
Pagi hari semua sudah berkumpul di meja makan hotel khusus kelurga Adhitama.
Semua sudah duduk dengan formasi lengkap ditambah anggota baru dari keluarga Frans. Disya sudah duduk disamping Adam yang sedikit mengontrol dengan Mario, sedangkan Nathan juga sibuk mengobrol dengan Frans.
Para wanita juga sibuk dengan urusan bergosip sebelum mereka menyantap sarapan pagi.
"Kak, apa kau suka menginginkan sesuatu yang tidak terduga saat hamil?" tanya Hawa yang duduk disebelah Disya.
Wanita muda dengan 3 anak itu terlihat semakin cantik dan dewasa, Hawa pantas mendapat julukan ibu muda.
"Em, sering. Memangnya kamu tidak?" Tanya Disya balik.
"Sering, bahkan pernah ditengah malam aku menginginkan makanan
" Tutur Hawa sambil mengingat apa saja yang pernah dia inginkan disaat jam-jam tertentu. Tapi seringnya ditengah malam, bahkan menjelang pagi dirinya menginginkan sesuatu.
"Lalu apakah suamimu akan menuruti permintaan mu itu?" Tanya Disya yang sudah penasaran.
Apakah suami adik iparnya ini akan mengabulkan permintaan anehnya kapan saja.
"Tentu saja, dia akan melakukan apapun yang aku minta saat itu, sebenarnya aku kasihan tapi mau bagaimana lagi. Kemauan twins dulu banyak maunya." Tutur Hawa dengan senyum mengingat hal yang menurutnya luar biasa saat dirinya hamil pertama kali, dan saat itu jauh dari orang tua, tapi Mario dan mertuanya begitu antusias menuruti apapun yang dia inginkan. sampai Hawa tidak enak sendiri.
"Jadi saat kamu hamil, kamu jauh dari Mama?" tanya Disya yang ingin mendengar cerita Hawa.
Mereka menjadi pusat perhatian orang-orang disana karena suara keduanya sedikit keras membuat yang duduk di sana penasaran.
"Nanti saja itu, aku tanya belum kakak jawab. Apa kak Adam menuruti ngidam-ngidam aneh kakak"? tanya Hawa lagi yang belum mendapat jawaban.
Disya melirik Adam yang hanya fokus pada ponselnya, dan mengingat Adam, Disya ingat bagaimana tadi malam dirinya menahan lapar.
"Kak, kok diam? apa kak Adam tidak menuruti ngidam kakak?" Hawa menyentuh punggung tangan Disya yang ada di atas meja, dan perhatian Hawa membuat Adam ikut melirik apa yang mereka bicarakan.
Disya menghela napas, "Sebenarnya aku tidak enak kalau mau cerita, tapi karena aku kesal dengan kakak mu yang kaku itu, aku ingin cerita." Ucap Disya dengan nada yang terdengar kesal. Disya menceritakan bagaimana dirinya menginginkan makanan di pinggir jalan, padahal tadi malam dirinya hanya makan cake sedikit dan sengaja menunggu Adam saat masuk kamar untuk menemaninya mencari makanan yang dia mau, mekipun dirinya ketiduran tapi mengingat makanan yang dia inginkan Disya memilih untuk bangun dan mengutarakan keinginannya pada Adam, tapi bukanya di turuti Adam malah memarahinya karena sudah tengah malam. Kalau orang hamil dan ngidam mana tau waktu yee kan, dasar saja Adam yang tidak peka.
"Apa? jadi kak Adam tidak menuruti permintaan kakak?" Suara Hawa yang keras menyita perhatian keluarga.
"Kenapa kamu berteriak Hawa?" tanya Ayana mewakili mereka yang ada di sana.
Hawa menoleh pada mamanya dengan wajah kesal, kesal karena kakak nya membiarkan calon bayinya kelaparan.
Tak lupa lirikan tajam untuk Adam yang merasa tidak bersalah.
Disya yang hanya bisa meringis melihat reaksi kelurganya, wanita itu tidak menyangka Hawa akan memberi tahu mereka begini.
"Memangnya apa yang kamu inginkan sayang?" tanya Adam sambil melirik Disya datar.
Disya hanya meremat kedua tangannya saat ditatap Adam seperti itu, bahkan matanya sudah mulai berkaca-kaca entah karena apa, hormon kehamilannya membuat Disya memilki perasaan sensitif. Apalagi jika keinginan nya tidak terpenuhi.
"Iya sayang memangnya kamu ingin apa?" Diana menatap putrinya yang masih diam.
"Kamu tahu Sya, waktu Mama mu hamil Adam dan Hawa, dulu dia ngidam papa suruh mengendarai motor pink ke kantor." Tutur Nathan yang mengingat jelas ngidam Ayana yang membuatnya merasa malu.
Tapi apa mau di kata, namanya ngidam tidak bisa di kompromi, dan Nathan dengan terpaksa, menuruti permintaan ngidam Ayana.
"Tapi itu tidak aneh By, makanya kamu mau turutin." Ucap Ayana sambil melirik Nathan kesal.
"Tidak aneh, Tapi cukup buat harga diriku sebagai pemimpin jatuh."
Ayana hanya mencebikkan bibirnya mendengar ucapan Nathan.
Sedangkan yang mendengar hanya tersenyum geli, membayangkan Nathan waktu muda tinggi, gagah dan berwibawa naik motor matic berwarna pink.
"Kalau kamu apa Sya, kenapa Adam tidak mau menurutimu?" Tanya Frans gantian.
Adam yang sejak tadi menjadi tersangka mencoba untuk mengingat-ingat apa yang Disya inginkan, tapi seingat Adam, Disya tidak meminta apapun dan tadi malam dirinya sudah memberikan apa yang Disya inginkan, yaitu nasi goreng.
.
.
.
Akhirnya bisa up meksipun di sela" kesibukan 😩 Sok sibuk kali kau Thor🤨.
Insyallah besok otor ganti crazy up, dari kemaren otor sibuk di dunia RL😤