
Satu Minggu kemudian...
Hari ini adalah hari bahagia untuk sahabat Disya. Dan hari ini Disya datang bersama Adam di acara resepsi.
Setelah tadi pagi keduanya menghadiri acara ijab kabul, kini keduanya hadir untuk merayakan.
Cukup lama Adam menjadi bodyguard istrinya, karena Disya yang terlalu aktif bahagia. Tidak di pungkiri jika Disya begitu bahagia melihat salah satu sahabatnya sudah menikah, dan hanya tinggal menunggu Vivi yang belum.
"Sayang, kamu capek." Adam melepaskan pakaian yang melekat di tubuhnya, keduanya sudah sampai di apartemen setelah hampir pukul 10 malam.
Disya duduk di atas ranjang dengan kaki dia luruskan.
"Lumayan sayang." Jawab Disya sambil tersenyum.
Adam yang sudah bertelanjang dada dengan hanya memakai bokser saja ikut duduk diatas ranjang. Tangannya mulai menyentuh kaki Disya dan memijitnya.
"Kamu terlalu banyak gerak, lihat kakimu sampai bengkak begini." Adam beranjak untuk turun.
"Mau kemana?" Tanya Disya yang melihat Adam turun.
"Ambil minyak gosok." Adam berjalan ke sudut ruangan, diatas meja kecil minyak itu di taruh.
"Jangan buat dirimu kelelahan Sya, aku tidak ingin kalian kenapa-kenapa." Ucap Adam yang sudah duduk kembali sambil mengoleskan minyak gosok di kaki Disya.
Setiap kakinya merasa pegal, Adam selalu tahu dan memijat kakinya, entah naluri atau hanya feling seorang suami, Adam selalu membuatnya merasa di cintai begitu besar.
"Kenapa senyum-senyum begitu, ada yang lucu?" Tanya Adam yang melihat senyum Istrinya.
"Tidak, hanya saja aku tidak menyangka jika suamiku yang datar dan pemaksa begitu perhatian." Tutur Disya dengan senyum mengembang.
"Kamu pikir aku suami yang jahat." Kata Adam dengan nada menekankan.
"Jahat si tidak, tapi pemaksa." Disya tertawa.
Hanya Disya yang mengerti Adam luar dalam, dirinya tidak menyangka di balik sifat dan wajahnya yang datar Adam begitu menjadi pria penyayang dan perhatian. Bahkan Adam selalu mendahulukan dirinya dari pada Adam sendiri.
"Sudah sayang, pegalnya sudah hilang." Disya menyudahi pijatan Adam saat pria itu memijatnya tanpa rasa lelah.
"Mau membantuku ke kamar mandi?" Disya mengulurkan tangannya agar Adam mau menggendongnya.
Adam hanya tersenyum. "Kamu selalu manja, bagaimana kalau aku tidak ada?" Adam meraih tubuh Istrinya dan menggendongnya ala bridal menuju kamar mandi.
"Kemanapun kamu pergi aku akan ikut bersama mu." Jawab Disya sambil mengalungkan tangannya di leher Adam.
Disya menatap wajah tampan yang membuatnya selalu terpesona, hatinya sudah terpaut dalam untuk Adam, rasanya Disya tidak bisa jauh dari sang suami.
"Lusa aku ada kerjaan di luar kota, sepertinya tidak bisa mengajakmu." Tutur Adam setelah mendudukkan Disya di wastafel mammer.
"Kenapa mendadak, sampai kapan?" Tanya Disya beruntun dengan wajah terkejut.
"Tidak mendadak sayang, lusa aku berangkat hanya 3-4 hari saja." Adam memberikan sikat gigi untuk Istrinya.
Keduanya melakukan ritual yang sama, hanya saja keduanya saling berhadapan, Disya memunggungi cermin, sedangkan Adam menatap pantulan dirinya di cermin.
Setelah sepuluh menit, Adam kembali menggendong istrinya keluar dan membaringkannya di atas ranjang dan di susul Adam.
"Tapi kan kamu tidak pernah cerita, kenapa tiba-tiba sekali." Ucap Disya dengan wajah merajuk.
Rupanya Disya masih membahas kepergian Adam lusa, selama menikah Disya diperlakukan bak ratu oleh Adam sendiri, dan sudah menjadi kebiasaan untuk Disya tidak bisa jauh dengan sang suami.
"Jika kamu ikut, aku takut kamu kelelahan kasihan Baby twins." Adam mengusap perut Disya dan mengecupnya sayang.
Disya yang tidak terima dengan ucapan Adam memilih untuk bangun dan mendorong bahu Adam membuat Adam sampai terlentang.
