantin baru.


Adam membawa Disya pulang ke rumah orang tuanya, karena Disya ingin mengambil barang-barang penting miliknya.


Pagi ini Disya turun lebih dulu untuk sarapan bersama, karena hari ini dirinya kembali bekerja setelah berdebat dengan Adam saat masih di hotel.


Perdebatan mereka dilakukan dengan keadaan yang sama, sama seperti Disya membuat Adam mengakui sesuatu yang bagi Adam memalukan, dan cara Disya berhasil membuat Adam menuruti permintaannya untuk kembali bekerja, meskipun Disya juga menerima syarat dari Adam.


"Loh Sya kamu masuk kantor?" Tanya Frans lebih dulu dan mewakili pertanyaan Diana yang belum sempat terlontar.


"Iya ayah, Disya bosan jika harus di rumah." Jawaban Disya didengar Adam saat pria itu baru saja turun di tangga terakhir.


"Aku sudah melarangnya ayah, tapi keras kepalanya tidak bisa di lawan." Adam melirik Disya yang memanyunkan bibirnya saat Adam melewati tempat duduknya.


Adam menarik kursi di samping Disya, "Padahal aku khawatir jika dia kelelahan." Lanjut Adam dengan penuh rasa perhatian.


Frans mengaguk. "Tapi kalau Disya sendiri merasa mampu, dia pasti bisa. Hanya saja kalau terasa berat jangan dipaksakan ayah tidak mau terjadi sesuatu dengan calon cucu ayah dan kamu." Ucap Frans dengan menatap Disya.


"Iya nak, Mama setuju dengan kata ayahmu." Diana ikut menimpali.


"Disya kan sudah menjadi menager keuangan Yah, Mah. Jadi pekerjaan Disya tidak banyak, beda pada saat Disya masih jadi Staf." Bela Disya yang kekeh dengan pendiriannya.


Adam hanya diam mendengarkan, dirinya sudah tidak punya suara setelah kesepakatan itu terjadi kemarin. Dan Adam sudah pasrah dengan permintaan Disya yang ingin dituruti.


"Adam?" Frans menatap Adam dengan ekspresi bertanya.


"Terserah Disya yah, yang penting dia bisa jaga kesehatan. Jika sampai terjadi sesuatu maka Adam akan melarangnya kembali bekerja apapun alasannya." Adam menatap Frans dengan Disya bergantian.


Ya, itulah syarat dari Adam, jika terjadi sesuatu saat bekerja maka Adam berhak melarang Disya untuk kembali bekerja.


Frans mengaguk setuju, dirinya sudah tidak punya hak untuk melarang anaknya jika suaminya menginjinkan, tapi dengan keputusan Adam seperti itu Frans menyetujuinya.


"Ya, ayah setuju kalau seperti itu."


Disya semakin menekuk wajahnya mendengar ayahnya yang tidak lagi membelanya, padahal Disya berharap jika sang ayah akan membelanya.


"Pagi ini aku ke kontor cabang, dan pekerjaan Arfin yang akan menghandle yah." Kata Adam disela-sela mengunyah roti oles yang Diana siapkan.


Disya masih dengan wajah cemberut mengunyah roti selai strawberry yang menurutnya sangat enak, tanpa memperdulikan obrolan suaminya dengan sang ayah.


"Jika kamu ingin memantaunya lebih baik kamu pindahkan dia ke kontor pusat."


"Eh, siapa yang mau di pindahkan?" Disya bereaksi mendengar ucapan ayahnya. "Dan siapa yang di pantau?" Disya melirik Adam dengan tatapan memindai.


"Kamu, siapa lagi? ayah gitu?" Bukan mereka berdua, melainkan Diana yang ikut menyimak.


"Mana bisa, Disya ngak mau." Wanita hamil itu semakin merajuk saja.


"Apa karena Dinosaurus kamu-"


"Duh, mana ada. Aku ini istri kamu, gila saja aku main serong." Sanggah Disya dengan tegas. "Aku baru di sana dan aku hanya ingin menikmati pekerjaanku saja." Disya beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan meja makan dengan kesal.


