
Setelah dari proyek Adam dan Arfin kembali pulang, Arfin mengemudikan mobilnya mengatakan Adam ke apartemen.
Saat masih diperjalanan Adam membuka ponselnya, dan dia melihat banyak notif panggilan dan pesan dari Disya.
Adam mencoba melacak keberadaan Disya untuk saat ini, dan ternyata wanita itu sudah kembali ke hotel.
Drt... Drt...
ponsel Arfin berbunyi, pria yang fokus menyetir itu memasang alat komunikasi bluetooth di telinganya agar mempermudah berkomunikasi sambil mengemudi.
"Halo.."
"...."
"Baiklah, awasi mereka jangan sampai lolos." Ucap Arfin dengan memerintah.
"Kenapa?" Tanya Adam yang pada Arfin setelah pria itu menyudahi panggilanya.
"Hem, sepertinya kau tidak perlu repot-repot memikirkan ucapanku tadi, karena setelah ini semua akan terbuka." Arfin tersenyum menyeringai.
Adam hanya diam, tanpa menjawab. Dirinya tahu Arfin adalah pria yang bertanggung jawab dan bisa diandalkan. Dan semua yang Arfin lakukan Adam hanya tinggal menerima hasil.
"Bye, salam untuk istrimu. Pasti dia sedang merajuk, aku lupa menyampaikan jika siang tadi Disya datang ke kantor untuk menemui mu." Kata Arfin sambil tertawa didalam mobil ketika Adam sudah keluar.
"Sialan kau Fin."
Adam segera melangkahkan kaki jenjangnya untuk memasuki apartemen, pasti Disya merajuk.
Ting
Pintu lift terbuka, dan Adam langsung melesat agar cepat sampai di flatnya.
"Sya...!!" Adam berteriak memanggil istrinya ketika sudah masuk apartemen. Pria itu langsung mencari Disya ke dalam kamar.
Brak
Disya yang sedang berdiri didepan lemari terkejut saat tiba-tiba pintu kamarnya di buka lebar.
"Kau mengagetkanku saja." Ucap Disya yang melihat Adam di ambang pintu.
Adam segera berjalan mendekati Disya dan memeluk istrinya itu.
"Maaf, membuatmu menunggu. Aku tidak tahu jika kamu datang ke kantor." Kata Adam sambil memeluk tubuh Disya yang hanya berbalutkan handuk.
Disya masih diam belum membalas pelukan Adam, dan Adam yang merasakannya melonggarkan rengkuhannya.
"Maaf, apa kamu marah padaku?" Tanya Adam sambil menatap wajah Disya yang terlihat segar dan cantik meskipun tanpa polesan makeup.
"Kenapa kamu tidak cerita jika perusahaan sedang mengalami penurunan?" Disya menatap wajah Adam lekat.
Dan Adam yang mendapat pertanyaan seperti itu, cukup terkejut. "Dari mana-"
"Berkas yang kamu taruh di atas meja kerjamu, tidak sengaja aku baca."
Adam menelan ludah, pria itu tidak berniat untuk menyembunyikan dari Istrinya. Tapi Adam hanya ingin menyelesaikan masalah itu secepat mungkin, dan tidak melibatkan istrinya dalam hal ini.
"Maaf, aku tidak bermaksud menyembunyikan semuanya, tapi aku hanya tidak ingin kalian semua merasa terancam meksipun-"
"Kami akan mendukungmu, sebagai pemimpin yang banyak mengayomi karyawan. Kami juga akan merasakan bagaimana terpuruk dan berjayanya rumah yang kita naungi. Jadi aku mohon jangan kau sembunyikan apapun dari ku meskipun aku tidak bisa membantumu." Tutur Disya dengan tatapan sendu.
Tidak di sangka Adam mengalami masalah yang serius dan dirinya tidak tahu sama sekali. "Mungkin dia memang pernah hadir di dalam hidupku di masa lalu, tapi aku tidak akan kembali padanya meksipun kau terpuruk. Aku tahu semua ini karena aku, aku yang menyakiti dia sehingga membuatnya menjadi dendam."
Adam menatap wajah Disya lekat, terlihat segurat kesedihan di kedua mata wanitanya.
"Semua sudah takdirnya, Dino yang tidak bisa menerima jika kamu sudah menjadi memilku, dan dia melampiaskan dendamnya dengan cara menghancurkan perusahaan yang aku dirikan, tapi semua itu tidak mudah seperti yang dia bayangkan, karena aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
Disya tahu jika yang dilakukan Dino adalah salah, mekipun begitu Disya juga tidak bisa menyalakan perbuatan Dino sepenuhnya.