"Sayang kamu mau apa?" Adam terkejut saat Disya langsung duduk diatas kedua pahanya, sambil melepas dres yang dia pakai.
Karena semenjak hamil Disya lebih suka memakai dres longgar tanpa memakai dalaman, karena membuatnya merasa nyaman saat tidur.
"Sya..." Adam menelan ludah kasar saat melihat pemandangan indah di depan matanya, pemandangan yang begitu membuat gairahnya naik, hingga rudalnya di bawah sana sudah bereaksi.
"Kamu tidak akan menolak jika aku begini kan." Ucap Disya dengan suara yang begitu seksi didepan wajah Adam.
Posisi Adam sedikit bersandar di bahu ranjang, dengan Disya yang berada di atasnya.
"Kau mau merayu lagi, ohh ayolah sayang bukan seperti ini." Adam menahan hasrat yang sudah naik, dua hari dirinya libur untuk tidak menyentuh istrinya, karena Disya ikut sibuk membantu pernikahan Dina, hingga sampai menginap di rumah Dina untuk merayakan bridal shower.
"Ssstt, diamlah dan nikmati saja."
"Ahhh.."
Keduanya meleguh bersama saat Disya menyatukan tubuhnya dengan Adam. Gerakan Disya naik turun membuat Adam merancau nikmat.
Adam menyentuh pinggang Disya untuk membantunya bergerak, rasanya begitu nikmat hingga Adam tidak bisa berhenti mendesaahh.
"Ah sayang milikmu enak, Ough." Adam mengigit bibirnya melihat tubuh Disya bergerak naik turun, dan miliknya begitu gagah keluar masuk menusuk milik Disya.
"Ah, apa ini begitu nikmat shh." Disya menekan miliknya agar Adam terlena.
"Ah iya sayang, enak bangett."
Disya yang mendengar rancauan Adam tersenyum menyeringai.
"Kalau begitu ah, bukanya aku harus melayani mu terus."
Gerakan Disya terkadang lambat dan cepat tidak terduga, apalagi saat gerakan memutar bibir Adam berteriak begitu nikmat.
"Hm, kau harus terus memuaskan aku." Adam menatap Disya dengan kabut gairah yang mendalam.
"Jika begitu ah, kamu harus membawa ku kemana pun kamu pergi uhh."
"No, aku tidak mau kalian ahh Sya..!" Adam mengerang saat Disya mempercepat gerakan tubuhnya.
Apalagi Disya yang sudah merasakan akan mencapai pelepasan membuatnya semakin bergerak tidak terkendali.
"Tidak mau membawaku hm."
"No, Sya ini terlalu nikmat ahh." Adam mencekram pinggang Disya erat, saat Disya mulai melumpuhkan akal sehatnya untuk berpikir.
"Ini memang nikmat sayang sungguh aku akan memberimu kenikmatan jika kau mau membawaku." Disya mengecup dada Adam dan mengigit nya kecil, upaya agar Adam cepat menyerah.
"Katakan yes.." Bisik Disya didepan bibir Adam.
"Kau curang Sya."
"Katakan yes.. ahh."
Adam masih mengigit bibirnya untuk tidak menjawab, mekipun sekujur tubuhnya sudah merasa tegang ingin pelepasan, tapi Adam belum mau dan menyerah oleh Disya.
"Ah Sya lebih cepat." Ucap Adam dengan urat leher yang menonjol.
"No, sebelum kamu katakan yes."
"****..!! ahh Fine you will come."
"You're serious honey."
"Yes, I mean it."
Tanpa di suruh dua kali Disya langsung bekerja untuk membuat Adam terpuaskan, hingga sepuluh menit kemudian, keduanya sama-sama menggerang panjang saat mencapai pelepasan bersama.
Kegiatan yang saling menguntungkan untuk keduanya, kegiatan yang tidak akan pernah di tolak Adam.
"Kamu curang Sya."
Napas keduanya saling berkejaran, Adam memeluk wanitanya yang terkulai lemas.
"Karena dengan curang kita akan mencapai sesuatu, seperti kamu."
Ucapan Disya membuat Adam tertawa, dirinya ingat saat kedua kali mereka bertemu, dan Adam memaksa Disya untuk kembali melakukan hal nikmat yang pernah mereka lakukan di London. hingga akhirnya penyatuan mereka membuahkan hasil.
"Baik-baik kalian." Adam mengusap perut Disya sebelum keduanya terlelap di bawah selimut bersama.
.
.
Di tempat berbeda, Dino baru saja pulang dari kantor. Karena banyak problem hari ini pria itu harus lembur sampai kelewat malam untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Kamu belum tidur?"
