
"Sial.." Arfin mengumpat saat melihat data pribadi Dino yang baru diketahui.
Arfin tidak percaya jika rival Adam itu adalah orang terdekat Dino.
Sedangkan di rumah besar milik seorang pria paruh baya, tampak seorang pria yang sedang duduk didepan pria itu.
"Bagaimana? apa kau yakin ingin menghempaskan Adam?" tanya pria paruh baya itu.
Pemuda yang duduk didepan pria itu menghela napas, jemarinya mengetuk pegangan kursi dengan raut wajah tampak berpikir.
Dino mengingat kembali bagaimana perjuangan dirinya mendapatkan posisi wakil direktur di perusahaan Adam, dan pencapaiannya tidaklah mudah hingga dirinya dipercaya untuk menduduki kursi sebagai wakil direktur.
Meskipun dari keluarga yang cukup kaya dibawah kuasa Adhitama. Tapi Dino hanya ingin mencoba hal baru diluar apa yang dia miliki. Sejatinya dirinya memang anak seorang pengusaha, bahkan Disya sendiri tidak tahu tentang latar kelurganya, bertemu dengan kedua orang tuanya saja belum pernah.
"Jagan kamu mundur hanya karena mengingat perjuangan dirimu saat itu, yang harus kau ingat rasa sakit hatimu di sebabkan karena Adam merebut kekasihmu yang kau cintai itu dengan paksa." Ucapan Hendro kembali membuat Dino kembali pada masa di mana saat Disya memilih Adam dari pada dirinya saat di pesta itu.
Ya, pria paruh baya itu adalah Hendro. Pria yang menjadi rival Adam dalam bisnis adalah ayah Dino sendiri. Beliau merasa geram dengan Adam yang selalu mendapatkan tander besar, sedangkan dirinya selalu kalah. Dan Dino yang belum mau bergabung di perusahaan semakin membuat Hendro murka karena anak nya itu bekerja di perusahaan Adam.
Dan sekarang Hendro merasa Tuhan berpihak padanya, dimana sang anak yang sedang patah hati dia peralat untuk membuat perusahaan Adam hancur. Walaupun bukan perusahaan utama, tapi cukup dengan anak cabang yang Adam bangun sudah menjadi keajaiban untuk Hendro.
"Entahlah." Dino berdiri dan hendak meninggalkan ruang kerja papanya.
Dino berhenti saat di ambang pintu mendengar ucapan papanya. "Ingat kamu darah daging ku, dan seorang tidak akan mau melihat papanya terpuruk dan hancur."
Dino tidak menjawabnya dan kembali berjalan meninggalkan ruangan papanya.
Hendro memang pria paruh baya yang cukup berambisi untuk memenuhi keinginan, sejak muda dulu pesaingnya adalah Nathan meksipun umurnya sedikit lebih muda dari Nathan, dan sekarang dirinya yang seharusnya sudah pensiun masih berkutat dalam bisnis, ketika ada kesempatan Hendro menggunakan anaknya sebagai alat agar bisa menggoyangkan perusahaan Adam, anak dari Nathan.
Dino memilih kembali mengurung dirinya di dalam kamar, pria itu merenungi semua yang sudah terjadi dan apa yang dia perbuat. Disya akan menjadi miliknya ketika Adam hancur, tapi saat siang tadi melihat wajah Disya yang murung saat di dalam mobil, membuat hati Dino terenyuh. Wanitanya mengkhawatirkan pria lain, dan sialnya pria lain itu adalah suaminya.
Dino kembali meraih minuman yang selalu ada di kamarnya, minuman yang bisa membuatnya tenang dan tidak memikirkan apapun, karena hanya minuman inilah dirinya bisa memejamkan matanya dan melupakan Disya untuk sesaat.
"Kamu orang baik Mas, pasti akan mendapatkan wanita yang baik juga."
Ucapan Disya saat di pesta kembali hadir di ingatanya. Disya begitu merasa bersalah saat mengatakannya, dan Dino tahu dari tatapan mata Disya yang penuh rasa bersalah.
"Aku wanita kotor, bahkan aku tidak menolak saat dia kami mengulangi kesalahan kembali."
Air mata Disya bercucuran saat mengatakannya, bersama rasa hatinya yang begitu perih mengetahui kenyataan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Tapi cintanya yang besar, sama halnya rasa sakit hatinya yang begitu mendalam, sampai-sampai dirinya menyimpan dendam dan ingin membalasnya.
Karena merasa pusing tidak bisa melupakan bayangan masa lalunya, Dino memilih menyambar kunci mobilnya dan keluar dari kamar, dirinya ingin mengunjungi satu tempat yang bisa melupakan masalahnya sejenak.
Setelah tiga puluh menit mengendarai mobilnya, Dino sampai di sebuah bar yang terkenal di kota. Bahkan Dino harus memperlihatkan kartu anggota ekslusif miliknya agar bisa masuk. Bar yang tidak bisa sembarang orang masuk, dan di bar ini semua data pelanggan begitu privasi sehingga tidak bisa ada orang yang akan menjatuhkan di sini.
