ONE Night In LONDON

ONE Night In LONDON
Dilema



Sampainya dikantor Disya langsung masuk keruangannya, tanpa menoleh kanan dan kiri, wanita itu tidak melihat jika ada seseorang yang mengenalinya.


"Disya, dia bekerja disini." Batin pria itu yang tidak salah melihat.


Kakinya melangkah menuju resepsionis.


"Fit, apa ada karyawan yang bernama Disya Fanesya?" Tanya pria itu pada Fitri resepsionis lobby.


"Eh, sebentar pak Dino." Fitri mengecek nama yang disebutkan tadi.


"Disya Fanesya, bekerja di staf keuangan pak dan_"


"Baiklah terima kasih." Potong Dino lebih dulu dengan tidak sabar.


"Ihh, pak Dino aneh." kesal Fitri karena Dino pergi begitu saja.


Disya sampai diruangannya dan ternyata rekannya sudah ada semua duduk di kursi masing-masing.


"Sorry aku telat." Ucap Disya sambil nyengir.


"Santai aja kali Sya, kita juga baru sampai." Jawab rekan Disya.


"Kamu dari mana? aku ajakin makan siang ngak mau taunya pergi." Ucap Dimas dengan wajah dibuat cemberut.


"Hehe, aku dari kantor pusat biasan kangen temen." Jawab Disya yang mulai menghidupkan layar persegi miliknya.


"Huuu, gitu ngak ngajak aku, tau gitukan aku bisa ikut." Lanjut Dimas.


"Mau ngapain? yang ada kamu godain karyawan cewek disana." Ucap Disya sambil tertawa.


"Boleh juga, biar aku nggak jomblo." Keduanya tertawa.


"Disya..!"


Tawa keduanya terhenti saat mendengar suara yang memanggilnya.


Disya membelalakan kedua matanya melihat pria tinggi yang berdiri didepan meja kerjanya.


"Mas Dino." Disya langsung berdiri.


Dino tersenyum lebar, "Ternyata aku tadi tidak salah lihat, kamu kerja disini?" Tanya Dino yang tidak melunturkan senyumnya.


"Iya Mas, kok Mas tau."


Dino hanya tersenyum, sedangkan Disya memejamkan mata merutuki kebodohan pertanyaannya.


"Kamu lupa siapa aku?" Tanya Dino dengan alis terangkat satu.


Disya malah nyengir menampilkan jejeran giginya yang rapi.


"Aku sempat lupa, tapi melihat Mas Dino aku ingat." Jawab Disya merasa bodoh.


"Senang bisa melihatmu disini, dan ternyata kita satu kantor."


Dino tidak bohong, dirinya memang senang melihat Disya bekerja di kantor tempatnya bekerja.


Dimas yang sejak tadi memperhatikan keduanya menjadi kesal, siapa pria itu? batinnya penasaran.


"Baiklah selamat bekerja, jika ada apa-apa hubungi saja aku, karena nomorku tidak pernah ganti, seperti ucapanku dua tahun lalu."


Deg


Disya berdiri mematung, dua tahun lalu?


"Semangat, Disya-yang." Dino menepuk pucuk kepala Disya pelan.


Sedangkan Dimas sudah menye-menye melihat perlakuan Dino yang membuat matanya sakit.


"Sya, tadi siapa?" Tanya Dimas.


Dimas manatap Disya yang masih berdiri, tanpa menjawab pertanyaannya. "Sya.. Disya..!"


"Eh, kenapa Dim." Disya yang tersentak menatap Dimas bingung, "Kamu tanya apa?" Ulang Disya yang melihat wajah Dimas masam.


"Ck, pria tadi siapa?" Ulang Dimas yang sedikit kesal, seperti kekasih yang sedang cemburu ehh.


"Oh, itu Mas Dino temen, dia direktur marketing disini." Jalas Disya santai.


Dimas membulatkan kedua matanya. "Teman apa teman?" Tanya Dimas menyelidik.


Disya yang mendengar pertanyaan Dimas mengeryit bingung. "Ya, teman memangnya kenapa?" Jawab Disya sedikit mengejutkan nada kesal.


Dimas yang menyadari ucapanya langsung menepuk mulutnya. "Ehh sorry bukan maksud_"


"Udah ngak usah dibahas, kerja." potong Disya lebih dulu, tanpa melihat wajah Dimas.


Dimas lemas, dirinya menyadari pertanyaannya yang sepertinya menyingung temannya itu, apakah terlalu kentara jika dia menaruh hati pada Disya saat pandangan pertama.


Hanya saja Dimas tidak yakin, dan lebih dulu insecure, melihat siapa yang mendekati Disya barusan, karena dirinya sadar jika pekerjaannya belum menjanjikan apa-apa.


.


.


Dilain tempat Adam baru saja keluar dari ruang rapat, pria itu langsung keluar setelah memimpin rapat dengan beberapa Staf yang bersangkutan dengan pembangunan proyek yang akan berjalan.


"Fin, besok semua harus hadir tanpa terkecuali." Ucap Adam pada asistennya Arfin.


"Iya deh lu tenang aja." Jawab Arfin sambil menaruh berkas hasil rapat tadi.