Saat masuk ke apartemen, Dino melihat istrinya yang duduk di sofa sambil menonton tv.
"Mas baru pulang." Tanya Rantika kembali, tanpa menjawab pertanyaan Dino.
Setelah sehari pernikahan mereka, Dino mengajak Rantika pulang bersamanya, meskipun begitu dirinya sudah meminta ijin dan ibunya begitu senang melihat putrinya juga senang. Kehidupan ibunya Rantika menjadi tanggung jawab Dino dengan Radit yang juga masih sekolah. Semua Dino lakukan dengan tulus mengingat dirinya mendapatkan wanita baik seperti Rantika.
"Hm, hari ini banyak problem." Dino menghempaskan tubuhnya di sofa samping Rantika.
"Mas mandi dulu, aku siapkan air nya." Rantika beranjak tapi tangannya di cekal oleh Dino.
"Temani aku dulu." Pintanya sambil menatap istrinya.
"Nanti setelah Mas mandi, kamu pasti capek bekerja seharian." Rantika tersenyum dan mengusap tangan Dino. "Mandi dulu, nanti aku temani." Katanya lagi.
Mau tidak mau Dino hanya pasrah, apa yang di katakan Rantika juga untuk kebaikkanya.
kehidupan Dino berubah sejak Rantika datang ke apartemen nya, segala keperluannya sudah disiapkan oleh sang istri, bahkan kebutuhan biologisnya selalu terpuaskan meskipun Rantika sedang hamil.
Baginya pernikahan bukanlah hanya untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, tapi semua kebutuhan harus terpenuhi. Pernikahan adalah suatu ibadah yang harus dilaksanakan. Dan pernikahan membuat mereka bahagia dengan kehidupan barunya.
Setelah selesai Dino mencari istrinya di dapur, dan ternyata Rantika sedang berdiri didepan tungku sedang memasak.
"Kamu masak apa sayang." Dino memeluk tubuh Istrinya dari belakang, membuat Rantika sedikit terkejut.
"Kamu bikin aku kaget mas."
Dino tersenyum, dan menaruh kepalanya di bahu Rantika. "Kenapa masak mie, tidak baik untuk ibu hamil." Ucap Dino yang melihat Rantika memasak mie. "Lagian kenapa semua wanita suka makan mie."
Rantika hanya tersenyum. "Karena enak dan bikin nagih." Balasnya sambil menoleh ke arah suaminya.
"Hm, nagih. seperti disini." Tangan Dino menyentuh milik Rantika di bawah sana.
"Ah, mas. jangan aneh-aneh." Rantika mengapit kedua kakinya, saat tangan Dino menyentuh miliknya.
"Tapi ini memang nikmat, seperti yang kamu katakan nagih."
Keduanya tertawa, Dino baru menyadari jika Rantika sudah mencintai dirinya sejak lama, dan Dino tahu saat melihat buku diary Rantika saat di kampung.
"Sayang terima kasih." Ucapnya masih sambil memeluk dari belakang.
"Untuk apa mas?" Tanya Rantika yang merasa tidak melakukan apa pun.
"Sudah mencintaiku."
Seketika pergerakan tangan Rantika yang sedang mengaduk mie terhenti.
Dino membalik tubuh Rantika untuk menghadapnya. "Aku tahu jika kamu sejak lama sudah mencintaiku." Dino menatap wajah Rantika lekat. "Dan aku beruntung." Bibirnya mengembang senyum.
"Mas tahu?"
Dino mengangguk. "Tidak sengaja melihat buku diary milikmu."
Rantika menunduk, "Maaf kalau aku lancang, mencintaimu yang sudah memiliki kekasih mas." Cicit Rantika.
Dirinya tahu jika mencintai milik orang adalah salah, tapi namanya perasaan tidak ada yang tahu akan berlabuh ke mana, dan ternyata perasaanya berlabuh pada atasanya sendiri.
"Kamu tidak salah, justru aku merasa beruntung. Jika tidak ada insiden ini, mungkin aku tidak akan bisa tahu."
Rantika tersenyum. "Aku juga tidak menyangka jika aku rela menyerahkan diriku untuk mu malam itu Mas, padahal aku tidak berniat untuk meminta pertanggung jawaban, tapi Tuhan yang mendatangkan kamu."
Tidak ada yang tahu bagaimana rencana Tuhan, rezeki, jodoh dan maut sudah ada yang mengatur, kita hanya bisa berencana tanpa bisa menolak kehendaknya.
.
4-5 Bab lagi end'🙈