Adam mengehela napas, Disya merajuk. "Bujuk saja, mekipun caramu serba salah. Karena ibu hamil maunya di rayu dan bujuk." Diana memberi nasehat untuk Adam menghadapi Disya yang merajuk dan hamil.


"Iya, apapun yang dia katakan bairkan saja tidak perlu melawan. Karena jika kamu melawan siap-siap saja jika nanti malam kamu akan memeluk guling mati."


Adam hanya bisa menelan ludah mendengar ucapan Frans. "Baiklah, Adam berangkat dulu mah, yah." Pamit Adam pada kedua mertuanya.


"Bagaimana bisa pria kaku dan dingin seperti Adam, mendapatkan Disya yang keras kepala itu." Frans bicara pada istrinya.


"Tuhan sudah mempersatukan mereka yah, yang penting do'akan saja mereka bahagia.


"Akkh..!!"


"Disya awass..!!"


Adam berlari dan langsung meraih pinggang Disya agar tidak jatuh ke lantai.


"Kenapa kamu selalu ceroboh hah..!!" Adam menatap tajam Disya dengan wajah menahan amarah.


Jantungnya hampir saja lepas, jika Disya sampai jatuh ke lantai.


Disya sendiri menutup matanya saat Adam bicara lantang di depannya, Disya juga merasakan hal yang sama jika saja sampai dirinya jatuh ke lantai.


"Jika kamu memang tidak menginginkan bayinya, setidaknya jaga dia untukku, setelah lahir terserah kau mau apa..!!" Adam yang sudah di kuasai amarah dengan tegas berkata demikian. Dan tanpa menunggu Disya bicara Adam sudah lebih dulu pergi dengan marahnya yang tertahan.


Air mata Disya jatuh bagitu saja, saat melihat Adam yang sudah masuk kedalam mobil dan meninggalkannya di teras rumah.


"Kenapa kamu membentakku." Disya mengusap air matanya dan memesan taksi untuk pergi ke kantor. Dirinya juga tidak sengaja saat akan jatuh, karena langkahnya yang tidak pelan-pelan Disya sudah dua kali membahayakan dirinya sendiri.


"Arrghh.. ****..!!"


Bugh


Adam memukul setir kemudi untuk melampiaskan kemarahannya pada Disya, dirinya terlalu khawatir hingga bicara keras pada Disya. Dan Adam memilih pergi sendiri untuk menghindar dari Disya karena rasa amarahnya.


Adam tidak ingin kembali melampiaskan pada sang istri, meskipun rasa bersalah kini menyelimuti hatinya.


Siapa yang tidak marah jika melihat istri yang sedang hamil tidak memerhatikan jalanya, siapa yang tidak emosi melihat untuk kedua kalinya sang istri hampir jatuh karena kecerobohannya sendiri. Adam kesal melihat Disya yang tidak lebih hati-hati, wanita itu seperti menyepelekan sesuatu.


Sampainya di kantor Disya langsung menuju rumahnya, di sepanjang jalan menuju ruanganya Disya banyak yang menyapa, terutama Dimas yang begitu senang melihat Disya kembali ke kantor.


"Ya ampun Sya, aku pikir ibu direktur tidak kerja lagi." Dimas begitu antusias menyambut kedatangan Disya.


Disya hanya sendiri di ruangan barunya yang beberapa waktu lalu dia tempati, dan kini Dimas sedang diruangan Disya sambil memberikan berkas.


"Kamu lebay Dim," Disya hanya tersenyum menanggapi ucapan Dimas.


Dimas tertawa. "Aku pikir setelah menikah kamu akan pindah di kantor pusat."


Disya menggeleng. "Tidak, aku lebih suka di sini."


Tok...Tok...Tok...


Suara pintu ruangan Disya diketuk dari luar, Disya dan Dimas saling tatap.


"Apa direktur utama hari ini datang kesini?" Tanya Disya untuk memastikan.


Dimas menggeleng. "Tidak, aku tidak melihat suami kamu datang."


Disya hanya diam dengan pikiran entah kemana. Pintu kembali di ketuk membuat Disya berseru menyuruh orang di luar untuk masuk.


"Mas Dino?"


.


.


Adakah hadiah untuk author 🤒🤒