Siapa yang menduga jika acara liburannya ke London bersama sahabatnya akan menjadi sebuah tragedi satu malam dengan pria asing yang tidak dia kenal. Dan karena kejadian Ons waktu itu Disya semakin terperangkap oleh pria yang sudah merenggut kesuciannya. Kedatangan Dino yang menerima Disya apa adanya tidak bisa membuat Adam sebagai pria pertama yang mengklaim Disya miliknya menyerah begitu saja. Adam kembali melakukan kesalahan bersama Disya untuk kedua kali, sehingga Disya hamil.
Dino pria yang menunggu cintanya terbalas dan akan membawa wanitanya ke jenjang pernikahan, rela menerima kekurangan dari Disya. Tapi semua tidak seperti yang dia inginkan. Ternyata pria yang menyentuh Disya adalah atasanya sendiri.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan?" tanya Disya.
Mereka masih berdiri dan saling tatap. "Mengembalikan semua ke asalnya."
Di sebuah perumahan kumuh, Arfin berdiri didepan pria yang sedang duduk di depannya, pria itu menghembuskan asap rokoknya keudara dengan wajah angkuhnya.
"Berani bayar berapa kau ingin mendapatkan buktinya?" tanya pria paruh baya itu yang terlihat santai tanpa rasa takut, meskipun di sekelilingnya banyak anak buah Arfin mengelilinginya.
"Apa kau berniat melakukan penawaran pada ku?" Tanya Arfin dengan kedua tangan yang di masukkan saku celana, Arfin menatap pria paruh baya itu dengan tegas dan penuh intimidasi.
Pria itu terkekeh. "Sepetinya informasi yang kau butuhkan sangat penting, hingga kau sampai membuatku terkejut dengan orang-orang mu ini."
"Ck, berikan saja informasi yang kau punya. Maka kau akan mendapatkan apa yang kau mau." Ando yang malas bertele-tele meminta bawahnya untuk memperlihatkan isi koper yang mereka bawa.
"Wow, menakjubkan."Kedua mata pria itu berbinar tenang melihat uang banyak, ingin sekali tangannya menyentuh dan mencium uang itu, tapi dengan cepat koper itu ditutup, sehingga keinginannya sia-sia.
"Kau berikan apa yang kami minta, dan kau akan mendapatkan uang itu." Kata Arfin sambil mengulurkan tangannya.
Dengan cepat pria paruh baya itu merogoh saku celananya, dan mengeluarkan ponsel miliknya.
Arfin menerima ponsel pria itu dan mencari apa yang dia butuhkan di sana.
Bibirnya tersenyum menyeringai, tidak menyangka jika yang dia inginkan terlihat begitu jelas.
Setelah menyalin Vidio itu, tidak lupa Arfin juga mengirimnya pada Adam.
"Berikan saja." Kata Arfin pada bawahnya.
Arfin langsung pergi meninggalkan tempat itu, dan terdengar sorakan bahagia dari pria paruh baya itu yang mendapatkan uang.
Ting
Adam yang baru saja selesai mandi dan ingin memakai pakaiannya dia urungkan karena melihat notif pesan dari Arfin.
"Tidak usah buat drama, karena pemain yang sesungguhnya sudah ada ditangan."
Adam membuka Vidio yang Arfin kirim. Disana terlihat Dino sedang berbincang dengan seseorang yang jelas di kenal. Dino menyerahkan sebuah flashdisk dan sebuah map pada pria itu. Dimana pria yang Dino temui adalah rival Adam disetiap ada pertemuan bisnis.
Adam tidak menyangka jika Dino memberikan aset penting perusahaan miliknya pada rivalnya, dan semua mereka lakukan dengan rapi hingga Adam tidak bisa melacak. Hanya ini bukti satu-satunya dan terkuat untuk menjadikan Dino tersangka atau mengakui kesalahannya.
"Kenapa?" tanya Disya yang melihat Adam diam sambil melihat ponselnya.
"Tidak apa-apa, Arfin sudah mendapatkan bukti kecurangan Dinosaurus." Adam meletakkan ponselnya dan kembali memakai pakaiannya yang sempat tertunda.
"Heh, yang benar saja!" Disya langsung mendekati Adam kembali.
"Lihat saja di ponselku." Ucap Adam.
Disya langsung meraih ponsel Adam, tapi dirinya terdiam dan menatap Adam. "Boleh aku membuka ponselmu?" Tanya Disya yang bertujuan meminta ijin.