Dino langsung duduk di meja betander, pria itu langsung meminta betander untuk memberikan gelas seloki padanya.
"Lagi.." Dino kembali meminta setelah menenggak 1 gelas, dan mengulanginya sampai ketiga kali.
Suara dentuman musik dj semakin membuat Dino rasanya melayang. sepertinya Dino sudah mulai mabuk dengan mengkonsumsi alkohol yang berkadar tinggi.
Dari jarak yang tidak jauh, tepatnya di lantai dansa. Seorang wanita melihat pria yang sangat dia kenal, dan karena penasaran wanita itu mendekati Dino.
"Benar pak Dino." Gumam seorang wanita yang hanya mengunakan kaos over size dengan bawahan hotpants yang tidak terlihat karena atasanya terlalu besar, kerah pakainya yang lebar memperlihatkan bahu mulus wanita itu.
"Sya kau disini?" Suara Dino sudah ngelantur pandangan pria itu juga sudah kabur, setelah menambah dua sloki untuk dia minum.
"Eh, pak, aku bukan Disya." Tika ingin menghindar dari tangan Dino yang akan menyentuhnya.
Dino mengucek kedua matanya, "Benar kamu Disya, tapi kenapa wajah mu sedikit berbeda." Ucap Dino yang masih mengira sekretarisnya itu adalah Disya.
Ya, Tika adalah sekretaris Dino di kantor, dan Tika juga sering datang ke bar ini, sehingga Tika salah satu dari member eklusif.
"Aduh pak, aku memang bukan Disya. Sepertinya bapak mabuk berat." Tika turun dari kursi dan ingin pergi.
"Mau kemana Sya? temani aku disini." Dino bergelut di bahu Tika yang ingin pergi, dan sekarang tubuh Tika tertahan karena ulah Dino yang bergelayut manja.
"Aku mencintaimu Sya, tapi aku sadar jika aku sudah tidak bisa memiliki mu." Suara Dino begitu parau, kedua mata pria itu terpejam dengan air mata yang menetes.
Tika atau nama lengkapnya Rantika itu tertegun, mendengar suara pilu Dino, bahkan atasanya yang terkenal tegas itu sampai menangis.
"Pak lebih baik anda saya antar pulang." Tidak ingin melihat Dino semakin mabuk, Tika memilih untuk membawa Dino pulang. walaupun susah memapah Dino yang mabuk dan merancau tidak jelas, Tika tetap membawa Dino sampai ke mobil pria itu.
"Sya, kita mau ke mana? apa kita mau ke hotel." Rancau Dino sambil ingin mencium pipi Tika, tapi wanita itu selalu bisa menghindar.
"Pak, saya bukan Disya. Saya Rantika sekertaris bapak." Ucap Tika yang malah hanya mendapat tawa Dino yang seperti meremehkan.
"Iya kamu memang bukan Disya, kalau Disya tidak mungkin kamu akan menolongku."
Tika hanya menggelengkan kepala, dan membuka pintu mobil agar Dino masuk.
Brak
"Ahk pak!" Tika terkejut saat pinggangnya ditarik Dino yang sudah ada di dalam mobil. Bahkan wajah Dino sampai menabrak dada Tika saat menuduk melindungi kepalanya dari body mobil.
"Pak lepas!!" Tika berontak saat Dino malah seperti pria kecanduan.
"Bau nya segar Sya, apakah pria itu juga memujimu seperti ini." Tatapan mata Dino begitu gelap oleh gairah. Apalagi posisi Tika yang menunduk membuat Dino bisa melihat dua gundukan didalam sana.
"Pak jangan emph..."
Brak
Tangan Dino meriah gagang pintu dari dalam saat tangan satunya menekan tengkuk Tika untuk menggapai bibir merah Tika.
"Emph.." Tika berontak sambil memukul dada Dino, posisi mereka begitu intim, sehingga tangan Dino membenarkan posisi kaki Tika untuk duduk diatas pangkuannya.
Tika yang mendapat cumbuan dari bibir Dino perlahan membalas lumatann Dino, pria yang juga menjadi dambaan semua wanita, termasuk Tika.
Tubuhnya menerima saat Dino menyentuh bagian tubuhnya, bahkan Tika mengalungkan kedua tangannya di leher Dino saat pria itu menaikkan kaos yang dia pakai.
"Ahh pak Dinoo oh."
Tubuh Tika seperti tersengat listrik ketika merasakan sentuhan bibir Dino di tubuhnya. Tika tahu ini salah, tapi dirinya yang memendam rasa pada Dino, memilih menikmati apa yang akan Dino lakukan.
Dari luar tampak mobil Dino bergoyang, dan karena posisi masih di area bar, itu adalah kejadian hal yang lumrah.
Malam ini Dino seperti kembali bersemangat saat dirinya merasakan wanita yang dia cintai menerimanya, hingga tanpa Dino sadari wanita itu bukanlah wanita yang dia cintai, melainkan sekertaris yang selalu mencintainya dalam diam.