"Hm." Jawab Arfin hanya berdehen.


Adam yang sibuk memeriksa berkas kini mendongak melihat asistennya yang sedang sibuk dengan gadgetnya.


"Lu niat jawab gue ngak, kalau ngak pergi sono." Kesal Adam, karena jawaban Arfin seperti malas-malasan.


"Lah, kok lu sewot sih, udah kayak perawan lagi dapet tau ngak." Balas Arfin gemas.


Bugh


"Sialan lu..!!" Adam melempar berkas yang ada didepannya dan mengenai dada Arfin, karena pria itu sibuk dengan gadgetnya.


"Ck, perusak suasana lu Dam." Arfin berdiri dan melenggang pergi.


"Asisten kurang ajarr." Umpat Adam kesal.


Adam merebahkan tubuhnya di punggung sofa, dan teringat sesuatu, Adam membuka laci kecil di mejanya.


"Disya Fanesya Handoko." Gumam Adam membaca nama lengkap wanita yang selalu menjadi fantasinya.


"Seperti tidak asing dengan nama Handoko." Ucapnya lagi, mengingat nama belakang Disya.


"Ck, kenapa malah mikirin nama dia, ngak penting." Ucapnya lagi seperti orang gila.


Adam menatap wajah Disya difoto KTP yang dia pegang, wajahnya cantik sama seperti yang berada di ponselnya.


"Cantik." Tanpa sadar Adam berucap.


"Siapa yang cantik?"


Suara seorang membuat Adam, segera memasukkan kartu yang dia pegang.


"Mama? kenapa ngak ketuk pintu dulu sih?" Ucap Adam yang melihat Mamanya sudah berdiri didepan mejanya.


Ami memincingkan mata, "Sejak kapan ada peraturan Mama masuk harus ketuk pintu dulu." Jawab Ami ketus.


"Ya..ya maksud aku_" Adam menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, merasa jika perkataanya barusan kurang tepat, apalagi dengan mamanya sendiri, yang jalas-jelas memiliki wewenang.


"Siapa yang kamu bilang cantik?" Tanya Ami yang masih mengingat gumaman Adam tadi, meskipun pelan tapi Ami cukup mendengarnya karena memang ruangan Adam begitu sepi.


"Oh itu, emm anu mah?" Lagi-lagi Adam merasa bodoh tidak bisa menjawab pertanyaan mamanya.


"Kamu punya pacar atau kekasih?" Tanya Ami penasaran, dan menatap lekat wajah putranya yang sudah dewasa.


Adam menatap Mamanya intens. "Kalau Adam jawab tidak?"


Ami mendengus mendengar jawaban Adam yang selalu seperti itu.


"Kalau tidak punya dan tidak mampu mencari, Mama yang akan mencari_"


"No Mah, Adam tidak mau dijodohkan." Tukas Adam tegas lebih dulu.


"Kamu berani membentak Mama." Ami sudah menatap Adam kesal, mendengar putranya itu bicara dengan nada tegas.


"Ehh, enggak mah, mana Adam berani." Adam meringis melihat tatapan tajam mamanya yang seperti ingin menelannya hidup-hidup.


"Pantas saja papa bertekuk lutut, semakin tua, Mama semakin menakutkan." Batin Adam dalam hati.


"Sya ada yang nunggu noh." Ucap rekan Disya seorang wanita.


Disya menoleh kearah rekanya memberi tahu, dan disana ada Dino yang berdiri diambang pintu dan tersenyum padanya.


"Hebat kamu Sya, baru satu bulan kerja udah bisa gaet pak Dino," Ledek Gita yang sudah satu tahun bekerja.


"Apaan sih mbak, Mas Dino teman aku." Jawab Disya jujur.


"Pacar juga ngak papa Sya, ganteng dan Perfect." Gita tertawa.


"Mbak ini bisa saja," Disya geleng kepala.


"Yaudah aku duluan, buru gih Udah ditungguin tuh." Ledek Gita lagi sebelum pergi.


Jam pulang kantor tiba, dan kini hanya tinggal sendiri yang sudah bersiap-siap.


"Belum selesai Sya?" Tanya Dino yang sudah menghampiri Disya.


"Udah Mas, ini Udah mau pulang." Jawab Disya yang memang sudah berkemas.


"Aku antar pulang." Ucap Dino menawarkan.


"Aku bawa mobil Mas, tidak usah repot-repot." Disya terseyum, melihat wajah masam Dino.


"Padahal aku pengen anterin kamu loh, tapi malah_"


"Lain kali saja Mas, sekarang belum rezeki." Potong Disya sambil tertawa.


Dino ikut terbawa. "Ya, ya kamu benar, seperti dua tahun lalu belum rezeki, dan sekarang aku akan mulai berusaha lagi." Ucapan Dino lagi-lagi membuat Disya harus berpikir lagi.


Jika dulu dirinya memiliki alasan, lalu sekarang apa yang akan Disya lakukan, dirinya kembali dilema.


Jika sudah seperti ini, Disya harus bicara dengan kedua orang tuanya.


.


.


next, jangan lupa like, komen kalian sayang πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