Adam menatap Disya dengan kening berkerut. "Kenapa tidak boleh, cel*a*na da*l*am ku saja kau boleh membukanya."
Bugh
"Ish, nyebelin banget sih." Disya mengulum senyum, dengan Adam yang malah terkekeh.
"Apapun tentang kita, aku tidak ingin ada sesuatu yang di sembunyikan sekecil apapun itu, ya meskipun aku belum sempat memberi tahu tentang masalah kantor, tapi aku tidak berniat menyembunyikannya."
Disya hanya mencebikkan bibirnya, "Sama saja, kalau aku tidak tahu sendiri pasti kamu tidak akan menjelaskannya." Ketus Disya sambil menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dan bersiap untuk membuka ponsel Adam.
Disya menghidupkan ponsel Adam, dan matanya membulat sempurna melihat wallpaper kunci milik Adam.
"Kenapa kamu bisa dapat foto ini?" tanya Disya pada Adam yang sedang menyisir rambutnya.
"Tidak penting." Jawab Adam tanpa melihat Disya yang penasaran.
"Idih nyebelin banget kamu Adam hisst." Disya gereget sendiri.
Foto wallpaper Adam adalah foto mereka berdua saat Disya yang beselfie, saat itu Adam tiba-tiba mencium pipinya. Dan Adam langsung merebut ponsel Disya lalu mengirim ke ponselnya sebelum Disya hapus.
(Otor lupa di bab brp)
Dalam hati Disya begitu senang, melihat Adam menggunakan foto mereka berdua, selama menikah Disya memang tidak pernah melihat isi ponsel Adam. Baru ini dirinya menyentuh bahkan melihat apa saja yang ada di ponsel Adam.
Disya membuka pesan dari Arfin yang memang paling atas, dan Disya memutar video yang Arfin kirim.
"Pria itu siapa?" tanya Disya yang melihat pria paruh baya bicara dengan Dino.
"Rival bisnisku, namanya Hendro. Dia selalu kalah jika ada kompetisi untuk memenangkan tender. Dan terakhir proyek yang sekarang tidak berjalan yang dia inginkan pada akhirnya jatuh ketangan ku lagi, dan entah apa keuntungan yang Dino dapatkan atas penggiatnya itu." Tutur Adam yang menjelaskan siapa pria yang Dino berikan kartu As perusahaan Adam.
Dan sekarang Arfin juga sedang menyelidiki hubungan di antara Hendro dan Dino.
"Kenapa Mas Dino sampai sebegitunya." Lirih Disya yang tidak menyangka jika pria baik yang dia kenal bisa berbuat jahat.
"Kau mulai lagi." Adam menatap Disya tajam.
Disya yang ditatap tajam Adam bingung sendiri. "Mulai apa? aku tidak-"
"Sudah aku katakan, jangan kau panggil Dinosaurus itu dengan sebutan lebai mu itu." Kesal Adam yang mendengar panggilan Disya untuk Dino.
Disya mengerucutkan bibirnya, wanita itu mendelik kesal dengan Adam yang masih menatapnya tajam.
"Kau itu terlalu berlebihan tuan pencemburu."
Disya langsung duduk di pangkuan Adam yang tadinya duduk disebelahnya.
"Sudah tau kalau itu panggilan sejak dulu bahkan sebelum kita kenal, percayalah hanya sebuah panggilan tidak ada makna apapun di balik itu Sayang." Tutur Disya dengan kedua tangan berada di leher Adam, dan bibir Disya tersenyum saat Adam malah memalingkan wajahnya.
"Cie... salting di panggil sayang." Disya tertawa menggoda Adam yang memalingkan wajah, sedangkan Adam kesal, kenapa dirinya merasa senang sekali saat mendengar panggilan sayang dari Disya.
"Kau menggodaku hm." Adam merengkuh pinggang Disya dan merapatkan tubuh Disya untuk menempel pada tubuhnya.
Hidung keduanya saling bersentuhan, napas keduanya bergantian menerpa wajah masing-masing.
"Tanpa ku goda pun, rudalmu yang tidak tahu malu itu sudah tergoda." Ucap Disya sambil memberikan gesekan lembut di bibir Adam. Jangan lupakan tubuhnya yang bergerak untuk menggoda gairah Adam.
"Kau memang wanita penggoda, dan aku menyukai istri penggodaku ini." Suara Adam terdengar berat, tanpa meminta ijin, Adam langsung menyambar bibir Disya untuk di lumatt.
Keduanya saling memanggut bibir yang sudah menjadi candunya, Adam begitu rakus melahap dan menyesap benda kenyal yang terus membalas pangutannya.